
Amanda merasakan badannya sedang kurang fit, meskipun Dara sudah menyuruhnya untuk pulang ia tidak mau, apalagi harus meminta izin pulang pada Rendra. Mending menahannya, daripada harus bertemu lelaki itu.
"Man, kamu yakin mau kerja dalam keadaan gini?" tanya Dara untuk kesekian kalinya melihat temannya itu sedang mengoleskan kayu putih ke perutnya. "Yang lain jadi nggak pokus kerjanya. Mereka khawatir sama kamu. Kalau kamu nggak mau minta izin ke Pak Rendra secara langsung, biar aku aja. Gimana?"
Amanda menggelengkan kepalanya, kekeh. "Aku kuat kok."
Dara menghembuskan napas pasrah. "Sudah banget sih kamu dibilangin, Man," katanya sambil menjauh dari Amanda dan kembali ke pekerjaannya.
Setelah merasa cukup mengolesi perutnya, Amanda menyusul Dara. Bukan hanya karena Rendra, tetapi restauran sedang ramai, semuanya terlihat sibuk. Jika Amanda izin, personel akan berkurang teman-temannya pasti akan lebih lelah.
Amanda mengantarkan pesanan pada beberapa meja, semuanya berjalan lancar. Ia pun, merasa tubuhnya agak enakkan.
"Manda, giliran kamu." Dara memberitahunya bahwa kini giliran dirinya beristirahat. Padahal, biasanya mereka akan makan bareng di luar tetapi karena ramai terpaksa bergiliran.
Ia mengambil jatah makannya, lalu berjalan ke sebuah ruangan yang biasa di gunakan untuk istirahat. Mungkin karena asam lambungnya naik dia jadi kurang bernafsu.
Krek!
Amanda tidak jadi menyuapkan nasi ke mulutnya, lalu menoleh ke sekeliling. Ruangan ini terbilang besar, tetapi karena stok barang untuk perabotan masak di simpan di sini jadi terlihat sempit. Ditambah, loker penyimpanan juga ada di sini.
"Siapa di situ?" tanyanya penasaran. "Dara? Bang Alfi? Kak Kiran? Kak Vira? Davin?" Ia menyebut satu persatu teman-temannya. Tetapi tidak ada sahutan.
"Udah deh, Dav! Jangan bercanda, kebiasaan. Keluar sini, aku lagi gak nafsu makan. Dagingnya boleh buat kamu!" Amanda mengira itu adalah Davin, asisten chef yang sering menjahilinya.
Amanda mengangkat bahunya tidak peduli, mungkin bukan Davin tapi kucing atau hantu? Ah, tidak mungkin ada hantu siang begini. Alisnya terangkat, melihat satu kresek yang tergantung di lokernya.
Tangannya mengambil kresek itu lalu membukanya. Ada obat, roti dan susu rendah lemak. Meski sempat bingung, tetapi Amanda merasa terharu. Dara begitu care padanya.
"Makasih, Dara. Kamu tau aja apa yang aku butuhin." Tangannya mengambil isi kresek itu. Setelah meminum obat, Amanda merapikan bekas makanannya laku kembali bekerja.
Sementara masih di ruangan itu, ada satu orang lelaki yang menghela napas lega saat Amanda sudah keluar.
"Untung nggak ketauan," katanya seraya menepuk-nepuk jasnya yang berdebu karena bersembunyi di dekat rak yang entah sudah berapa lama belum dibersihkan.
Sebenarnya, Rendra tidak ingin melakukan ini, tetapi mendengar kabar Amanda yang sedang sakit tapi tidak mau izin pulang. Ia merasa khawatir, apalagi Amanda hanya hidup berdua bersama anaknya. Jika sampai sakitnya berkelanjutan, bagaimana dengan anaknya? Jadi, Rendra inisiatif membeli obat paling ampuh untuk penyakit asam lambung, dengan harapan bisa memperbaiki kondisi kesehatan perempuan itu.
"Loh, Pak Rendra ngapain di sini?"
Rendra yang berada di mulut pintu, terdiam. Tidak ada kesempatan untuk bersembunyi, tanpa ditebak Amanda kembali ke ruangan ini.
"Seharusnya saya yang tanya, kamu ngapain ke sini?" balas Rendra di dengan nada tegas. "Sekarang masih jam kerja."
__ADS_1
Amanda tampak kebingungan. "Saya abis istirahat, ada yang naro plastik ini di loker. Saya kira itu dari Dara, ternyata bukan. Saya mau mengembalikan ke tempatnya, takut punya yang lain."
"Itu punya saya!" kata Rendra keceplosan. Untunglah, dalam persoalan kerja Amanda terlihat profesional. Jadi, dia masih terlihat bersahabat pada Rendra.
Amanda mengangguk, lalu menyerahkan kresek itu pada Rendra. "Maaf, saya tadi minum obatnya."
"Eng-"
"Perlu diganti?" tanya Amanda yang langsung mendapatkan gelengan kepala.
"Nggak usah."
"Yaudah." Tanpa kata lagi Amanda pergi meninggalkan Rendra yang memegangi kresek itu.
Untung Amanda tidak curiga, batinnya lega.
