
Amanda perlahan membuka matanya yang masih terasa berat. Tangannya meraba ke sisi kanan, memeriksa keadaan Azka. Merasa tidak ada apapun, tubuhnya menegak, dengan panik mencari keberadaan anaknya.
Tunggu, Amanda berhenti di mulut pintu. Bukankah, setelah kejadian itu Amanda tertidur di sofa bersama Azka. Lalu, siapa yang memindahkannya ke kasur? Apa Rendra, tapi tidak mungkin dia punya akses masuk ke rumahnya.
Kakinya melangkah panik, kembali mencari keberadaan Azka ke segala ruangan, berharap anak itu sedang main di ruang tengah. Tetapi masih tidak ada.
Bibirnya gemetar ketakutan, apalagi kejadian semalam benar-benar membuatnya kacau. Bahkan, Amanda masih ingat sekali wajah pucat dan ketakutan Azka. Anak itu pasti kaget melihat Amanda marah.
"Abang? Abang di mana?" panggilnya.
Masih dengan penampilan acak-acakan Amanda membuka pintu rumah, yang ternyata sudah cerah ada beberapa ibu-ibu yang membeli sayur dekat halaman rumahnya. Sepertinya, Amanda sudah telat untuk bekerja. Tetapi masa bodo, dia memutuskan akan berhenti mulai hari ini.
"Bunda!"
Tatapan Amanda tertuju pada Azka yang sedang duduk di ujung teras bermain dengan keretanya, di temani oleh seseorang. Ia hanya bisa melihat punggung lelaki itu, karena posisinya membelakanginya.
"Yaampun, Abang nggak denger tadi bunda manggil-manggil?"
Azka menunduk, dia takut jika bundanya marah lagi seperti semalam. "Maaf, bunda," gumamnya pelan. "Bunda tadi tidul nyenyak, kata Ayah Ndak boleh di bangunin."
"Bunda, udah bangun?"
Suara familiar itu masuk ke telinganya, bersamaan dengan kepalanya yang menengok ke arah Amanda. Lelaki itu berdiri, berniat menghampirinya. Entah sekarang, bukan hanya senang yang hinggap di hatinya, tetapi kemarahan yang selama ini terpendam. Amanda menatapnya datar, lalu tanpa kata kembali masuk ke dalam rumah dengan diiringi suara keras dari pintu yang ditutup.
Amanda masuk ke dalam kamarnya, kembali menangis. Sungguh, Amanda selalu khawatir dan ketakutan apabila suatu saat nanti, Rendra datang kembali.
Semua di itu sekarang menjadi kenyataan, Adit yang harusnya berada di belakang untuk melindunginya justru malah pergi tanpa kabar. Padahal, Amanda sangat menggantungkan hidupnya pada Adit. Ia bukan hanya menganggapnya sebagai suami tetapi sosok kakak dan seorang ayah. Ya, sepenting itu Adit dalam kehidupannya.
"Amanda." Adit membuka pintu, lalu melangkah mendekati Amanda yang masih terisak. Lelaki itu menunjukkan raut wajah bersalah.
"Maafin aku," katanya sambil duduk di sebelah Amanda, tangannya menarik bahu sang istri agar menyender ke dadanya. Tentu, Amanda berontak.
"Apa kamu bisa jelasin ke aku semuanya sekarang?"
__ADS_1
"Mama di Bandung sakit. Aku nggak mau bikin kamu khawatir."
Amanda menggelengkan kepalanya. "Pasti nggak se-sederhana itu. Kalau cuman soal mama yang lagi sakit, kamu kan bisa kasih pengertiannya sama aku, Mas! Kamu pikir karena dulu kita menikah tanpa restu, aku jadi benci sama orangtua kamu, gitu?"
Adit menghela napas, mencoba memeluk istrinya. "Aku juga cari uang buat berobat Mama. Di sana aku sibuk, kamu tau kan aku anak pertama, aku yang jadi harapan adik-adikku."
"Apa susahnya sih, berkomunikasi? Kamu nggak tau, aku di sini nangis terus mikirin kamu kemana. Ditambah, Azka terus nanyain kamu!" Amanda mengeluarkan unek-uneknya.
"Mungkin aku bisa nyari uang buat menghidupi Azka, tapi aku nggak bisa menjadi pengganti sosok ayah buat Azka. karena semua itu udah melekat di kamu, Mas! Aku sedih waktu dia nangis, minta kamu pulang! Mana kamu nggak pernah bisa di hubungi! Jangan-jangan kamu pulang karena Gilang yang maksa?"
