
Akhirnya Spring dapat bernafas dengan lega atas keputusan Winter yang akan tetap berada di resort sampai hari ulang tahunnya Spring berakhir. Walau ia sudah dapat bernafas lega, bukan berarti Spring dapat merasakan ketenangan. Ia tak merasa tenang setelah Skylar tak bisa berhenti mencurigainya.
Kecurigaan Skylar memang benar adanya, Spring memiliki perasaan terhadap Winter. Dan betapa bodohnya Spring, bisa-bisanya ia berulang kali membohongi Skylar, mempermainkan perasaan Skylar, hingga menjadikan Skylar sebagai tempatnya untuk balas dendam terhadap Winter.
Ia menangis seorang diri di kamarnya sambil memeluk lututnya. Berulang kali ia menyalahi diri, bisa-bisanya dirinya mempermainkan pria baik seperti Skylar. Spring ingin berkata jujur, akan tetapi ia terlalu takut bila Skylar akan kecewa dan marah terhadapnya.
Spring ingin mencintai dan bahagia bersama Skylar seperti yang di inginkan Winter. Tapi hatinya terlalu berat bila harus berpindah ke lain hati. Hatinya tetap bersiteguh tertuju kepada Winter walau Spring sudah berusaha keras mengalihkannya.
Hingga tak lama ia menangis, Skylar datang sambil membawa kue ulang tahun. Ia tersenyum menghampiri Spring sambil menyanyikan lagu sakral untuk wanita yang tengah bertambah usianya itu.
Selepas Skylar berhenti menyanyikan lagu ulang tahun, Spring bukannya meniup lilin ia malah tak berhenti menangis.
"Maaf karena tadi aku sudah membuatmu kecewa dan sakit hati. Aku sangat menyesal telah membuatmu menangis," ucap Skylar sambil menyeka air mata di wajah Spring.
Spring menggeleng cepat kepalanya. "Kamu tak bersalah. Aku yang seharusnya minta maaf karena telah membodohi dan mempermainkan perasaanmu. Wanita sepertiku tak pantas mendapatkan perlakuan baik darimu, Sky."
Seakan-akan telah berlapang dada dan menerima kenyataan, tak nampak ada kekecewaan dari raut wajah Skylar. Ia tersenyum seakan menutupi kesedihannya. "Kamu tak bersalah tapi akulah yang bodoh. Walau sudah tahu bila kamu menyukai pria lain, aku malah terus memaksamu untuk menerima cintaku."
"Apa kamu sudah tahu siapa orang yang kusukai?" tanya Spring dengan raut sendunya.
Skylar mengiyakan dengan anggukan. "Aku mencurigai Winter sebagai pria yang kamu sukai selama ini. Setelah tadi Jinny menceritakannya, aku pun jadi tahu bahwa kecurigaanku selama ini memang benar."
"Maafkan aku karena tak bisa mencintai setulus dirimu. Aku tak ingin terlalu lama menyakitimu, jadi lebih baik kita akhiri saja hubungan kita." Spring kembali menangis lepas di depan Skylar. Walau terlalu berat untuk berkata jujur, setidaknya ia tak terlalu lama membohongi Skylar.
Skylar tersenyum dengan mata yang tergenang. Ia sejenak meletak kue yang di pegangnya, lalu memeluk erat tubuh Spring. "Aku menerimanya bila kamu ingin mengakhiri hubungan kita, tapi ku harap kamu mau berteman baik denganku dan tak menjauhiku walau kamu merasa bersalah terhadapku."
"Tentu saja aku akan berteman denganmu dan tak akan pernah menjauhimu."
Skylar melepas pelukannya, lalu kembali mengambil kue yang telah ia letakan di atas meja. "Pukul 12 malam akan segera berakhir, kamu harus bergegas meniup lilinnya."
Dengan senang hati Spring pun meniup lilinnya. "Terima kasih karena telah memberikan cake yang sempurna untukku."
"Ini belum seberapa, besok aku dan semua teman-teman akan memberikan kejutan lagi untukmu."
"Bagiku hanya seperti ini saja sudah terlihat sempurna." Spring tersenyum manis menatap Skylar dengan mata sembabnya.
__ADS_1
**
Esoknya paginya selepas Spring keluar dari kamarnya, ia tak mendapati Winter berkumpul bersama dengan semua teman-temannya.
"Kemana Winter?" tanya Spring kepada Jinny.
"Pagi sekali dia pamit dan bergegas pulang."
Spring pun panik seketika setelah mendengar apa yang di katakan Jinny tersebut. "Mengapa tak kamu cegah. Dia tak seharusnya pulang sekarang."
"Aku tak bisa mencegahnya, lagi pula dia pulang karena ada hal penting yang tak bisa ia lewati."
Lalu tiba-tiba saja dering pesan di ponsel Spring berbunyi. Sama di kehidupan sebelumnya, Winter meminta Spring untuk menunggunya di bawah pohon sakura yang berada di depan villa milik keluarganya Winter.
Spring pun bergegas kembali ke kamarnya dan terburu-buru mengemasi semua barang-barangnya.
