
Perubahan yang sangat drastis hanya dalam kurun waktu 1 jam lebih. Dari atas sampai bawah semuanya berubah secara drastis. Kini penampilan Spring sudah sangat memukau. Walaupun penampilannya baru di puji oleh Lucy, bukan berarti orang lain akan sama terpukaunya seperti Lucy. Ia pun tak bisa percaya bila sahabat itu memang benar-benar berkata jujur. Karena tak mungkin juga seorang sahabat akan berkata yang bisa menjatuhkannya.
"Apakah kamu berkata jujur, Lucy. Aku tak yakin dengan penampilanku ini." Spring menghela dengan raut wajahnya yang murung. "Apa aku akan di ejek karena penampilanku yang berubah ini. Aku benar-benar sangat tak percaya diri."
"Aku sangat jujur, Spring. Kamu benar-benar sangat cantik. Bahkan sebelumnya wajahmu memang lebih cantik dari Jinny, hanya saja sebelumnya penampilanmu sangat nora dan juga tidak feminim. Tapi sekarang, penampilanmu benar-benar sangat modis dan feminim. Akan ada banyak pria yang terpukau olehmu."
"Bernakah? Tapi aku masih ragu, aku takut di tertawakan banyak orang. Terutama dengan orang-orang di sekolah."
"Hei, siapa yang akan menertawakanmu, bila kamu secantik ini. Mungkin hanya Winterlah yang akan menertawakanmu, karena dia sudah terbiasa melihatmu berpakaian seperti laki-laki. Jika Winter yang menertawakanmu, kamu tak usah pedulikan dia."
"Bila Winter akan tertawa dengan penampilan baruku, lebih baik aku kembali berpenampilan seperti biasanya."
Lucy tergelak. "Mengapa kamu harus pikirkan soal Winter. Bukankah kamu merubah penampilanmu karena ingin menyaingi Jinny. Untuk apa kamu peduli dengan padangan Winter."
"Bukan karena Jinny aku merubah penampilanku, tapi karena Winter. Aku ingin dia bisa terpukau oleh kecantikanku. Dan bisa memberikan hatinya kepadaku."
Lucy sampai menganga setelah mendengar apa yang di katakan Spring tersebut. Lucy tak menyangka bila apa yang di lakukan Spring itu hanya karena demi seorang Winter. Karena memang Lucy tak pernah tahu bila Spring memiliki perasaan terhadap Winter, dan Spring juga tak pernah menceritakan soal perasaannya terhadap sahabatnya itu. Terlebih lagi, Lucy tahu dengan komitmen persahabatan Spring dan Winter.
"Jangan bilang selama ini kamu menaruh hati kepada Winter," ucap Lucy sembari mengerutkan alisnya.
Spring mengangguk sembari menundukan kepalanya. "Iya, aku menaruh hati padanya."
"Lalu, bagaimana dengan komitmen persahabatan kalian. Apa kamu yakin akan merusak komitmen tersebut?"
"Tentu saja yakin. Aku tak ingin menyesal nantinya karena tak bisa mengutarakan isi hatiku kepada Winter."
Seketika Lucy merangkul lengan Spring. "Aku akan mendukung keputusanmu itu. Tapi aku harap kamu akan tetap berpenampilan cantik seperti ini. Jangan pernah merubahnya lagi, karena aku sudah muak bila kamu terus di rendahkan oleh orang-orang karena di banding-bandingkan dengan Jinny."
"Apa sekarang aku bisa sebanding dengan Jinny?"
"Tentu saja bisa. Sudah ku katakan berulang kali bila kamu sangat cantik. Bila ingin membutikannya, kita keluar dari salon sekarang, dan perlihatkan penampilanmu ini kepada pria yang lewat. Lucy menarik Spring keluar dari salon sembari membawa semua belanjaan milik Spring.
"Biarkan aku yang membawanya, tugasmu hanya mengantarku belanja bukan membawakan barang belanjaanku."
__ADS_1
Lucy menggeleng cepat. "Tidak... Tidak. Hari ini kamu harus terlihat seperti tuan putri, karena aku ingin tahu dengan reaksi para pria yang lewat."
"Terserah kamu saja. Tapi hari ini aku ingin mentraktirmu makan. Jadi, apa ada tempat makan yang ingin kamu kunjungi?"
"Ada satu restoran enak di ujung jalan, tapi jalanannya sepi. Kita tak akan menemukan pria bila berjalan ke arah sana."
Spring menghela. "Aku tak mengharapkan akan ada pria yang terpukau olehku. Pujianmu sudah cukup membuktikan, bila aku ini memang benar-benar sudah cantik."
"Baguslah bila kamu sudah percaya diri. Kalau begitu kita harus buru-buru pergi kesana, karena perutku sudah berteriak kelaparan."
Tak lama mereka berjalan, tiba-tiba saja seorang pria menghentikan langkah mereka sembari menyodorkan ponsel ke arah Spring. "Bisakah kamu memberikan nomor ponselmu."
Sontak saja Lucy pun tersenyum girang setelah ada pria yang meminta nomor ponsel kepada Spring.
"Sudah ku bilang, pasti akan ada pria yang terpukau kepadamu." Bisik Lucy ke telinga Spring. Lalu dengan raut datarnya Lucy berkata kepada pria tersebut. "Maaf, sepertinya temanku tak bisa memberikan nomor ponselnya, karena akan ada pria yang marah bila kamu menghubunginya."
Dan dengan cepatnya Lucy kembali melangkahkan kakinya sembari menarik lengan Spring. Hanya beberapa meter lagi mereka akan sampai ke restoran. Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba saja mereka di kejutkan dengan perkelahian beberapa orang pria. Beberapa pria tersebut berbaku hantam melawan satu orang pria yang wajahnya di tutupi helm.
