Back To 2012

Back To 2012
23. Emosi Yang Meluap


__ADS_3

Memang kesal, tapi kekasalannya itu seakan sirna begitu cepat. ketika hatinya ikut campur mengenai emosinya. Namun, pikirannya terus mendorongnya untuk mengingat bagaimana perlakuan Winter di saat Spring datang ke rumah pamannya. Antara marah atau tidak, Spring kesulitan untuk memilih.


Setelah istirahat tiba, Winter basa-basi dengan mengajak Spring pergi makan siang bersama. Entah mengapa, Spring seakan tak sanggup bila harus menolak ajakan Winter tersebut. Ada apa dengannya, kesalnya langsung hilang dan marahnya pun meredam begitu saja, ketika Winter mengajaknya berbicara. Padahal ia tahu, dua hari yang lalu Winter telah membentaknya habis-habisan, bahkan sampai mengusirnya dari rumah pamannya.


Selama bertahun-tahun lamanya mengenal Winter, Spring tak sekalipun pernah di bentak oleh Winter. Bila bertengkar mungkin sudah biasa dalam hubungan pertemanannya. Tapi bila di bentak, Spring tak sekalipun merasakannya. Pria lembut seperti Winter tak akan sanggup bila harus membentak seorang wanita, terutama membentak Spring. Tapi Spring tak bisa menyalahkan Winter sepenuhnya, karena dirinya juga bersalah. Memancing amarah Winter, bahkan tak bisa mempercayai ucapannya.


Sudah bertahun-tahun lamanya, Spring menjalin persahabatan dengan Winter, dan selama itu Winter tak pernah sekalipun menyembunyikan rahasianya dari Spring. Semua yang ada pada Winter, Spring mengetahuinya. Seharusnya dirinya tahu, bila Winter tak mungkin menyembunyikan sesuatu darinya.


Akan tetapi Spring merasa dilema, apa ia harus percaya dengan ucapan Winter atau ia harus percaya dengan prasangkanya. Spring sampai menghela berulang kali, ia tak bisa menikmati makan siangnya ketika pikirannya sangat berantakan. Rasa khawatirnyalah yang terus membuatnya tak lepas memikirkan Winter.


Skylar pun sampai menatap heran Spring, karena sedari tadi Spring hanya memainkan sendoknya tanpa melahap sesuapun makanannya. "Mengapa dari tadi kamu hanya memainkan sendokmu. Apa yang membuatmu sampai tak berselera makan?"


"Entahlah," jawab singkat Spring tanpa menatap.


Seketika Winter meraih tangan Spring, menatap Spring dengan tatapan gugupnya. Lalu dengan cepat ia berkata. "Maafkan aku."


Spring perlahan melepaskan tangan Winter dari tangannya. "Setelah memohon maaf padaku, apa kamu akan berkata jujur padaku?" Spring menghembuskan cepat nafasnya, lalu berkata. "Aku tahu bila kamu tak pernah berbohong padaku. Semua yang ada padamu, aku mengetahuinya. Tapi, belakangan ini aku merasa ragu denganmu. Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu atau tidak. Akhir-akhir ini aku sulit untuk mempercayaimu."


Winter perlahan menarik nafasnya, dan cepat memghembuskannya. "Aku akan berkata jujur padamu. Bila kamu sering melihatku sakit, itu pasti karena kondisi tubuhku yang kurang fit. Bila aku sering kelelahan, itu hanya gejala anemia. Bila kamu sering melihatku muntah, itu berarti perutku sedang sakit. Dan semua gejala yang ku alami hanyalah sakit biasa, karena aku sudah mengeceknya ke dokter."


"Lalu bagaimana dengan mimisan. Kamu sering kali mengalami mimisan. Dan bila hidungmu mimisan, sangat sulit untuk berhentinya. Dan jangan bilang gejala yang kamu alami bukanlah apa yang aku pikirkan selama ini."


Winter tersenyum. "Kamu tak perlu khawatir, itu mungkin karena aku kelelahan. Karena belakangan ini aku terlalu keras belajar. Karena pada bulan depan kita akan melaksanakan ujian. Oleh sebab itu, aku tak bisa berhenti belajar. Jadi kamu tak perlu khawatir soal kondisiku. Karena aku sangat baik-baik saja."


"Bagaimana aku tak mengkhawatirkanmu. Bila kondisi tubuhmu seperti itu. Sakitmu mungkin hanyalah sakit biasa, tapi bisakah kamu sedikit menjaga kondisimu."

__ADS_1


"Aku minta maaf. Maaf karena sudah membuatmu khawatir. Dan aku juga minta maaf karena dua hari yang lalu aku sudah berbuat kasar padamu."


Apa yang di bahas Winter dan Spring seketika teringat oleh Skylar, ia teringat saat dirinya mendapati Spring menangis di jalan.


