Back To 2012

Back To 2012
21. Maaf, Aku Tak bisa Membalas Perasaanmu


__ADS_3

Spring pun akhirnya mau pulang di bonceng Skylar dengan motornya. Namun, jalan yang di tempuh Skylar bukanlah jalan menuju rumahnya.


"Ini bukanlah jalan menuju rumahku. Aku mau di bawa kemana?" tanya Spring heran.


"Aku akan membawamu pulang," jawab Skylar.


"Pulang? Ini bukanlah jalan menuju rumahku. Mau di bawa kemana aku?"


"Aku akan membawamu pulang ke rumahku."


"Aku tak memintamu untuk di antar pulang ke rumahmu. Tapi aku memintamu untuk di antar pulang ke rumahku. Bila kamu tak bersedia mengantarku pulang, lebih baik turunkan aku sekarang juga," ucap Spring kesal.


"Aku tadi bilang bersedia mengantarmu pulang, tapi pulang ke rumahku."


Spring menghela kasar nafasnya. "Apa kamu mengsalah artikan perkataanku. Bila kamu tak bersedia mengantarku pulang, lebih baik turunkan aku sekarang juga, Sky. Aku bisa pulang menggunakan taxi."


Skylar terus saja melajukan motornya, walau Spring terus berulang meminta menghentikan motornya. Hingga kekesalan Spring pun membludak karena Skylar.


"Apa kamu tak punya telinga, hingga kamu tak bisa mendengar permintaanku."


"Ayolah Spring, berkunjunglah sebentar ke rumahku. Aku pasti akan mengantarmu pulang, bila kamu sudah berkunjung ke rumahku."


Spring menghela. "Pergi ke rumahmu hanya akan menyiaka-nyiakan waktuku saja. Antarkan aku pulang atau turunkan aku sekarang juga. Bila tidak, aku akan berteriak, agar orang-orang berprasangka bila kamu sedang menculiku," ancamnya dengan kesal.


Skylar tergelak. "Lihatlah jalanan ini sangat sepi, tak ada orang yang lewat. Siapa yang akan mendengar teriakanmu.


Seketika Skylar menaikan kecepatan motornya, hingga membuat Spring pun refleks memeluknya.


"Seharusnya dari tadi kamu seperti ini," ucap Skylar dengan gelak tawa.


"Kamu selalu saja mencari kesempatan. Apa kamu senang sudah membuatku kesal," ucap Spring yang semakin kesal dengan sikap Skylar.


"Aku tidak senang membuatmu kesal, tapi aku senang di saat kamu memelukku seperti ini."


Spring menghela. "Terserah kamu saja, bila kamu tak ingin mengantarku pulang sekarang, cepatlah sampai ke rumahmu, agar aku bisa secepatnya pulang ke rumahku."

__ADS_1


"Baiklah, lebih erat lagi memelukku agar aku bisa mempercepat lagi motorku," ucap Skylar sembari menaikan kecepatan motonya.


Hanya dalam hitungan waktu 10 menit, akhirnya Skylar dapat membawa Spring sampai ke rumahnya.


Rumah tiga lantai yang berarsitektur mewah, merupakan rumah yang di tempati Skylar bersama ayahnya. Skylar merupakan anak dari salah satu pengusaha sukses di Amerika. Biarpun hidupnya bergelimang harta, bukan berarti Skylar bahagia. Bila di rumah, Skylar sama kesepian seperti Winter. Ayahnya yang sibuk dengan perusahaannya, dan ibunya yang telah lama meninggal, menjadikan Skylar anak yang kesepian. Dan mungkin karena itulah, Skylar membawa Spring ke rumahnya hanya untuk mengisi kesepiannya.


Spring sedikit tercengang karena bisa kembali menginjakkan kakinya di rumah mewah milik Skylar. Ya, meskipun di kehidupan sebelumnya pun, Skylar kerap kali sering membawa Spring ke rumahnya. Akan tetapi, bila di hitung dari usia yang sebenarnya, Spring sudah 10 tahun tak lagi menginjakan kaki di rumah Skylar. Secara, di kehidupan sebelumnya, setelah Spring memutuskan berpisah dengan Skylar, Spring tak lagi berhubungan dengan Skylar. Jangankan berteman, berbicang pun tak pernah mereka lakukan setelah putus. Terutama di saat Spring menjenjang pendidikan di universitas, ia sudah tak pernah lagi bertemu dengan Skylar.


Sedikit rindu ketika ia menatap sekeliling rumah yang memiliki banyak kenangan antara dirinya dan Skylar. Namun, kenangan bahagia itu bukanlah kenangan yang pantas untuk di kenang Spring. Karena di kehidupan sebelumnya, perasaan yang di miliki Spring untuk Skylar hanyalah kebohongan. Spring tak bisa berlama-lama berdiam di rumahnya, ketika ia mengingat bagaimana dulu dirinya mempermainkan perasaan Skylar.


"Aku sudah menginjakan kaki di rumahmu, sekarang antarkan aku pulang," ucap Spring.


Skylar tergelak. "Kamu baru lima langkah berada di rumahku. Aku tak akan membiarkanmu pulang sebelum makan siang."


