Back To 2012

Back To 2012
15. Permintaan Yang Sulit Diterima Winter


__ADS_3

Mulai hari ini penampilan baru Spring akan tunjukan di sekolah. Gaya pakaian serta seluruh penampilannya akan Spring tunjukan kepada mereka yang suka membanding-bandingkannya dengan Jinny. Kini Spring tampil cantik dengan gayanya yang feminim.


Seorang Spring yang tak pernah sekalipun memakai rok, ia memberanikan diri memakai rok dengan panjangnya yang berada di atas lutut. Spring juga sedikit memberikan make up pada wajahnya. Riasan yang tipis dan tampak natural menjadi gaya bermake up Spring.


Tubuh Spring terbilang sangat ideal, layaknya seorang model Spring tampil memukau di hadapan ibunya. Sudah dua hari berturut-turut, Tessa di buat terpukau melihat penampilan cantik putri semata wayangnya itu.


"Ku kira hanya kemarin saja kamu berdandan cantik seperti ini. Tapi sekarang pun kamu masih berpenampilan cantik. Aku sampai tak menyadari bila putriku ini sebenarnya sangat cantik bak putri di negeri dongeng," puji Tessa.


"Benarkah? Apa menurut ibu tampilanku ini terlalu berlebihan untuk standar anak sekolah."


Tessa menggeleng cepat. "Tentu saja tidak. Untuk ukuran anak sekolah, penampilanmu sangat cocok. Ibu sangat suka, terutama kamu akhirnya mau mengenakan rok. Padahal bila ibu membelikanmu rok, kamu tak pernah mau memakainya."


"Aku menyesal karena dulu aku selalu menolak mengenakannya. Tapi setelah ku coba, ternyata aku menyukainya. Apa lagi kemarin Winter sampai memuji kecantikanku."


"Benarkah? Bila Winter sampai memujimu, itu akan jadi kesempatan untukmu menjadikan Winter sebagai kekasihmu," ucap Tessa tersenyum.


Lalu tiba-tiba saja James datang menghampiri Spring dan Tessa di meja makan.


"Winter hanya memujimu, tapi bukan berarti dia akan menjadikanmu kekasihnya. Fokuslah belajar, jangan berpikiran untuk mau berpacaran. Nilai sekolahmu lebih penting di bandingkan harus memiliki kekasih. Karena berpacaran hanya akan menganggu kualitas belajarmu."


"Belajar dan sekolah memang penting, tapi bukan berarti Spring harus melewati masa-masa indah remajanya," timpal Tessa.


"Spring tak melewati masa indah remajanya, dia bisa melakukannya bersama teman-temannya. Lakunlah hal positif bersama teman-teman, tidak berpacaran dan jangan sampai melupakan belajarmu. Kamu harus mendapatkan nilai bagus agar nanti bisa masuk ke universitas terbaik."


"Aku tak akan berpacaran dengan pria manapun, terkecuali bila pria itu Winter."


James menghela. "Dengan Winter pun kamu tak boleh. Terutama dengan pria yang kemarin mengantarmu pulang. Dia tampak seperti pria brandalan. Telinganya memakai anting, bahkan punggung tangannya pun terlihat memar seperti bekas menghajar orang. Aku yakin, bila pria kemarin itu habis berkelahi."


"Tapi Winter berbeda, dia merupakan pria baik dan dia juga merupakan anak yang berprestasi di sekolah. Jika Winter, itu bisa kita pertimbangkan untuk menjadi kekasihnya Spring," imbuh Tessa.

__ADS_1


"Biarpun dia merupakan pria baik, pikiran seorang pria itu sangat liar. Terutama saat dia sudah menjalin hubungan dengan seorang wanita. Aku tetap tak setuju jika Spring harus berpacaran, dia harus fokus sekolah. Bila perlu, dia harus menyelasaikan terlebih dahulu pendidikannya, baru boleh memiliki seorang kekasih."


Tessa menggeleng. "Pikiranmu sangat kolot, mana bisa Spring tak berkencan di usia remajanya. Dia tak akan pernah mendapatkan pengalamana berkencan di usia remaja, bila dia hanya mementingkan belajar."


"Pengalaman berkencan bisa di dapatkan saat dia sudah menyelesaikan pendidikannya. Dari belajar dan pendidikan, suatu saat dia akan menjadi orang sukses." James berbalik menatap Spring. "Oh ya, ayah harap kamu segera mengganti pakaianmu. Memakai rok mini hanya akan mengundang pria-pria nakal untuk mendekatimu."


Spring menghela, dan bergegas beringsut dari tempatnya duduknya. "Aku akan berangkat sekolah sekarang."


"Tapi sarapanmu belum habis, habiskan dulu baru boleh pergi," ucap James.


