Back To 2012

Back To 2012
37. Skylar Yang Curiga


__ADS_3

Spring tak berhenti di situ saja untuk mendapat maaf dari Winter. Ia terus-menerus menekan Winter agar mau memperbaiki hubungannya. Satu alasan untuk Winter mau memperbaiki hubungannya, yaitu ulang tahunnya Spring. Winter tak menolak ajakan Spring untuk ikut ke resort. Mungkin karena Spring masih menjadi orang yang berharga untuknya, terlepas dari sikap egonya. Ia seakan tak ingin melewatkan hari spesial sahabatnya tersebut.


Sehari sebelum ulang tahunnya Spring, Skylar datang menjemput Spring di rumahnya. Termasuk dengan Winter yang turut ikut menaiki mobil Skylar. Atas permintaan Spring, Skylar mengizinkan Winter untuk ikut menumpangi mobilnya. Walau sebenarnya Skylar sedikit merasa tak suka bila Winter harus ikut menumpangi mobilnya. Bukan karena ia merasa benci, hanya saja Skylar ingin lebih banyak menikmati waktunya berdua dengan Spring.


Lain halnya dengan teman-teman yang lainnya, yang pergi secara terpisah. Tapi tidak dengan Jinny, yang memang juga di minta Spring untuk ikut bersama. Karena Spring tak ingin menimbulkan kesalah pahaman yang berujung masalah yang semakin bertambah.


Salah satu resort mewah yang berada di North Avenue Beach, merupakan tempat Skylar akan mengadakan pesta sederhana untuk Spring. Resort dengan pemandangan pantai tersebut mampu menyihir mata yang melihatnya. Semua bergembira ketika sampai di sana. Lain halnya dengan Spring, terlepas dari rasa khawatirnya terhadap Winter ia juga merasa tak nyaman bila harus satu kamar dengan Skylar. Di Amerika memang hal biasa bila sepasang kekasih tidur satu kamar. Tapi bagi Spring ini bukan hal biasa, ia merasa sangat canggung bila harus satu kamar dengan Skylar. Apa lagi isi kepalanya berpikiran tentang hal-hal yang mungkin saja akan terjadi.


Di kehidupan sebelumnya, Skylar memang mengadakan pesta sederhana di resort. Akan tetapi di kehidupan sebelumnya, Skylar dan Spring tak sampai satu kamar. Apa mungkin di kehidupannya yang sekarang Winter turut ikut ke resort. Ya, Skylar sedikit cemburu dengan Winter walau tahu Winter merupakan sahabatnya Spring.


Spring sampai menghela melihat Skylar yang enggan untuk memakai kamar secara terpisah. "Tak bisakah kita menggunakan kamar secara terpisah."


"Memang kenapa? Semua pasangan kekasih yang menyewa kamar di resort ini menggunakan kamar yang sama."


"Aku hanya merasa canggung bila harus satu kamar denganmu."


Seketika Skylar mendekat, lalu dengan cepat menarik pinggang Spring hingga tubuhnya mendekat dengannya. "Apa kamu takut bila aku akan melakukan sesuatu padamu."


Spring menelan salivanya. "Hm, kamu tak mungkin melakukan apapun padaku kan?" tanyanya sambil menghindari tatapan Skylar.


"Tentu saja tidak." Skylar mendekat bibirnya ke arah bibir Spring. "Tapi bila mencium saja tak apa kan?"


Spring pun panik dan dengan cepat ia mendorong Skylar agar tubuhnya menjauh dari dirinya. "Tidak bisa. Kamu tahu kan Sky, bila kita masih di bawah umur. Kita tak boleh melakukan apapun di kamar ini."


"Padahal aku hanya akan menciumu saja sebentar. Bukankah saat itu kamu tak malu menciumku di depan banyak orang. Tapi kenapa kamu merasa malu di saat kita hanya berdua saja."


"Bila kita hanya berdua, apa lagi ini di kamar tidur, berciuman bisa memicu hal lain."


Skylar tergelak. "Padahal aku hanya akan menciummu sebentar. Memangnya memicu hal lain seperti apa menurutmu?"

__ADS_1


Raut wajah Spring pun memerah. "Entahlah." Spring kemudian melangkah terburu-buru keluar dari kamarnya. "Sekarang aku akan bergabung bersama teman-teman."


Skylar sampai tertawa lepas melihat Spring yang memalu setelah di goda olehnya.


**


Selepas Spring keluar dari kamarnya, semua teman-temannya sedang sibuk menyiapkan makan malam. Tema untuk untuk makan malamnya kali ini berupa pesta barbeque. Semua teman-temannya sibuk berkumpul dan bercanda, lain halnya dengan Winter yang duduk seorang diri di pesisir pantai. Nampak sendu wajahnya, ia terduduk sambil memeluk lututnya. Spring pun datang mengahampiri lalu ikut duduk di sampingnya.