"Bagaimana kita akan lewat kesana. Hanya gang ini yang dapat kita lalui untuk menuju restoran. Apa sebaiknya kita mencari restoran lain saja," imbuh Lucy yang ketakutan setengah mati menyaksikan pria-pria yang berkelahi tersebut.
"Untuk apa kita membantunya, itu hanya akan membahayakan kita."
"Hanya beberapa meter lagi kita akan sampai ke restoran. Bila kita balik arah mencari restoran lain, itu terlalu lelah untuk kakiku. Karena aku tidak biasa berjalan dengan heels."
"Bagaimana kita akan menolongnya. Menelpon polisipun, itu akan membutuhkan waktu lama untuk polisi datang kesini."
"Aku akan menakuti mereka, bunyikan sirine mobil polisi di ponselmu." Spring beranjak menghampiri para pria yang berkelahi tersebut, lalu berteriak untuk menghentikan perkelahiannya.
"Apa kalian tidak punya nyali, empat lawan satu orang. Aku sudah menelpon polisi dan polisi sebentar lagi akan datang menangkap kalian."
Lalu dengan cepatnya Lucy menyalakan sirine polisi di ponselnya. Dan sontak saja semua pria tersebut pun berlarian setelah mendengar suara sirine di ponsel Lucy.
Akhirnya Spring berhasil menghentikan perkelahian. Akan tetapi, pria yang mengenakan helm malah berlari sembari menarik tangan Spring. Hingga membuat Spring jadi ikut pergi bersamanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan. Lepaskan tanganku!" Spring panik dan berusaha melepas paksa tangannya dari si pria berhelm tersebut. Namun, genggamannya terlalu kuat hingga membuat tangannya sulit terlepas.
Spring juga sudah kelelahan karena terlalu banyak berlari. Terlebih lagi Spring mengenakan heels, secara otomatis kakinya memar karena terlalu banyak bergerak mengenakan sepatu ber hak tinggi tersebut.
Hingga ketika kakinya sudah semakin sakit, sekuat tenaga Spring pun menghempaskan lengannya dari tangan si pria berhelm tersebut. Tangannya terlepas, namun, Spring malah mendapatkan nasib buruk, yaitu hak sepatunya malah ikutan terlepas.
"Setelah ku tolong, kamu malah menariku pergi. Apa kamu sudah gila, gara-gara kamu hak sepatuku terlepas. Untuk membeli sepatu ini, aku harus mengeluarkan tabunganku," ucap Spring kesal.
Pria tersebut dengan cepatnya membuka helm. "Maafkan aku Spring, aku refleks menarikmu."
Seketika Spring di buat terkejut setelah melihat wajah dari pria yang sudah membuatnya kesal. Dan matanya pun sampai terbuka lebar tanpa mau mengalihkan pandangannya.
"Skylar," ucap spontan Spring.
Pria berhelm tersebut ternyata Skylar, kekasih Spring di kehidupan remaja sebelumnya. Seorang pria yang manjadi tempat sandaran Spring untuk melupakan perasaannya terhadap Winter. Demi mempertahankan persahabatannya, Spring terpaksa menjalin hubungan dengan Skylar. Dan dia juga alasan hubungan Spring dengan Lucy hancur. Karena di kehidupan sebelumnya, Spring lebih banyak mengisi waktunya bersama Skylar, di bandingkan harus mengisi waktunya bersama sahabat-sahabatnya.
Spring juga sudah mengenal Skylar sejak lama, karena dulu Skylar pernah menjenjang pendidikan sekolah dasar di sekolah yang sama dengan Spring dan juga Winter. Oleh sebab itu, Skylar langsung menyebut nama Spring ketika dirinya membuka helm.
Namun, anehnya pertemuannya dengan Skylar terlalu cepat, seharusnya pertemuannya dengan Skylar terjadi pada tanggal 5 maret, di saat Skylar menjadi murid baru di sekolah. Sekarang tanggal 1 maret, seharusnya sepulang sekolah Spring membantu ibunya membuat kue di rumah, tapi ia malah pergi beberlanja bersama Lucy. Oleh sebab itu kejadian tak terduga bisa saja terjadi, karena Spring merubah masa lalunya.
Skylar tergelak menatap Spring. "Apa kamu sekaget itu setelah melihatku."
"Tentu saja kaget, kenapa bisa aku bertemu dengan pria brandalan yang pernah ku pukul wajahnya saat kelas 6 SD."
"Apa menurutmu aku ini pria brandalan?"
"Iya, karena sampai saat ini kamu masih saja hobi berkelahi."
"Tapi bukan aku yang memulainya, merekalah yang memulainya." Skylar tersenyum manis menatap Spring. Oh ya Spring, kamu masih tetap cantik seperti dulu."
Spring seketika menunjuk wajah Skylar dengan raut kesalnya. "Berhenti meledekku, karena dulu aku sangat jelek." Spring dengan cepat melepas heelsnya, lalu terburu-buru melangkahkan kakinya.
"Aku tak meledekmu, dari dulu sampai sekarang kamu masih tetap cantik," teriak Skylar.
__ADS_1
Spring menghentikan langkahnya, lalu kembali berbalik menghadap ke arah Skylar. "Kamu memujiku karena dulu aku merupakan wanita pertama yang berani memukulmu, oleh sebab itu kamu menyukaiku. Jangan pernah menyukaiku, karena aku tak akan pernah menaruh hati padamu."
Skylar tergelak. "Darimana kamu tahu bila aku menyukaimu?" teriaknya kembali.