"Bila ku habiskan, itu akan memakan waktu lama untukku mendengarkan ceramahan ayah. Jadi aku pamit sekarang." Spring bergegas pergi meninggalkan meja makan.


"Hei, kamu belum mengganti pakaianmu. Bila kamu berpakaian seperti itu, akan ada pria yang berbuat nakal kepadamu," teriak James.


Spring tergelak setelah mendengar ucapan ayahnya tersebut. Ia tak mempedulikan perintah James, Spring terus saja berjalan tanpa mau berbalik ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Aku akan memboncengmu pergi ke sekolah. Apa kamu bersedia naik sepeda denganku?"


"Tentu saja aku bersedia," ucap Spring tersenyum girang.


Sesaat sepeda mulai di kayuh Winter, Spring merasakan senang luar biasa. Karena sudah lama sekali Spring tak merasakan naik sepeda dengan Winter. Hembusan angin pagi menusuk setiap inci kulitnya, rasanya sangat menyegarkan dan juga sedikit dingin. Spring tak bisa berhenti tersenyum, karena terlalu bahagia ia bisa merasakan kembali di bonceng oleh Winter dengan sepedanya.


"Oh ya Winter, aku ingin setiap hari bersamamu, baik di saat matahari terbit atau pun tenggelam. Bila bisa, aku ingin kita tinggal bersama."


Tinggal bersama merupakan solusi Spring agar bisa terus memantau Winter dan membuatnya tak merasa kesepian. Tapi bagi Winter tinggal bersama dengan Spring merupakan hal yang aneh. Statusnya yang masih di bawah umur tak memungkinkan Spring atau pun Winter bisa pergi dari rumah orang tuanya. Dan akan sangat canggung untuk Winter bila harus tinggal bersama dengan Spring. Walaupun Spring merupakan sahabatnya, tapi Spring merupakan seorang wanita.


Winter sampai menelan salivanya setelah mendengarnya. "Mana bisa begitu. Kita tak dapat tinggal bersama. Baik kamu ataupun aku, kita tak akan mendapatkan izin dari orang tua untuk tinggal di luar."


"Maka dari itu, kita harus memaksa orang tua kita untuk mengizinkan kita tinggal bersama."

__ADS_1


Winter menghela. "Jangan macam-macam Spring. Aku memang sahabatmu, tapi aku ini seorang pria. Kamu tak bisa tinggal dengan seorang pria di umurmu yang belum menginjak usia 18 tahun, walaupun itu aku."


"Memangnya mengapa? Kamu tak mungkin berbuat hal-hal aneh saat nanti kita tinggal bersama. Terkecuali jika kamu memiliki perasaan terhadapku, maka akan ada hal yang terjadi pada kita. Bukan kejadian buruk tapi bisa di bilang kejadian yang menyenangkan."


Seketika Winter menghentikan sepedanya. "Jangan berpikir aneh, Spring. Aku sungguh tak mengerti dengan sikapmu beberapa hari ini. Apa sebenarnya kamu memiliki perasaan terhadapku."


Spring menelan salivanya. "Hm, jika kamu mengizinkan, aku akan memberikan perasaanku kepadamu."


"Aku tak akan memberimu izin. Jadi, jangan pernah macam-macam dengan hal yang bisa membuat hubungan kita memburuk," ucap Winter kembali mengayuh sepedanya.


"Lalu, bila aku memberikan perasaanku terhadap pria lain, apa kamu akan mengizinkanku."


"Itu terserah kamu. Karena hanya kamu yang berhak melakukannya."


Lagi dan lagi, Winter masih saja menutup pintu hatinya untuk Spring. Ia bahkan tak mempedulikan Spring, bila Spring memberikan hatinya untuk pria lain. Padahal di antara pria dan wanita tak memungkinkan bisa menjalankan persahabatan yang kekal. Karena pasti di antara Spring dan Winter memiliki perasaan satu sama lain. Seperti layaknya Spring yang memiliki perasaan terhadap Winter.


"Aku harap kamu akan marah bila ada pria yang mencoba membuka hatinya untukku," ucap Spring di tekuk kesal.


"Aku tak akan marah, bila pria tersebut memiliki niat untuk membahagiakanmu," ucap Winter.


"Bagaimana jika aku memiliki kekasih, dan saat itu aku tak bisa lagi memberikan waktuku untukmu."


"Maka carilah pria yang bisa mengizinkanmu untuk memberikan waktu untukku."


"Pria macam apa yang akan mengizinkan kekasihnya untuk memberikan waktunya kepada pria lain."


"Bila tak ada pria yang bisa menerimamu seperti itu, maka janganlah berkencan dengan pria manapun."


"Jika aku tak di perbolehkan berkencan dengan pria manapun. Lalu status kita sebenarnya apa?"

__ADS_1


__ADS_2