"Apa kamu ingin pulang sekarang?" tanya heran Skylar.
"Iya, aku akan pulang sekarang."
"Aku harus segera menemui Winter, sekarang dia dalam bahaya," jawab Spring dengan raut wajah yang penuh kekhawatirannya akan Winter.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu pergi menemui Winter."
Skylar pun pergi mengantar Spring. Skylar mengemudikan mobilnya dalam kecepatan penuh, hingga tak membutuhkan waktu lama untuk mengantar Spring pergi ke rumahnya Winter. Skylar hanya membutuhkan waktu satu jam untuk sampai kesana.
Hari ulang tahun Spring merupakan hari kepergian untuk kedua sahabatnya. Perginya Winter untuk selamanya, dan perginya Lucy tanpa kabar. Menurut kepolisian kematian Winter di perkirakan pukul 13.00. Sekarang masih pukul 09.00, masih ada waktu untuk Spring pergi menemui Lucy sebelum Lucy pergi meninggalkan Chicago.
"Bisa putar balik, antar aku ke rumahnya Lucy."
Skylar mengerutkan alisnya. "Bukankah seharusnya kamu segera menemui Winter."
"Masih ada waktu beberapa jam lagi untuk menemui Winter. Aku perlu menemui Lucy terlebih dahulu."
Skylar pun memutar balik mobilnya, lalu bergegas mengantar Spring pergi ke rumahnya Lucy. Skylar masih mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga untuk sampai ke rumahnya Lucy hanya membutuhkan waktu 15 menit.
__ADS_1
Sesampainya di sana, Lucy berserta kedua orang tuanya sedang sibuk memasukan koper ke dalam bagasi mobil.
Spring dengan cepat meraih tangan Lucy. "Bisakah kita berbicara sebentar."
Seketika Lucy menghempaskan tangan Spring dari tangannya. "Aku tak ingin berbicara denganmu, aku sedang sibuk, tak ada waktu untukku berbicara denganmu.
Spring kembali meraih tangannya. "Maaf, bibi, paman, bisakah saya berbicara sebentar dengan Lucy," ucapnya kepada kedua orang tua Lucy.
"Hm tentu saja," jawab ibunya Lucy.
Spring lalu menarik Lucy untuk menjauhkannya dari orang tuanya. Setelah jarak Lucy cukup jauh dengan kedua orang tuanya, seketika Spring pun bertekuk lutut di hadapan Lucy.
"Aku minta maaf karena sudah membuatmu marah dan kecewa. Aku ingin hubungan kita kembali seperti semula."
Lucy menghela kasar nafasnya. "Hubungan kita tak akan kembali seperti semula. Sekarang kamu sudah sibuk dengan Skylar dan aku akan pergi jauh meninggalkan Chicago, baik aku ataupun kamu tak akan bisa meluangkan waktu untuk besama-sama lagi."
"Bukankah kita dapat bertukar kabar. Mungkin aku akan berusaha menemuimu pada hari libur sekolah."
"Kamu tahu, bila aku sangat kecewa dan marah terhadapmu. Sejak kamu sibuk dengan kehidupanmu sendiri, aku tak ingin berteman lagi denganmu."
Spring pun seketika menitikan air matanya. "Aku akan berkata jujur. Aku terpaksa lebih mempedulikan Winter di bandingkan dirimu, itu karena keadaan psikis yang di alami Winter. Saat ini yang di butuhkan Winter adalah orang terdekatnya yaitu aku."
"Keadaan psikis? Bila memang kamu mempedulikan Winter, lalu mengapa kemarin-kemarin kalian menjauh. Dan bahkan kamu lebih banyak menghabiskan waktumu dengan Skylar."
"Skylar hanyalah alasanku agar Winter dapat mau mengakui perasaannya. Namun, nyatanya sampai akhir Winter tak dapat mengakui perasaannya. Aku memang bodoh, telah membuat kedua orang yang paling berharga untukku menjauh dari hidupku." Tangis Spring semakin pecah saja di hadapan Lucy. "Sekarang aku sudah tak ada waktu lagi, Winter sedang dalam bahaya. Jadi mohon maafkanlah aku segera, agar aku dapat secepatnya menemuinya."
Lucy seketika mengerutkan alisnya, ia menatap heran wanita yang tengah bertekuk lutut di hadapannya itu. "Apa maksudmu dalam bahaya?"
"Hari ini Winter berencana akan mengakhiri hidupnya, sebelum aku pergi menemuinya, aku harus mendapatkan maaf darimu terlebih dahulu."
Lucy pun dengan cepat membantu Spring berdiri. "Dasar bodoh, seharusnya kamu bergegas menemuinya bukan menemuiku."
"Tapi kamu sama berharganya seperti Winter."
Lucy menghela. "Kita harus secepatnya menemuinya sebelum dia mengakhiri hidupnya."
__ADS_1
Walau Lucy seharusnya segera pergi bersama kedua orang tuanya, ia tak bisa tinggal diam saja setelah mendengar apa yang di katakan Spring tersebut. Ia pun ikut pergi bersama Spring dan Skylar ke rumah pria yang pada hari ini akan mengakhiri hidupnya.