
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Indah menyusun rencana riset untuk besok pagi. Ia ingin mendatangi panti rehabilitasi cacat fisik dikota. kemudian mengunjungi sekolah luar biasa yang ada didaerah terdekat. setelah itu baru dia akan mengunjungi keluarga-keluarga yang memiliki anak cacat fisik juga mental, termasuk ke alamat yang diberikan oleh pak Adhi kemarin. Penelitiannya mungkin akan butuh waktu berbulan-bulan tapi dia bertekad untuk membuat skripsi sebaik mungkin. Menurutnya, dunia anak-anak perlu mendapat perhatian seksama.Menurut laporan Unicef, jutaan anak-anak didunia bernasib sangat memprihatinkan.
Di sebagian negara Afrika jutasn anak-anak menderita kelaparan. Di bisnis, Lebanon, Amerika Latin tidak sedikit anak menderita akibat korban perang saudara. Dibeberapa negara Asia anak-anak terpaksa bekerja bahkan jadi pelacur. Sebagian akibat kemiskinan akhirnya menjadi pencopet dan pemulung.
Tapi Indah ingin mengkhususkan diri pada anak-anak cacat karena merekalah yang perlu mendapat perhatian lebih. Sebab tanpa pertolongan orang lain anak-anak cacat ini tidak bisa berbuat apa-apa. Pertama-tama perhatian anak ini harus berasal dari orang tua kandungnya. kemudian baru masyarakat. Padahal kenyataannya Indah banyak melihat justru banyak orang tua yang tak peduli dengan anak mereka. Mungkin karena malu atau karena pesimis terhadap perkembangan anak itu sendiri. Maka anak-anak itu dibiarkan begitu saja dengan ketidakberdayaannya.
Tadinya Indah hanya membaca di artikel majalah, koran dan media sosial. Dan ternyata apa yang dibacanya itu benar. Bahkan banyak diantara mereka memilih memasukkan anaknya ke asrama. Tapi mereka jarang mengunjungi anak mereka dengan alasan sibuk bekerja. Mereka merasa cukup hanya dengan mengirim uang saja. Padahal mereka tak tahu betapa pentingnya dukungan dan perhatian dari keluarga untuk anak-anak berkebutuhan khusus ini.
__ADS_1
Hari ini Indah datang ke kampus untuk konsultasi dengan dosen pembimbingnya pak Adhi.
"Bagaimana apa kamu mengalami kesulitan? "
"Untuk saat ini saya masih kebeberapa lembaga formal dulu pak. Baru kekeluarga-keluarga. " jawab Indah
"Terima kasih pak"
"Kamu sudah datang ke alamat yang saya berikan? " Belum pak"
__ADS_1
"Baiklah tak usah terburu-bury waktumu masih panjang. "
"Baik Pak. Terima kasih atas sarannya. saya permisi"
"Sama-sama"
Setelah merasa cukup berkonsultasi dengan pak Adhi. Indah mengambil mobilnya diparkiran. Terlihat banyak mahasiswa yang melihat kearahnya Tapi Indah berusaha cuek dan tak peduli. Menurutnya mereka memang berhak membenci prefesinya rapi mereka tak berhak menghakiminya. Selama pihak kampus tak merasa dirugikan kenapa mereka harus protes dengan apa yang dilakukannya. Toh setiap manusia tak ada yang sempurna. Semua pasti pernah melakukan kesalahan. Begitupun mereka yang ingin menghakiminya. Tapi kembali lagi pada diri sendiri ingin memperbaiki atau tetap melakukan perbuatan itu sendiri. Jika yang sudah mendapatkan hidayah seperti Indah maka seharusnya mereka tak wajib menghakimi tapi justru mereka seharusnya mendukung dan membantu mendampingi orang-orang sepertinya kembali ke jalan yang benar. Agar pendosa sepertinya ini tetap berada di jalannya dan tak salah dalam mengambil langkah untuk kedepannya.
Indah mengemudikan mobilnya pelan menuju alamat yang diberikan pak Adhi kemarin.. Ternyata tak begitu sulit mencari alamat tersebut. Letak rumah itu agak terpencil diantara perkebunan teh. Tampaknya pemiliknya bukan orang miskin tetapi juga bukan orang kaya.
__ADS_1