
Takut hingga membuatnya tertahan untuk tidak mencari jalan keluar. Akan tetapi, bila hanya diam dan menangis saja tak akan ada jalan untuk keluar dari situasi yang sudah memberatkan Spring tersebut. Bagaimanapun caranya Spring perlu melakukan apapun untuk mencegah Winter mengakhiri hidupnya.
Sesaat Spring akan hendak mengambil buku diarynya, buku yang berisi catatan misinya itu hilang dari dalam tas. Entah ia lupa meletakannya, atau mungkin buku tersebut terjatuh dari dalam tasnya. Karena tas yang ia bawa setiap harinya itu, resletingnya terbuka. Entah itu terjatuh ataupun ia lupa meletakannya, Spring tak terlalu peduli bila hilang. Karena semua tujuannya telah gagal, di mulai dari memperbaiki hubungannya dengan Lucy, hanya menjadikan skylar sebagai teman, dan memberikan waktu untuk Winter, semuanya gagal di lakukan Spring.
Saat ini yang terpenting untuk Spring adalah, bagaimana caranya untuk memperbaiki hubungannya dengan Winter. Bila hubungannya dengan Winter semakin menjauh maka hal tak di inginkan Spring selama ini akan kembali terulang seperti di kehidupan sebelumnya.
Tak ada misi khusus yang harus di lakukannya lagi, yang terpenting untuk saat ini Spring perlu berada terus-menerus di dekat Winter. Dan terus memastikan bila Winter tak akan bertindak untuk mengakhiri hidupnya. Bila perlu Spring harus meyakinkan Winter untuk tetap bertahan dengan hidupnya.
Hingga esok, lusa, dan esoknya lagi, setiap hari dan setiap saat, Spring terus menerus mengikuti Winter walau sahabatnya itu selalu mengabaikannya. Setiap saat kata maaf terus terlontar dari mulutnya. Namun, Winter tak pernah sekalipun menanggapi permintaan maaf dari Spring. Biar begitu, Spring tetap tak menyerah begitu saja untuk mendapatkan maaf dari Winter.
Skylar pun sampai kesal melihat Spring yang terus-menerus di abaikan Winter walau kekasihnya itu telah berusaha meminta maaf.
"Tak bisakah kamu memaafkannya. Aku sudah sangat muak melihatnya mengemis maaf darimu," lontar Skylar dengan raut kesalnya.
Winter menghela. "Kenapa kamu tak suruh saja kekasihmu itu untuk menyerah mendekatiku."
"Kamu adalah sahabatnya dan kamu merupakan orang yang berharga untuknya. Hubungan persahabatanmu dengannya sudah terjalin sangat lama. Mana bisa dia membiarkan hubunganmu dengannya berakhir begitu saja." Skylar menghembuskan cepat nafasnya. "Aku tak tahu masalah apa yang kalian alami, hingga membuat hubungan kalian harus berakhir. Tapi, bisakah kamu memaafkannya dan kembali rukun seperti sedia kala. Karena terus menerus memikirkanmu, dia sampai tak bisa membagi waktunya untukku.
Winter memiringkan senyumnya sembari menatap sinis Skylar. "Maka dari itu, kamu harus tegas kepadanya. Mintalah dia untuk menyerah mendekatiku, agar dia bisa memberikan waktunya untukmu."
Skylar menghela kasar nafasnya, ia semakin kesal dan marah saja terhadap Winter yang masih enggan memperbaiki hubungannya dengan Spring. Seketika Skylar pun menarik kerah baju Winter lalu berkata. "Brengsek! Betapa sombongnya dirimu hingga enggan untuk memaafkannya. Kamu malah memintannya menjauh bukannya memaafkannya."
Spring pun panik seketika melihat Skylar yang tengah di balut amarah itu. "Cukup Sky, lepaskan dia."
"Aku perlu menghajarnya agar dia sadar bila dia akan menyesal karena tak memaafkanmu."
__ADS_1
"Sudah cukup!" Spring meninggikan suaranya, lalu dengan paksa melepaskan tangan Skylar dari baju Winter. "Masalahku dengan Winter itu urusanku. Kamu tak berhak untuk ikut campur."
"Urusanmu itu urusanku juga, kamu adalah kekasihku maka aku berhak untuk ikut campur dalam kehidupanmu."
"Tidak semua yang ada pada diriku kamu berhak campuri. Bila kamu ingin membantu menyelesaikan masalahku, maka diamlah. Karena dengan diam itu sudah cukup membantuku."
Diam, tentu saja Skylar tak bisa tinggal diam bila melihat kekasihnya terus-menerus mengemis maaf dari Winter. Terlebih lagi, Skylar sudah sangat kesal melihat Winter yang terus-menerus mengabaikan Spring walau kekasihnya itu sudah melakukan apapun untuk mendapatkan maaf darinya.
Skylar juga tak habis pikir, bagaimana bisa Spring menyuruhnya untuk tak ikut campur dalam urusannya. Skylar adalah kekasihnya, maka Skylar perlu turut membantu menyelesaikan masalah kekasihnya. Bila hanya diam saja mana bisa membantu.
