Ayah Untuk Azka

Ayah Untuk Azka
19 : Penawaran


__ADS_3

Bukan ke kantor, Adit menemui mertua keduanya itu di sebuah rumah besar yang terletak di kawasan elit.


Untuk kedua kalinya, ia menginjakkan kakinya ke rumah ini, tetapi tetap saja selalu membuatnya terpesona. Batang-barang antik menghiasi setiap ruangan, membuat suasana serasa berada di rumah mewah jaman dulu.


"Hai, Dipta." Sepertinya, dia lebih suka memanggilnya dengan sebutan Dipta, padahal ia sudah menyuruhnya untuk memanggilnya dengan nama Adit.


Adit yang menunggu di ruang tamu itu, langsung hormat saat melihat kedatangannya, yang selalu tampil sempurna, meskipun sudah berumur. Kini dirinya yakin, kecantikannya menurun pada Kinan. Bukan berarti, Adit terpesona hanya saja sebagai lelaki dia mengakui itu.


"Kinan pasti marah-marah karena rencana quality timenya terganggu," ucap Madam, dengan anggunnya dia duduk di hadapan Adit. Sementara, satu bodyguard yang sedari tadi mengawasi Adit di perintah untuk meninggalkan ruangan ini, tersisa hanya dirinya dan sang mertua.


Adit hanya tersenyum tipis, ya dia malah bersyukur madam memanggilnya. Ia benar-benar tidak bisa terlalu lama bersama Kinan, karena bayang-bayang wajah kesedihan Amanda selalu hinggap di otaknya.


"Ini." Madam memberikan sebuah berkas.


"Kamu tau kalau Papa Kinan itu sedang sakit. Saya berharap dia segera dipanggil," ucapnya tanpa beban, malah diakhiri tawa. "Biar semua warisan jatuh ke tangan Kinan."


"Lalu, hubungannya dengan saya apa?"


Madam menatap Adit penuh arti, senyuman aneh itu terukir di bibirnya. Adit jadi ingat, ketika wanita ini untuk pertama kalinya menawarkan diri untuk bekerja di club yang dikelolanya.


"Papa Kinan hanya punya satu-satunya anak kandung yaitu Kinan, tapi kamu tau keluarganya sangat berharap kekayaan itu bisa mereka kuasai dan membuat Kinan jadi gelandangan. Sifat iri dengki merekalah yang membuat saya dan papa Kinan bercerai," cerita Madam padahal Adit tidak memintanya untuk menceritakan kisah yang mungkin menyedihkan itu. Tapi, karena rasa hormat padanya yang juga sebagai perantara Adit menjadi seperti sekarang, Adit menyimaknya dengan sungguh. "Saya hanya berharap pada kamu, Dipta."


"Kenapa harus saya? Pasti Papa Kinan sudah membuat wasiat sebelumnya dan itu pasti jatuh pada anaknya."


Madam menggelengkan kepalanya. "Kinan hanya akan dapat keseluruhannya, kalau dia menikah dan memiliki seorang putra. Jadi, kamu tau maksud saya meminta kamu datang ke sini kan?"


Adit terdiam mencerna apa yang dikatakan oleh Madam. Tunggu, ini bukan seperti rencana awal dan kesepakatan. Adit hanya perlu menikahi Kinan dan sebagai imbalannya dia mendapat kehidupan yang layak dan sebuah club yang sekarang dikelolanya.


Sebelumnya, Madam tidak memberitahunya tentang ini. Bahkan, Adit ingat sekali ketika wanita di depannya ini menangis agar menikahi anaknya, yang katanya tidak juga menikah karena memiliki penyakit yang membuat lelaki tidak tertarik padanya. Apa itu semua bohong?


"Kenapa madam tidak memberitahu sebelumnya tentang ini?"


Wanita itu tersenyum. "Saya yakin kamu tidak akan mau jika saya bicara tentang ini sebelum kalian menikah."


Ya, pastinya Adit menolak karena hal itu mungkin nantinya akan lebih menyulitkan dirinya berpisah dengan Kinan.

__ADS_1


"Sudahlah Dipta, saya tahu kamu juga melakukan hubungan seksual kan dengan Kinan?" tanya Tamara enteng, membuat Adit merasa malu. "Bagaimana, rasanya? Asal kamu tau, kamu adalah orang pertama yang menyentuh anakku. Ah, beruntung sekali."


Adit ingin sekali hilang ditelan bumi, dia benar-benar malu karena tidak bisa mengontrol hasratnya, mungkin jika Kinan tidak mencoba menggodanya terus-menerus hal itu tidak akan terjadi.


"Tidak mudah kan untuk melahirkan seorang putra? Mungkin nanti jabatanmu juga akan lebih tinggi, seperti menjadi CEO sebuah perusahaan. Tentu, pekerjaan itu akan lebih bermartabat daripada menjadi seorang pemilik club ilegal," tawaran yang sangat menggiurkan.


Adit berada di tahap serbasalah, dia sudah banyak menyakiti Amanda dengan pernikahan bisnis ini, tetapi dia juga butuh uang dan kuasa. Adit tidak mau hidup dalam kesusahan dan pandangan buruk orang-orang karena tidak pernah sukses. Apa yang harus dilakukannya?


