Back To 2012

Back To 2012
45. Akan Selalu Ada Harapan


__ADS_3

Sakitnya Winter merupakan hal yang sangat mengejutkan untuk Spring. Bukan sakit yang mudah sembuh begitu saja hanya dengan meminum obat, sakit yang di derita Winter merupakan sakit yang paling di takuti oleh semua orang. Penyakit paling mengerikan itu mampu mengancam hidupnya Winter.


Di tinggalkan Winter untuk kedua kalinya adalah hal yang paling mengerikan untuk Spring. Sulit untuk Spring menerima kenyataan bila pria yang ia sayangi harus mendapatkan hal yang mengerikan seperti itu.


Spring sangat menyalahi takdir yang tak bisa berpihak padanya. Bersama dengan Winter hingga tua nanti merupakan sebuah mimpi yang mungkin tak akan pernah Spring capai.


Selepas mengetahui Winter menderita leukemia stadium akhir, berhari-hari Spring enggan keluar dari kamarnya. Berhari-hari ia menangis dan termenung memikirkan Winter. Tak sekolah, tak berjumpa teman, bahkan enggan bertemu Winter, walau setiap hari Winter datang ke rumahnya. Ia terlalu marah pada takdir, bahkan sangat marah terhadap Winter yang sudah tega membohonginya. Marah karena Spring tak bisa menerima fakta bila umur dari pria yang paling dicintainya mungkin tak akan lama lagi.


Tiap kali Tessa mengantarkan makanan ke kamarnya Spring, putri semata wayangnya itu tak pernah sekalipun menghabiskan makanannya. Bagaimana Spring bisa berselera makan, bila hati dan pikirannya saja tak tenang. Tessa pun sampai menghela tiap kali pergi melihat Spring di kamarnya.


"Apa kamu akan tetap berdiam di kamar seperti ini," ucap Tessa yang sudah sangat kesal melihat Spring yang masih enggan mau keluar dari kamarnya.


Tatapan Spring sangat kosong, ia tak merespon bahkan tak mau menatap ke arah ibunya. Yang ia lakukan hanyalah termenung sembari memeluk lututnya.


Tessa pun terduduk di samping Spring, lalu perlahan meraih kedua tangan milik putrinya itu.


"Menerima kenyataan dan merelakan adalah hal yang akan membuat Winter bahagia. Bila kamu seperti ini, Winter tak akan pernah bahagia sekalipun nanti ia pergi jauh darimu. Bukankah membuatnya tersenyum dan bahagia adalah tugasmu."


Spring pun seketika menitikan air matanya, ia lalu menghela kasar nafasnya sembari menangis menatap ibunya. "Tugasnya dia sama denganku, membuatku bahagia dan tersenyum merupakan tugasnya. Seharusnya dia tak menyerah begitu saja soal penyakitnya. Seharusnya dia tahu bila aku tak akan bisa bahagia bila di tinggalkan olehnya."

__ADS_1


Tessa kemudian menyeka air mata di wajah Spring. "Bila ada keajaiban maka akan ada kesembuhan untuk Winter. Maka dari itu, teruslah berdoa dan meminta kepada tuhan untuk kesembuhannya."


"Bagaimana tuhan akan memberikan keajaiban, bila Winter saja enggan untuk melakukan pengobatan. Dia sudah menyerah denganku dan hidupnya," ucap Spring dengan tangis yang semakin pecah.


Memeluk dan menepuk lembut punggungnya adalah cara Tessa untuk menenangkan putrinya yang tengah menangis itu. Spring menangis dalam pelukan ibunya. Menangis dalam pelukan bisa membuat Spring sedikit merasa tenang. Walau pikirannya tidak sepenuhnya berhenti memikirkan Winter. Tapi setidaknya, Spring jauh lebih tenang di bandingkan tadi.


...****************...


