
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ruben memegang pundak anaknya.Kemudian memandang perempuan disampingnya. Indah mengangguk lemah.
"Bagas, ini tanteIndah"
Bagas berhenti memukul kaleng didepannya.
"Terus mas Ruben, katakanlah sesuatu"
"Tante Indah datang untuk bersahabat dengan kita. Terutama Bagas"
Bagas mengangkat wajahnya dan memandang ayahnya.
"Terus, terus mas Ruben"
"Tante Indah ini baik lho"
"Bagas mau berteman dengan tante Indah? "
__ADS_1
Dengan cepat Bagas mundur kebelakang dengan cara mengesot.lalu Bagas menendang lemari besar yang ada dipojok kamar. Dilemparkannya, sema mainan sehingga berhamburan dari tempatnya. Ruben dan Indah menyingkir kepojok kamar yang lain. "Ingat mas Ruben harus sabar dan lebih bisa mengendalikan emosi. Ruben ingin menghentikan anak itu tapi dicegah oleh Indah.
" Biarkan saja mas, dia hanya sedang meluapkan amarahnya"
Hampir setengah jam Bagas mengamuk. Rupanya dia letih sendiri. anak itu lantas menjatuhkan dirinya diatas lantai. Nafasnya naik turun. Indah mendekatinya kemudian dielusnya kepala anak itu
"Untuk sementara cukup mas,kita keluar dulu"
"Apa Bagas tidak apa-apa mbak indah? "
"Jangan khawatir.Dia sudah melepaskan emosinya hari ini"
Indah keluar ruangan di iringi Ruben. Mereka menuju ruang tamu.
"Tapi dia sudah punya reaksi positif"
"Tandanya? "
"Tadikan sebenarnya dia ingin menyatakan sesuatu namun belum mampu. Dan sepertinya dia kecewa dengan dirinya sehingga mengamuk seperti tadi. ".
__ADS_1
Indah meminum tehnya. Sejak tadi dia tidak melihat Via.
" Dimana mbak Via? "
"Mungkin dia kepasar"
"Kalau begitu cukup mas Ruben, saya pulang dulu. "
"Anda akan kematian lagi kan? "
"Tentu saja. saya ingin melihat perkembangan Bagas"
"Terima kasih mbak Indah"
"Sama-sama mas. senang bisa membantu"
"Sampai bertemu lagi besok"
"Iya"
__ADS_1
Sesampai dirumah Indah segera mencatat apa saja yang ditemuinya hari ini. dari mulai ruang tamu yang tampak bersih, reaksi Via saat bertemu dengannya juga reaksi Bagas pertama kali melihatnya. Indah optimis bahwa Bagas bisa berubah dan sembuh. Apalagi menurut dokter kakinya bisa berjalan jika diterapi. Sekarang tekad Indah bukan hanya ingin skripsinya selesai tapi juga ingin membantu kesembuhan Bagas.
Hari-hari selanjutnya akan menjadi hari yang sibuk untuk Indah. Setiap hari dia akan menyempatkan waktu kerumah Ruben. Sekitar 2 jam dia disana untuk melihat perkembangan Bagas. Siang dia membaca buku dan menulis laporan. Dan malamnya dia menggarap skripsinya. Bertemu dengan Bagas merupakan kebahagiaan tersendiri menurut Indah. Dalam beberapa pekan saja Bagas sudah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Kata Ruben anaknya sudah bisa menangkap apa yang dimaui orang lain, misalnya ketika dia memukul-mukul kaleng, dia akan berhenti jika ayahnya atau ibunya menyuruhnya berhenti. Bahkan Via juga sekarang lebih sering bicara dengan Ruben sejak Ruben sering memberikan perhatiannya. Hans juga tidak pernah datang kerumah lagi sejak Ruben dan Via berbaikan.Itupun juga dengan adanya pengusiran Ruben yang marah karena mantan sahabatnya itu terus mendatangi sang istri. Dan Via sudah jelas menunjukkan penolakannya untuk hans. Hingga membuat Hans kalap Dan adu jotos dengan Ruben. Itu semua diceritakannya kepada Indah. Dan Indah menanggapinya dengan memberikan suport untuk Ruben Dan Via agar mereka semakin dekat. Hingga dia sampai melupakan bahwa dirinya juga punya seorang kekasih yang harus diperhatikan. Hampir tak ada waktu untuk sang kekasih. Tapi untungnya Arga sangat menghargai dan mendukung apapun yang dilakukan sangat kekasih karena Arga sendiri juga sibuk dengan tugas skripsinya. Menurut Indah Arga sosok kekasih idaman dan dia berjanji akan menjaga hati dan kehormatannya. Baginya sekarang Arga bukan hanya sosok kekasih tapi juga sosok calon suaminya. Diselamatkan waktu sibuknya dia selalu menceritakan kegiatannya setiap hari kepada sang kekasih. Meskipun tak bisa bertemu tapi setidaknya dia masih berhubungan baik dengan sang pacar.