
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi itu, Indah mengendarai mobilnya dengan pelan. Waktu juga masi menunjukkan pukul. 6.30 pagi. sisa-sisa embun masih tampak didedaunan. Tapi jalan raya tampan sudah mulai macet. Jam-jam seperti ini waktunya anak-anak berangkat sekolah juga para pegawai kantor berangkat bekerja. Padahal dia sengaja berangkat agak pagi untuk menghindari macet tapi tetap saja dia terjebak macet.
Setelah beberapa saat, Tidak terasaobil Indah sudah sampai dihalaman depan rumah yang dituju. Indah memarkir mobilnya dibawah pohon rambutan yang sedang berbuah sangat lebat. Pelan-pelan dia keluar dari mobil dan melangkah kedepan pintu. Diketuknya pintu Tidak lama dia mengunggu. Ruben keluar dan lempersilahkan dia masuk. Indah heran, suasana ruang tamu sudah berubah.Terkesan bersih dan rapi. Sarang laba-laba yang kemarin tampak di pojok ruangan juga sudah tidak tampak.
Indah duduk di kursi, sementara Ruben masuk kedalam. Tidak lama dia keluar lagi diiringi Via yang tampak membawa dia gela teh hangat. Setelah meletakkan gela dimeja, Via masuk lagi kedalam setelah sebelumnya dia menjabat tangan Indah dan mempersilahkan indah untuk meminum tehnya sambil tersenyum. Dari arah dalam rumah, Indah mendengar kaleng dipukul-pukul.
"Itu Bagas. Mbak Indah tentu sudah mendengar kaleng dipukul seperti itu ketika datang kemari kemarin"
Indah hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Begitulah Bagas setiap hari mbak. memukul kaleng bekas, menendang pintu ataubmembantibg barang-barang disekitarnya. "
"Mbak Via sudah pernah cerita"
"Apakah bagas bisa disembuhkan mbk? "
"Bisa mas, tapinmembutuhkan kesabaran"
__ADS_1
"Berapa lama? "
"Kita tidak tahu, kita lihat saja nanti yang penting kita berusaha dulu. "
"Satu tahun? Dua tahun? "
"Bisa lebih dari itu. semuanya tergantung kita juga"
Mereka berdiaman sebentar. Sepi beberapa saat. yang terdengar hanya bunyi kaleng dipukul seperti tempo hari hanya Saya tidak lagi terdengar bentakan-bentakan dari Via. Barangkali ada Ruben makanya Via tak berani melakukannya.
"Minum dulu mbak Indah"
"Iya termasuk kasih "
"Boleh kita bertemu Bagas sekarang? "
"Tentu saja, mari Saya antar"
Ruben masuk ke ruang dalam diikuti Indah dari belakang. Kamar Bagas sangat luas tetapi keadaannya berantakan. Dilantai terdapat sobekan-sobekan kertas, ada mobil-mobilan yang sudah ringsek kemudian mainan pesawat yang
__ADS_1
sudah rusak berat. Dipojok kamar, tampak Bagas sedang memukul-mukul kaleng bekas. Lelaki kecil itu tampak asyik dengan kegiatannya itu Tak peduli dengan kedatangan ayah juga orang asing yang berada dibelakang ayahnya.
Bagas diam saja memperhatikan Indah. Indah semakin mendekat sedangkan Ruben hanya menatap dari dekat pintu. Bagas menghentikan pukulannya dan terlihat menunduk.
"Selamat pagi Bagas? "
Bagas tidak peduli. Mungkin dia tidak mendengar pikir Indah. Dia lebih mendekat dan berjongkok didepan Bagas. Ketika indah merangkul pundak anak kecil itu. Tiba-tiba'plak', Bagas memukul lengan Indah dengan kayu ditangannya. Ruben terkejut dan lari mendekat.
"Kurang ajar, kamu apakan tante Indah? Anda tidak apa-apa mbak? " tanya Ruben khawatir
"Tidak apa mas Ruben" jawab indah sambil tersenyum Indah tetap berjongkok didepan anak itu.
"Awas mbak Indah, dia bisa melukai nda"
"Jangan khawatir mas Ruben. dia hanya masih curiga dengan kedatangan saya. Dia merasa saya orang asing hingga dia mencurigai saya"
Ruben berjongkok didekat Bagas. Bagas kembali memukul kaleng didepannya.
"Ucapkanlah sesuatu mas?
__ADS_1
"Apa yang harus saya katakan? "
"Apa saja. pokoknya tunjukkan bahwa anda punya perhatian yang besar untuk Bagas "