
Sesaat Spring melihat tumpukan obat di laci, keraguannya kembali terjadi. Dan ikuti oleh ketakutan yang juga muncul pada dirinya. Mengapa bisa dirinya tak berpikiran jernih, padahal sebelumnya ia sudah sangat percaya diri bila akan mempercayai Winter sepenuhnya. Hanya dalam sekejap, keperacayaannya langsung di buat ragu hanya karena tumpukan obat yang di lihatnya itu.
Spring duduk di sebelah Winter berbaring, matanya mulai berlinang saat menatap pria yang di cintainya itu terbaring lemah di atas tempat tidur. Demamnya tak kunjung turun, tapi Spring malah duduk memperhatikannya tanpa teringat untuk mengompres Winter.
"Betapa bodohnya aku. Bukannya segera memberikan dia kompresan, aku malah menangis memperhatikannya," gumamnya sembari menyeka air di kedua mata dan pipinya.
Spring pun bergegas menyiapkan kompresan untuk Winter. Begitu ia kembali, ia langsung meletakan kompresan tersebut di kening Winter.
Melihat Winter yang terbaring lemah di atas tempat tidur, tak membuat Spring ingin segera pulang ke rumah. Spring tak bisa begitu saja meninggalkan Winter seorang diri di rumahnya, di saat sahabatnya itu tengah sakit.
Kejadian ini mungkin serupa di kehidupan sebelumnya, akan tetapi saat itu Spring tak tahu bila Winter akan sakit seperti ini. Karena di kehidupan sebelumnya, Spring lebih memilih pulang di antar Skylar.
Spring tak bisa menahan tangis, sesaat setelah mengingat dirinya di kehidupan sebelumnya. Ia sangat merasa bersalah, mengapa bisa dirinya tak menyadari bila Winter akan sakit seperti ini.
"Apa sebelumnya kamu seperti ini, Winter. Maafkan aku karena tak menyadarinya," gumamnya dengan mata yang tak mau berhenti mengeluarkan bulir air.
Sesak dadanya bila membayangkan Winter yang menahan sakit seorang diri. Spring juga membayangkan, bagaimana kehidupan Winter sebelumnya, yang kesepian tiada teman untuk bersandar setelah Spring lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Skylar di bandingkan dengan Winter.
Setelah beberapa kali Spring menganti kompresan, Winter pun terbangun seketika, dan otomatis Winter pun melihat mata Spring yang sebab.
"Spring, kenapa kamu belum pulang?"
"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu seorang diri, bila kamu sakit seperti ini." Spring mengalihkan wajahnya, agar tak di sadari Winter bila dirinya habis menangis. Namun, Winter sudah menyadarinya selepas matanya terbuka.
Winter pun lalu terduduk, dan perlahan tangannya menyentuh lembut pipi Spring. "Mengapa kamu menangis?"
"Aku tak menangis, memangnya apa yang harus ku tangisi," ucap Spring tanpa menatap.
Winter pun tersenyum menatap wanita yang tengah mengalihkan pandangannya itu. "Apa aku mudah di bodohi. Aku tahu bila kamu habis menangis. Apa yang sudah membuatmu menangis, Spring?"
Seketika Spring mendekap erat tubuh Winter. "Walau sakitmu ringan, aku harap kamu selalu memberitahuku. Aku akan siap menemani dan merawatmu kapanpun."
__ADS_1
Dalam sekejap tangis Spring pun pecah dalam dekapan Winter. Entah apa yang di rasanya saat ini, keraguannya akan kepercayaan terhadap Winter membuat Spring gundah. Ia tak tahu harus percaya atau tidak, setelah melihat tumpukan obat di laci. Ia juga semakin merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Winter di kehidupan sebelumnya.
Lalu seketika mata Winter tertuju ke arah mangkuk sup yang di letakan Spring di atas meja. "Apa itu sup untukku?"
Spring pun terburu-buru menyeka air matanya, lalu dengan cepat melepaskan dekapannya. "Iya, itu untukkmu. Aku akan panaskan lagi supnya." Spring beringsut dari tempatnya duduk. Namun, Winter menahannya di kala kakinya akan melangkah. "Tak perlu, aku bisa memakannya langsung."
"Tapi supnya sudah dingin."
Winter menggeleng cepat. "Tak apa, aku bisa memakannya. Karena aku sudah pasti bila sup buatanmu pasti enak, walau di makan dingin."
Spring mengambil sup yang ia letakan di atas meja. "Apa benar akan enak bila supnya dingin."
