Back To 2012

Back To 2012
6. Hal Yang Harus Di Lakukan Spring Untuk Winter


__ADS_3

Selepas Winter pergi, Spring bukannya tidur, ia malah buru-buru beranjak dari tempat tidurnya. Lalu memastikan bahwa Winter sudah pergi dari rumahnya.


"Kenapa kamu tidak menuruti perintah Winter?" lontar Tessa.


"Aku tidak mengantuk. Lagi pula aku bukan anak kecil yang harus tidur siang ketika pulang sekolah. Aku ini sudah menginjak usia 27 tahun, aku tak terbiasa tidur siang di usiaku yang sudah dewasa."


Seketika Tessa mengerutkan alisnya, ia terheran-heran setelah mendengar apa yang di ucapkan putrinya itu.


"Sejak kapan usiamu menjadi 27 tahun. Setahu ibu, usiamu baru menginjak 16 tahun." Tessa tergelak. "Apa kamu sudah merasa dewasa, hingga ingin di sebut wanita yang berusia 27 tahun"


Spring menelan salivanya, lalu spontan menggaruk tengkuknya. "Ya, bu...bukankah menyenangkan menjadi dewasa," ucapnya terbata-bata.


"Menurut ibu, saat usia anak-anak dan remajalah yang menyenangkan. Karena menjadi dewasa tidak akan menyenangkan. Di usia dewasa kamu harus bekerja keras mencari uang, dan akan lupa untuk bersenang-senang. Apa lagi bila nanti sudah memiliki seorang anak, kamu akan melupakan yang namanya bersenang-senang bersama teman."


Spring yang lupa dengan dirinya, yang kembali berusia remaja itu, harus menahan malu sambil menepuk-nepuk mulutnya.


"Apa menurut ibu aku terlihat aneh?"


Tessa tergelak sambil menggeleng. "Ibu tak berpikir kamu aneh, karena yang ibu pikirkan, kamu mungkin ingin segera mencapai usia dewasa, karena kamu sudah lelah dengan namanya bersekolah."


"Entahlah, usia dewasa ataupun remaja, asalkan ada Winter aku akan bahagia. Aku tak peduli bila kelelahan dengan namanya bersekolah, kelelahan itu akan sirna bila hanya melihat Winter."


Tessa tersenyum. "Apa kamu menyukai Winter sebagai pria?"


"Hm, menurut ibu apa aku pantas dengannya?"


"Tentu saja pantas. Putri cantik ibu sangat cocok dengan pria tampan seperti Winter."


Spring melebarkan senyumnya. "Kalau begitu doakanlah agar aku bisa membuat Winter memiliki perasaan yang sama denganku."


Dengan girangnya Spring kembali ke kamarnya, bukan kembali tertidur seperti apa yang di perintahkan Winter. Tapi Spring pergi ke kamar hanya untuk mengambil buku diarynya di laci. Ia menulis beberapa hal yang akan di rencanakannya, tentang bagaimana ia akan membuat Winter mematahkan prinsiv persahabatannya, dan tentang bagaimana ia akan membuat Winter mempetahankan hidupnya. Bila ulang tahun Spring pada bulan mei, maka Spring hanya memiliki waktu sebulan lebih untuk membuat Winter mengurungkan niat buruk menghilangkan nyawa. Bahkan bila perlu, esok ataupun lusa Spring harus membuat Winter berpikir untuk terus mempertahankan hidupnya. Dan ada satu hal yang lebih penting dari semuanya, yaitu tak membiarkan Winter kesepian seperti dulu. Spring akan selalu ada untuk Winter, baik senang maupun sedih. Karena itulah peran Spring sebagai sahabatnya Winter. Tiap tanggal Spring catat, bagaimana ia akan membantu Winter di tengah kesulitannya.

__ADS_1


Tak terasa hari sudah malam, Spring begitu banyak mencatat hingga membuat penuh tulisan di buku diarynya. Orang akan curhat di buku diarynya, tapi catatan di buku diarynya penuh dengan poin-poin penting yang harus ia lakukan selama berada di tahun 2012. Mungkin dulu buku diarynya penuh dengan curhatannya, tapi kali ini penuh dengan berbagai rencana yang akan ia lakukan selama di tahun 2012.


Ketika Spring masih belum selesai mencatat, tiba-tiba saja ibunya datang mengetuk pintu kamarnya. "Spring makan malam sudah siap."


Spring pun bergegas menutup buku diarynya dan kembali menyimpannya di dalam laci, lalu beranjak bergabung di meja makan bersama ayah dan ibunya.


"Sepertinya semuanya sangat enak," ucap Spring menatap hidangan di meja makan.


Namun, di tengah kenikmatannya menyantap hidangannya, kebisingan di rumah Winter kembali terdengar seperti saat dulu di waktu, tanggal, dan tahun yang sama. Ya, itu merupakan suara dari pertengkaran ayah dan ibunya Winter. Seketika, Spring pun meletakan sendok dan garpunya di atas piringnya.


"Apa tuhan tak merasa tidak adil. Di saat aku tengah menyantap hidangan yang lezat, tapi Winter malah harus mendengarkan pertengkaran orang tuanya," ucap Spring dengan raut sendunya.


