Back To 2012

Back To 2012
49. Terima Kasih Atas Semua Kebahagian Yang Kau berikan


__ADS_3

Banyak yang Spring dan Winter lakukan, hal-hal yang tak pernah mereka lakukan ataupun rasakan di kehidupan sebelumnya. Walau Winter tengah sakit, tapi kebahagian selalu muncul di hari-harinya. Itu semua berkat peran orang-orang di sekelilingnya terutama kekasihnya. Raut bahagia nampak selalu jelas di wajah Winter. Melihat Winter yang tersenyum setiap harinya, membuat Spring pun ikut turut bahagia melihatnya.


Walau tubuhnya terlihat lemah dan wajahnya terlihat pucat, Winter tak nampak seperti orang sakit pada umumnya. Setiap harinya ia selalu bersemangat, bahkan lebih bersemangat dari orang yang memiliki tubuh sehat. Walau terkadang rasa sakit di tubuhnya sering terjadi. Tapi Winter tak pernah mempedulikannya, yang saat ini ia pedulikan hanyalah bersenang-senang tanpa peduli dengan rasa lelah dan sakitnya.


Musim panas telah bergulir, begitu pun musim gugur yang juga ikut berakhir, desember menjadi awal mula musim dingin. Ulang tahun Winter bertepatan pada musim dingin di bulan desember. Semua orang di sibukan menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Winter. Di mulai dari membuat kue ulang tahun, menghias tempat, hingga menyiapkan makanan-makanan ringan. Villa milik Theo Collin menjadi tempat untuk pesta sederhana yang mereka siapkan.


Pukul 7 malam, Spring menuntun Winter berjalan dengan kain penutup. Langkah demi langkah Winter lalui, dari ujung gerbang hingga memasuki halaman villa. Ketika langkahnya sudah berada tepat di depan pohon kesayangannya, Spring pun menghentikan langkah kekasihnya.


"Sudah sampai, silahkan di buka kain penutupnya."


Sesaat Winter membuka kain penutupnya, semua orang pun serentak mengucap selamat ulang tahun kepada pria yang bertambah umurnya itu. Senyum lebar pun nampak jelas terbentuk di dari wajahnya. Dan rasa terima kasihpun terlontar dari mulut kekasih dari Spring Scott tersebut.


"Selamat berulang tahun anakku yang paling tampan," ucap Olivia sembari memeluk erat anak bungsungnya.


Begitupun dengan Theo yang juga turut ikut memeluk putranya tersebut. "Terima kasih karena sampai saat ini kamu masih mampu melawan sakitmu."


Winter tersenyum. "Berterima kasihlah kepada tuhan, karena berkatnya aku masih bisa di beri kesempatan untuk merayakan ulang tahunku.


Raut bahagia terus tergambar dari wajah Winter, hingga membuat Spring pun tak bisa berhenti tersenyum ketika menatapnya. Rasa bahagia yang tengah di rasa Winter juga turut di rasakan oleh Spring. Namun, entah mengapa wajah Winter yang biasa terlihat sangat pucat, ia nampak terlihat seperti Winter yang sehat. Dan anehnya, hati Spring terasa sangat gelisah. Entah perasaan apa yang di rasa Spring saat ini. Spring tak hentinya membuang nafasnya, ia sangat gelisah bahkan ketakutan pun juga ikut terasa pada dirinya. Ia merasa heran dan kebingungan, entah apa yang ia takutkan hingga membuatnya bisa merasakan gelisah dan takut tanpa sebab.


Hingga pukul 10 malam, semua teman-teman pun pulang, terkecuali Spring, Winter dan keluarganya, mereka semua menginap di villa.

__ADS_1


Ketika semuanya sudah terlelap tidur, hanya Winterlah yang masih terjaga. Winter seketika membangunkan Spring dari tidurnya lelap.


"Bangunlah Spring," ucap Winter sembari menepuk lembut pipi kekasihnya tersebut.


Spring pun terbangun dari tidur lelapnya, sesaat matanya terbuka lebar, ia melihat Winter yang sangat berkeringat dan wajahnya pun sangat pucat bahkan lebih pucat dari biasanya.


"Apa kamu baik-baik saja? Apa perlu kita pergi ke rumah sakit, sepertinya kamu tak terlihat baik-baik saja," ucap Spring panik.


Winter menggeleng cepat. "Tidak perlu, bisakah kamu mengantarku pergi keluar. Aku sangat ingin melihat bintang."


