Back To 2012

Back To 2012
41. Pengakuan


__ADS_3

Entah sudah bosan atau karena sudah terlalu kesal, Spring tiba-tiba saja mendapat pesan lewat ponselnya dari Alex, bila kakak dari cinta pertamanya itu memintanya untuk bertemu di Villa milik keluarganya. Bergegaslah Spring untuk menemui pria yang di curigainya sebagai pembunuh cinta pertamanya itu.


Sesaat Spring sampai di sana, Alex tengah berdiri memandangi pohon favorit milik Spring dan Winter.


"Apa kamu memintaku bertemu karena kamu ingin mengakui kesalahanmu?" tanya Spring melangkah mendekatinya.


Di saat Spring datang menghampiri, Alex tak menatapnya sama sekali, matanya hanya fokus menatap pohon sakura yang tengah berbunga indah itu. Raut wajahnya nampak sendu, dan kedua matanya pun di genangi oleh air.


"Seharusnya saat ini Winter melihat pohon yang tengah berbunga indah ini," ucap Alex dengan kedua matanya yang mulai menitikan bulir air.


Tanpa sepengetahuan Alex, Spring dengan cepat menyalakan alat perekam di ponselnya. "Tak perlu basa-basi, lekaslah mengaku bila Winter meninggal bukan karena bunuh diri tapi karena kamulah yang membunuhnya," ucapnya meninggikan suara.


"Dia telah menggantikan posisiku." Alex menatap Spring dengan matanya berlinang. "Seharusnya saat itu, akulah yang mati," ucapnya yang juga meninggikan suaranya.


"Apa yang kamu maksud. Mengapa dia harus menggantikan posisimu?" tanya Spring terheran-heran.


Tangis Alex pun seketika pecah, ia menangis keras di hadapan Spring. "Saat itu aku sudah muak dengan tekanan ayah dan ibuku yang terus memintaku untuk masuk ke universitas terbaik di Amerika. Aku bahkan rela meninggalkan mimpiku hanya demi mengejar mimpi yang di harapkan orang tuaku. Sudah beberapa kali aku mendaftar ke universitas pilihan mereka, namun aku selalu gagal. Aku bahkan di tinggalkan oleh kekasihku hanya karena aku seorang pecundang yang tak mampu masuk ke universitas terbaik mana pun."


"Lalu, apa hubungannya dengan Winter. Mengapa kamu tega membunuh orang yang tak bersalah," ucap Spring dengan kedua matanya yang mulai tergenang.


"Ketika aku sudah sangat muak dengan kehidupanku, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Aku membeli beberapa barang dan racun untuk ku gunakan sebagai alat mengakhiri hidup. Tapi, karena salah satu temanku mencurigaiku, dia menelpon Winter. Dan pada akhirnya, saat aku mulai akan mengakhiri hidupku, dia datang dan mencoba untuk mencegahku," terang Alex yang matanya masih mengeluarkan bulir air.

__ADS_1


"Lalu, apa yang kamu lakukan hingga dia harus mendapatkan luka tusukan, dan mengapa pula dia harus menggantikanmu mati?" tanya Spring naik pitam.


"Karena dia terus memintaku berhenti, aku pun mengancamnya dengan pisau. Tapi dia terus mendekat ke arahku, hingga aku pun tak sengaja menusuknya. Dan memang benar, bila ayah dan ibuku telah membayar polisi untuk memanipulasi bukti, hingga pada akhirnya Winter di nyatakan bunuh diri."


Setelah mendengar cerita dari Alex, marahnya Spring pun mulai berada di tingkat didih, hingga membuatnya refleks menampar keras pria yang sudah merenggut nyawa orang yang paling di cintainya.


"Brengsek! Mengapa kamu berani sekali hidup bahagia setelah merenggut nyawanya."


"Setelah merenggut nyawa adikku, apa kamu pikir aku bahagia. Setiap saat aku selalu teringat kali terakhir dia menghebuskan nafasnya. Aku tak ingin hidup, akan tetapi saat terakhir dia menghebuskan nafasnya, dia memohon agar aku terus menjalankan hidupku. Aku pun menerima permintaannya, sebagai balasan untuk dosa yang telah ku lakukan. Dan aku pun terus tinggal di rumah agar aku selalu mengingatnya. Karena ketika mengingatnya, itu akan membuatku menderita, dengan cara seperti itu aku dapat menebus dosa yang telah ku perbuat," pungkas Alex yang seketika bertekuk lutut di hadapan Spring.


