
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ruben menawarkan minuman tapi Indah dan Arga menolak. Indah takut sepulang dari sana dia akan mabuk. Terlebih ada sang kekasih disampingnya Dia takut meracuni otak bersih Arga dengan minum-minuman keras apalagi tak ada jus disana.
"Via yang memberitahu anda alamat ini? "
"Bukan"
"Siapa? "
"Apa itu penting? "
"Tidak juga. Siapapun yang memberikan alamat ini. Anda sudah sampai disini"
"Duakali saya datang kerumah anda"
"Saya jarang dirumah"
"Dan istri anda tidak tahu anda berada dimana"
"Untuk apa anda mencaru Saya nona Indah? "
"Soal Bagas, putra anda"
"Bah, jadi anda sudah bertemu dengan anak saya"?
" Ingin bertemu tapi belum bertemu. Istri anda melarang Saya bertemu dengan Bagas sebelum ada ijin dari anda"
"Memang saya yang melarang, adanya kalau dia melanggar bisa aku bunuh"
"Tapi kenapa? Bukankah dia istri anda? "
"Sudah banyak yang ingin bertemu dengan Bagas. Mereka hanya ingin menjadikan anakku percobaan. Anda pasti punya tujuan yang sama. Anda mau mengejek saya dan anak saya. Anak cacat, anak terkutul, anak sialan"
__ADS_1
Indah diam saja membiarkan Ruben melepaskan emosinya. Lelaki itu meminum bir dari gelas didepannya.
"Jangan bertemu anak saya.Dia anak setan. Tapi saya sangat menyayanginya. Kadang-kadang saya ingin membunuhnya untuk melepaskan dari penderitaan. Bagas sebenarnya sangat menderita, kadang saya tidak tega melihat tingkahnya untuk itu saya jarang pulang ke rumah karena saya tak tahan mendengar umpatan atau cacian ibunya sendiri untuk putranya. "
"Saya ingin membantu"
"Anda? "
"Ya Saya"
"Ibunya saja membencinya dan mengatakan dia anak setan dan tiba-tiba anda datang bagai bidadari. "
Ruben tertawa keras sekali. Tawa yang kedengarannya getir sekali. Kemudian dipandangnya Indah.
"Dia bukan anak setan saudara Ruben. Dia anak manusia. putra anda dan istri anda"
"Ah, anda hanya menghibur. "
"Tidak, Saya tidak menghibur"
"Untung apa? Terus terang saudara Ruben. Saat ini saya, sedang menyusun sekripsi tentang pengaruh kasih sayang orang tua terhadap anak cacat jiwa. Kalau anda menganggap saya mencari keuntungan, ya terserah lah. Tapi bukan itu tujuan saya. Selama ini saya melihat banyak orang tua yang mentelantarkan anak cacat. Mereka malu dan lebih memilih menghindari anak mereka. Padahal anak mereka cacat akibat ulah mereka sendiri saat mengandungnya. Tapi setelah mereka lahir tidak sempurna, anak-anak itu dimaki, dikutuk ntah cacian apalagi. padahal pada kenyataannya orang-irang itu tidak bisa menghindari kenyataan bahwa mereka darah dagingnya sendiri"
Ruben diam saja mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Indah.
"Padahal anak-anak itu butuh pertolongan. Pertama-tama tentu harus dari orang tuannya sendiri baru dari lingkungan sekitar. Tapi kalau orang tuanya sendiri acuh dan tidak peduli? "
"Anda keliru nona saya sangat menyayangi Bagas "
"Tidak, anda tidak menyayanginya"
"Bagaimana anda tahu? "
"Bagaimana anda bisa bilang menyayanginnya kalau anda jarang pulang kerumah? Sementara anda membiarkan Bagas dengan seorang ibu yang menganggapnya Bagas anak setan. Apalagi setiap anda tak pulang dia memasukkan seorang lelaki kedalam rumah anda tapi anda hanya diam? "
__ADS_1
"Bah.Anda menyinggung perasaan saya nona"
"Maaf jika anda tersinggung, Tapi saya benar kan? " Ruben terdiam saja.
"Tolong saudara Ruben, pertemukan saya dengan Bagas "
"Kenapa? "
"Saya tidak yakin anda benar-benar membantu"
"Saya berjanji"
"Anda bisa Saya percaya nona Indah? "
"Saya berjanji"
"Baiklah datanglah kerumah Saya besok lusa. "
"Benarkah saudara Ruben? "
"Saya berjanji tapi saya tidak bertanggung jawab jika Bagas mengamuk dan melukai anda. Dia sangat agresif terhadap orang yang belum dikenal. "
"Saya tidak akan menuntut anda"
"Baiklah datang saja besok lusa"
"Terima kasih saudara Ruben"
"Sama-sama nona Indah"
"Kalau begitu Saya pamit dan sampai bertemu besok lusa"
"Iya, hati -hati di jalan nona"
__ADS_1
Indah meninggalkan Bar dengan perasaan gembira. Ternyata sosok Ruben tidaklah seburuk yang diberikan oleh Via dan Hans. Justru yang terlihat adalah sosok ayah yang welcome demi kesembuhan sang putra semata wayangnya.