
Tangan Winter menggenggam kuat tangan Spring, hingga membuat Spring tak mampu untuk mengalihkan pandangannya dari Winter. Entah mengapa rasanya seperti tengah di gandeng oleh seorang kekasih. Hanya saja genggamannya tak selembut genggaman pria yang tengah bergejolakan asmara. Mungkin karena Winter sedang terburu-buru untuk menghindari Jinny, hingga membuat tangannya refleks menarik tangan Spring dengan kasar. Tapi sentuhan tersebut mampu membuat Spring berimazinasi. Apa ini yang namanya saling berpegang tangan layaknya sepasang kekasih. Pikiran itu melayang-layang, dan memberikan ruang untuknya berandai.
Hanya saja kesenangan itu berakhir ketika langkah Winter sudah berada di depan pintu kelas, tangannya terlepas seketika. Andai saja Winter terus menggenggamnya, Spring mungkin saja tak bisa mengendalikan jantungnya yang seperti akan meledak. Sangat medebarkan, untuk pengalaman pertamannya di gandeng Winter sampai ke depan kelas. Yang memang sebelumnya Spring tak pernah merasakannya. Karena di bandingkan harus menegur Jinny, Spring lebih memilih membiarkan Winter terus di tempeli Jinny. Karena dulu menurut Spring, sahabatnya itu lebih layak mendapatkan pasangan yang sama-sama memiliki paras rupawan. Terlebih lagi, Spring terus di banding-bandingkan dengan Jinny, karena hanya Springlah wanita yang paling dekat dengan Winter. Yang menurut pandangan orang-orang, Spring tak layak untuk mendapat posisi nomor satu sebagai perempuan yang dekat dengan Winter. Oleh sebab itu, Spring tak percaya diri bila harus menegur Jinny ketika mendekati sahabatnya itu.
Tapi untuk sekarang Spring akan sangat percaya diri mendapatkan predikat nomer satu sebagai wanita yang layak menjadi pasangannya Winter. Spring pun lalu berdiri tegap, kemudian bertanya tentang penampilannya kepada Lucy.
"Menurutmu, bagaimana dengan penampilanku?"
"Seperti biasanya, tak ada yang spesial."
"Menurutmu, apa Jinny lebih cantik dariku?"
"Banyak orang yang menyebut bila Jinny merupakan dewi di sekolah ini. Tapi menurut pandanganku, kamu jauh lebih cantik darinya bila kamu tak berpakaian seperti laki-laki. Matamu indahmu memiliki warna biru seperti safir, bentuk hidung serta wajahmu juga sangat bagus. Dan kamu akan jauh lebih cantik lagi bila kamu mau mengurai rambutmu. Kamu tak pernah sekalipun membuka ikat rambutmu itu."
Seketika Spring membuka ikat rambutnya. "Berarti hanya penampilanku saja yang perlu ku ubah. Jadi bagaimana menurutmu setelah ikat rambutku di buka."
Lucy mengerenyit. "Sangat berantakan, apa lagi bekas ikatannya sangat jijik untuk di lihat."
"Baiklah, sepulang sekolah aku harus pergi beberlanja banyak pakaian dan juga make up. Dan aku juga harus sedikit mengubah rambutku, agar aku bisa lebih cantik dari si wanita lengket."
"Memangnya kamu memiliki uang untuk membeli banyak pakaian?"
"Tentu saja aku punya. Kamu tahu kan bila aku memiliki tabungan, aku akan menghabiskan uang itu untuk merubah penampilanku."
"Bukankah uang itu akan kamu gunakan untuk membeli apartemen jika kamu sudah masuk universitas."
Spring melambai-lambaikan jari telunjuknya. "Tidak, tidak... Aku aku tidak akan jadi membelinya. Kemungkinan aku akan tingggal di asrama universitas."
"Apa sekarang kamu berubah jadi orang yang boros. Menghabiskan tabunganmu hanya karena ingin menyaingi Jinny."
"Hm, iya aku akan jadi orang yang boros sebelum menyesal nantinya." Spring lalu mengeluarkan buku diary yang berisi misi-misinya. "Sekarang aku harus menuliskan satu misi lagi, yaitu merubah penampilanku."
__ADS_1
Namun, saat Spring selesai menulis, tiba-tiba saja Winter merebut buku tersebut dari tangan Spring.
"Kamu membawa buku diary ke sekolah. Aku penasaran apa yang kamu curahkan dalam buku ini," ucap Winter sembari membuka-buka buku diary milik Spring.
Dengan cepatnya Spring merebut kembali buku diarynya dari Winter. "Apa kamu bisa meminta izin terlebih dahulu sebelum mengambilnya." Spring menelan salivanya. "Tadi apa saja yang sudah kamu baca?"
"Aku hanya melihat tulisan, hari pertama saat masuk sekolah menengah atas."
"Lalu, apa lagi yang kamu baca?"
"Aku tak sempat membaca banyak, karena kamu langsung mengambilnya."
Spring mengelus dadanya. "Untung saja."