"Aku tak peduli, karena aku akan pulang sekarang walau tak di antar olehmu," ucap Spring kembali berbalik ke arah pintu.


"Memangnya kamu akan pulang menggunakan apa? Untuk mencari taxi ataupun naik bis, kamu harus menempuh jalan satu kilo meter."


Spring menelan salivanya, lalu berbalik menatap Skylar. "Kalau begitu antarkan aku pulang."


Skylar tersenyum. "Makanlah terlebih dahulu, aku akan mengantarmu setelah melihatmu makan siang." Ia lalu meraih tangan Spring dan menuntunnya pergi ke meja makan. "Tunggulah, aku akan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan," ucapnya yang langsung saja bergegas pergi untuk menemui pelayan di dapur.


Sekitar satu jam lebih, Skylar pun kembali bersama para pelayan yang membawa banyak


makanan. Makanan yang di bawa para pelayan memenuhi satu meja makan, hingga membuat Spring pun terheran-heran ketika melihatnya. Mengapa bisa Skylar menyiapkan begitu makanan, padahal dia hanya akan makan berdua saja dengan Spring.


"Bukankah kita hanya makan berdua, mengapa begitu banyak makanan yang kamu siapkan," ucap Spring menatap seluruh makanan di meja.


"Bila banyak makanan, kamu bisa memilih makanan yang kamu mau."


"Kamu seharusnya tak perlu menyiapkan begitu banyak makanan. Karena apapun yang kamu siapkan, aku akan memakannya."


"Akan sangat menyenangkan bila melihat banyak pilihan di meja makan," ucap Skylar sembari memberikan senyuman manisnya.


Memang menyenangkan bisa memilih makanan, tapi Skylar terlalu berlebihan. Secara, hanya Spring dan dirinya saja yang akan makan. Tapi makanan yang di siapkan Skylar cukup untuk di makan 10 orang. Spring pun sampai bingung harus makan yang mana, semua makanan di meja tampak sangat menggiurkan.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu, apa suasana hatimu sudah membaik?" tanya Skylar ketika Spring telah menyelesaikan makan siangnya.


Suasana hati Spring mungkin sedikit membaik, tapi tak sepenuhnya membaik. Karena rasa khawatir akan Winter masih terasa dalam dirinya. Spring pun menghela sambil memberikan senyuman samarnya kepada Skylar. "Iya, membaik."


"Hm, maaf sebelumnya, aku ingin bertanya tentang orang yang sudah membuatmu menangis. Dan prasangkaku tertuju kepada Winter. Apa benar dia yang sudah membuatmu menangis?"


Spring mengeleng. "Bukan."


"Bila bukan Winter, mengapa kamu menyebutkan nama Winter ketika menangis?"


Spring tak bisa menjawab bila Winterlah yang telah membuatnya menangis. Karena Spring menangis bukan sepenuhnya karena Winter, karena rasa khawatirnya yang berlebihan akan Winter juga penyebab dirinya menangis.


Spring pun memilih tak menjawab, dan bergegas berdiri dari duduknya. "Aku sudah menyelesaikan makan siangku. Bisakah kamu mengantarku pulang."


"Mengapa kamu tak menjawab pertanyaanku. Apa benar Winter yang sudah membuatmu menangis."


"Aku menangis, itu bukan urusanmu. Mengapa kamu harus repot mencari tahu siapa orang yang sudah membuatku menangis."


Skylar menghela kasar nafasnya. "Justru itu urusanku, karena aku menyukaimu. Aku tak bisa membiarkan orang yang ku sukai terluka hatinya."


"Kalau begitu berhentilah menyukaiku," ucap Spring dengan wajah datarnya.


"Mengapa kamu menyuruhku berhenti untuk menyukaimu? Selama kamu tak di miliki pria manapun, aku akan tetap menyukaimu."


Spring membuang kasar nafasnya. "Kumohon berhentilah menyukaiku, karena aku tak sanggup bila harus menyakiti perasaanmu."


"Apa karena di hatimu sudah ada pria lain, hingga membuatmu takut bila aku tersakiti?"


Spring mengangguk. "Iya, ada pria lain yang ku cintai. Jadi berhentilah menyukaiku."


"Aku tak akan pernah berhenti menyukaimu. Bila perlu, aku akan menyirkan pria itu di hatimu. Walaupun aku harus menggunakan kekerasan untuk menyingkirkannya darimu."


"Apa harus menggunakan kekerasan. Aku akan sangat membencimu, bila sampai kamu menyentuhnya."


"Oleh sebab itu jangan membuatku berhenti untuk menyukaimu. Aku akan bersaing secara sehat dengan pria yang kamu sukai, asalkan kamu tak berusaha menghindariku," ucap Skylar meninggikan suaranya.

__ADS_1


Spring menghela. "Seberapa keras kamu berusaha, hatiku akan tetap tertuju padanya."


Skylar seketika menarik kasar tangan Spring. "Aku tak ingin mendengar perkataanmu lagi, lebih baik kamu pulang sekarang," ucapnya bernada marah.


__ADS_2