
Mungkin bagi Winter, hubungan persahabatannya akan hancur bila dirinya memadu kasih dengan Spring. Tapi bagi Spring, baik persahabatannya maupun hubungan percintaannya tak akan pernah bisa hancur, karena Spring sangat yakin bila dirinya tak akan pernah bisa meninggalkan Winter. Karena dirinya sudah pernah mengalami yang namanya penyeselan yang tiada akhir dalam hidupnya. Yaitu, menyesal karena dirinya tak bisa menyatakan perasaan sampai di akhir hidupnya Winter, dan menyesal karena tak dapat membuat Winter berakhir di pelukannya. Yang ada, Winter malah berakhir pergi meninggalkannya. Bukan pergi untuk sementara, tapi pergi untuk selamanya.
Karena sekarang tuhan telah memberikannya kesempatan kedua, maka Spring akan berusaha keras untuk menghilangkan semua penyesalan yang ada pada dirinya. Membuat Winter bertahan hidup, dan akan mengutarakan perasaan yang tak pernah ia katakan sebelumnya.
Dalam pelukannya Spring, raut wajah Winter nampak seperti tengah menahan tangis. Ia seperti ingin menangis puas di pelukan Spring, namun bagi seorang pria, Winter terlalu malu bila harus menangis di depan wanita. Spring dapat merasakannya, bila saat ini Winter ingin leluasa mengeluarkan tangisannya. Akan tetapi, ia terlalu gengsi bila harus menangis di pelukan seorang wanita. Mungkin karena Winter tak ingin di pandang sebagai pria lemah dan cengeng oleh Spring. Karena menurut prinsivnya, seorang pria tak pantas terlihat lemah apa lagi cengeng di depan seorang wanita. Oleh sebab itu, Winter memaksakan diri menahannya, walau matanya sudah mulai tenggelam oleh air matanya.
Spring pun melepaskan pelukannya, ia tersenyum menatap Winter, lalu mengusap lembut kedua kelopak mata sahabatnya itu. "Ku harap kamu bisa lebih leluasa mengeluarkan tangisanmu."
Winter tergelak sembari memalingkan wajahnya dari Spring. Seakan-akan ia berpura-pura tertawa, padahal hatinya yang rapuh sudah tak kuat ingin segera melepaskan tangisannya.
"Apa kamu pikir aku ingin menangis. Aku ini bukanlah pria yang mudah menangis, walau hari ini aku sedang marah dan bersedih dengan masalah di rumahku."
"Bukankah menurut psikolog dan psikiater, menangis akan membuat seseorang merasa lebih baik ketika sedang bersedih atau marah karena sesuatu. Justru jika memendamnya, itu hanya akan membuatmu tersiksa."
Winter lalu beringsut dari duduknya, ia menghela kasar nafasnya. "Bagaimana aku akan menangis, bila mengeluarkan air mata saja sangat sulit untukku."
Spring pun lalu ikut berdiri, dan dengan cepatnya ia memeluk Winter dari arah belakang. "Air matamu sulit keluar, itu karena kamu menahannya.
Entah mengapa saat Spring menempelkan salah satu telinganya di punggung Winter, degupan jantung Winter sangat jelas terdengar dan gerakannya terasa nyata menyentuh kulit wajah Spring.
"Winter, jantungmu sangat kencang berdebar. Apa saat ini emosimu tengah meluap, karena pikiranmu tengah tertuju kepada orang tuamu."
Seketika Winter menelan salivanya, dan dengan cepatnya ia melepaskan kedua tangan Spring dari tubuhnya.
"Sepertinya aku sudah mengantuk, lebih baik kamu pulang sekarang. Orang tuamu akan khawatir, bila kamu tidak secepatnya pulang."
Spring menggeleng cepat kepalanya. "Aku tak akan pulang, aku akan menginap di villa ini bersamamu."
Winter menghela. "Aku ini seorang pria, seharusnya kamu merasa takut malam-malam bersama seorang pria. Terlebih lagi kamu ingin menginap dengan seorang pria."
__ADS_1
Spring tergelak. "Untuk apa aku takut padamu. Spring seketika memicingkan matanya menatap Winter. "Bila kamu seorang pria, maka kamu pasti akan menerkamku. Berawal dari menarik tanganku, lalu mendorong tubuhku ke atas tempat tidur."
Sontak saja raut wajah Winter pun memerah seketika, ia kembali menelan salivanya. "A..apa yang kamu bayangkan dengan pikiran kotormu itu," ucapnya terbata-bata.
"Memangnya apa kamu yang pikirkan dengan apa yang ku bayangkan. Aku hanya membayangkan bagaimana kamu menyuruhku tidur seperti anak kecil, seperti yang kamu lakukan tadi siang."
Winter menghembuskan nafasnya dengan cepat. "Entahlah." Winter lalu melangkah masuk ke dalam vila. "Bila kamu tak ingin pulang, cepatlah masuk, di luar sangat dingin."