Skylar memiringkan senyumnya sambil menatap sinis Winter. "Jadi benar, kamu yang sudah membuat Spring menangis. Hanya karena kamu sahabatnya, bukan berarti kamu berhak berbuat kasar padanya. Terutama dia itu seorang wanita. Mana ada pria yang berani berbuat kasar kepada wanita, terkecuali bila pria tersebut merupakan pria brengsek.


Ucapan Skylar sangat tajam, hingga mampu membuat Winter naik pitam. Winter pun sampai menghembuskan kasar nafasnya sambil menatap Skylar dengan raut marahnya. "Jika tak tahu apa-apa, tak perlu ikut campur urusan orang."


"Aku akan ikut campur, bila itu menyangkut Spring. Dan apakah kamu seberengsek itu, sampai harus membiarkannya menangis di jalanan. Kamu bahkan tak datang menyusulnya. Jika itu aku, aku pasti akan lari mengejarnya. Kamu tega membiarkannya menangis sendiri di jalan setelah menyakitinya. Kamu merupakan pria yang buruk, Winter."


Winter memiringkan senyumannya. "Apa aku tidak salah dengar. Kamu berkata bila aku merupakan pria yang buruk, bukankah seharusnya kamu sadar diri. Kamu bahkan lebih buruk dariku, apa kamu ingat di saat kita duduk di bangku sekolah dasar. Kamu sering memukuli orang tanpa alasan. Apa jangan-jangan kamu pindah ke sekolah ini karena kamu di keluarkan dari sekolah lamamu."


Emosi Skylar pun meluap setelah mendengar hinaan dari Winter. "Dasar brengsek!" Skylar dengan cepat berdiri lalu spontan menarik leher baju Winter. "Jaga ucapanmu!" Skylar mengepalkan tangannya, hingga membuat Spring pun refleks meraih tangannya.


"Cukup Sky! Lepaskan Winter sekarang juga," ucap Spring meninggikan suaranya.


"Winter, apa kamu baik-baik saja," ucap Jinny sembari meraih lengan Winter.


Winter dengan cepat menghempaskan tangan Jinny dari lengannya. "Tak perlu menyentuhku," ucapnya dengan raut kesal.


Jinny menghela kasar nafasnya. "Spring, bisakah kamu menjaga kekasihmu itu. Dia hampir saja melukai Winter."


"Skylar bukanlah kekasihku. Aku sama sekali tak memiliki hubungan spesial dengannya," tegas Spring dengan kesal.


Jinny tergelak. "Semua orang di sekolah sudah tahu, bila kamu kekasihnya Skylar. Bahkan Jack dan teman-temannya pun heboh membicarakanmu dan kekasih barumu itu."

__ADS_1


Seketika Winter mengebrak meja dengan keras. "Pergi dari sini sekarang juga. Kedatanganmu hanya menggangguku dan Spring saja."


"Aku tak akan pergi bila Skylar belum enyah dari tempat duduknya. Aku takut bila dia akan menyakitimu."


"Jangan cari perhatian. Bila di suruh pergi maka cepat pergi dari sini," lontar Lucy yang naik pitam dengan tingkah laku Jinny.


Seketika Skylar berdiri dari duduknya, lalu dengan cepat menarik tangan Spring, hingga membuat Spring pun refleks berdiri.


"Jaga kekasih sialanmu itu. Dan bilang padanya, jangan lagi mendekati kekasihku," ucap Skylar kepada Jinny. Lalu dengan cepat Skylar beranjak pergi sembari menarik Spring.


"Bisakah kamu melepaskanku, Sky. Mau di bawa kemana aku," ucap Spring sembari berusaha melepaskan tangannya dari Skylar.


"Aku akan membawamu pergi jauh dari Winter."


"Kamu tak bisa memaksaku seperti ini. Lepaskan aku sekarang juga!"


"Lalu, bila aku melepasmu. Apa kamu akan kembali padanya."


"Mengapa kamu harus semarah itu bila aku kembali mendatangi Winter. Kamu bukanlah siapa-siapanya aku, kamu tak berhak melarangku ketika bersama Winter. Karena Winter merupakan sahabatku."


Seketika Skylar menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Spring. "Mungkin sekarang aku bukanlah siapa-siapanya kamu, tapi nanti aku akan memiliki status sebagai kekasihmu."


Spring membuang kasar nafasnya. "Jangan berharap lebih padaku. Aku tak akan pernah bisa memberikan hatiku padamu. Jadi, sebelum kamu melangkah lebih dalam, lebih baik kamu akhiri perasaanmu sekarang juga. Karena semua usahamu akan berakhir sia-sia."


Tangan Spring pun seketika terlepas dari Skylar, ia pun dengan cepat beranjak pergi meninggalkan Skylar.

__ADS_1


"Kamu tak berhak melarangku untuk berhenti menyukaimu. Karena aku tak akan berhenti menyukaimu, sebelum kamu menjadi milik dari pria lain," teriak Skylar bernada marah.


__ADS_2