Back To 2012

Back To 2012
47. Terima Kasih Atas Segalanya


__ADS_3

Bila memang Winter di takdirkan untuk tak berumur panjang, itu mungkin sudah menjadi jalan hidupnya yang di takdirkan tuhan untuknya. Takdir tersebut tak bisa di terima baik oleh Spring, di mana dirinya tak bisa dengan rela melepaskan Winter pergi ke tangan tuhan.


Spring masih tetap optimis dengan kesembuhan Winter, tapi lain halnya dengan Winter sendiri yang sudah pasrah bila sakitnya tak kunjung sembuh. Bila memang tuhan tak dapat berpihak padanya, maka untuk saat ini yang perlu Winter lakukan adalah meyakinkan Spring untuk tetap tegar menghadapi kenyataan.


Selama proses pengobatannya, Winter berulang kali meminta Spring untuk menerima apapun hasil yang di beri tahu dokter nanti.


Setiap hari Spring tak pernah lelah menemani Winter di rumah sakit. Walau setiap hari Spring berada di rumah sakit, bukan berarti dia melupakan sekolahnya. Setiap hari ia tetap bersekolah walau setiap pulang ia akan pergi menemani Winter di rumah sakit.


Dua bulan telah berlalu, tubuh Winter semakin kurus saja, wajahnya semakin pucat, hingga rambutnya pun sudah semakin rontok akibat kemoterapi yang tengah di jalaninya. Terkadang Spring harus bersembunyi ketika ia ingin menangis karena tak kuasa melihat kondisi dari kekasihnya itu. Apa lagi di kala Winter tengah kesakitan, terkadang Spring refleks menangis di depannya.


Spring selalu berharap bila kekasihnya akan sembuh dari sakitnya, namun dokter telah memprediksi, bila hidup Winter hanya akan bertahan 10 bulan lagi. Kanker yang sudah menyebar ke seluruh tubuhnya tak dapat lagi terkendalikan. Hal yang harus di lakukan Spring saat ini adalah memperbanyak waktu bersama Winter dan memperbanyak membuat kenangan indah untuknya.


Spring menangis tersedu-sedu di kala perkataan dokter terus terlintas di kepalanya, hingga membuat Winter pun terbangun dari tidurnya karena mendengar suara tangisan dari kekasihnya itu.


"Mengapa kamu menangis, apa yang membuatmu menangis?" tanya Winter dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.


Spring hanya menggeleng tanpa berucap dan tanpa mau berhenti dari tangisannya. Winter pun kemudian mendekap erat tubuh wanita yang tengah menangis tersedu-sedu itu.


"Bila kamu menangis karena aku, bisakah berhenti menangis. Aku baik-baik saja, Spring. Selama ada kamu di sisiku, aku merasa baik-baik saja."


"Mengapa bisa dokter memprediksi kematianmu, dia hanya manusia biasa, dia bukan tuhan ataupun dewa yang memiliki kekuasaan. Mengapa bisa dia berkata, bila kamu hanya bertahan selama 10 bulan," ucap Spring dengan isak tangisnya.


Winter pun melepas dekapannya, lalu menyeka air mata di wajah Spring. "Berhentilah menangis, karena aku masih ada bersamamu. Lupakanlah semua hal yang membuatmu khawatir, karena hari ini aku akan membuatnya lupa." Winter kemudian mengecup kening dan kedua mata Spring secara bergiliran. Tangis Spring pun seketika berhenti selepas Winter mengecupnya.


"Ku pikir tak akan puas bila hanya kening dan matamu saja yang ku kecup." Winter tersenyum dengan mata yang fokus tertuju menatap bibir mungil milik kekasihnya itu. Tangannya mulai menyentuh pipi Spring, dan bibirnya pun perlahan mulai mendekat. Spring pun terlena dalam buaian kekasihnya, matanya tergerak menutup diri di kala bibir mulai saling beradu satu sama lain.


Benar apa kata Winter, Spring melupakan segalanya ketika dirinya terbuai dalam kenikmatan luar biasa. Ciuman yang di lakukan Winter tersebut mampu membuat Spring merasakan ketenangan. Ia tak dapat merasakan gelisah dan ketakutan yang selama ini terus menghantuinya.


Kening pun saling menempel dan mata pun saling menatap ketika ciuman tersebut telah berakhir. Wajah Spring memerah di kala Winter menatapnya sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Apa sekarang perasaanmu sudah merasakan bahagia?"


Spring seketika mengalihkan pandangannya. "Berhenti menatapku seperti itu, saat ini aku terlalu malu melihatnya."


Winter tergelak. "Apa kamu malu karena kita berciuman. Bukankah seharusnya kamu sudah terbiasa, karena kita sudah beberapa kali melakukannya."


Spring menghela. "Entahlah, sepertinya jantungku masih tak terbiasa. Entah mengapa jantungku sangat kencang berdetak."


