Back To 2012

Back To 2012
26. Dilema


__ADS_3

Untuk esok harinya, sesuai yang di rencanakan Winter. Spring dan Winter terlebih dahulu sekolah sebelum mereka pergi berkemah di pantai. Dan seperti biasanya, mereka pergi sekolah bersama. Hanya saja, Spring dan Winter pergi berjalan kaki tanpa sepeda, karena ban sepeda Winter bocor.


"Maaf sudah membuatmu berjalan kaki," ucap Winter.


Spring tersenyum. "Untuk apa meminta maaf, bukankah kita sudah terbiasa pergi sekolah dengan berjalan kaki."


Ya walaupun berjalan kaki, tapi menurut Spring sangat menyenangkan, karena bisa bersama lebih lama dengan Winter. Yang mungkin bila di sekolah, mana bisa Spring berlama-lama dengan Winter. Bila di sekolah, selain belajar Winter akan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama teman laki-lakinya, sementara Spring akan lebih banyak menghabis waktunya dengan Lucy.


Tak lama mereka berjalan, tiba-tiba saja sebuah mobil berjenis offroad warna hitam berhenti di dekat mereka sambil menyalakan klakson. Winter dan Spring pun seketika menghentikan langkahnya. Winter mungkin merasa heran dan penasaran dengan si pemilik mobil tersebut. Namun, lain halnya dengan Spring, ia tak terlalu heran dan penasaran. Karena pemilik mobil tersebut merupakan orang yang selalu menganggunya di manapun dan kapapun, siapa lagi kalau bukan Skylar.


Sesaat setelah Skylar membuka kaca mobilnya, Winter langsung saja di tekuk kesal. Winter pun dengan cepat kembali melangkahkan kakinya sembari menarik tangan Spring.


Seperti kemarin, Skylar terus mengikuti Spring dengan cara memperlambat lajuan mobilnya, agar mobilnya itu bisa sejajar dengan langkah Spring.


"Spring, cepatlah naik ke mobilku. Akan sangat lelah bila kamu berjalan kaki," pinta Skylar.


Mungkin bagi Spring dengan Skylar memberikannya tumpangannya, itu akan jauh lebih baik bila Winter juga ikut. Karena Winter belum sepenuhnya pulih dari sakit, dan mungkin yang akan sangat kelelahan saat berjalan kaki itu adalah Winter, bukannya Spring. Biarpun Spring tak ingin menerima tumpangan dari Skylar, ia pun terpaksa harus menerimanya demi Winter.


Spring pun dengan cepat menahan langkah Winter. "Bagaimana bila kita ikut saja naik mobilnya Skylar."


Tak mungkin Winter mau menaiki mobil dari pria yang sudah membuatnya naik pitam kemarin. Jatuh harga dirinya bila harus menumpangi mobil mewah dari orang yang paling di bencinya itu.


Winter kembali melangkahkan kakinya sambil menarik tangan Spring. "Berjalan kaki di pagi hari akan jauh lebih sehat di bandingkan harus naik mobil seperti anak manja."


Lain halnya dengan Skylar yang sudah mengharapkan wanita yang paling di sukainya itu duduk di sampingnya.


"Hey Winter, Spring menginginkan naik mobil bersamaku. Bila kamu ingin berjalan kaki, berjalan kakilah sendiri jangan membuat wanitaku kelelahan karenamu," lontar Skylar.


Spring perlu membujuk Winter agar mau menumpangi mobil Skylar. Tapi hanya membujuk saja tak mungkin bisa membuat Winter yang keras kepala mau menuruti bujukannya. Spring pun perlu berbohong agar Winter tak terlalu tinggi melindungi harga dirinya.


"Sepertinya kakiku sangat pegal. Lebih baik kita menerima tumpangan dari Skylar."

__ADS_1


Winter menghela. "Apa harus kita menumpangi mobil Skylar, jarak ke sekolah tak terlalu jauh. Bukankah berjalan kaki dari rumah ke sekolah sudah biasa."


"Hm, entahlah, sepertinya hari ini kakiku sakit." Spring dengan segala cara membujuk Winter agar mau menumpangi mobil Skylar.


Aksi Spring tersebut mampu membuat Winter khawatir. Biarpun harga dirinya terjatuh, demi Spring akhirnya Winter mau ikut menumpangi mobil Skylar. Namun, Skylar memiliki syarat bila Winter ikut menumpangi mobilnya, yaitu Spring harus duduk di sampingnya. Tapi syarat itu tak berlaku, ketika Spring hendak membuka pintu mobil, Winter langsung mendahuluinya. Dan pada akhirnya Winterlah yang duduk di samping Skylar.


"Aku menyuruh Spring duduk di depan bersamaku, bukannya kamu," ucap Skylar bernada kesal.


"Yang penting Spring ikut menumpangi mobilmu. Duduk di kursi belakang ataupun depan, kamu akan tetap pergi ke sekolah bersama dengannya," ucap Winter dengan wajah datarnya.


