Back To 2012

Back To 2012
33. Pernyataan Cinta Yang Kedua


__ADS_3

Sesaat setelah meninggalkan Skylar, Spring pun bergegas mencari Winter di kerumunan orang-orang. Namun, lamanya Spring mencari, Winter tak dapat di temukan di mana-mana. Spring pun akhirnya bertanya-tanya kepada orang-orang, kemana pria yang paling di cintainya itu pergi. Dan salah satu teman sekelasnya menjawab, bila Winter pulang tak lama setelah Spring di bawa pergi oleh Skylar.


Perginya Winter menimbulkan kekhawatiran untuk Spring. Bukan khawatir karena akan terjadi hal buruk pada Winter, Spring hanya takut bila sampai Winter salah paham terhadapnya. Winter memang menyuruh Spring untuk menemukan pria lain untuk menjadi tambatan hatinya. Tapi Spring mencurigai Winter, bila sahabatnya itu tak akan mampu bila harus melihat Spring bahagia dengan pria lain. Terbukti jelas setiap kali Spring di dekati Skylar, Winter akan terlihat kesal ataupun marah. Dan juga terbukti jelas dari setiap tatapan yang di berikan Winter untuk Spring seakan memiliki ketertarikan. Bagaimana bisa Spring melupakan cintanya untuk Winter, sementara orang yang ingin di lupakannya selalu menampakan jelas perasaannya terhadapnya.


Setelah tahu Winter pergi, Spring kemudian menghubungi Winter lewat ponselnya. Namun, beberapa kali Spring menghubunginya, Winter sama sekali tak mengangkat teleponnya. Bahkan mengirim pesan pun tak di balas olehnya.


Karena tak ada balasan dari Winter, Spring pun memutuskan untuk pulang. Karena siapa tahu, Winter sekarang berada di rumahnya. Akan tetapi, ketika Spring hendak pulang ia tersadar, bila jarak rumah Skylar ke jalan raya cukup jauh. Spring perlu berjalan berpuluh-puluh meter untuk dapat menemukan taxi.


Spring menghela. "Bagaimana bisa aku pulang dengan berjalan kaki," gumamnya ketika langkahnya sudah berada di depan gerbang rumah Skylar.


Lalu seketika Skylar pun datang dengan mobilnya. "Aku rasa kamu butuh tumpangan."


Spring terdiam menatapi Skylar yang tengah memegang Stir mobilnya. Ia terguncang oleh kebingungan. Dirinya ingin pulang dan segera menemui Winter, akan tetapi ia terlalu marah dengan Skylar. Bagaimana bisa ia mau di antar pulang oleh orang yang sudah membuatnya marah dan kesal itu.


"Kenapa hanya diam saja, apa kamu yakin akan mencari taxi dengan berjalan kaki," lontar Skylar.


Tentu saja Spring tak mau bila harus berjalan kaki berpuluh-puluh meter, terlebih lagi ia masih menggunakan *heel*s. Ya, karena mungkin ia terburu-buru hingga lupa mengganti sepatunya. Dan bahkan Spring pun sampai lupa bila baju dan sepatunya masih berada di rumah Skylar. Terpaksa Spring pun harus menumpangi mobil Skylar, bila tak mau kakinya bengkak karena berjalan kaki berpuluh-puluh meter menggunakan heels.


Selama perjalanan pulangnya, Spring hanya terdiam sembari memalingkan wajahnya ke arah jendela di sampingnya. Bahkan beberapa kali Skylar mengajaknya berbicara, Spring sama sekali tak menanggapinya. Spring terlalu malas bila harus menanggapi orang yang sudah membuatnya marah. Bahkan ketika Skylar melontarkan kata maaf, Spring sama sekali tak menjawabnya. Hingga membuat Skylar pun semakin merasa bersalah setelah membuat wanita yang paling di sukainya marah.


Sesampainya di depan rumah, Spring pun bergegas turun dari mobil. Dan tak lupa mengucapkan kata terima kasih walaupun terlalu malas untuk mengeluarkan suaranya.


"Terima kasih sudah mengantarku."


Setelah membuat Spring marah, Skylar tak bisa tinggal diam saja untuk membiarkannya marah terlalu lama padanya. Ia pun ikut turun dari mobil, dan langsung bergegas menghentikan langkah Spring.

__ADS_1


"Aku minta maaf, bisakah kamu memaafkanku."


Spring menghela kasar nafasnya. "Aku akan memaafkanmu, tapi aku butuh waktu untuk meredam kesal dan marahnya aku terhadapmu."


"Hanya dengan memaafkanku saja, aku sudah merasa senang. Terima kasih sudah mau memaafkanku. Dan semoga marahnya kamu akan cepat usai, karena aku tak ingin terlalu lama di abaikan olehmu."


Spring kembali melangkahkan kakinya tanpa mau merespon sedikitpun perkataan Skylar. Tentu saja, orang marah mana mau menanggapi orang yang sudah membuatnya marah.