Winter meraih mangkuk sup dari tangan Spring. "Tentu saja, sudah ku pastikan enak."
Winter dengan lahapnya memakan sup buatan Spring. Ia sangat menikmati supnya, hingga berulang kali Winter memuji sup buatan sahabatnya tersebut.
Selepas Winter menghabiskan supnya, Spring perlu memastikan tentang tumpukan obat yang berada di laci, bila ingin keraguannya itu menghilang.
"Hm, kamu sudah menghabiskan supnya. Sekarang sudah saatnya kamu meminum obat, aku akan mengambilkan obatnya." Spring beranjak ke arah laci yang terdapat tumpukan obat.
Langkah Spring pun terhenti, lalu berbalik menghadap Winter. "Iya, ada apa?"
"Bisakah kamu duduk kembali."
Spring lalu kembali duduk di sebelah Winter. "Bukankah sehabis makan kamu harus minum obat, kenapa kamu malah menyuruhku duduk?"
"Karena bukan bukan waktunya aku meminum obat."
Spring menarik dalam nafasnya, lalu dengan cepat ia bertanya. "Mengapa ada tumpukan obat di laci?"
Winter tersenyum. "Saat aku menginap di rumah pamanku, paman dan bibiku membawaku pergi ke klinik. Dan itu adalah obat yang di beri dokter. Kamu tahu kan, akhir-akhir ini aku sering sakit. Selain memberikan obat demam, dokter juga memberikan beberapa vitamin dan suplemen, agar tubuhku tidak gampang sakit."
__ADS_1
Spring pun berusaha meyakinkan dirinya agar bisa mempercayai Winter. Karena Winter merupakan orang paling jujur, dari dulu sampai sekarang Winter selalu terbuka kepada Spring. Spring juga yakin bila kematian Winter kehidupan sebelumnya, bukan karena ia tak bisa berkata jujur, tapi karena ia tak ada tempat berlabuh untuk mencurahkan isi hatinya setelah Spring menjalin hubungan spesial dengan Skylar. Maka dari itu, Spring dengan tegas akan selalu mempercayai Winter.
Spring tersenyum. "Kalau begitu, ikuti saran dokter dan jangan sampai kamu tak menghabiskan obatmu. Karena bila ingin sehat, kamu harus mengikuti saran dari dokter."
Winter menganguk sembari tersenyum. "Tentu saja. Sekarang kamu boleh pulang, kamu pasti capek setelah seharian sekolah dan merawatku."
"Bagaimana bisa aku pulang, bila keadaanmu masih sakit seperti ini."
"Selepas meminum obat, aku pasti akan merasa baik. Lagi pula demamku sudah turun setelah kamu mengompresku."
Spring pun meletakan tangannya di kening Winter, dan memang benar apa yang di katakan Wimter, bila demamnya sudah turun. Spring pun kembali beringsut dari tempatnya duduk, lalu segera pamit pulang kepada Winter. "Baiklah, aku akan pulang sekarang. Ingat untuk menghabiskan obatmu. Dan bila kamu ingin makan, kamu bisa menghubungiku. Aku akan siap menyiapkannya."
Winter kembali mengangguk. "Iya, pasti. Oh ya Spring, sebelum pulang aku ingin menyampaikan sesuatu."
"Menyampai apa?"
"Apa besok kamu ingin pergi berkemah di pantai bersamaku."
Spring pun seketika menatap heran Winter, besok bukanlah hari libur. Tapi seorang Winter yang tak pernah absen masuk sekolah, mengajaknya pergi berkemah pada hari sekolah.
"Bukankah besok masih sekolah?"
"Kita bisa pergi sehabis pulang sekolah."
"Lalu bagaimana dengan besoknya, bukankah sekolah tidak libur."
"Kita akan bolos sehari."
Spring menggeleng. "Bagaimana bisa seorang Winter mengajaku bolos sekolah."
Winter tergelak. "Apa aku harus terus-menerus jadi pria yang rajin hingga lupa dengan kesenanganku. Aku menginginkan tantangan, aku akan mencoba bolos sehari."
__ADS_1
Menghabiskan waktu bersama Winter merupakan salah satu tujuan Spring ketika ia kembali ke masa lalu. Maka Spring tak bisa menolak ajakan Winter tersebut. Apa lagi pergi berkemah di pantai merupakan hal yang tak pernah Spring dan Winter lakukan sebelumnya.
"Baiklah, ayo kita berkemah," ucap Spring tersenyum girang.