"Kamu bisa memikirkan hal ini sambil menjalaninya, bukan? Jangan pikirkan lagi rasa sakit istrimu itu, karena semua sudah terlambat. Toh, kamu melakukannya untuk mereka juga kan? Manusia akan lebih bahagia jika banyak uang," hasut Tamara dalam yang melihat Adit yang mungkin sedang berpikir keras. "Istrimu akan senang, karena kamu akan menjadi pengusaha sukses."


"Apa yang akan saya dapatkan jika menyetujui kesepakatan ini?"


"Sebuah perusahaan milik papa Kinan di Jakarta, akan beralih atas namamu dan aset-aset lain yang mungkin bisa kamu kuasai," balas Tamara.


"Deal!"


Adit akhirnya berucap, setelah berperang dengan pikirannya. Bukankah, dia hanya perlu menyembunyikan semua ini dari Amanda, kini dia punya kuasa untuk melakukan hal itu? Kuncinya satu, jangan sampai Amanda tahu. Ya, Adit berjanji setelah semua selesai dan diirinya mendapat bagiannya dia akan menyelesaikan semua ini dan kembali menjadikan Amanda, istri satu-satunya.


****


Selain kekayaan yang didapat, karena pekerjaan ini membuat Adit bisa kapanpun bertemu kedua orangtuanya. Ya, mereka sudah berdamai dengan masalalu dan bisa menerima Adit kembali. Apalagi Adit sudah berubah, bukan si pengangguran atau si lelaki miskin.


Kedatangannya ke rumah itu di sambut baik oleh dua adiknya yang masih bersekolah di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Mereka tampak terlihat bahagia, mendapati kakaknya membawa banyak totebag berisi belanjaan.


"Dit, kamu habis dapat gaji?" tanya sang ibu yang sedang menjahit, meskipun sudah tua tetapi dia masih membuka jasa tukang jahit. Beberapa bulan lalu, padahal Adit sudah menyuruhnya untuk berhenti.


"Iya, Ma."


"Kak Adit bawa apa?"


"Baju dong buat kalian!"


"Asyik, sekarang Lila bisa pakai baju bagus lagi," ucap adiknya yang masih kelas 4 SD itu dengan girang, mengambil totebag dan membukanya memilah-milah mana yang cocok untuknya.


"Mah, kan Adit sudah bilang jangan bekerja lagi. Biar Adit aja yang kerja," titahnya sambil duduk di salah satu kursi kayu.

__ADS_1


"Gapapa Dit, itung-itung menghabiskan waktu luang. Mamah bosan kegiatannya cuman duduk di rumah nungguin adik-adik pulang."


Adit menghela napas, memang keras kepala. "Mamah susah dibilangin, oiya Bapak mana Mah?"


"Dibelakang lagi ngasih makan ayam."


Rumahnya memang masih terdapat di sebuah perkampungan padat penduduk dan ayahnya hanya sebagai peternak ayam dan kambing. Penghasilannya tidak menentu, sementara adik pertamanya ikut membantu keuangan keluarga dengan menjadi waiters di salah satu restauran. Tentu, sekarang Adit ingin menebus kesalahannya karena pernah meninggalkan mereka dengan kesengsaraan. Sepertinya dirinya harus membeli sebuah rumah baru yang layak untuk keluarganya


"Kak Adit, ini punya siapa?!" teriak Lila mengacungkan sebuah baju bergambar spiderman, membuat ibunya juga melihat ke arah Lila.


Adit mengambilnya lalu memasukan kembali ke totebag, sepertinya tercampur dengan milik keluarganya padahal Adit sudah memisahkannya dan menyimpan di bagasi mobil.


"Sudah lama, amama mau tanya tentang Amanda." Tiba-tiba untuk pertama kalinya mamanya mengungkit tentang Amanda.


"Hah?"


"Bagaimana keadaannya?"


"Baik, Ma." Adit tahu hubungan keduanya tidak berjalan baik, karena mamanya berasumsi bahwa Amanda telah merebut anak sulungnya.


"Sudah berusia berapa tahun anaknya?" Bahkan, mamanya menyebut anaknya bukan anak kalian, yang menunjukan bahwa beliau hanya menganggap itu adalah hanya anak Amanda.


"Mau lima tahun, Mah."


Mamanya mengangguk. "Ajak main ke sini."


Walaupun nadanya terkesan datar, tetapi Adit menatap mamanya berbinar. Bukankah berarti ini lampu hijau?


"Mama nggak marah lagi sama Amanda?"


Senyuman tipis terukir. " Amanda berhasil menjadi seorang istri yang baik hingga kamu bisa berhasil menjadi seperti sekarang. Bukankah, mama harus berterima kasih padanya?"


"Mah!" Adit langsung memeluk ibunya dengan erat, mengecup pipinya beberapa kali. Ah, jika Amanda tahu tentang ini dia juga pasti akan senang. Suasana rumah yang dulunya sendu karena kehilangan si anak sulung itu kembali cerah. Uang memang sumber kebahagiaan.


***

__ADS_1


... ...


__ADS_2