Back To 2012

Back To 2012
10. Kamu Adalah Alasanku


__ADS_3

Betapa hancurnya hati Spring setelah bertemu dengan ibunya Winter. Tessa hanyalah seorang ibu yang hanya memiliki kekhawatiran terbatas terhadap anaknya. Di bandingkan harus mengkhawatirkan anaknya, ia lebih mengkhawatirkan pekerjaannya


Lain halnya dengan Spring, yang mendapati kasih sayang serta perhatian yang lebih dari kedua orang tuanya. Walaupun terkadang Spring merasa kesal dengan sikap perhatian ayahnya yang terlalu berlebihan, tapi terkadang ia juga akan merasa bersyukur karena tak mendapati orang tua seperti Winter.


Ia sangat bersedih dengan suasana di rumah Winter. Betapa kesepiannya Winter, orang tuanya yang hanya mementingkan pekerjaan, lalu kakaknya yang jarang pulang ke rumah, serta ia yang harus terus menyaksikan pertengkaran orang tuanya.


Spring telah di beri kesempatan untuk dapat bertemu dengan Winter, maka ia tak akan ragu untuk selalu menemani Winter. Karena saat ini hanya dirinyalah yang mampu mengisi rasa sepinya Winter.


Spring tiba di vila, dan mendapati Winter tengah tertidur pulas di atas sofa. Wajahnya nampak jelas terlihat pucat pasi, bahkan tubuhnya pun bermandikan keringat dingin. Spring tak tega bila harus membangunkan Winter. Ia tertuduk di bawah sofa tempat Winter membaringkan tubuhnya.


"Apa di dalam mimpimu, kamu sedang bersenang-senang. Hingga membuatmu tak terbangun ketika aku membuka pintu," ucap Spring sembari mengusap lembut pipi Winter.


Dia adalah wajah yang selalu di rindukan Spring, dan dia adalah sebuah alasan Spring tak bisa membuka hatinya untuk pria manapun. Dan dia juga sebuah alasan tuhan untuk memberikan Spring kado terindah, yaitu kembalinya ia ke masa lalu. Terlalu larut Spring menatap sendu wajah Winter yang tertidur, hingga tak sadar bila ia menitikan air matanya. Entah apa yang di rasanya saat ini, ia hanya merasa bersedih dan tak tega melihat Winter yang setiap pulang ke rumah harus merasakan kesepian. Bukan hanya kesepian saja, tapi juga harus mendapatkan luka untuk mentalnya.


Ia terlalu takut bila misinya untuk menyelamatkan Winter dari kematian akan gagal. Ia tak ingin menelan kekecewaan untuk kedua kalinya, dan ia juga tak ingin bila harus hidup tanpa melihat Winter.


Tak lama Spring menatap fokus wajah Winter, tiba-tiba saja matanya teralihkan ketika melihat memar di area lehernya Winter. Refleks Spring pun menyentuh memar di area leher sahabatnya itu, hingga membuat sahabatnya itu terbangun seketika. Spring pun terburu-buru memalingkan wajah sembari menyeka air matanya.


"Spring, kamu sudah datang. Sejak kapan kamu datang kesini?" Tanya Winter.


Spring menggaruk tengkuk. "Hm, sekitar sepuluh menit yang lalu."


"Mengapa kamu tak membangunkanku? Seharusnya ketika kamu datang, kamu langsung membangunkanku."


"Kamu terlalu pulas tertidur, aku tak sanggup bila harus membangunkanmu."


Winter menghela. "Kita harus pergi sekolah, seharusnya kamu bisa lebih cepat membangunkanku."

__ADS_1


"Aku minta maaf. Kita masih memiliki waktu tiga puluh menit lagi untuk pergi ke sekolah. Jadi kamu tak perlu khawatir akan telat masuk ke sekolah."


"Baiklah, aku akan mandi sekarang. Apa kamu sudah membawakan tas dan pakaianku?"


"Tentus saja sudah. Aku juga sudah membawakanmu sup hangat, agar perutmu bisa merasa nyaman."


"Terima kasih, kalau begitu aku akan mandi sekarang." Winter meraih kantong yang berisi pakaiannya, lalu beringsut dari sofa menuju kamar mandi.


Sementara Spring, ia di sibukan merapihkan meja makan untuk ia tempati bersama Winter melakukan sarapan. Betapa bahagianya Spring ketika merapihkan meja makan. Spring sampai membayangkan bila dirinya bisa tinggal berdua bersama Winter, layaknya seorang pasangan. Apa lagi bila dirinya bisa membangun rumah tangga bersama Winter. Ia jadi tak sabar ingin segera mengungkapkan isi hatinya kepada cinta pertamanya itu.


Hanya sekitar 10 menit Spring menunggu Winter mandi, Winter pun keluar dari kamar mandi, dan melihat meja makan sudah rapih dengan dua mangkuk sup hangat dan juga dua gelas minuman hangat di atas meja makan tersebut.