Winter tersenyum, ia seketika menarik Spring hingga membuat tubuhnya kembali mendekat. "Apa perlu kita melakukannya sekali lagi, agar kamu terbiasa."


Spring seketika menelan salivanya, jantungnya semakin berdegup kencang saja dan lebih kencang di bandingkan tadi. "Memangnya perlu dilakukan sekali lagi, agar aku bisa terbiasa."


"Tentu saja." Winter mulai lagi mendekatkan bibirnya kembali. Namun, di saat bibirnya akan mendarat diri, tiba-tiba saja seseorang datang.


"Benar-benar sangat menjijikan," lontar seseorang tersebut.


Winter dan Spring pun refleks menengok ke arah orang tersebut. Dan ternyata orang yang datang tersebut ialah Skylar.


"Aku merindukanmu, oleh sebab itu aku memaksakan datang kesini," ucap Skylar menghampiri.


Winter pun menghela kasar nafasnya. "Tak sepantasnya kau merindukan perempuan yang telah di miliki olehku."


Skylar tergelak. "Aku hanya bercanda, aku datang hanya ingin menengokmu sekalian memberikan salam perpisahan untuk kalian."


Sama seperti di kehidupan sebelumnya, Skylar pergi meninggalkan Chicago pada liburan musim panas.


"Apa kamu akan pergi ke paris?" tanya Spring.


"Dari mana kamu tahu aku akan pergi ke paris?" tanya balik Skylar yang merasa heran dengan Spring yang tiba-tiba saja tahu dengan kota yang akan di tujunya itu.

__ADS_1


"Aku hanya menebak," jawab Spring.


Spring tak bisa menjelaskan bagaimana ia tahu kemana Skylar akan pergi. Karena jika di beri tahu, Skylar pasti tak akan mempercayai dengan pejelasan Spring.


"Apa hati kita masih terhubung, oleh sebab itu kamu bisa tahu kemana aku akan pergi," ucap Skylar tersenyum.


Winter seketika mendeham kencang. "Ehem... Bisakah kamu berhenti menggodanya."


Skylar kembali tergelak melihat Winter yang tengah di tekuk kesal tersebut. "Baiklah aku akan berhenti menggodanya. Hm, tapi sebelum aku pamit pergi, aku ingin meminta izin padamu terlebih dahulu, Winter."


"Izin untuk apa?" tanya Winter.


"Bolehkah aku memeluk Spring untuk terakhir kalinya," pinta Skylar.


Winter menghela, walau ia tak suka bila Skylar harus memeluk Spring, tapi Winter tak bisa menganggap permintaan dari Skylar tersebut merupakan sebuah bentuk kasih sayang, karena permintaan dari Skylar merupakan bentuk dari salam perpisahannya.


Winter pun terpaksa mengizinkannya. "Hanya sebentar saja kamu boleh memeluknya."


Skylar pun tersenyum girang. "Terima kasih." Dan dengan cepatnya ia bergegas memeluk mantan kekasihnya tersebut. "Terima kasih Spring, karena pernah menjadi bagian dalam hidupku. Walau hanya sesaat, aku dapat merasakan bahagia yang sangat luar biasa. Walau kamu tak bisa menjadi cinta terakhirku, kamu akan selalu menjadi cinta pertamaku. Baik-baiklah, jangan pernah bersedih ataupun menangis."


"Aku minta maaf karena telah membuatmu terluka, dan akupun sangat berterima kasih padamu karena kamu selalu ada di saat aku membutuhkan," ucap Spring membalas rasa terima kasih dari Skylar.


Skylar pun perlahan melepaskan pelukannya, walau sebenarnya ia belum puas memeluk mantan kekasihnya itu.


"Aku akan pergi sekarang. Satu pesan lagi untukmu, tetaplah tersenyum walau hatimu sedang bersedih. Dan untukmu Winter, walau Spring lebih sehat darimu, bukan berarti dia lebih kuat darimu. Dia merupakan makhluk paling rapuh, tolong jaga dia walau saat ini kamu sedang sakit," ucap Skylar dengan raut sendunya.


Winter mengangguk. "Selama ada aku, akan ku pastika dia selalu baik-baik saja."


Walau langkahnya terasa berat, Skylar memaksa kakinya beranjak dengan kedua matanya yang nampak berkaca-kaca.

__ADS_1


Skylar memang bukanlah pria yang di cintai Spring, tapi Skylar merupakan salah satu orang yang paling berharga di hidupnya, walau hanya diberi status sebagai mantan kekasih dan juga sahabat. Spring sangat berterima kasih kepada Skylar karena selalu ada walau dirinya tak pernah mempedulikannya. Entah mengapa hatinya terasa sakit selepas Skylar pergi meninggalkan kamar. Entah karena merasa bersalah atau merasa kehilangan pria baik seperti Skylar. Spring sangat bersedih dengan perginya Skylar.


__ADS_2