Spring pun akhirnya tak dapat lagi membendung air matanya, ia pun menangis sambil menarik baju Alex. "Kamu pikir dengan cara seperti itu, kamu dapat menebus dosamu. Kamu orang paling berdosa yang tak akan termaafkan." Spring menangis keras sambil menarik-narik baju Alex. "Kembalikan dia, kembali Winter, kumohon kembalikan dia."


"Memang benar, caraku tak bisa menebus dosa yang telah ku perbuat. Maka dari itu, hari ini aku akan menyerahkan diri kepada polisi." Alex pun berdiri, lalu melangkah pergi meninggalkan Spring dengan mata sembabnya.


"Tuhan, kumohon beri kesempatan untukku menyelematkannya sekali lagi. Bila kau tak dapat membuatku kembali, maka buatlah dia kembali hidup. Banyak mimpi yang belum dia tempuh. Tak cukup adil untuknya, mengapa dia harus kehilangan nyawanya hanya karena menyelamatkan nyawa seseorang."


Menangis dan memohon berjam-jam tak membuatnya kembali mengulang waktu, yang ada suaranya malah serak dan matanya semakin sembab. Walau begitu, Spring masih enggan untuk berhenti menangis. Ia terus-menerus menangis hingga membuat tubuhnya kelelahan. Pada akhirnya, Spring pun terbaring lemas dan tak sadarkan diri di bawah pohon.


Hingga ketika ia membuka kedua matanya, keajaiban kembali datang padanya. Tuhan telah mendengar permintaannya, Spring kembali mengulang waktu.


"Apa aku sedang bermimpi," ucap Spring di batinnya, sembari refleks mencubit tangannya sendiri. Selepas Spring mencubit tangannya, tangannya itu merasakan sakit. Ia pun sadar, bahwa yang di alaminya memang benar-benar nyata.

__ADS_1


Hanya saja waktu yang di ulangnya, ketika dirinya hendak pergi menemui Lucy. Namun anehnya, waktu yang seharusnya pukul 09.00 tapi malah pukul 08.30.


"Apa jam tanganku rusak, mengapa masih pukul 08.30," ucap Spring terheran-heran menatap jam yang melingkar di tangannya.


"Jam tanganmu tidak rusak, lihatlah waktu di jam tanganku sama dengan milikmu," ucap Skylar.


Spring pun spontan menatap jam tangan milik Skylar, dan memang benar apa yang di katakan mantan kekasihnya itu, bila waktu di jam tangannya sama persis dengan jam yang melingkar di pergelangan tangan mantan kekasihnya.


"Ku harap masih ada waktu, lebih baik putar arah dan kembali ke rumah Winter."


Skylar menghela, dan seketika ia menghentikan lajuan mobilnya. "Mengapa kita harus kembali, kita sudah sampai di depan rumah Lucy."


Bila Spring tak menemui Lucy, maka dirinya tak akan bisa memperbaiki hubungannya dengan Lucy, dan bahkan tak dapat bertemu dengan Lucy selama 10 tahun mendatang. Waktu yang di tempuhnya telah mundur 30 menit, masih ada waktu untuknya pergi menemui Lucy. Spring pun terburu-buru turun dari mobil, lalu dengan cepat menarik paksa Lucy hingga membuatnya masuk ke dalam mobil Skylar.


"Sky, cepatlah nyalakan mesin mobilmu, kita harus secepatnya menemui Winter," lontar Spring dengan raut paniknya.


"Apa yang kamu lakukan. Sky, berhenti!" ucap Lucy bernada marah.


Skylar tak menanggapi permintaan Lucy, ia terus mengemudikan mobilnya walau Lucy sudah sangat marah.


"Maaf, sudah memaksamu ikut. Setelah aku berhasil menyelematkan Winter, aku akan menjelaskan semuanya padamu," pungkas Spring.

__ADS_1


Lucy menghela kasar nafasnya. "Aku sudah muak dengan penjelasanmu. Dan aku tak akan pernah mau mempercayai perkataanmu lagi, jadi lebih baik turunkan aku sekarang juga sebelum marahku semakin membludak."


Walau Lucy terus memaksa untuk menurunkannya, Spring dan Skylar mengabaikannya. Bahkan ketika marahnya sudah membludak, Skylar masih tetap melajukan mobilnya.


__ADS_2