
Mengejutkan mata yang melihat, ciuman tersebut mampu membuat orang-orang berkerumun mengelilingi Spring dan Skylar. Apa lagi seusai Spring menyelesaikan ciumannya, Skylar langsung saja menarik pinggang Spring hingga membuat tubuhnya mendekat padanya.
"Kamu tahu bila ucapanmu tak bisa lagi di tarik. Jangan pernah menyesal dengan keputusanmu itu."
Rona merah di wajah Spring pun seketika muncul. Betapa malunya dirinya saat mata Skylar hanya terfokus menatap wajahnya. Terlebih lagi orang-orang banyak yang bersorak atas aksi yang mereka lakukan itu.
"Untuk apa aku menarik ucapanku, terlalu banyak saksi bila aku harus menghianati ucapanku. Dan ini merupakan keputusanku, aku tak akan menyesal karena telah menjadikanmu kekasihku."
Skylar tersenyum. "Baguslah." Lalu dengan cepat ia mendaratkan bibirnya di bibir wanita yang sekarang berstatus sebagai kekasihnya tersebut.
Semua orang yang menyaksikannya pun semakin di buat heboh oleh aksi sepasang kekasih baru tersebut. Bahkan ciuman yang di lakukan Skylar bukanlah ciuman biasa yang hanya menempelkan bibirnya saja. Ciuman tersebut merupakan ciuman yang sangat panas. Setiap gerakan yang di buat mulutnya, terasa sangat detail. Hingga membuat Spring pun terlena mengikuti pergerakan mulut pria yang sudah sangat lama mendambakannya.
Selepas mereka puas berciuman, nafas pun terengah-engah. Dahi saling menempel dan mata pun saling menatap satu sama lain.
"Aku sangat mencintaimu, Spring," ucap Skylar tersenyum lebar.
Entah mengapa sesaat Spring akan menjawabnya, hatinya seakan menahannya untuk tak membalas ucapan Skylar. Mungkin karena Skylar bukanlah orang yang di inginkan hatinya, hingga membuatnya tak di terima baik oleh hati wanita yang telah di buat patah hati oleh pria terkasihnya itu.
Biar begitu, Spring harus meyakinkan hatinya bila Skylarlah yang sekarang harus tinggal diam di hatinya. Dengan ragunya Spring menjawab. "A...aku juga mencintaimu."
Dan lagi-lagi semua orang semakin heboh saja setelah mendengar kalimat yang terlontar dari mulut mereka.
**
__ADS_1
Apa karena Spring terbalut oleh emosi hingga lupa bila hubungannya berakhir dengan Winter maka ia melupakan misinya untuk menyelematkan hidup cinta pertamanya itu.
Seakan hubungannya telah berakhir, jarak mereka semakin menjauh, Spring yang sibuk dengan Skylar, sementara Winter antara sibuk dengan Jinny namun kerap kali ia sering mengabaikan kekasihnya itu. Karena mungkin Jinny hanyalah sebuah alasan untuk Winter agar Spring dapat melupakan perasaannya.
Walau Spring menjalin hubungan spesial dengan Skylar untuk kedua kalinya, bukan berarti perasaannya terhadap Winter dapat hilang semudah itu. Perasaannya terhadap Winter masih tetap sama, tak ada yang berubah walau statusnya sudah menjadi kekasihnya Skylar. Ia yang sangat mencintai itu, sering kali wajahnya menjadi sendu tiap kali melihat pria terkasihnya sedang bersama kekasihnya.
Hatinya bersedih tiap kali melihat Winter bersama dengan Jinny. Spring pun bertanya-tanya, apa Winter juga merasakan apa di rasakannya itu. Apa Winter akan merasa bersedih tiap kali Spring bersama dengan Skylar. Semua itu menjadi pertanyaan untuk Spring, karena hati Spring terlalu sakit dengan kenyataan bahwa Winter merupakan kekasihnya Jinny.
Terlalu sibuk memikirkan perasaannya sendiri, hingga lupa bahwa tunjuannya kembali adalah untuk menyelamatkan hidup Winter. Ia lupa hingga harus di ingatkan. Lalu seketika Lucy menyindir Spring.
"Hubunganmu bukan hanya berakhir denganku saja, tapi dengan Winter pun berakhir. Aku sangat yakin bila kamulah yang membuat hubunganmu dengan Winter berakhir. Kamu benar-benar sahabat yang buruk, Spring."
Sindiran Lucy tersebut mampu mengingatkan Spring dengan misi utamanya. Bila Spring semakin menjauh dari Winter maka yang terjadi di kehidupan sebelumnya akan terjadi di kehidupannya yang sekarang.
