
Entah bagaimana Spring dapat melepaskan bibirnya dari Winter. Ia terlalu terlena begitu Winter merekatkan bibirnya ke bibir mungil miliknya. Entah ia marah atau senang, Spring tak dapat memilihnya. Ia marah, karena pria yang selalu di percayainya dapat membohonginya bahkan mempermainkan perasaannya. Ia juga senang karena akhirnya ia tahu bahwa selama ini cintanya tak pernah bertepuk sebelah tangan.
Nafas pun sampai terengah-engah selepas bibir melepaskan diri.
"Aku minta maaf karena selama ini aku tak mengakui perasaanku. Aku sangat mencintaimu, Spring," ungkap Winter dengan wajahnya yang memerah.
Seketika mata Spring pun tergenang, selepas kata cinta berulang kali keluar dari mulut pria yang selalu menjadi nomer satu di hatinya itu. "Apa begini caramu untuk menyatakan perasaan. Membuatku terlihat bodoh terlebih dahulu, lalu kamu mengungkapkannya selepas membuatku patah hati."
"Aku minta maaf karena terlambat mengungkapnya." Raut wajah Winter pun berubah jadi sendu, bahkan matanya pun ikut tergenang layaknya mata Spring saat ini. "Aku terlalu takut bila sampai akhir aku tak dapat mengungkapkannya. Walau terlambat, setidaknya aku dapat mengungkapkannya sebelum aku pergi nanti."
Spring mengerutkan alisnya. "Apa maksudmu, memangnya kamu mau pergi kemana?" tanyanya terheran-heran.
Winter seketika meraih sebuah benda berbentuk persegi dari saku jaketnya. Benda tersebut merupakan buku diary milik Spring yang hilang.
"Aku sudah membaca semua tulisan di buku ini. Entah itu nyata atau hanya khayalanku saja, tapi aku ingin bertanya, apa benar kamu bukanlah Spring dari masa kini?"
__ADS_1
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, kemana kamu akan pergi. Jangan membuatku terlihat kebingungan," ucap Spring yang saat ini perasaannya tiba-tiba saja merasakan tak enak.
"Aku tak ingin menjawabnya terburu-buru, sebelum aku memastikannya. Spring yang ku kenal saat ini bukanlah Spring yang ku kenal sebelumnya. Kamu seperti tahu tentang apa yang akan terjadi hari esok, seperti yang kamu tulis dari buku ini."
Spring mengangguk sembari menitikan air matanya. "Iya, aku adalah Spring yang datang dari 10 tahun kemudian."
"Lalu, kamu menulis bila hari kematianku bertepatan pada hari ulang tahunmu. Jika aku mati pada hari ulang tahunmu, apa aku mati karena Alex?" tanya kembali Winter.
Spring kembali menganggukan pertanyaan Winter, namun kali ini ia tak berucap.
"Apa maksudmu? Aku telah berhasil menyelamatkanmu dari Alex, tentu saja kamu harus berumur panjang," ucap Spring yang semakin kebingungan dengan perkataan Winter.
Winter menundukan kepala, seakan tak sanggup menunjukan raut sendunya kepada Spring. Ia membuang cepat nafasnya, lalu berkata. "Aku menderita leukemia stadium akhir, hidupku tak akan lama lagi. Itulah alasanku selama ini tak bisa mengungkapkan perasaanku, karena aku tak ingin membuatmu tak bisa lepas dariku bila aku pergi nanti. Tapi, bila aku tak mengungkapkannya, aku mungkin akan membawa mati perasaanku tanpa pernah mengungkapnya."
Spring terlalu terkejut setelah mendengar apa yang di ucapkan Winter tersebut, ia sampai tak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Bila mau, apa yang di dengarnya itu hanyalah sebuah kebohongan. Dan bila perlu, saat ini Spring sedang bermimpi buruk.
