
Betapa senangnya Spring, hingga ia tak sabar ingin lekas menyaksikan kejutan dari Winter. Berulang kali matanya melirik ke arah jam tangannya, yang berharap jam sekolah akan segera berakhir. Apa karena terlalu menantikannya, hingga membuat waktu seakan terasa sangat lama. Bagaikan menunggu seharian, waktu jam sekolah yang hanya tinggal satu jam lagi terasa 24 jam untuk Spring.
Wajar untuk Spring bersemangat menantikan kejutan dari Winter, karena di kehidupan sebelumnya Winter tak sempat memberikannya.
Ketika satu jam telah berlalu dan bel pulang telah berbunyi, dengan girangnya Spring terburu-buru beringsut dari tempat duduknya.
"Sudah saatnya aku menerima kejutan dan kado ulang tahun darimu." Spring tersenyum sembari menjulurkan tanganya ke arah Winter, yang seakan ingin mendapatkan genggaman dari pria yang selalu jadi cinta pertamanya itu.
Winter tersenyum dan menggelengkan kepalanya, melihat Spring yang terlihat seperti anak kecil yang tak sabaran ketika meminta kado ulang tahun.
"Hm, apa kamu sudah tak sabar. Padahal kejutan serta kado yang ku berikan tak semewah yang kau pikirkan."
"Apapun yang kamu berikan padaku nanti, di mataku akan terlihat mewah dan sangat berharga. Mungkin aku tak akan pernah melupakannya seumur hidup."
Winter meraih tangan Spring, lalu menatap ke arah Skylar. "Bolehkan hari ini saja aku berpegangan tangan dengan kekasihmu."
"Kau tak perlu meminta izin kepadaku, karena aku bukan lagi kekasihnya," jawab Skylar dengan ketus.
"Benarkah?"
Spring menarik pergi Winter dari kelas. "Tentu saja benar, jadi kamu tak perlu mengkhawatirkannya."
**
Karena terlalu tak sabar, jarak yang biasanya di tempuh menuju villa sekitar 20 menit berjalan kaki, 15 menit saja sudah sampai. Sesaat Spring hendak akan memasuki pintu gerbang, Winter menghentikan langkahnya.
"Tunggu sebentar, kamu harus menutup matamu terlebih dahulu sebelum masuk. Aku akan menuntunmu pergi kesana." Winter mengambil syal dari dalam tasnya, yang kemudian syal tersebut di ikat untuk menutupi kedua mata wanita yang bertambah usianya itu.
__ADS_1
Tiap langkah di ambil Spring sembari di tuntun oleh Winter. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, hingga langkah ke 17 Winter pun kembali menghentikan langkahnya.
"Tunggulah sebentar, jangan membuka penutup matamu sampai aku kembali."
Entah mengapa, jantung Spring tiba-tiba saja berdegup dengan kencangnya. Kejutan apa yang akan di berikan Winter, pikiran tersebut terus saja melintasi Spring.
Spring menunggu tak terlalu memakan banyak waktu, Winter pun kembali dalam secepat kilat.
"Sekarang bukalah penutup matamu," ucap Winter.
Dengan perlahan Spring pun lekas membuka kain yang menutupi matanya tersebut. Dan sesaat Spring membuka kedua matanya, betapa kagumnya ia ketika melihat begitu banyak foto-foto dirinya bersama Winter yang bergantungan di pohon. Tak hanya foto saja yang menghiasi pohon favorit milik Winter dan Spring tersebut, tapi ada beberapa manik-manik yang membuat pohon tersebut menjadi sangat indah. Di tambah pohon tersebut sedang berbunga indah, karena mungkin saat ini sedang musim semi. Oleh sebab itu bunga sakura juga turut memperindah pohon yang di tanam Spring dan Winter sewaktu kecil itu. Apa lagi, yang lebih indah adalah nyanyian selamat ulang tahun yang di nyanyikan Winter sambil memegang kue.
"Selamat ulang tahun, Spring," ucap Winter ketika usai menyanyikan lagu sakral untuk wanita yang tengah menginjak usia 17 tahun tersebut.
Bukannya tersenyum, Spring malah menangis di hadapan Winter. Bukan karena kecewa atas kejutan ulang tahun yang di berikan Winter tersebut, melainkan Spring terlalu bahagia hingga membuatnya sampai harus menangis haru. Ia sangat terharu, kejutan yang tak pernah terwujud di kehidupan sebelumnya akhirnya bisa terwujud di kehidupannya kali ini.