Bergegaslah Spring menemui Winter di rumahnya selepas dirinya pulang sekolah. Matanya pun tergenang setelah bertatap muka dengan Winter dalam jarak dekat.
"Apa hubungan kita harus berakhir," ucap Spring dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Bila perasaanmu terhadapku masih tersisa, maka lebih baik di akhiri saja," ucap Winter dengan wajah datarnya.
"Bukankah kamu terlalu takut bila hubungan kita hancur. Tapi mengapa kamu menginginkan hubungan kita berakhir. Hanya karena sebuah perasaan, kamu memilih untuk mengakhirinya."
"Justru karena inilah aku ingin mengakhirinya. Bukankah sejak awal sudah pernah ku katakan untuk tak memiliki perasaan lebih terhadapku."
__ADS_1
Spring sampai menghela kasar nafasnya setelah mendengar apa yang di ucapkan Winter tersebut. Ia tak terima bila hanya dirinyalah yang bersalah karena memiliki sebuah perasaan.
"Bukankah kamu juga memiliki perasaan terhadapku. Bagaimana bisa kamu memojokanku sementara kamu pun juga memiliki perasaan terhadapku."
Winter memiringkan senyumnya. "Apa kamu akan membahas soal kejadian saat ku mabuk? Ingat Spring, saat itu aku sedang mabuk. Orang mabuk akan mengoceh tak jelas. Kamu tak seharusnya mempercayai ocehan orang mabuk."
"Kamu juga harus tahu, orang akan berkata jujur di saat sedang mabuk. Kamu bahkan sampai menciumku, bagaimana bisa aku tak mempercayai ucapanmu saat itu." Spring pun menangis seketika. Hingga membuat wajah datar Winter pun berubah menjadi sendu setelah melihatnya.
"Tak bisakah kamu melupakan perasaanmu terhadapku."
"Baik sekarang ataupun dulu, aku tak pernah bisa dengan mundahnya melupakanmu dari hatiku. Dan aku pun tak bisa mencintai Skylar walau aku sudah mencoba dua kali menjadi kekasihnya." Tangis Spring pun semakin pecah saja di depan Winter. Spring lupa bila ucapan yang terlontar dari mulutnya akan membuat Winter kebingungan.
Tapi walau begitu Winter menghiraukannya, karena yang saat ini ia lihat Spring sedang menangis pecah di depannya, dan ia merasa tak tega melihatnya. Winter pun seketika mendekap erat tubuh wanita yang tengah menangis di depannya itu. "Berusahalah untuk menghapus perasaanmu terhadapku, bila perlu bencilah aku dan cintailah Skylar dengan sepenuh hati.
Perkataan Winter tersebut terdengar seperti kata perpisahan untuk Spring. Apa karena jarak menuju hari ulang tahun Spring sebentar lagi. Hingga perkataan Winter tersebut seperti memiliki makna perpisahan.
Spring melepaskan dekapan Winter. "Mengapa aku harus membencimu? Perkataanmu terdengar seperti kata pisah untukku." Spring menghebuskan cepat nafasnya. "Baiklah, aku akan menuruti perkataanmu itu, aku akan berusaha melupakanmu dari hatiku. Dan aku pun akan berusaha untuk mencintai Skylar. Tapi aku ingin melihatmu terus-menerus. Melihatmu lulus dari sekolah, melihatmu berhasil menyelesaikan pendidikan tertinggimu, melihatmu menikah, dan melihat rambutmu memutih. Bisakah kamu lakukan itu."
Winter tak menjawab, namun ia hanya mengiyakan permintaan Spring tersebut dengan sebuah anggukan. Selepas itu, ia pun masuk ke kamarnya dan meninggalkan Spring yang tengah menangis tersebut seorang diri di ruang tengah rumahnya.
Spring tak yakin bila anggukan tersebut sebuah jawaban dari Winter untuk menyanggupi permintaannya. Spring terlalu takut bila sampai Winter pergi meninggalkan dunia seperti yang terjadi di kehidupan sebelumnya. Ia tak sanggup bila harus di tinggal pergi oleh Winter untuk kedua kalinya. Bagaimana ia bisa melanjutkan hidup bila harus hidup tanpa Winter lagi.
Spring pun pulang, dan tak hentinya ia menangis selepas memasuki kamarnya. Dan bagaimana bisa pikirannya terasa sangat kosong di saat ketakutan tengah melanda dirinya. Bukannya mencari solusi, yang ia lakukan hanyalah terus bergumam sembari menangis. "Bagaimana bila Winter pergi meninggalkanku lagi."
__ADS_1