
Satu hal yang harus di waspadai Spring saat ini adalah keberadaan Jack. Selama Winter memboncengnya, Spring terus fokus memperhatikan sekeliling jalanan, untuk memastikan bila Jack tak akan datang mencegatnya di tengah jalan. Spring belum sepenuhnya bisa bernafas lega, bila Winter dan dirinya saja belum sampai di rumah. Di bandingkan harus mengkhawatirkan dirinya sendiri, Spring lebih mengkhawatirkan Winter. Karena Jack lebih marah kepada Winter di bandingkan dengan Spring sendiri.
Yang Spring takutkan, bila Jack akan datang bersama teman-temannya untuk menghajar Winter. Spring sangat takut karena Winter tak pandai berkelahi. Secara Winter merupakan pria yang pandai dalam hal belajar dan olahraga saja. Olahraga pun bukanlah olahraga bela diri, tapi melainkan olahraga seperti bermain sepak bola dan basket.
"Bisakah kamu mengayuh sepedamu lebih cepat lagi. Aku sangat takut bila Jack mengikuti kita," ucap Spring dengan raut cemasnya.
"Mengapa kamu harus takut, dia tak akan mengikuti kita. Karena sepanjang jalan aku tak mendapati Jack dan teman-temannya."
"Bisa saja dia sedang menunggu kita di tempat lain."
"Kamu tak perlu takut, dia tak akan berani menyentuhmu, karena aku akan melindungimu."
"Justru aku takut bila dia yang menyentuhmu. Aku takut karena Jack pasti akan datang menghajarmu bersama teman-temannya."
Tak lama Spring membicarakan Jack, akhirnya apa yang di takutkannya itu menjadi kenyataan. Jack dan teman-temannya datang menghentikan sepeda Winter. Dan yang lebih menakutkannya lagi adalah, Jack datang sembari membawa tongkat baseball.
Jack seketika menarik lengan Winter, lalu mendorong tubuhnya ke arah teman-temannya. "Pegang dia yang kuat agar tak lepas."
Sontak saja Spring pun ketakutan setengah mati setelah Jack menyuruh teman-temannya untuk memegangi Winter. Dengan cepatnya Spring pun meraih tangan Jack. "Kumohon jangan sakiti dia, dia tak salah apa-apa. Karena akulah yang salah, jadi pukulah aku sepuasmu."
Jack dengan kasar mendorong tubuh Spring hingga terjatuh. "Jangan membuatku semakin marah, bisakah kamu berhenti menggangguku. Sudah dari tadi aku di buat kesal olehmu, kali ini jangan halangi aku lagi." Jack lalu beralih menatap salah satu temannya. "Pegang dia agar dia tak menggangguku. Dan jangan sampai membuatnya terluka."
Spring pun menangis ketakutan, ia sangat panik ketika Jack akan mulai melayangkan pukulannya ke arah Winter.
"Berhenti!" teriak Spring. "Kumohon jangan menyakitinya, bila kamu tak memukulnya aku berjanji akan menjadikanmu kekasihku."
Jack menatap Spring sambil memiringkan senyumnya. "Apa aku harus mempercayaimu? Aku ragu bila kamu akan menepati janjimu."
"Aku janji Jack, mulai detik ini aku akan menjadi kekasihmu. Jadi, kamu jangan memukuli Winter, dia adalah sahabatku. Bila kamu kekasihku maka kamu tak akan pernah berani menyakiti orang yang paling berharga untukku."
Jack menyeringai. "Aku perlu sesuatu yang dapat menyakinkanku. Karena aku tak bisa sepenuhnya mempercayai ucapanmu itu."
__ADS_1
Spring menelan salivanya. "Kalau begitu cium aku."
Jack tersenyum girang. "Bagus, itu yang aku mau."
Spring pun langsung saja menutup kedua matanya. Nafasnya terengah-engah karena ketakutan yang ada pada dirinya tak bisa ia kendalikan. Spring hanya bisa pasrah bila ciuman pertama di kehidupan keduanya di berikan kepada Jack, asalkan Winter bisa baik-baik saja.
"Tidak Spring! Lebih baik aku di pukuli, dari pada harus melihatmu di perlakukan hina olehnya. Kamu tak harus merelakan dirimu sendiri hanya demi aku," ucap Winter meninggikan suaranya.
"Berhenti mengangguku, sialan! Aku harus segera meresmikan hubunganku dengannya." Jack beralih menatap temannya yang tengah memegangi Winter. "Tutup mulutnya agar aku bisa fokus mencium wanitaku."
Mulut Winter pun di tutup oleh salah satu temannya Jack. Setelah itu Jack pun bersiap untuk melakukan ciuman dengan Spring. Tangannya mulai meraih pinggang Spring, lalu wajahnya mulai mendekatkan diri ke arah wajah Spring. Namun, saat Jack akan mendarat bibirnya, tiba-tiba saja seseorang datang menghampirinya.
"Berani sekali kamu ingin mencium wanitaku."
Jack pun berhenti seketika, ia refleks berbalik ke arah orang yang menyebut Spring sebagai wanitanya. Begitu pun dengan Spring yang juga refleks membuka kedua matanya, untuk memastikan orang yang datang tersebut. Saat Spring menatap, ternyata orang yang telah menghentikan Jack tersebut ialah Skylar.
