Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
11 : Kemesraan


__ADS_3

Amanda mengambil beberapa bahan makanan serta stok susu untuk Azka. Tanpa ditemani suaminya, ia berbelanja di supermarket yang tidak jauh dari rumahnya.


Teringat beberapa minggu ini, ia merasa susah sampai tidak bisa menginjakkan kakinya ke tempat ini. Amanda jadi mengurungkan niat untuk membeli beberapa cemilan. Meskipun, sekarang suaminya sudah pulang, dirinya harus tetap berhemat.


Merasa cukup untuk stok satu minggu, Amanda menuju kasir dan membayar pesanannya. Ternyata di luar sudah gelap bahkan hujan besar. Ia jadi menyesal tidak menuruti perintah suaminya untuk membawa payung.


Ponselnya berdering, itu nomor Adit, suaminya.


"Masih di mana?"


"Di supermarket, ujannya makin besar, Mas. Aku kayaknya pulang nunggu reda dulu, deh."


"Aku jemput ke situ." Adit terdengar khawatir.


"Nggak usah, kamu temenin Azka aja. Nanti juga reda, kok."


"Yaudah, hati-hati, sayang."


"Iya, bye."


Amanda memasukkan ponselnya ke saku baju, lalu duduk di salah satu kursi. Untung ada beberapa orang yang ikut meneduh jadi Amanda tidak terlalu takut malam-malam begini masih keluyuran.


Entah, berapa menit dirinya menunggu, hujan masih belum reda. Ditambah, orang yang berteduh semakin sedikit, mereka sudah dijemput dan ada pula yang rela kebasahan agar bisa cepat-cepat pulang. Amanda mengeratkan pelukannya pada tubuhnya, meski sudah memakai jaket, dinginnya menusuk kulit.


Seseorang dengan payung biru memakai jaket hoodie dan masker, membuat Amanda penasaran, merasa familiar. Bukankah itu, suaminya?


Amanda berdiri lalu menghampiri suaminya. "Mas Adit?"


Benar saja, itu suaminya. Dia seperti sedang mencari keberadaannya. Amanda menyuruhnya untuk naik ke teras supermarket.


"Aku kan udah bilang nggak usah dijemput!" Amanda malah khawatir dengan Adit yang basah kuyup. "Azka sama siapa di rumah?"


"Aku titipin ke Bidan Nisa," balas Adit santai. Tangannya mengambil sesuatu dari kantung hoodienya, sebuah mantel.


Amanda mengambil tisu yang tadi dibelinya, lalu mengusapkan perlahan ke wajah Adit. "Di bilangin susah banget, sih. Nanti kalau kamu sakit gimana?"


"Aku lebih baik sakit, daripada cuman diem di rumah nunggu kamu pulang, padahal hujan besar. Resikonya lebih buruk, sayang. Kalau kamu jatoh atau diculik, gimana?" kata Adit sambil mengelus puncak kepala Amanda.


Mata Amanda mendelik, suaminya terlalu berlebihan. "Ih, lebai!"


"Pake ini," ucap Adit salah satu tangannya yang menganggur mengeluarkan sebuah mantel yang berada di saku jaketnya.

__ADS_1


"Kamu bawa mantel, kenapa tadi nggak dipake!" omel Amanda yang heran pada tingkah suaminya itu.


"Kan ini mau di pake sama kamu."


"Kenapa nggak beli dua?"


"Nggak kepikiran soalnya aku pake payung, sayang."


Entah Amanda harus senang atau sedih, karena Adit selalu berhasil membuatnya jatuh hati.


"Yaudah, tunggu dulu."


Inisiatif Amanda membeli mantel abang-abang yang ada di sekitaran supermaket. Lalu, di berikan pada suaminya.


Mereka berdua memakai mantel secara bergantian. Setelah itu berjalan beriringan menuju motor milik Adit.


"Kalau aja punya mobil, kamu nggak harus ujan-ujanan begini," gumam Adit, yang bersiap melajukan motornya. "Maaf ya."


"Kenapa harus pakai mobil, sementara apapun keadaannya asal sama kamu, aku udah bahagia, kok," balas Amanda sambil niatnya menggoda, sayangnya Adit tidak bisa melihat kedipan genit mata istrinya.


"Dari kecil kamu selalu dimanjakan dengan hal-hal mewah, tapi gara-gara sama aku kamu malah nggak bisa merasakan itu, bahkan itu berimbas ke Azka."


"Ih!" Amanda menggeplak kepala suaminya menggunakan helm, merasa kesal. "Aku nggak suka, kamu mulai bahas ini! Cepet nyalain motornya!"