"Kalau begitu, panggil Winter kesini. Biarkan dia menginap di rumah kita malam ini," imbuh James.


"Tidak, bila kita menyuruhnya datang ke rumah, itu hanya akan membuat Winter semakin bersedih. Dia akan mengira kita mengasihaninya, karena Winter tak suka di kasihani bila mengenai masalah keluarganya." Spring lalu beringsut dari duduknya. "Aku akan pergi menemui Winter, bila malam ini aku tak kembali, jangan khawatirkan aku." Lalu terburu-buru melangkahkan kakinya ke arah pintu.


"Mana bisa begitu, anak perempuan di larang pergi malam-malam. Apa lagi kamu pergi bersama anak laki-laki," ucap James dengan suara keras.


"Sttt." Tessa berdesis sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir suaminya itu. "Dia hanya pergi menemui Winter. Kita sudah tahu bila Spring dan Winter berteman, mana mungkin Winter akan melakukan hal jahat terhadap putri kita."


"Tidak perlu khawatir, karena kita sudah tahu dengan sikap Winter yang sangat baik terhadap Spring. Tadi saja dia sangat perhatian terhadap Spring. Aku sampai menginginkan Winter menjadi kekasihnya Spring."


"Tidak bisa, Spring harus menyelesaikannya pendidikannya terlebih dahulu, baru dia boleh memiliki seorang kekasih."


Tessa sampai menggeleng setelah mendengar apa yang di ucapkan suaminya itu."Pikiranmu terlalu kolot, mana ada orang yang akan tahan bila tak berkencan di usianya yang sudah menginjak remaja."


***


Sesampainya Spring di depan rumah Winter, keributan ayah dan ibunya Winter sangat jelas terdengar di bandingkan saat dirinya masih berada di rumah. Spring pun sampai ragu untuk menekan tombol bel, ia takut bila kehadirannya hanya akan mengganggu perbincangan antara ayah dan ibunya Winter. Namun, tak lama ia berdiri, tiba-tiba saja Alex datang menghampiri dari arah belakangnya.


Alex pun menepuk pundaknya Spring, lalu bertanya. "Sedang apa kamu di depan rumahku, apa kamu ingin menemui Winter?"

__ADS_1


"Iya, bisakah kamu panggilkan dia."


"Kamu bisa pergi menemuinya di vila. Dia sedang berada di sana."


Spring pun lalu berlari ke tempat sahabatnya itu berada. Dan benar saja apa yang di katakan Alex, Winter berada di vila milik keluarganya. Ia tengah duduk di depan teras sembari termenung menatap langit malam.


"Hei Winter, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Spring menghampiri Winter.


Pandangan Winter pun teralihkah menatap Spring. Ia tersenyum menatapnya, namun senyumannya itu nampak jelas sangat pudar, yang seakan-akan ia tengah menyembunyikan raut sendunya dari Spring.


"Aku sedang menikmati gemerlap bintang."


Spring pun lalu duduk di sebelahnya Winter. "Seharusnya kamu memberitahuku bila kamu akan menikmati pemandangan langit di sini. Kamu malah menikmatinya seorang diri."


Winter meraih tangan Spring. "Bisakah aku memelukmu sebentar."


"Tentu saja boleh."


Dengan cepatnya Winter mendekap erat tubuh Spring dan meletakan dagunya di atas pundak wanita yang selalu menjadi sahabatnya itu.


"Aku harap kamu akan menjadi sahabatku selamanya. Dan akan tetap menjadi seseorang yang selalu ada untukku."


"Bagaimana bila kita tak selamanya berteman. Bisa saja suatu saat kita menjadi sepasang kekasih."


"Kalau begitu jangan pernah mematahkan prinsiv persahabatan kita. Karena aku tak ingin hubungan kita retak hanya karena menjadi sepasang kekasih."


Spring melepaskan dekapan Winter, lalu menatap sendu wajah Winter. "Mengapa kamu selalu berkata seperti itu, padahal kamu belum pernah mencoba menjadi kekasihku."


"Aku bisa menebaknya, karena aku melihat bagaimana hubungan ayah dan ibuku yang sudah retak. Sebagai sepasang kekasih, kamu bisa saja merasa bosan dengan hubungan yang seperti itu. Dan pada akhirnya kita akan sering bertengkar karena hal sepele."


"Bukankah pertemanan pun juga bisa menimbulkan pertengkaran, dulu saja kita pernah bertengkar dan saling tak mau berbicara setelahnya."

__ADS_1


"Tapi tak lama dari itu, kita berbaikan kembali. Kamu tahu, saat orang tuaku bertengkar hebat, tak lama dari itu, mereka saling memaafkan, tapi mereka merasa canggung setelahnya. Bahkan mereka tak saling berbicara walau sudah saling memaafkan. Aku pernah melihat bagaimana Alex putus dengan kekasihnya, mereka sudah tak lagi saling berkomunikasi. Bahkan untuk menjalin pertemanan pun, mereka enggan melakukannya. Aku takut bila kita memadu kasih, kita akan berpisah bukan sebagai kekasih saja, tapi berpisah juga sebagai seorang sahabat."


Spring kembali mendekap erat tubuh Winter. "Kalau begitu singkirkan ketakutanmu itu, karena aku akan tetap bersamamu."


__ADS_2