"Di luar sangat dingin, mana bisa aku mengizinkanmu pergi keluar," ucap Spring.


Winter tersenyum dengan wajah pucatnya. "Aku bisa menggunakan jaket, sarung tangan, dan kaus kaki agar terjaga dari suhu dingin, begitu pun denganmu."


Spring menghela, walau ia sangat khawatir namun anehnya sepertinya ia tak bisa menolak permintaan dari Winter. Spring pun akhirnya pergi membawa Winter keluar. Mereka pun duduk di bawah pohon sakura sambil menikmati pemandangan langit malam yang penuh dengan gemerlap bintang.


"Spring, bolehkan aku bersandar di pundakmu," ucap Winter dengan suara yang bergetar.


"Hm, tentu saja."


Sembari bersandar, tangan Winter sangat kuat memegang tangan mungil milik kekasihnya itu. Anehnya perasaan Spring semakin merasakan gelisah di bandingkan tadi. Ia pun bertanya-tanya, ada apa dengannya hari ini. Yang seharusnya merasakan kebahagian karena Winter berulang tahun, ia malah merasa gelisah tanpa sebab. Sampai-sampai mata pun mulai mengeluarkan bulir-bulir air. Spring pun sampai harus memalingkan wajahnya dari Winter, karena tak ingin kekasihnya itu tahu bila dirinya tengah menangis.

__ADS_1


"Spring," seru Winter dengan nada samar.


"Hm, apa ada yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Spring dengan mata yang masih tak berhenti mengeluarkan bulir air.


"Banyak hal yang ingin ku sampaikan padamu malam ini. Tapi sepertinya aku tak bisa mengatakan semuanya. Aku hanya ingin bertanya, selepas ku pergi apa kamu bisa mengabulkan semua permintaanku?" tanya Winter.


Spring mengangguk. "Bila itu bisa membuatmu bahagia, akan kulakukan."


"Akhirnya akupun tak lagi merasa khawatir untuk meninggalkanmu." Winter pun perlahan menutup kedua matanya. "Terima kasih Spring, karena telah menjadi perempuan paling berharga di hidupku, terima kasih karena selalu menjadi orang yang membuatku bahagia, terima kasih telah menjadi alasan untukku bisa bertahan dari sakitku, dan terima kasih telah menjadi kenangan terindah di hidupku. Aku mencintaimu, Spring."


Tangan Winter pun perlahan melepaskan diri dari tangan Spring. Tangis pun seketika pecah, Spring menangis terisak di saat suara nafas dan degup jantung dari kekasihnya tak lagi terdengar.


"Terima kasih karena telah berusaha bertahan untukku, terima kasih telah menjadi sahabat untuk sekian lamanya, terima kasih telah menjadi cinta pertama terindahku, dan terima kasih karena telah menjadi orang yang paling berarti dalam hidupku. Aku juga mencintaimu, Winter."


Spring mendekap erat tubuh yang sudah tak beryawa itu. Ia menangis tersedu-sedu sembari memanggil namanya berulang kali. Kini terjawab sudah, mengapa ia merasa gelisah dan ketakutan. Itu semua adalah pertanda dari tuhan, bila kekasihnya akan terbang jauh ke tempat terindah.


Walau hatinya merasa sakit, tapi ia merasa bahagia karena Winter telah memberikan banyak kenangan indah di hidupnya. Bahkan saat-saat ia akan pergi, Winter telah memberikan kalimat terindah yang tak akan Spring lupakan seumur hidupnya. Spring mengingat semua permintaan Winter, ia berjanji pada dirinya sendiri akan melakukan semua permintaan Winter tanpa terkecuali. Terutama permintaan Winter yang memintanya untuk selalu tersenyum di kala Spring mengigatnya.


Spring sangat bersyukur di tengah kepergian Winter, karena ia dapat mendengar kata-kata terakhir yang di kehidupan sebelumnya tak pernah Spring dengar. Terutama kata cinta yang di lontarkannya.


Dalam tangisannya, Spring terus melontarkan kalimat cinta untuk pria yang sudah di panggil tuhan tersebut.

__ADS_1


"Bahagialah di sana dan tunggulah aku di sana. Teruslah melihatku sampai nanti tuhan menjemputku untuk pergi menemuimu. Aku berjanji akan bertahan dan menunggu sampai di panggil oleh tuhan. Dan bersabarlah, karena sepertinya aku akan lama berdiam di dunia. Aku mencintaimu, wahai kekasih hatiku."


__ADS_2