"Mengapa kamu tidak ikut bergabung dengan yang lainnya. Bukankah akan menyenangkan bila berkumpul bersama teman-teman."


"Entahlah, saat ini aku hanya menginginkan ketenangan." Winter menatap Spring dengan wajah sendunya, dan berkata. "Apa kamu bahagia bersama Skylar?"


Spring menginyakannya dengan anggukan, walau anggukan tersebut merupakan sebuah kebohongan.


Winter pun tersenyum dengan kedua matanya yang tergenang. "Bagus jika kamu bahagia dengannya. Ku harap kamu akan selalu bahagia dengan Skylar."


"Lalu bagaimana denganmu, apa kamu bahagia bersama dengan Jinny?"


Spring sangat tahu jelas bila Winter tak merasa bahagia. Karena terlihat jelas dari wajah sendunya yang seakan memberi pertanda bahwa dirinya tak merasa bahagia.


Spring pun kemudian meraih tangan Winter. "Bahagialah, tetap bahagia dan jadikan orang yang membuatmu bahagia sebagai alasan untukmu tetap bertahan."


"Apakah aku sanggup untuk bertahan." Winter menatap Spring dengan kedua matanya yang berlinang dengan air.


Spring pun lalu bergegas mendekap erat tubuh pria yang tengah berlinang dengan air matanya. "Tentu saja kamu harus bertahan." Spring kemudian melepas dekapannya, lalu menyeka air mata di wajah Winter. "Aku akan sangat bahagia bila melihatmu tersenyum. Bila kamu ingin melihatku bahagia, maka tersenyumlah. Dan berjanji untuk memperlihatkan rambut putihmu suatu hari nanti."


Sesaat Spring menyeka air mata di wajah Winter, lagi-lagi Spring melihat Winter mimisan. Spring pun panik lalu bergegas berlari untuk membawakan tisu. "Tunggu sebentar, aku akan pergi mengambil tisu."


Namun, setelah Spring kembali ke tempat semula, Skylar tengah memukuli habis-habisan Winter. Spring panik lalu bergegas menghentikan Skylar.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan," bentak Spring dengan raut marahnya.


Skylar menghela kasar nafasnya. " Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kamu lakukan dengan Winter hingga harus berpelukan. Aku tahu bila hubungan kalian hanya sebatas sahabat, tapi apa perlu kalian berduaan dan berpelukan seperti tadi. Bisakah kamu menghargaiku sedikit saja, Spring."


"Kamu salah paham. Tak seharusnya kamu mengartikan pelukan kami sebagai pelukan spesial. Dia hanyalah sahabatku, aku memeluknya hanya dalam artian untuk menyemangatinya."


"Bagaimana aku tak salah paham. Tiap tatap yang kamu berikan kepada Winter atau tiap tatapan yang berikan Winter kepadamu, seperti memiliki makna cinta di dalamnya."


Spring menghela. "Bila kami saling mencintai, sudah seharusnya kami menjadi sepasang kekasih." Spring seketika menitikan air matanya. "Aku sangat kecewa terhadapmu, Sky."


Spring pun kemudian bergegas membantu Winter berdiri. "Apa kamu kesakitan? Aku akan mengobati lukamu, tunggulah. Aku akan mencarikan obat luka untukmu," ucapnya raut yang penuh dengan kekhawatiran.


Sesaat Spring akan melangkahkan kakinya, Jinny seketika menghentikan langkahnya. "Tidak perlu, biar aku saja yang pergi mencarikan obat untuknya. Kamu lebih baik urus saja kekasihmu yang kasar itu. Bila kamu semakin memperdulikan Winter, Skylar akan semakin salah paham dan kembali melukainya."


"Aku akan tetap mencarikannya obat walau kamu melarangnya." Spring tetap bersi teguh untuk pergi mencarikan obat untuk Winter.


"Tidak perlu, Spring," lontar Winter.


"Tapi kamu terluka, bagaimana bisa aku hanya diam saja."


"Ku bilang tidak perlu," bentak Winter.


Bentakan Winter tersebut mampu membuat hati Spring merasa sakit. Ia pun terdiam mematung sambil menatap Winter yang pergi sembari di papah oleh Jinny. Skylar menghampiri lalu meraih tangan Spring dengan raut wajahnya yang seakan-seakan merasa bersalah.


"Maafkan aku, Spring."


Bukannya membalas permintaan maaf dari Skylar, Spring malah menghempaskan tangannya dari Skylar. Lalu melangkah mengejar Winter.


"Maaf sudah membuatmu kecewa. Tapi bisakah kamu tetap di sini sampai esok." Spring meraih tangan Winter untuk menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Winter menghela. "Aku akan tetap di sini demimu. Jadi kamu tak perlu khawatirkan itu, biarpun aku sangat marah terhadap Skylar, bukan berarti aku juga ikut marah terhadapmu."


__ADS_2