__ADS_1
"Kamu tak bisa langsung menyimpulkannya, bila kamu tak akan berumur panjang. Aku saja di beri kesempatan untuk menyelamatkan hidupmu, mengapa kamu optimis bila kamu tak akan berumur panjang. Aku yakin bila tuhan juga akan memberikanmu kesembuhan. Akan ada banyak cara untuk menyembuhkan sakitmu itu."
Winter menggeleng. "Leukemia yang ku derita sudah berada di tahap stadium akhir. Biarpun pengobatan yang di lakukan dokter berhasil, kankerku tak akan sepenuhnya menghilang dari tubuh. Mungkin tuhan memberimu kesempatan untuk kembali ke masa lalu, agar aku dapat memberikan banyak waktukku untukmu. Jadi aku memutuskan untuk tak melakukan pengobatan, agar aku bisa banyak meluangkan waktukku untukmu, dari pada harus melakukan pengobatan yang hanya berakhir sia-sia."
"Aku yakin akan ada banyak cara yang di lakukan dokter untuk menghilangkan kankermu. Aku saja di beri kesempatan untuk menyelamatkanmu, mengapa kamu optimis bila kamu tak bisa sembuh. Pasti akan ada keajaiban yang di beri tuhan untukmu, kamu tak boleh menyerah begitu saja. Aku yakin kamu akan sembuh bila kamu mau melakukan pengobatan." Spring berusaha meyakinkan Winter agar sahabatnya itu mau berusaha untuk sembuh dari sakitnya.
Winter menghela nafasnya. "Kankerku sudah stadium akhir, di mana stadium tersebut sudah sangat sulit di sembuhkan. Aku memutuskan untuk tak melakukan pengobatan. Karena aku ingin lebih banyak menghabiskan waktuku bersama orang-orang yang ku sayangi, dari pada harus menghabiskan waktuku di rumah sakit."
Spring tetap yakin bila tuhan akan memberikan kesembuhan untuk Winter, ia pun terus meyakinkan Winter untuk mau melakukan pengobatan. "Mengapa kamu seyakin itu bila sakitmu tak akan sembuh, kamu saja belum mencobanya. Aku yakin bila kamu melakukan pengobatan di rumah sakit, kankermu akan hilang. Bila rumah sakit di Chicago tak ada yang mampu menyembuhkanmu, aku akan memohon kepada orang tuamu untuk mencari rumah sakit lain di luar Chicago yang mampu menyembuhkanmu. Cobalah untuk melakukan pengobatan, kamu tak boleh menyerah begitu saja," ucapnya dengan isak tangis.
"Dari pada sibuk melakukan pengobatan yang hanya akan berakhir sia-sia, lebih baik aku menghabiskan banyak waktuku dengan orang yang ku sayangi dari pada aku harus mati di rumah sakit tanpa memberikan kenangan indah untukmu dan orang-orang yang paling ku sayangi," ucap Winter yang tetap bersiteguh dengan pendiriannya.
Emosi Spring pun meluap. "Bertahun-tahun tanpamu hidupku sangat berantakan. Tiada waktu bagiku untuk tersenyum, dan tiada hari bagiku untuk tak memikirkanmu. Aku bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hidupku. Bila tuhan membuatku mengulang waktu hanya untuk di tinggal olehmu kedua kalinya, untuk apa dia memberiku kesempatan." Spring membuang kasar nafasnya. "Bila kamu mati, aku tak akan sanggup bila harus melanjutkan hidup."
Spring pun melangkah pergi dengan isak tangisnya. Hanya sesaat Spring dapat merasakan kebahagiannya. Begitu tahu tentang penyakit mengerikan yang di derita Winter, kebahagiannya seakan di renggut begitu saja. Spring benar-benar marah, entah karena tak bisa menerima kenyataan atau marah karena telah dua kali di beri kebohongan besar oleh Winter. Spring tak mengerti mengapa tuhan memberikannya kesempatan untuk mengulang waktu, bila harus di tinggalkan Winter untuk kedua kalinya.
__ADS_1