Esok harinya, Spring akhirnya beranjak dari kamarnya. Pakaiannya sudah sangat rapih dan tampilannya sudah sangat cantik. Tessa pun akhirnya bisa bernafas lega setelah melihat putrinya keluar dari kamar dengan penampilan cantiknya.


"Sepertinya putriku yang cantik akan pergi ke suatu tempat. Tempat apa yang akan kamu datangi?" tanya Tessa tersenyum.


"Ada tempat yang harus aku datangi. Aku izin pergi sekarang," jawab Spring dengan raut sendunya, lalu bergegas pergi meninggalkan rumah.


Namun, selepas Spring memohon, ia hanya dapat kekecewaan lewat sebuah tulisan yang tiba-tiba muncul dari batang pohon. Sebuah kata yang menyebutkan, bila kesempatan untuk Spring telah habis.


Spring terduduk sambil menangis dan tak berhenti memohon agar dirinya di beri kesempatan untuk kembali. Namun lamanya ia memohon, hasilnya tetap sama.


Hati dan pikirannya semakin kacau, Spring melangkahkan kakinya dengan mata yang tak berhenti menangis. Ia terus berjalan tanpa tahu kemana ia akan pergi. Pikirannya sudah benar-benar sangat kacau, ketakutan akan kehilangan Winter terus menyelimuti dirinya. Yang ia pikirkan hanya kematianlah yang bisa menjadi solusinya saat ini. Karena bagi Spring, hidup tanpa Winter merupakan sebuah penderitaan untuknya.

__ADS_1


Spring berjalan menyebrangi jalanan yang penuh dengan kendaraan. Suara bising klakson terus terdengar dari kendaraan-kendaraan yang tengah melintas. Spring tak peduli dengan keselamatannya, biarpun harus kehilangan nyawa sekalipun. Karena ia pikir, dengan matilah dirinya akan tetap bersama dengan Winter.


Hingga tak lama kakinya melangkah, tiba-tiba saja Winter datang, lalu dengan cepatnya ia menarik Spring pergi jauh dari jalan raya.


"Apa kamu sudah gila. Apa kamu berniat untuk mengakhiri hidupmu," bentak Winter.


"Jika kamu mati maka aku pun lebih baik mati," ucap Spring dengan isak tangis.


Winter seketika memeluk erat tubuh Spring. "Jangan berpikir seperti itu, Spring. Hidupmu masih panjang, banyak hal yang harus kamu lakukan walau tanpa aku."


Spring melepas paksa tubuhnya dari Winter. "Selepas kamu pergi, hidupku sangat berantakan. Walau di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangi dan bahkan memiliki karir yang cukup sukses, tak membuatku bahagia bila tak ada kamu. Jadi lebih baik kita mati sama-sama. Biarkan hari ini aku mengakhiri hidupku."


Winter dengan cepat kembali memeluk Spring. "Baiklah, aku akan berusaha untuk sembuh, aku berjanji akan melakukan pengobatan. Jadi berhentilah memikirkan untuk mati," ucapnya sembari menitikan air mata.


"Bagaimana bila kamu tak sembuh, bagaimana bila kamu meninggalkanku lagi." Tangis Spring semakin pecah saja dalam pelukan Winter.


Winter melepaskan pelukannya, lalu tersenyum sembari menyeka air mata di wajah Spring. "Asalkan mau berusaha, tuhan pasti memberikan kesembuhan untukku. Jadi berhentilah membuatku khawatir, Spring."


Spring dengan cepat merekatkan kembali tubuhnya di pelukan Winter. "Kamulah yang selalu membuatku khawatir. Berjanjilah untuk sembuh dan selalu berada di sisiku."

__ADS_1


"Aku tak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha untuk sembuh. Berhentilah menangis dan bantulah aku berjuang melawan penyakit yang mengerikan ini," ucap Winter.


Perkataan serta pelukan Winter mampu membuat Spring berhenti memikirkan untuk mengakhiri hidupnya. Bila Winter mau berusaha sembuh, maka Spring pun mau untuk mempertahankan hidupnya.


__ADS_2