Untung saja Winter tak membaca banyak tulisan di buku diarynya. Karena di buku tersebut, terdapat banyak tulisan yang mungkin akan di rasa aneh bila sampai Winter membacanya. Terutama soal kejadian-kejadian yang mungkin akan terjadi selama sebulan penuh.
Winter mengerutkan alisnya. "Untung saja? Memangnya apa yang kamu tulis di dalam buku diarymu. Jangan bilang kamu sedang menyukai seseorang. Siapa orang yang kamu sukai?"
...****************...
Sepulang sekolah, Spring langsung meminta Lucy untuk mengantarnya pergi berbelanja. Karena Spring tak tahu dengan model-model yang bagus mengenai pakaian wanita, Spring juga meminta Lucy untuk memilihkan pakaian untuknya.
"Apa kamu yakin dengan pakaian yang kupilihkan ini, apa lagi aku sempat tertarik dengan rok. Bagaimana bila kamu tak suka setelah memakainya."
"Apapun yang kamu pilihkan, aku akan suka. Karena kamu adalah orang yang paling tahu dengan model pakaian wanita."
"Baiklah, akan ku pilihkan pakaian yang paling indah untukmu." Lucy mengambil banyak pakaian di rak.
Setelah itu, satu-persatu pakaian di coba Spring, di mulai dari atasan, setelan, rok, serta, celana. Mereka memilih pakaian di toko sampai satu jam lebih. Karena pakaian yang di beli Spring sangatlah banyak. Dan satu lagi, Spring tak akan berubah dengan sempurna bila ia lupa membeli sepatu baru. Spring membeli beberapa pasang sepatu, dan kebetulan toko pakaian yang ia kunjungi menyediakan sepatu. Jadi, Spring tidak perlu susah payah pergi ke toko lain
Setelah membeli banyak pakaian dan sepatu, Spring pergi ke toko make up untuk membeli beberapa alat make up yang cocok untuk di gunakannya nanti.
__ADS_1
"Apa kamu yakin akan menggunakan make up. Aku saja tak bisa menggunakannya, bagaimana bila nanti hasilnya jelek."
"Tenang saja, saat masuk universitas aku pernah belajar menggunakannya. Bahkan bila aku akan jumpa fans dengan penggemar bukuku, aku selalu menggunakan make up," ucap Spring yang fokus memilih alat make up di etalase, tanpa tahu bila dirinya salah berucap.
"Spring, lagi-lagi kamu berbicara aneh. Sejak kapan kamu masuk universitas dan sejak kapan kamu menjadi penulis buku. Bukankah sekarang kamu masih kelas 11."
Sontak saja Spring pun refleks menelan salivanya. "Oh... Aku pernah belajar make up dengan adik ibuku yang sedang menjenjang pendidikan di universitas. Dan aku juga sering menggunakan make up ketika aku pergi ke acara fan meeting penulis favoritku," jawab Spring bernada gugup.
Lucy menggeleng. "Jika berbicara harus jelas, apa perlu ku ajari berbicara."
Spring menggaruk tengkuknya. "Iya, maaf.
Setelah membeli beberapa make up, Spring langsung pergi ke salon untuk merubah penampilan rambutnya. Spring hanya meminta sedikit di potong dan sedikit mengubah model rambutnya kepada orang yang akan memotong rambutnya. Tak lupa, setelah Spring selesai memotong rambut, Spring juga meminta wajahnya untuk di make over. Make over yang di minta Spring, merupakan make over sederhana yang cocok untuk gadis remaja pada umumnya. Tidak terlalu tebal dan juga tidak terlalu berlebihan.
Usai di potong dan di make over, Spring lalu menunjukan hasilnya kepada Lucy.
"Bagaimana menurutmu?"
Lucy memberikan dua jari jempolnya kepada Spring. "Sudah ku duga kamu sangat cantik. Aku yakin besok di sekolah akan ada banyak pria yang terpikat olehmu."
"Apa sekarang aku langsung saja menggantikan pakaianku dengan pakaian yang kubeli tadi."
"Tentu saja harus." Lucy memilihkan pakaian untuk Spring yang berada di salah satu kantong belanjaannya. "Aku ingin melihatmu memakai ini."
Spring meraih pakaian yang di pilih Lucy, kemudian secepatnya ia bergegas ganti pakaian di kamar mandi. Setelah ia keluar dari kamar mandi, Lucy di buat tak berkedip ketika melihat penampilan Spring yang jauh lebih cantik di bandingkan tadi.
"Aku yakin posisi orang tercantik di sekolah akan tergantikan olehmu."
"Benarkah."
Lucy mengangguk. "Aku sangat yakin. Bahkan bentuk tubuhmu jauh lebih bagus dari Jinny, dan tinggimu juga sangat ideal." Lucy lalu menjulurkan sepasang sepatu kepada Spring. "Ganti sepatumu dengan ini, kamu akan jauh lebih cantik lagi bila sepatumu di ganti."
__ADS_1