"Amanda, semua itu nggak seperti yang kamu pikirkan."
"Yaudah jelasin, biar aku paham!"
"Orangtuaku masih belum menerima kita, selama di Bandung aku dilarang menghubungi kamu. Bahkan, ponselku juga disita oleh mereka. Aku bantu kerja di pabrik teman ayah, semua gerak-gerikku diawasi. Aku nekad pulang karena kondisi mama sudah lebih baik dari sebelumnya, dia sudah pulang dari rumah sakit."
Apa Amanda harus percaya?
"Aku nggak tau gimana cara menebus kesalahanku sama kamu, tapi aku bener-bener minta maaf," ucap Adit sembari merengkuh Amanda ke pelukannya. Lelaki itu mengusap puncak kepalanya dengan sayang.
Radit Pradipta, suaminya itu memang berasal dari keluarga sederhana. Dia adalah adik pertama dari empat bersaudara, ibunya sangat mengharapkan Adit agar bisa menaikkan derajat keluarga. Tetapi, karena cintanya pada Amanda. Dia rela meninggalkan keluarganya dan memulai kehidupan barunya di Jakarta. Tentu saja, Amanda yang saat itu masih terlalu dini dan merasa kehidupannya telah hancur, sangat berterimakasih karena Adit menjadi satu-satunya orang yang mau menerima segala kekurangannya. Seharusnya, Amanda memaafkannya bukan?
Amanda luluh seketika, membalas pelukan suaminya. Hatinya tiba-tiba tenang, ada sesuatu yang tidak bisa diungkap oleh kata-kata, yang jelas Amanda mencoba mengerti keadaan suaminya.
"Jangan meninggalkan aku lagi."
"Nggak akan."
Mereka berdua bertatapan, tangan Adit mengusap air mata yang berada di pipi Amanda, senyumannya begitu manis. "Ini terakhir kali, kamu nangis karena kesedihan, karena selanjutkan aku bakal buat kamu menangis karena bahagia."
Amanda tertawa kecil karena gombalan receh milik suaminya itu, lalu melingkarkan tangannya di leher Adit. Menatapnya dengan dalam, ia tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan suaminya.
Wajah mereka mendekat perlahan, dua bibir itu bertemu, melampiaskan kerinduan yang terpendam, dengan saling memagut bibir.
__ADS_1
Adit membawa Amanda menuju ranjang, lalu mendorong tubuh istirnya agar merebahkan diri.
"Aku belum mandi, ih." Seketika suasana hati Amanda diliputi kebahagiaan, secepat itu memang dia berubah.
"Setelah ini kita mandi berdua."
"Mas!"
"Katanya kamu mau memberikan Azka adik?"
Pipi Amanda bersemu merah, suaminya membaca pesannya, ah ia jadi malu.
"Mas Adit!" Tangannya menepuk bahu suaminya, salting.
Adit berada di atas Amanda, lalu wajahnya mulai menelusuri cekungan leher istrinya, mengendus aromanya membuat Amanda kegelian tetapi juga ketagihan. Tangan nakal Adit mulai membuka satu persatu kancing baju yang dipakai Amanda. Mereka berdua menikmati kehangatan itu, bahkan Amanda sudah merasa sekujur tubuhnya panas.
"Bunda, Ayah, kok Abang ditinggalin?"
Suara Azka yang seperti ingin menangis dari balik pintu yang terkunci itu membuat Amanda refleks mendorong Adit.
"Iya, sebentar."
"Kayaknya Azka nggak mau punya adek lagi, deh," ucap Adit sambil memeluk Amanda dari belakang yang tengah merapikan kancing bajunya.
"Diem, Mas!" Amanda membuka pintu, lalu memeluk Azka yang tangisnya malah pecah setelah berada di pelukannya.
"Bunda jangan jahat lagi dong, Abang kan juga kangen sama Ayah," ucapnya membuat Adit yang berada di belakang Amanda itu tertawa, lalu mengacak putra sematawayangnya.
"Sini sama Ayah." Azka sekarang berada di pangkuan Adit.
"Yaudah, aku mandi dulu," ujar Amanda kembali masuk ke kamar. Tetapi sebelum itu Adit mencium mengedip genit pada Amanda lalu berbisik.
"Nanti aku nyusul."
__ADS_1
****