"Benar apa kata Winter, aku masih tetap pergi ke sekolah bersamamu," sambung Spring ketika dirinya sudah masuk di kursi belakang.


Skylar hanya bisa meghela kasar nafasnya, karena bila ia menyuruh Winter turun, Spring pun kemungkinan akan ikut turun dari mobilnya.


*


Sesampainya Spring di sekolah, ia pergi ke kelas seorang diri. Winter yang pergi ke kamar mandi dan Skylar yang harus kembali ke mobilnya untuk mengambil dompetnya yang tertinggal di dalam mobil. Spring pun akhirnya harus berjalan sendirian ke kelas.


Saat tiba di kelas, keadaan kelas masih sangat sepi. Mungkin karena Spring yang terlalu pagi berangkat ke sekolah. Spring hanya mendapati Lucy yang tengah duduk sendirian di kelas.


Lucy mendongkak. "Sepertinya aku datang terlalu pagi."


Anehnya raut wajah Lucy nampak sendu, dan matanya pun nampak sembab seperti habis menangis. Spring pun di buat penasaran dengan sahabatnya tersebut.


"Hm, apa kamu baik-baik saja?"


Lucy tersenyum, namun senyumannya itu terlihat seperti di paksakan. "Aku baik-baik saja. Memangnya menurutmu aku terlihat seperti orang yang tak baik-baik saja."


Spring meraih tangan Lucy. "Bila memiliki masalah maka ceritakanlah dengan bebas, aku akan siap mendengarkannya. Dan bila perlu, aku akan siap membantumu."


Namun, ketika Lucy akan hendak mengeluarkan kata-katanya, tiba-tiba saja Skylar dan Winter datang ke kelas secara bebarengan. Kata-kata itu pun seketika tenggelam begitu saja.

__ADS_1


"Hm, apa boleh malam ini aku menginap di rumahmu," ucap Lucy yang seakan mengalihkan topik obrolannya dengan Spring.


Spring pun sampai terheran-heran, masalah apa yang sebenarnya terjadi pada Lucy hingga membuatnya sulit untuk menceritakannya.


"Tunggu... Tunggu... Kamu belum menceritakan sesuatu padaku. Jadi masalah apa yang sedang kamu alami?"


"Nanti akan ku ceritakan di rumahmu."


Bila Lucy menginap, maka rencana berkemah dengan Winter harus di batalkan. Lagi pula, Winter mungkin belum sepenuhnya pulih. Dan Spring harus mendengarkan masalah yang terjadi pada Lucy. Karena salah satu dari misi Spring adalah memperbaiki hubungannya dengan Lucy dan mencari tahu penyebab Lucy pindah rumah sekaligus sekolah, tepat pada hari ulang tahunnya Spring.


Spring pun beringsut menghampiri Winter. "Sepertinya hari ini kita tidak bisa berkemah. Bagaimana bila kita pergi pada hari libur sekolah saja."


"Memangnya mengapa kita tidak bisa pergi hari ini?"


"Kondisimu belum sepenuhnya pulih, dan hari ini Lucy akan menginap di rumahku."


Winter menghela. "Aku sudah sembuh, lihatlah tubuhku sudah sangat sehat. Hm, bila kamu tak ingin pergi bersamaku, aku akan pergi sendiri."


Spring pun di buat dilema, apa ia harus memilih pergi bersama Winter atau memilih mendengarkan cerita Lucy. Satu-satunya pilihan adalah dengan cara mengajak Lucy ikut berkemah. Spring dapat ikut berkemah dengan Winter dan bisa pula mendengarkan cerita Lucy.


Spring pun kembali menghampiri Lucy. "Sepertinya hari ini aku tak akan berada di rumah, karena hari ini aku akan pergi berkemah dengan Winter. Bagaimana bila kamu ikut saja bersama kami."


Lucy tersenyum. "Kamu akan pergi berkemah dengan Winter. Bila aku ikut, maka kamu tidak bisa menikmati waktu berdua dengan Winter." Lucy lalu berbisik. "Ini kesempatan untukmu bisa menyatakan perasaanmu kepada Winter."


"Bagaimana denganmu, bukankah kamu akan menceritakan sesuatu padaku."


"Ceritaku tak terlalu penting. Kamu bisa pergi berkemah dengan Winter, tak usah pedulikan aku."


"Benarkah?"


Lucy mengangguk. "Tentu saja."

__ADS_1


Ya, meski Lucy mengizinkan Spring bersama Winter, bukan berarti Spring tak penasaran dengan masalah yang terjadi pada Lucy. Karena Lucy pasti memiliki masalah yang sangat sulit untuk di ceritakan pada siapapun. Sama halnya seperti di kehidupan sebelumnya, Lucy kerap kali sering murung.


Spring harus mencari tahu penyebab Lucy sering murung. Mungkin sehabis berkemah, Spring akan menghabiskan waktunya bersama Lucy agar ia bisa leluasa menceritakannya kepada Spring.


__ADS_2