
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Indah sangat santai karena baru besok jadwalnya untuk kerumah keluarga Ruben. Semalaman dia sudah menghabiskan ntah berapa buku psikologi anak serta membaca artikel-artikel dari majalah juga surat kabar. Tak ketinggalan dia juga membaca di media sosial tentang anak-anak cacat dan keluarga yang memiliki anak cacat. Maka hari ini dia benar-benar ingin santai. Dia berharap ada seseorang yang datang kerumah pagi itu. Tapi Arga sedang sibuk, Mira juga banyak tugas sedang Luna dan Bella sedang ada job, Cika juga sibuk dengan skripsinya. jadi dia hanya bisa duduk tenang dirumah sambil membaca semua artikel-artikel itu.
Indah duduk diteras depan rumahnya. Ada burung-burung bercicit dranting-ranting pohon jambu depan rumah. Indah tersenyum memandangnya. Kata orang tua dulu kalau ada burung bernyanyi tandanya akan ada tamu yang berkunjung.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Indah mengangkat wajah melihat siapa yang datang. Dia bangkit dari duduknya dan terkejut ketika melihat yang keluar dari mobil adalah Ruben.
"Lho mas Ruben? "
"Saya boleh datang kan? "
"Kenapa tidak, mari silahkan duduk"
"Tiba-tiba Saya ingin bertemu dengan anda"
"Tahu alamat Saya darimana? "
"Tadi Saya telfon dosen anda pak Adhi
"Oh... "
"Jadi pak Adhi uang memberikan alamat Saya? "
"Iya benar, Dulu kami memang bertetangga. Saya sering konsultasi kepada beliau. Tapi beliau kemudian pindah keperumahan dosen. "
"Kok bisa padahal pak Adhi kan belum berkeluarga"
"Katanya untuk sementara, kebetulan keluarga yang menempati sedang tugas belajar diluar negri"
__ADS_1
"Masuk mas Ruben" Ruben mengikuti langkah Indah memasuki ruang tamu.
"Sendirian? "
"Dengan pembantu"
"jadi anda belum menikah, lalu yang kemarin? "
"E, sebentar lagi menikah jika sudah lulus yang kemarin itu kekasih Saya"
"Orang tuamu dimana? "
"Ada dikampung"
Ruben duduk dikursi di depan Indah
"Saya ambilkan minum dulu. tapi maaf tidak ada Bir, mas Ruben mau minum apa? "
"Kopi saja mbak"
Indah melangkah masuk kedalam dan keluar lagi membawa secangkir kopi dan teh untuk dirinya sendiri.
"Besok Saya mau datang kerumah lho, apa ada penundaan rencana? "
"Tidak, silahkan saja. Tapi maaf Saya mendahului kemari"
"Saya malah senang kok"
"Boleh Saya merokok? "
__ADS_1
"Boleh, disini tidak ada larangan tamu untuk merokok"
Ruben mengeluarkan sebatang rokok dari saku dan disulutnya. Mereka berduaan agak lama. Tiba-tiba Ruben mengangkat wajah dan memandang Indah.
"Saya ingin bercerita kepada anda"
"Boleh, mau cerita apa? "
"Tentang hidup Saya. hidup Saya ini sudah rusak mbak"
Indah merasa Ruben ini orang baik. Dia tidak melihat sisi berandal dalam diri Ruben. Namun dia tidak tahu bagaimana kelakuan Ruben diluar sana. Dia juga tidK tahu kenapa dia dipanggil bos diBar kemarin yang dia kunjungi. Apakah Ruben pemiliknya? kalau sebagai pemilik kenapa harus dirahasiakan dari istrinya? Bagi Indah sosok Ruben masih misterius. Namun dia tak peduli. Sebab baginya yang terpenting adalah Bagas. Dan dia akan berusaha membantu anak itu semampunya"
"Sebenarnya Saya kemari karena Saya cemas"
"Cemas? "
"Kata Via, mbak Indah kemarin bertemu Hans dirumah Saya? "
"Yah ada apa mas Ruben? "
"Dia juga yang menunjukkan dimana harus menemui Saya bukan? "
"Mas Ruben marah? "
"Tidak juga. Hanya anda harus berhati-hati dengan Hans"
"kenapa? "
"Dia itu jahat. Bukan berarti Saya sendiri baik. Saya ini bajingan mbak Indah. Tetapi Saya punya prinsip tidak ngawur"
__ADS_1
Ruben terlihat menghembuskan nafas pelan seperti memiliki beban saat dia akan bercerita tentang dirinya, istrinya Via juga Hans.