Back To 2012

Back To 2012
27. Tetaplah Bersamaku


__ADS_3

Sudah hal biasa bila James akan menegur dan melarang putrinya jika meninggalkan rumah. Terlebih lagi, Spring tak akan pulang ke rumah selama satu malam. Dan yang membuat James marah, yaitu Spring akan pergi berkemah di saat hari belum waktunya libur sekolah.


Ya, walau James menegur dan melarang Spring pergi, untungnya ada Tessa yang selalu siap membantu putrinya itu lolos pergi dari rumah. Karena hanya istrinyalah yang mampu meluluhkan James. James tak bisa berbuat apa-apa lagi ketika istrinya sudah menegurnya.


Biarpun Spring sudah di izinkan, bukan berarti James akan membiarkan putrinya itu pergi begitu saja. Hanya satu cara agar bisa membuat rasa khawatirnya mereda, yaitu dengan cara mengantar Spring dan juga Winter pergi ke tempat lokasi berkemah.


Sesaat James akan meninggalkan putrinya di tempat berkemah, rasa khawatir James terasa berada di ujung tanduk. Ini kali pertama untuk putrinya berkemah, terlebih lagi Spring berkemah hanya berdua saja dengan Winter.


"Jangan apa-apakan putri saya, jangan biarkan dia terluka, tolong jaga dia semaksimal mungkin," perintah James kepada Winter.


"Baik, saya akan memegang perintah anda. Paman tak perlu khawatir, karena saya akan menjaga Spring sebaik mungkin," jawab Winter.


Spring sampai menggeleng setelah melihat ayahnya memerintahkan Winter. "Aku sudah besar, tak perlu merasa khawatir seperti itu, karena aku bisa menjaga diriku sendiri."


"Kamu seorang perempuan, mana mungkin aku tak mengkhawatirkanmu. Bagaimana bila ada orang yang berbuat jahat padamu. Bagiku kamu masih putri kecilku yang manja," ucap James.


Spring menghela. "Sudahlah ayah, jangan membuatku malu di depan Winter. Ayah lebih baik pulang sekarang, karena ibu sendirian di rumah."


James berdecik. "Ck... Baiklah aku akan pulang sekarang. Jangan matikan ponselmu, karena aku akan terus menghubungimu."


"Jika ayah terus menghubungiku, maka aku akan mematikan ponselnya. Karena ayah akan mengangguku, bila ayah terus menghubungiku setiap saat."


James kembali berdecik. "Ck... Kamu merasa terganggu bila ayah menghubungimu, padahal ayah hanya ingin mengetahui apa yang kamu lakukan selama berkemah. Kamu tahu kan, bila ayah sangat mengkhawatirkanmu."


"Aku yakin, bila aku akan baik-baik saja. Jadi ayah tak perlu khawatir."


"Baiklah terserah kamu. Bila kamu kenapa-kenapa langsung hubungi ayah atau ibu."

__ADS_1


Spring pun menggangguk untuk mengiyakan perintah ayahnya tersebut. Dan ayahnya pun akhirnya beranjak pulang.


*


Hari sudah mulai sore, langit pun merubah warnanya menjadi jingga. Spring dan Winter duduk sambil menikmati pemandangan matahari yang akan tenggelam. Rasanya sungguh menyenangkan, di kehidupan sebelumnya Spring tak pernah merasakannya, melihat langit sore di pantai bersama Winter. Karena di kehidupan sebelumnya, semenjak kedatangan Skylar di sekolah, Spring lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Skylar di bandingkan dengan Winter. Apa lagi Winter yang hanya sibuk dengan buku-bukunya, tak pernah sekalipun mengajak Spring pergi berlibur.


Ini merupakan kali pertama untuk Spring bisa pergi berkemah di pantai bersama Winter, rasanya seperti mimpi bisa pergi berkemah yang tak pernah Spring rasakan di kehidupan sebelumnya. Apa lagi hanya berdua saja dengan Winter.


"Bagaimana menurutmu, apa kamu senang bisa pergi berkemah di tempat ini?" tanya Winter.


"Benar-benar sangat menyenangkan," jawab Spring tersenyum lebar menatap Winter.


Winter pun ikut tersenyum setelah melihat Spring yang tersenyum bahagia ketika menatapnya. "Ku harap esok dan seterusnya kamu akan selalu tersenyum seperti ini. Aku sangat bahagia bila melihatmu tersenyum."


"Aku pun sama bahagianya denganmu bila kamu juga tersenyum. Jangan pernah ada tangis, lupakanlah semua hal yang membuatmu bersedih. Bila senyumanku merupakan hal yang membuatmu bahagia, maka ingatlah aku di saat kamu merasa terpuruk."