"Siapa kamu? Kamu bilang dia wanitamu. sekarang dia telah menjadi miliku, kamu jangan mengharapkan dia sebagai milikmu," ucap Jack sembari mendorong Skylar dengan jari telunjuknya.
Jack pun semakin naik pitam saja dengan Skylar, spontan ia pun langsung menarik kerah baju Skylar. "Apa lebih baik ku hajar saja dirimu. Agar kamu bisa sadar, bila kamu bukanlah siapa-siapanya.
Namun, di saat Jack akan melayangkan pukulannya, Skylar jauh lebih cepat menghajar Jack. Hingga membuat Jack terjatuh sebelum melayangkan pukulannya ke wajah Skylar.
"Justru kamulah yang harus sadar, kamu mengancamnya untuk mejadikannya kekasihmu. Padahal dia sama sekali tak memiliki perasaanmu terhadapmu."
"Sialan!" Jack berdiri, lalu dengan cepatnya ia melayangkan pukulannya ke arah Skylar. Namun lagi dan lagi, pukulannya tak sampai karena Skylar jauh lebih cepat untuk menghindari pukulan Jack. Hingga pada akhirnya Jacklah yang kembali di pukuli oleh Skylar.
Karena Jack sedang bertarung dengan Skylar, maka semua teman-temannya pun ikut membantu untuk menghajar Skylar. Baku hantam pun terjadi antara Skylar dan seluruh teman-temannya Jack. Akan tetapi, Skylar jauh lebih pandai berkelahi di bandingkan dengan Jack dan teman-temannya. Semuanya pun langsung tumbang hanya dalam hitungan waktu beberapa menit. Mereka langsung di buat bertekuk lutut setelah di hajar habis-habisan oleh Skylar.
"Bila kalian berani menyentuh wanitaku lagi, aku tak akan senggan untuk merontokan gigi kalian," ancam Skylar.
"Iya, kami tak akan lagi menganggu Spring," ucap serentak Jack dan teman-temannya.
__ADS_1
"Dan satu hal lagi, jangan menyakiti Winter. Karena wanitaku tak suka bila sahabatnya di sakiti."
"Baik, kami berjanji."
"Sekarang kalian enyahlah, karena aku tak suka melihat wajah-wajah menjijikkan kalian."
Jack dan teman-temannya pun bergegas pergi dari hadapan Skylar dengan raut ketakutannya, di tambah dengan wajah babak belurnya. Akhirnya Spring pun dapat bernafas lega setelah Jack dan teman-temannya pergi. Spring pun bergegas menghampri Winter dengan raut cemasnya.
"Apa kamu baik-baik saja, Winter?"
"Hei, di sini yang terluka adalah aku. Lihatlah wajahku lebam akibat di keroyok. Kamu malah mengkhawatirkan orang yang sama sekali tak di pukuli," lontar Skylar dengan kesal.
Spring menghela. "Aku tak akan berterima kasih padamu, Sky. Kamu datang membantu tapi malah membuat rumor kepada Jack dan teman-temannya, bila aku adalah wanitamu."
"Justru bila aku membuatmu jadi wanitaku, para brandalan itu tak akan berani menyentuhmu."
Spring menghela kasar nafasnya. "Saat di sekolah aku pasti akan di bicarakan banyak orang, karena Jack dan teman-temannya pasti akan menyebarkan rumor, bila kita berkencan. Dan aku tak suka bila harus di rumorkan sebagai kekasihmu. Aku benci bila harus di bicarakan banyak orang."
"Mengapa kamu harus takut bila rumor kita tersebar. Justru kamu harus senang karena di rumorkan dengan pria tampan sepertiku."
"Maaf aku menyela pembicaraan kalian," lontar Winter. "Aku ingin memberitahumu Sky, bila aku tak butuh perlindungan darimu. kamu tak perlu mengacam Jack untuk tak menyakitiku. Karena aku bisa mengatasinya sendiri."
Skylar tergelak. "Mengatasinya? Tadi saja kamu tak bisa mengatasinya. Spring hampir saja di lecehkan oleh pria brandalan itu. Tapi kamu sama sekali tak bisa melawannya."
Lalu tiba-tiba saja hidung Winter mimisan, Spring pun panik seketika. "Hidungmu Winter. Apa tadi Jack dan teman-temannya sempat menyakitimu."
Winter pun dengan cepatnya menyeka darah di hidungnya. "Aku baik-baik saja, kamu tak perlu khawatir, ini sudah terbiasa. Mungkin karena aku kelelahan."
Skylar berdecak. "Ck... Aku yang di hajar tapi kamu yang mimisan. Sebenaranya siapa yang harus di khawatirkan," ucapnya di tekuk kesal.
"Berhenti berbicara, tolong jaga Winter. Aku akan membeli tisu dan obat luka untuk dirimu." Spring bergegas pergi dengan langkahnya yang terburu-buru.
__ADS_1
"Hei tunggu! Winter bukanlah anak kecil yang harus ku jaga," teriak Skylar.