
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi-pagi sekali Indah sengaja datang kerumah keluarga Ruben. Perhitunganta dengan datang sepagi itu, Ruben belum pergi. Ketika dia mengetuk pintu, Via yang membukakan pintu. Ruben belum pulang katanya. Rambut perempuan itu masih tampak awut-awutan. Seperti tempo hari, tampak sekali Via tidak senang dengan kunjungannya.
"Boleh saya masuk? "
Dengan agak terpaksa, Via memperailahkan Indah memasuki ruang tamu .
"Tapi mas Ruben belum pulang"
"Saya ingin bertemu Bagas"
"Tidak bisa pokoknya harus ada ijin dari suami saya"
"Kalu begitu akan saya tunggu"
"Belum tentu dia pulang hati ini"
"Saya akan menunggu satu jam kalau dalam satu jam dia belum pulang saya akan pergi"
"Apa sih maksud mbak sebenarnya? "
"Saya ingin menolong Bagas"
"Menolong bagaimana? "
"Pertemukan saya dengan Bagas"
"Mbak akan menemui kesulitan nanti, anak setan itu pasti mengamuk"
"Dia bukan anak setan nyonya. Dia anak manusia. Bagas anak anda juga suami anda. Jadi dia bukan anak setan"
Indah sangat terkejut, ketika dari arah ruang tengah muncul seorang lelaki Sikap lelaki itu begitu dingin dan acuh. Tanpa berkata apa-apa dia duduk dihadapan Indah. Dia menatap Indah dengan pandangan bagai burung elang yang akan menangkap mangsanya. Dikeluarkannya rokok dari saku kemudian disulut sebatang. Indah tak tahu siapa lelaki itu.
__ADS_1
"Ini teman saya Hans"
Indah mengulyrkan tangan tetapi lelaki itu diam saja asyik dengan rokoknya.
"Hans? "
Via menegur lelaki itu. lelaki itu hanya bergumam. Tidak jelas apa yang digumamkan.Indah menarik tanganya kembali.
"Hans, jangan gitu dong! ini tamu saya"
"Nggak ada urusan"
"Kalau begitu keluar kamu! "
"Kamu ngusir aku? "
Via diam saja. Hans bangkit dari duduknya dan berjalan kearah pintu depan.
"Hans, keluar"
Lelaki tersebut menuju garasi. Dan tak lama kudian terdengar suara mobil meninggalkan halaman rumah.
"Siapa dia? "
"Teman"
"Hans selalu tidur disini? "
"Tidak juga"
"Apa Ruben tahu? "
"Dia tak pernah pedulikan kami"
__ADS_1
"Oh ya? "
"Beginilah keadaan rumah kami. Ruben tidak peduli pada lelaki yang datang kerumah asal Bagas tidak diganggu"
"Aneh"
"Memang aneh kedengarannya, tapi itulah kenyataannya"
"Maaf mbak Via....? "
"Mbak mau bertanya apa saya tidur dengan Hans?"
Indah diam saja.
"Saya tidak mengatakan apa-apa tentang hubungan saya dengan Hans. Tapi anda bisa menilainsendiri apa yang dilakukan seorang wanita dan pria jika berada dalam satu rumah. Saya rasa anda cukup dewasa dan bisa membayangkan seorang istri yang setiap hari ditinggal pergi suaminya lalu datanglah seorang lelaki lainnya datang dengan kepercayaannya"
Indah tak bisa menyalahkan Via. Sebab Indah teringat dirinya sendiri. Sama sekali tak bersih. Menyalahkan Via, dia harus lebih dulu menyalahkan dirinya sendiri. Dia justru heran dengan sosok Ruben. Bagaimana seorang suami tak peduli dengan istrinya sendiri. Apakah mereka menikah karena dijodohkan atau karena mereka tak saling mencintai?. Ntahlah itu membuat Indah pusing sendiri.
Indah melirik jam tanganya. Sudah satu jam dia menunggu tapi Ruben belum juga pulang. Indah heran sejak tadi dia tidak mendengar Bagas memukul kaleng atau menendang sesuatu.
"Saya tak mendengar suara Bagas? "
"Dia agak sakit"
"Boleh Saya menengoknya? "
"Jangan"
"Kenapa sih? " Percayalah Saya bermaksud baik"
"Saya tidak berani, Ruben bisa saja datang secara tiba-tiba"
Indah menghela nafas panjang. Untuk kesekian kalinya Indah kecewa tapi dia tak bisa memaksa. Akhirnya dengan berat hati dia pamit pulang dan berjanji akan datang lagi kerumah itu.
__ADS_1