"Ayo sarapan dulu. Aku sudah menyiapkan supnya dan membuatkanmu minuman hangat."


Winter pun lalu menghampiri dan duduk di meja makan bersama Spring. "Apa benar sup ini kamu yang buat. Atau sup yang kamu bawa ini merupakan buatan ibumu."


Winter memicingkan matanya. "Aku tak yakin bila sup yang kamu buat ini akan enak. Karena dulu saja kamu pernah membuatkanku telur goreng gosong dengan rasanya yang asin."


"Kamu akan menyukainya bila kamu mencobanya terlebih dahulu."


"Benarkah." Winter pun mencicipi sesuap sup buatan Spring tersebut. Dan setelah sup buatan Spring telah menyentuh lidahnya, Winter pun seketika tersenyum. "Ini benar-benar enak. Apa benar kamu tak membohongiku."


"Tentu saja tak berbohong. Karena setelah gagal membuatkanmu telur goreng, aku bersunguh-sungguh belajar memasak. oleh sebab itu, aku sangat percaya diri ketika tadi aku berkata ingin membuatkanmu sup."


"Ternyata Spring yang pemalas ini bisa bersungguh-sunggu belajar memasak," ucap Winter sembari mengacak-ngacak rambut Spring.


Seketika Spring teringat dengan memar di leher Winter di kehidupan sebelumnya. Spring dulu memang tak terlalu mempedulikan dengan memar di leher Winter tersebut, karena dulu Winter menutupnya dengan plaster. Dan ketika di tanya pun, Winter hanya menjawab bila luka di lehernya itu akibat dari ketidak sengajaanya ketika berolahraga. Apa kali ini Winter akan menjawab hal yang sama ketika Spring kembali bertanya dengan luka di lehernya itu.

__ADS_1


"Hm, aku penasaran dengan memar di lehermu. Mengapa lehermu bisa mendapati memar?"


Spontan Winter pun mengelus memar di lehernya. "Oh ini, kemarin aku tidak sengaja terjatuh ketika sedang melakukan pull up di rumah. Aku cereboh, di kamarku yang sempit aku malah melakukan pull up dengan lemari tempat tanganku untuk memegang."


Dan benar saja, bila Winter menjawab hal yang sama seperti di kehidupan sebelumnya. Tapi kali ini, Spring tak yakin bila memar di leher Winter merupakan hal yang tidak di sengaja, Spring curiga bila Winter melukai dirinya sendiri. Karena keadaan psikis Winter yang tak baik, bisa saja Winter nekat melukai dirinya sendiri.


"Aku harap kamu tak lagi melukai tubuhmu, baik di sengaja maupun tidak."


Winter tersenyum. "Aku minta maaf karena sudah membuatmu khawatir soal lukaku ini. Tapi ini benar-benar tidak sengaja."


**


Setelah Spring dan Winter sudah menghabiskan sarapannya, mereka pun bergegas pergi ke sekolah. Mereka pergi sekolah hanya mengandalkan jalan kaki, karena jarak sekolah dari rumah maupun vila milik keluarganya Winter itu, tak terlalu jauh. Mereka berjalan hanya mebutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai.


Sesampainya mereka di pintu gerbang, Spring sudah di buat kesal dengan kedatangan Jinny dan teman-temannya. Jinny menghampiri Winter dan seenaknya merangkul lengan Winter tanpa permisi.


Spring menghela kasar nafasnya. "Bukankah kemarin sudah ku peringatkan, jangan pernah mendekati Winter. Karena Winter merasa tak nyaman bila harus di ikuti olehmu."


"Biarkanlah mereka terus berdekatan, Jinny dan Winter merupakan dewa dan dewi di sekolah kita. Mereka sangat terlihat cocok bak seorang pangeran dan putri," lontar salah satu teman Jinny yang bernama Valerie.


"Mengapa kalian selalu menjodoh-jodohkan Winter dengan Jinny. Winter merasa tak nyaman dengan perkataan kalian yang terus menyebutkannya cocok dengan Jinny. Winter berhak menentukan pilihan hatinya sendiri." Spring menatap Winter. "Bukankah begitu Winter?"


Winter melepas paksa tangan Jinny dari lengannya. "Iya, benar apa kata Spring."


Seketika Jinny menghela kasar nafasnya. "Jangan karena Spring temanmu, kamu harus menuruti perkataannya."


"Bukankah sebelumnya aku pernah bilang, bila aku merasa tak nyaman karena kamu terus menempel padaku. Bukan karena perkataan Spring, tapi memang kenyataannya aku merasa tak nyaman."

__ADS_1


Tak ingin berlama-lama di buat tak nyaman oleh Jinny, Winter pun segera melangkahkan kakinya sembari menarik tangan Spring.


__ADS_2