****
Hujan deras mengguyur dari sore, Amanda sebenarnya ingin bergelung di kasur dan tidur nyenyak, tetapi anaknya itu sedang asyik bermain di ruang tengah dengan satu set kereta berserta rel yang dibelikan Gilang. Jadilah, Amanda hanya bisa rebahan di soffa. Tidak mungkin, Amanda membiarkannya bermain sendirian.
"Tut, Tut, kereta api. Tut, Tut..." Azka bernyanyi mengikuti lagu yang sengaja diputar Amanda dari televisi.
"Abang udah, yuk. Bunda mau tidur."
Tiba-tiba ketukan pintu membuat Amanda mengerutkan kening. Siapa yang bertamu malam-malam begini? Tangannya menyibakkan selimut, mengambil benda tajam dari dapur, waspada.
"Kenapa bunda?" tanya Azka yang berubah ketakutan. Dia berhenti bermain, lalu memeluk pinggang sang ibu.
"Abang diem di sini, ya," titahnya dengan mendudukan Azka di sofa. "Jangan kemana-mana. Bunda mau periksa ke depan."
Amanda mencoba melihat dari jendela, ada sebuah motor yang terparkir di halaman rumah. Terlihat tidak asing, Amanda buru-buru membuka pintu lalu menyodorkan pis*u itu ke arah sosok lelaki yang basah kuyup. Sudah ia duga, Rendra.
"Ngapain kamu ke sini?"
Ujung benda tajam itu persis berada di hadapan Rendra, lelaki itu tidak bergerak. Tangannya terangkat ke atas, seraya berucap. "Aku bakal jawab, tapi kamu turunkan dulu pisaunya."
Amanda yang merasa kesal dengan kedatangannya. Ia hanya heran, sebenarnya dia mau apa lagi? Apa dia tidak ingat bagaimana kelakuannya dulu yang menghancurkan hidupnya? Benar, jika tidak ada namanya hukum, mungkin Rendra sudah mati di tangannya..
"Aku hanya ingin mampir, apakah tidak boleh?"
Benat-benar tidak tahu malu.
__ADS_1
"Kamu masih bertanya?"
"Motorku mogok, aku butuh bantuan," balasnya menunjuk motornya.
Amanda tidak percaya begitu saja. Dia pasti tahu rumah Amanda dari data diri saat melamar dan sengaja ke sini untuk mencari kesempatan.
"Kalau kamu takut aku macam-macam atau takut suamimu marah. Aku bisa meminta izin padanya terlebih dahulu."
"Tidak perlu, sebaiknya kamu pergi sekarang dari sini sebelum kesabaranku habis!"
"Tapi aku-"
"Ayah!"
Tiba-tiba Azka datang, Amanda langsung melindungi anaknya. "Itu bukan ayah, sayang."
"Itu ayah, bunda! Ayah di dalam mimpi Abang!"
Bruk!
Amanda buru-buru menutup pintunya. Lalu menarik anaknya, untuk pertama kalinya Amanda menatap Azka tajam.
"Dengerin, Bunda! Dia bukan ayah! Ayah kamu cuman Ayah Adit! Nggak ada yang lain! Itu cuman mimpi Abang, mimpi itu harus dilupain! Kalau Abang sekali lagi, bilang punya ayah selain ayah Adit! Bunda akan marah dan buang semua mainan Abang!" bentak Amanda hingga membuatnya menangis.
"Maaf, Bunda. Tapi benel bunda itu ayah-
"Bunda nggak suka kalau Abang bahas-bahas itu lagi! Mau bunda pukul?"
Amanda mengangkat tangannya bersiap memukulnya. Tetapi hanya terhenti di udara, perempuan itu menangis menjauhkan dirinya dari Azka. Ia memegangi kepalanya yang kembali menguapkan kenangan pahit itu, bahkan menangis meraung. Memukul-mukul kepalanya berharap kenangan itu hilang.
"Bunda?" lirih Azka. "Maafin Abang. Bunda jangan jahat, Abang jadi takut. Abang salah bunda."
Azka berdiri sambil menatap bundanya yang tengah menangis. Anak itu tampak kebingungan, ingin mendekat tetapi takut ibunya kembali marah.
Sementara di luar, Rendra hanya bisa menyender di balik pintu. Ia semakin yakin jika Amanda sedang menyembunyikan sesuatu. Anak itu, bahkan memimpikannya.
Wajar sekali jika Amanda marah karena kesalahannya memang tidak bisa termaafkan. Tetapi sungguh, kedatangannya murni khawatir karena Amanda sedang sakit. Ia hanya ingin memeriksa kalau perempuan itu dan anaknya baik-baik saja. Tidak ada niat untuk memanfaatkan kesempatan agar bisa kembali. Toh, Rendra cukup sadar diri kalau Amanda sudah berumah-tangga.
Ponselnya tiba-tiba berdering, memunculkan sebuah pesan yang ternyata dari Amanda.
From: Amanda
__ADS_1
Mas, kamu harus pulang! Dia datang kembali, dia mau ambil Azka. Aku butuh kamu, Mas! Dia mau menghancurkan rumah tangga kita!
Rendra menatap ponselnya dengan perasaan gamang. Sejahat itu kah aku di mata kamu, Manda?