*


Tujuannya pulang adalah untuk menemui Winter, Spring bukannya langsung pulang ke rumah ia malah langsung bergegas pergi ke rumahnya Winter. Padahal malam sudah mulai larut, dan bahkan ayahnya beberapa kali menelponnya. Tapi Spring sengaja tak mengangkatnya, karena bisa-bisa jika ia sampai mengangkatnya, Spring akan terkena ocehan ayahnya. Spring hanya membalasnya lewat pesan, bila dirinya tak bisa pulang ke rumah sekarang. Setelah membalasnya Spring langsung mematikan ponselnya, agar ayahnya itu tak terus-menerus menghubunginya. Dan untungnya ponselnya berada pada mode getar, baik ayahnya ataupun ibunya tak sadar bila dirinya sedang berada di depan rumah Winter.


Sesaat Spring menekan tombol bel rumah milik Alex Collin tersebut, putra sulungnya datang membukakan pintu.


Spring mengangguk. "Iya, apa sekarang Winter sedang berada di rumah."


Namun, tiba-tiba saja Alex berbisik ke telinganya. "Winter sepertinya pergi ke villa. Aku tak tahu apa yang sedang di alaminya, ketika dia pulang ke rumah wajahnya nampak di tekuk kesal. Dan dia bahkan pergi sambil membawa beberapa kaleng bir yang ia bawa dari rumah."


Spring terkejut setelah mendengar apa yang di ucapkan Alex tersebut. Bagaimana bisa Winter yang masih di bawah umur pergi membawa minuman beralkohol. Spring pun kemudian dengan cepat bergegas ke tempat Winter berada.


Dan benar saja apa yang di katakan Alex, bila Winter membawa banyak bir ke vila. Bahkan sudah ada tiga kaleng kosong yang berserakan di lantai.


"Aku tak menyangka bila kamu akan meminum minuman beralkhol di usiamu yang belum menginjak 18 tahun." Spring kecewa melihat Winter yang sudah sangat terlihat mabuk itu. Dan bahkan dirinya tak menatap sama sekali ketika Spring datang menghampirinya.


"Apa ini Winter yang ku kenal. Anak baik yang selalu mentaati aturan, sekarang menjadi anak yang tak suka mentaati aturan."

__ADS_1


Winter seketika menatap Spring dengan raut sendunya. "Hari ini kamu sangat cantik, Spring. Dan bahkan tadi kamu sangat serasi berada di samping Skylar."


Spring lalu menarik Winter untuk berdiri. "Sudah cukup kamu meminumnya, lebih baik kamu segera beristirahat di kamar."


Padahal sudah sangat mabuk, tapi tenaga Winter masih sangat kuat. Bukankannya berdiri, Winter malah menarik balik Spring hingga membuat sahabatnya itu terduduk.


"Bisakah kamu duduk di sampingku sebentar." Winter menatap Spring dengan kedua matanya yang tiba-tiba saja tergenang. "Maafkan aku karena sudah membuatmu marah. Aku membuat taruhan dengan Skylar, agar kamu tak lagi di dekati olehnya."


"Kenapa kamu tak suka bila aku dekat dengan Skylar."


Winter menghela. "Entahlah, sepertinya ada yang mengganjal di hatiku. Banyak orang yang membicarakanmu di sekolah, bila kamu merupakan kekasihnya Skylar. Bahkan tadi saja, orang-orang berbicara bila kalian merupakan pasangan yang sangat serasi. Padahal seharusnya aku senang bila kamu memiliki kekasih seperti Skylar, karena sepertinya Skylar merupakan pria yang akan tulus mencintaimu. Tapi hatiku sangat sakit bila harus merelakanmu bahagia dengan pria lain."


Deg...


Jantung Spring pun seketika berdebar sangat kencang, perkataan Winter tersebut mampu membuat Spring semakin yakin bila Winter sama mencintainya seperti dirinya.


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Spring.


Winter mengiyakan pertanyaan Spring dengan anggukan. "Sudah sangat lama aku mencintaimu. Bukan karena kamu sahabatku, aku mencintaimu sebagai seorang pria kepada wanita."


Winter perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Spring. Ia mendekat dengan matanya yang hanya terfokus menatap ke arah bibir mungil milik wanita yang mencitainya itu. Hingga ketika bibirnya sudah berada di jarak satu inci dengan bibirnya Spring, dengan cepatnya bibirnya mendaratkan diri di bibir mungil milik Spring.


Spring pun terkejut setelah bibirnya Winter mendaratkan diri di bibirnya. Karena saking terkejutnya, Spring berciuman dengan keadaan matanya yang terbuka. Sementara Winter, ia mencium bibir Spring dengan keadaan mata yang tertutup sambil mengeluarkan bulir air.


Spring bukan hanya terkejut karena Winter menciumnya, tapi juga terkejut bila Winter juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Akhirnya Spring tahu bila selama ini dirinya tak bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


__ADS_2