Dengan girangnya, Spring melangkah mengikuti Winter. "Baiklah, aku akan masuk."
Spring terus mengikuti Winter sampai memasuki kamar. Hanya saja ketika Winter membereskan kamar dan menyiapkan tempat tidur, Spring bukannya membantu, tapi malah duduk memperhatikannya.
"Apa kamu akan terus memperhatikanku, tanpa membantu," lontar Winter.
"Aku lebih senang memperhatikan sahabatku yang tampan ini, di bandingkan harus membantunya."
"Bukankah kamu juga akan menempati kamar ini. Kamu seorang pria, sudah sepantasnya bekerja keras," ucap Spring dengan gelak tawa.
"Kita tidur di kamar yang terpisah, aku akan tidur di sebelah kamar yang kamu tempati."
"Jika kamu akan tidur di kamar sebelah, aku pun akan pergi mengikutimu dan tidur di kamar yang sama denganmu."
Winter menghela kesal, lalu menatap tajam Spring. "Aku ini pria dan kamu ini wanita, tak pantas bila harus tidur satu kamar."
"Memangnya mengapa, sewaktu kecil kita sering tidur satu ranjang. Bahkan saat kita berumur lima tahun, kita sering mandi bersama di satu bak mandi."
Lagi-lagi ucapan Spring mampu membuat wajah Winter kembali memerah. Dan Winter kembali menghela nafasnya. "Semua yang kita lakukan itu, saat kita masih kecil. Kita sudah besar, mana mungkin tidur berdua di kamar yang sama."
"Memangnya mengapa bila kita tidur satu kamar. Bila kamu merasa tak nyaman tidur satu kamar denganku, berarti kamu memiliki perasaan terhadapku. Jika kamu tak mempersalahkan kita tidur satu kamar, berarti perasaanmu terhadapku hanya sebatas sahabat saja."
__ADS_1
Winter menghembuskan panjang nafasnya, lalu berkata sembari memalingkan wajahnya. "Baiklah, aku akan tidur di kamar ini bersamamu."
Spring pun sampai tergelak ketika melihat raut malu di wajah Winter. Ia juga sampai menggelengkan kepalanya, ketika melihat Winter yang tak berani menatap langsung matanya.
"Aku tak tahu bila Winter akan semanis ini. Aku jadi tidak sabar ingin melihatnya ketika berusia dewasa, apa dia akan semanis seperti sekarang," gumam Spring di batinnya.
Setelah selesai Winter membereskan kamar dan tempat tidurnya. Winter pun mengambil tempat tidur lipat di lemari, lalu meletakannya di samping ranjang yang akan di tempati oleh Spring.
"Aku akan tidur di bawah, kamu tidur di atas."
Spring menggeleng cepat. "Aku tak akan tidur di atas. Bila kamu tidur di bawah, aku pun akan tidur di bawah."
Winter menghela kasar nafasnya sambil memegang pinggang. "Spring, kita bisa tidur satu kamar. Tapi kita, tidak bisa tidur dalam satu ranjang maupun selimut."
"Memang kenapa? Apa tidur satu ranjang juga bermasalah untukmu. Hubungan kita hanyalah bersahabat, mengapa kamu mempermasalahkan bila kita tidur satu ranjang."
"Justru karena hubungan kitalah yang tak boleh bertindak jauh, seperti tidur dalam satu ranjang. Bila kita sepasang kekasih, aku pun tak mempersalahkannya bila harus tidur satu ranjang denganmu."
"Kamu merasa tak nyaman tidur satu ranjang denganku, karena kamu pasti memiliki perasaan terhadapku. Bila kamu tak memiliki perasaan, mana mungkin kamu akan peduli bila kita tidur satu ranjang."
Winter menghela dengan raut kesalnya. "Baiklah, terserah kamu, aku sudah mengantuk. Dan aku akan tidur di sebelahmu." Winter pun dengan cepatnya berbaring di atas ranjang. Begitu pun dengan Spring yang juga ikut berbaring di sebelahnya Winter.
Spring bukannya tertidur, ia malah tersenyum sambil memandangi wajah Winter. Tatapan serta senyuman Spring itu, mampu membuat Winter merasa tak nyaman, hingga beberapa kali ia pun harus menelan salivanya. Namun, tiba-tiba saja Winter beringsut dari baringannya, dan dengan cepatnya merangkak di atas tubuh Spring sembari memegang kuat kedua tangan Spring.
"Seharusnya kamu mulai tertidur, tapi kamu malah membuatku terpancing." Winter menatap tajam mata Spring.
Tatapannya itu, mampu membuat jantung Spring berdebar cukup kencang. Ia bahkan tak tahu harus berkata apa, Spring seakan telah di buat membisu oleh tatapannya Winter
Hingga tak lama Winter menatap matanya, perlahan matanya itu mulai menatap arah bibir sahabatnya tersebut. Dan pada akhirnya, bibirnya pun mulai mendekati bibir Spring secara perlahan. Sampai membuat refleks kedua matanya Spring menutup.
__ADS_1