Sepertinya Adit sedang mengajaknya perang.


"Mas Adit mulai, deh."


"Contohnya sama Rendra."


Ya, bisa dibilang Adit salah orang yang menjadi saksi kisah cinta Amanda dan Rendra, karena dulu dia bekerja di sekolah mereka dengan menjadi seorang staf administrasi. Dulu, Amanda benci dengan Adit karena secara terang-terangan selalu mengemis cinta padanya, padahal saat itu ada Rendra yang menjadi pacarnya. Tapi, sekarang jika harus mengenang masa-masa itu Amanda merasa bersalah pada suaminya. Ternyata dia jauh lebih baik dari Rendra.


"Aku butuh seseorang yang bertanggung jawab, dan itu ada di kamu. Please, jangan bahas Rendra. Kamu kan tau, dia satu-satunya orang yang aku benci."


Mengerti keadaan masalalu Amanda dan mantan pacarnya yang tidak baik-baik saja, membuat Adit berhenti membahas topik itu.


"Maaf deh, nggak akan lagi." Adit mengambil helm lalu memakaikan pada Amanda. "Jangan marah."


Amanda mengangguk pelan. "Iya."


"Senyum dulu."

__ADS_1


Amanda terpaksa tersenyum, karena jika dia tidak menuruti perintah suaminya mereka mungkin tidak akan pulang.


"Oke, pegangan yang kenceng biar cantiknya nggak ke bawa hujan."


Di belakang Amanda hanya bisa menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum bahagia. Tangannya mengerat pada pinggang Adit. Tidak perlu dengan kemewahan untuk bahagia. Hal sederhana seperti ini juga rasanya sudah sangat cukup, asal dengan orang yang dicintai.


Sementara seorang lelaki hanya bisa melihat mereka dari dalam mobilnya, memegang stir dengan erat melampiaskan kemarahannya pada diri sendiri, ya Rendra pikir dia bisa melupakan Amanda, ternyata tidak bisa. Mungkin, inilah alasan kenapa sampai saat ini Rendra sulit membuka hati karena perasaannya masih tertuju untuk Amanda.


Pertemuannya dengan Amanda di supermarket ini bukan kebetulan, karena Rendra memang sengaja ke rumah perempuan itu untuk melihat Azka, berharap anak itu sedang main di teras rumah. Tetapi bukan Azka yang ditemuinya, melainkan Amanda yang hendak berbelanja ke supermaket.


Entah, apa yang merasuki pikirannya Rendra seperti pengintai yang hanya mengawasi Amanda dari kejauhan, sampai hujan deras pun Rendra masih stay di mobilnya tanpa ada pergerakan. Bukan tidak berani, hanya saja ada batasan yang terlalu tinggi antaranya dirinya dan Amanda. Apalagi, melihat kemesraan yang ditujukan oleh pasutri itu, seketika membuat udara yang harusnya dingin itu malah menjadi panas.


Payung yang hampir Rendra berikan pada perempuan itu, hanya tersimpan di rapi di sisinya. Rendra memilih untuk diam dengan rasa penyesalan yang mendalam.


Rendra kebingungan, apa dia harus menuruti perkataan sahabatnya, untuk berusaha membuat Azka tahu bahwa dirinya adalah ayah kandungnya?


Entahlah.


Tangan Rendra mengambil sebuah alkohol yang berada di dasboard mobil, lalu meneguknya sampai habis. Ia berharap bisa mengurangi rasa sakit di kepalanya, tetapi ternyata masih sama. Tiba-tiba ponselnya berdering, dari mamanya.


"Halo, Ren?"


Rendra hanya menempelkan ponsel itu di telinga. Tanpa menjawab sambungan di sana. Matanya terlihat kosong.


"Kamu di mana? Mama khawatir sayang, cepet pulang, ya!"


"Halo, Ren? Kamu baik-baik aja kan?"


"Ren? Rendra?"


"Ma, Rendra harus gimana?" akhirnya Rendra bersuara, bagaimanapun sifat mamanya tetap saja, di saat-saat begini dirinya membutuhkan wanita itu.


"Ternyata Rendra masih memikirkan Amanda, Ma."


"Hah? Maksud kamu apa, Ren? Oke-oke, mending sekarang kamu pulang dulu, nanti ceritakan semuanya sama mama di rumah. Kita cari solusinya sama-sama."


Tut.


Sambungan dimatikan secara sepihak, Rendra benar-benar serba salah.


***

__ADS_1


Note: Kasian Rendra ngegalau terus:(


Jangan lupa like, favorit dan coment yaa biar makin semangat nulisnya, hehe.


__ADS_2