Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
9 : Misi Rahasia


__ADS_3

Rendra menatap kedua temannya seksama, Rizaldi dan Aryo. Mereka berdua didatangkan langsung dari Bandung tentu dengan paksaan. Rendra membutuhkan bantuan keduanya.


"Sebenarnya, lo mau minta bantuan apa?" tanya Aryo yang heran, dia sampai harus meninggalkan pekerjaan sebagai seorang manager di salah satu hotel demi menemui sahabatnya ke Jakarta.


"Iya, anjir. Istri gue marah-marah karena gue bolak-balik Bandung-Jakarta. Dia pikir gue lagi main-main," tambah Aryo yang sudah beristri. Dia adalah seorang arsitek.


Rendra yang mengumpulkan kedua temannya di ruang kerja rumahnya itu, menghela napas.


"Gue punya anak."


Aryo melotot, dia yang sedang menyantap roti langsung batuk. Buru-buru Rizaldi memberi minum pada Aryo.


"Anak bule? Lo jajan di luar negeri? Ini masalah besar!" Belum Rendra menjelaskan, Aryo sudah menyimpulkannya.


"Bukan, Yo. Ini berhubungan sama kejadian waktu kita SMA."


"Jangan bilang lo sama Amanda?" Aryo menutup mulutnya dramatis, menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Jadi itu bukan rumor?"


Rendra mengangguk pelan. Semua orang di sekolah mengira kehamilan Amanda hanya rumor semata dan hilang diganti berita lain, karena saat itu Rendra memutuskan lebih awal untuk ke luar negeri sementara Amanda katanya pindah sekolah. Kisah mereka terhenti saat itu juga, mereka seperti hilang ditelan bumi.


"Lo go*lok sih, Ren!" tunjuk Aryo tidak menyangka. "Harusnya lo cerita sama kita berdua, pasti kejadian nggak bakal berakhir seperti ini."


"Mau bantu apa kalau gue cerita sama kalian waktu itu?"


"Gue bisa nikahin Amanda!"


Rendra hampir menggeplak kepala Aryo, jika saja Rizaldi tidak mendahuluinya.


"Bukan saatnya untuk bercanda!" ucap Rizaldi, yang menanggapi kondisi ini dengan serius.


"Kenapa lo bisa yakin, itu anak lo?"


Rendra mengambil selembar kartu keluarga yang diambilnya dari administrasi karyawan. "Gue inget, sebulan sesudah ulang tahun ke-19 Amanda bilang kalau dia hamil, itu berarti umur dia waktu itu 17 tahun. Sementara di sini, anaknya lahir saat umur Amanda mau menginjak 18 tahun. Udah jelas kan?"


Aryo mengambil kertas itu, lalu membacanya. "Pradipta Raid Azka. Tapi, kenapa ada nama suaminya di sini? Kenapa bukan Lo? Lo kan bapaknya."


Rizaldi menatap temannya yang masih tidak berubah itu dengan greget. "Kayaknya lo salah minta bantuan sama Aryo deh, Ren."


"Iya, gue nyesel minta bapak satu anak ini, ke sini! Yaudah-lah, anggep aja dia patung!"

__ADS_1


"Back to topic. Lo pernah singgung masalah ini ke Amanda?"


Rendra mengangguk. "Dia menyangkal, padahal udah jelas dia liat kalau foto anaknya mirip gue waktu kecil."


"Tapi bisa aja, waktu dia hamil anak dari suaminya sekarang. Dia tuh benci banget samal lo, Ren. Jadi anaknya mirip lo, soalnya ini kejadian sama anak bibi gue. Bukan mirip ibu atau bapaknya tapi malah mirip mertuanya," balas Aryo yang meski diabaikan dia tetap mendengarkan dan berusaha menanggapi.


"Kalau dihitung dari kelahiran, anak itu sekarang umurnya baru lima tahun. Gue sempat minta Amanda mengugurkan kandungannya, kalo pun itu dilakuin sama Amanda, nggak mungkin Amanda hamil lagi secepat itu."


"Lo berniat bunuh bayi itu?"


Rendra mengangguk lesu. "Iya, dan itu hal yang paling gue sesali. Gue pengen memperbaiki semuanya, Zal. Walaupun nggak kembali bersama Amanda, gue pengen minta maaf."