Winter pun panik melihat Spring yang tengah menangis itu. "Apa kamu tak suka dengan kejutan yang ku berikan. Aku minta maaf karena tak bisa memberikan pesta mewah di hari ulang tahunmu."
Winter tersenyum. "Sama-sama tuan putri. Lekaslah tiup lilinya sebelum habis karena meleleh."
"Hm, baiklah." Spring dengan cepat meniup seluruh lilin di kue ulang tahun tersebut.
Setelah semua lilin padam, Winter meletakan kuenya. Ia lalu mengambil sesuatu di saku jaketnya.
"Bisakah kamu berbalik sebentar, ada hal yang ingin ku berikan untukmu."
Spring tersenyum sambil mengangguk, lalu berbalik memunggungi Winter. Sesaat Spring berbalik, Winter pun perlahan memakaikan sebuah kalung di leher Spring. Spring tersenyum girang saat melihat kalung indah yang di pakaikan Winter di lehernya itu.
__ADS_1
"Sangat indah, bahkan kalung ini terlihat sangat mahal."
"Tentu saja ini sangat mahal, aku bahkan sampai harus menghemat uang selama 4 bulan agar bisa membeli kalung indah ini," ucap Winter tersenyum.
Spring menghela. "Tak seharusnya kamu membeli barah mewah untukku, cukup membelikan barang sederhana saja, bagiku akan terlihat sangat mewah bila kamu yang memberinya."
Winter berdecak. "Ck... Ck... Ini ulang tahunmu yang ke 17, aku harus memberimu hadiah yang bagus. Bila ku berikan hadiah yang murah, hari ulang tahun ke tujuh belasmu tidak akan jadi spesial."
Spring menggeleng. "Bukan karena hadiahnya yang menjadi spesial di hari ulang tahunku, tapi kamulah yang membuat semuanya spesial."
Bagi Spring semua hal yang di berikan Winter merupakan hal yang spesial. Bahkan hari-hari yang dilalui Spring bersama Winter, semuanya terlihat sangat spesial dan menyenangkan. Terlepas dari 10 tahun Spring bersedih karena kepergian Winter. Tapi untuk saat ini Spring tak lagi merasa khawatir Winter akan pergi meninggalkannya, karena ia telah berhasil menyelamatkannya dari kematian.
"Spring, apa kau bisa memberiku izin," ucap Winter tersenyum manis menatap Spring.
"Izin untuk apa?" tanya Spring heran.
Seketika Winter menarik pinggan Spring hingga membuat tubuhnya mendekat dengannya. Lalu dengan cepatnya Winter mengecup bibir mungil milik sahabatnya tersebut. "Izin untuk melakukan ini."
Spring pun tersentak kaget setelah bibirnya di kecup oleh pria yang selalu mendiami hatinya itu. Spring pun refleks mendorong Winter untuk menjauhkannya dari tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan. Kamu berani mengecup bibirku di belakang Jinny. Apa kamu sedang mempermaikanku, Winter?"
"Aku dan Jinny tak menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Aku sepakat dengan Jinny untuk membohongimu, agar kamu mau berhenti mengharapkan cintaku. Tapi nyatanya, aku malah tersiksa bila harus membonghongi perasaanku."
Bukannya senang setelah mendengar apa yang katakan Winter, tapi Spring sangat marah setelah mendengarnya. Bagaimana bisa Winter yang di kenalnya tak pernah membohonginya, akhirnya setega itu berbohong bahkan rela mempermaikan perasaannya.
Spring membuang kasar nafasnya. "Bagaimana bisa kamu membohongiku, dan bahkan rela menyakitiku selepas kamu menciumku. Kamu tahu Winter, hatiku sangat sakit saat kamu bilang jika Jinny kekasihmu."
__ADS_1
"Aku minta maaf, karena saat itu aku terlalu takut mengakui perasaanku. Tapi setelah ku pikirkan, aku akan menyesal bila tak menyatakannya." Winter menarik nafasnya secara perlahan, lalu dengan cepat ia berucap. "Aku mencintaimu, Spring. Entah sejak kapan perasaanku terhadapmu tumbuh, tapi mungkin sudah sangat lama aku mencintaimu sebagai seorang pria kepada wanita."
Dengan cepatnya Winter melangkah mendekati Spring, dan dengan cepatnya ia mendaratkan bibirnya ke bibir wanita yang di akuinya sebagai orang yang di cintainya itu.