Skylar pun menghela kasar nafasnya. "Aku adalah tempatmu untuk meminta bantuan, dan aku adalah tempatmu untuk bersandar. Tapi aku seperti tak di anggap olehmu. Di bandingkan denganku, kamu malah lebih peduli dengan Winter walau dia mengbaikanmu." Skylar pun beranjak pergi dengan raut kesalnya.
Masalah dengan Winter saja belum usai, bagaimana bisa Spring harus mendapatkan masalah baru. Tak ingin membuat Skylar semakin marah, Spring pun melangkah mengejarnya.
"Sky," panggilnya. "Aku tak bermaksud untuk tak mempedulikanmu." Spring dengan cepat meraih tangan Skylar. "Aku minta maaf karena tak bisa memberikan banyak waktu untukmu. Dan aku minta maaf, untuk masalah ini kamu tak bisa ikut campur."
"Bila Winter ataupun aku memiliki perasaan, mana bisa kita memiliki seorang kekasih." Spring terpaksa berbohong mengenai perasaannya. Bukan tak mau jujur, hanya saja Spring perlu waktu untuk memberitahu Skylar sebelum masalahnya dengan Winter usai. "Saat ini Winter lebih membutuhkanku. Aku harus setiap saat berada di dekatnya."
"Apa kamu bodoh Spring. Bila dia membutuhkanmu, dia tak akan memintamu untuk menjauh darinya."
Winter memang meminta Spring menjauhinya. Tapi bukan berarti dia tak membutuhkan Spring. Terlebih lagi, Spring merupakan satu-satunya orang yang sangat berharga di hidupnya. Bila memang Winter sudah sangat tertekan ingin mengakhiri hidupnya, maka dia butuh orang untuk berada di sampingnya agar dia bisa melupakan niatnya untuk mengakhiri hidup.
Spring perlu menjelaskan kepada Skylar alasannya untuk berada di dekat Winter. Karena bila tak di jelaskan, Skylar akan terus-menerus salah paham dan terus marah kepadanya. Spring pun menjelaskan tentang keadaan psikis Winter selama ini, dan tentang masalah yang ada pada Winter.
*
__ADS_1
Setelah di jelaskan, marah dan kesalnya Skylar mungkin dapat sedikit mereda, tapi bukan berarti ia tak kesal dengan Spring yang tak bisa memberikan waktu untuknya.
"Bukankah sekarang dia sudah mepunyai kekasih. Saat ini kekasihnyalah yang dapat membuatnya bahagia. Bila dia bahagia, dia tak akan sanggup untuk mengakhiri hidupnya."
"Jinny memang kekasihnya, tapi dia belum mengenal jauh dengan Winter."
"Tapi dia akan mengenal lebih dekat dengan Winter. Dia adalah kekasihnya, maka sudah seharusnya di segera mengenal lebih dekat lagi dengan kekasihnya."
Spring menghela. "Tiga hari lagi menuju ulang tahunku, sudah tak ada waktu bagiku untuk bermain-main. Aku perlu mengawasi Winter secara terus-menerus. Hm, bukankah kamu akan membawaku ke resort ayahmu dan memberikan kejutan ulang tahun di sana."
Seketika Skylar mengerutkan alisnya. Ia terheran-heran, bagaimana bisa Spring tahu bila dirinya akan membuat kejutan ulang tahun di resort milik ayahnya. Skylar tak pernah memberitahu Spring, apa lagi membahasnya kepada teman-temannya.
"Bagaimana kamu bisa tahu bila aku berniat memberikan kejutan ulang tahun di resort milik ayahku."
Jelas saja Spring sudah tahu, karena di kehidupan sebelumnya pun Skylar membawa Spring ke resort milik ayahnya dan memberikan kejutan ulang tahun di sana.
Tapi Spring lupa, bila hanya dialah yang mengulang kehidupannya. Spring pun sampai menelan salivanya karena terlalu gugup.
"Bu..bukankah kita sepasang kekasih. Hm, aku bisa tahu karena hati dan pikiran kita terhubung," ucap Spring terbata-bata.
Skylar menggaruk tengkuk. "Hm, apa benar hati kita terhubung. Bila kamu sudah mengetahuinya, itu bukan lagi kejutan. Apa perlu aku mencari cara dan tempat lain untuk memberikan kejutan untukmu."
Spring melambaikan cepat tanganya. "Tidak.. Tidak. Kamu tak perlu mencari tempat lain, aku akan sangat senang bila kamu mengadakan pesta sederhana di sana. Aku ingin Winter juga ikut kesana. Selama hari ulang tahunku, Winter harus tetap berada pada pengawasanku."
Lagi-lagi Skylar terheran-heran dengan apa yang di ucapkan kekasihnya itu. "Memangnya ada apa dengan hari ulang tahunmu? Apa dia berniat untuk mengakhiri hidupnya di hari ulang tahunmu."
__ADS_1
"Entahlah, pokonya saat ini dia harus berada di dekatku. Terutama pada hari ulang tahunku."
"Bukankah dia memintamu untuk menjauh darinya. Bagaimana kamu membujuknya, bila dia saja enggan untuk memaafkanmu."