"Mungkin gue udah di cap lelaki paling jahat di mata Amanda, tapi gue nggak mau anak gue sampai berpandangan seperti itu." Terlihat keputus-asaan di wajahnya. Bahkan, terlihat lingkaran hitam di bawah matanya menandakan Rendra tidak bisa tidur karena dihantui rasa bersalah.


"Nggak mudah buat Amanda, karena lo udah menghancurkan hidupnya, Ren. Dia pasti trauma ketemu lo," balas Rizaldi.


"Hanya ada dua pilihan, lo kembali menjalani hidup tanpa bayang-bayang Amanda atau lo mencoba mencari tau kebenaran yang bakal buat Amanda terluka lagi," tambah Aryo yang sekarang mode serius. "Gue yakin, lo nggak mau kan buat Amanda terluka, sementara sekarang dia udah bener-bener ngelupain semuanya dengan nikah sama suaminya."


Rendra berteriak prustasi. Lelaki itu duduk di kursi ruang kerjanya, seraya menutup wajahnya. Sekarang dirinya merasa serba salah.


"Eh, tapi gue ada cara supaya lo mengetahui kebenaran tanpa menyakiti Amanda." Tiba-tiba Rizaldi membuat secercah harapan di mata Rendra.


"Gue sebut ini, misi rahasia."


****


"Kamu nggak pakai tabungan kita?" tanyanya.


Amanda menggelengkan kepalanya. "Itu kan buat biaya sekolah Azka, dia sebentar lagi masuk TK."


"Aku udah bilang, kalau ada sesuatu mendesak nggak apa-apa di pakai. Masih banyak waktu buat aku ngumpulin uang, karena tugas kamu itu memberikan full kasih sayang sama Azka dan nge-didik dia jadi anak yang baik. Peran kamu saat ini buat pertumbuhan mental Azka itu sangat penting."


Amanda cemberut. "Yaudah sih, aku kan niatnya mau cerita tentang pengalaman aku selama kerja, bukan mau diceramahi."


Adit menatap Amanda, meninggalkan pekerjaan. "Oke, aku akan tanya. Gimana rasanya bekerja?"


"Capek banget, aku selalu ngebayangin kamu harus bangun pagi terus pulang malem. Belum lagi kadang ada masalah di tempat kerja."


Adit mengangguk paham. "Cukup sekali ya, kamu mencoba, jangan lagi."

__ADS_1


"Oke!"


Amanda membantu Adit menuangkan minuman ke gelas, melihat ponsel Amanda berdering yang diletakan di sebelahnya, Adit mengambilnya. Terlebih, melihat nama yang muncul di layar.


Suamiku❤️


Ekspresi wajahnya berubah, lalu memencet tombol hijau. Suara bariton lelaki terdengar, membuat Amanda mengalihkan tatapannya menjadi ke arah suaminya.


"Halo?"


"Siapa, Mas?" tanya Amanda belum menyadari perubahan ekspresi suaminya.


"Seharusnya aku yang nanya, siapa suamiku? Kamu punya suami selain aku?" Nada cemburunya begitu kentara.


"Hah?" Amanda buru-buru mengambil ponsel itu, lalu melihat nama yang terpampang di layar.


"Loh, bukannya ini nomor baru kamu, Mas?"


"Aku nggak pernah ganti nomor."


"Tapi, kemarin kamu hubungi aku saat di Bandung," kekehnya.


"Aku nggak pernah hubungin kamu selama di Bandung, Amanda."


Amanda terdiam. "Terus ini, siapa?"


Tangannya langsung memencet tombol merah, lalu menatap Adit yang sepertinya butuh penjelasan. Tetapi, Amanda juga tidak tahu harus memberikan penjelasan apa pada suaminya.


"Sini ponselnya, aku mau tau kalian berbagi pesan apa."


Mengingat sesuatu dirinya pernah memberinya pesan tentang Rendra pada malam itu, pada nomor asing ini. Lebih baik Adit tidak perlu tahu, bukan?


Amanda menggelengkan kepalanya. Menyembunyikan ponselnya di saku.


"Kayaknya orang iseng. Kita mending ke depan, Azka sama Romi pasti udah nunggu makanannya."


"Manda."


Amanda mengambil piring lalu membawanya, berniat menghindar dari Adit. Meskipun penasaran dan cemburu, Adit mencoba mengendalikan dirinya sebab dia tidak mau ada pertengkaran, ditambah mereka baru saja bertemu.

__ADS_1


"Oke, Manda. Kali ini aku mencoba nggak peduli," gumannya seraya melangkah menyusul Amanda.


****


__ADS_2