"Akan selalu ku ingat dirimu." Winter kemudian meraih tangan Spring. "Spring, aku ingin banyak menghabiskan waktukku untukmu."


Raut wajah Winter pun seketika berubah menjadi sendu, ia menatap Spring dengan mata yang seakan-akan tengah menahan sebuah tangisan.


"Terima kasih sudah mau menghabiskan waktukmu untukku." Winter kemudian mengangkat jari kelingkingnya. "Berjanjilah, akan selalu tersenyum di saat aku ada ataupun di saat aku tak ada."


Entah mengapa, apa yang di ucapkan Winter tersebut seakan-akan merupakan kalimat perpisahan untuk Spring. Hingga membuat Spring pun gelisah setelah mendengarnya, dan dengan cepatnya ia pun memeluk erat tubuh Winter.


"Aku akan berjanji, asalkan kamu tak akan pernah meninggalkanku. Ingat Winter, untuk tetap bertahan walau kamu sudah bosan dengan dunia."


Hatinya serasa sesak bila sampai ucapkan Winter merupakan sebuah kalimat perpisahan. Dunia serasa runtuh bila Spring tak dapat menyelamatkan Winter di kehidupan keduanya ini. Spring tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri bila sampai Winter kembali mengakhiri hidupnya.

__ADS_1


"Jika kamu bersedih tutuplah matamu, lalu ingatlah aku dalam ingatanmu. Jika aku adalah alasanmu untuk bahagia maka tetaplah di sisiku, karena aku tak akan pernah beranjak meninggalkanmu, Winter."


Perkataan Spring tersebut mampu membuat Winter terharu. Rasanya ingin menangis, namun bagi seorang pria menangis adalah suatu hal yang memalukan. Winter pun menahannya sambil membalas pelukan erat yang di berikan Spring padanya.


Hanya dalam dekapannya saja, Spring sudah merasakan bahagia yang tiada tara. Namun, kebahagian itu tak lama di rasakannya, setelah mereka di kejutkan dengan kedatangan Skylar.


"Apa ini? Ku pikir hubungan kalian tidak lebih dari sekedar teman," lontar Skylar yang terkejut setelah menyaksikan Spring dan Winter berpelukan.


Kedatangan Skylar tersebut mampu membuat wajah Spring dan Winter memerah. Tak hanya skylar saja yang datang, ada juga beberapa teman sekelas yang ikut datang ke tempat mereka berkemah, dan yang lebih parah, Jinny juga ikut datang bersama rombongan Skylar.


Jinny menghela kasar nafasnya. "Apa kalian senang menipu kami. Di depan kami kalian selalu berkata bila hubungan kalian hanyalah sekedar teman. Tapi nyatanya kalian memiliki hubungan lebih dari sekedar teman."


Winter berdiri dengan raut marahnya. "Apa karena kalian melihat kita berpelukan, kalian berpikir bila kami memiliki hubungan Spesial. Bila memiliki hubungan seperti itu pun, itu bukan urusan kalian."


"Tentu saja itu urusan kami. Kalian sudah membuat kami berharap dengan berkata bila hubungan kalian hanyalah sekedar teman," ucap Skylar bernada kesal.


Spring menghela. "Cukup! Kalian tak perlu salah paham, karena kami masih berteman. Dan untuk kalian, Jinny dan Skylar, dari mana kalian tahu kami disini?"


"Aku tahu kamu di sini, saat kamu dan Winter sedang mengobrol di kelas," jawab Skylar.


"Apa telingamu hanya di pakai untuk menguping pembicaraan kami. Dan untuk apa kamu membawa Jinny kemari?" ucap Spring bernada kesal.


"Aku membawanya karena ingin membantu hubungan Winter dengan Jinny bisa lebih dekat lagi. Bukankah itu ide yang bagus, selama ini Winter tak memiliki kekasih. Dia perlu mencoba menjalin hubungan dengan seorang wanita, agar dia tak selalu melarangku untuk dekat denganmu."


"Benar apa kata Skylar, bila Winter bersamaku kamu akan dengan bebas berhubungan dengan Skylar," sambung Jinny.


Spring menghembuskan kasar nafasnya. "Sialan." Lalu melangkah pergi dengan raut marah dan kesalnya.

__ADS_1


Bisa-bisanya Skylar dan Jinny datang mengacaukan acara berkemah Spring dan Winter. Spring sangat kesal dan marah terhadap Skylar, mengapa setiap saat Skylar selalu datang mengganggu waktunya bersama Winter. Terlebih lagi, Skylar sampai membawa orang yang paling Spring benci.


"Sampai kapan mereka akan berhenti menggangguku dengan Winter," batin Spring yang berkecamuk dengan amarahnya.


__ADS_2