
Ciuman pertama di kehidupan keduanya di berikan kepada pria yang sudah lama di dambakannya, adalah sebuah hadiah terindah dari tuhan untuk Spring. Betapa baiknya tuhan, selain di beri kesempatan untuk kembali ke masa lalu, Spring juga di berikan kesempatan untuk mendengarkan kata cinta dari Winter. Kata terindah yang tak pernah Spring dengar sebelumnya dari Winter. Entah apa yang di rasakannya saat ini, bahagia bercampur sedih adalah hal yang membingungkan.
Sesaat setelah Winter berhenti memainkan bibirnya, ia tiba-tiba saja tak sadarkan diri di pelukan Spring. Apa mungkin karena Winter terlalu mabuk hingga membuatnya tak kuat untuk belama-lama terbangun. Entahlah, yang terpenting sekarang Winter masih bernafas dengan baik. Atau yang terpenting sekarang Spring sudah tahu dengan perasaan Winter yang sebenarnya.
Setelah mendengarkan pengakuan Winter, Spring pun berpikir bila saat ini statusnya telah berubah menjadi kekasihnya Winter. Menjadi kekasihnya Winter merupakan sebuah anugerah terindah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Betapa bahaginya Spring, hingga sampai membuatnya menitikan air mata.
"Terima kasih karena telah menjadikanku wanita yang paling di cintai olehmu," ucap Spring yang semakin erat memeluk tubuh pria yang tengah tertidur pulas itu.
Winter terlalu berat bila harus di pindahkan ke kamar, dan Spring juga tak tega bila harus membangunkan Winter yang sudah tertidur pulas di pelukannya. Spring dan Winter pun tertidur sembari saling bersandar dengan tembok yang sabagai alat untuk menyandarkan punggungnya. Walau posisi tidur tersebut tak nyaman, entah mengapa rasanya seperti tidur di atas tempat tidur yang empuk. Apa mungkin karena perasaan Spring yang tengah bahagia itu, hingga tidur dengan posisi duduk di atas lantaipun terasa seperti tidur di atas ranjang. Bahkan tidur pun terasa sangat cepat selepas Spring menutup kedua matanya.
**
Terasa hangat bahkan terasa nyaman, kain lembut terasa menyentuh kulitnya. Apa karena terlalu bahagia, bahkan tubuh pun serasa di tutupi oleh kain selimut. Spring pun terbangun dengan mata yang setengah terbuka. Dia kira masih tertidur di ruang tengah, namun nyatanya ia sedang terbaring di atas tempat tidur. Mungkin Winterlah yang sudah memindahkan Spring ke kamar.
Namun anehnya Winter tak ada di sampingnya selepas Spring membuka lebar matanya. Spring pun beringsut dari tempat tidur untuk mencari keberadaan pria yang semalam telah mengakui perasaannya itu. Ia mencari ke setiap ruangan, namun anehnya Winter tak ada di mana-mana.
"Apa mungkin dia sudah pulang." Spring heran, mengapa Winter tak membangunkannya dan bahkan meninggalkannya seorang diri di vila. Spring sampai menghela, karena bisa-bisanya Winter pergi tanpa membangunkannya.
Spring pun bergegas pulang ke rumah. Dan sebelum pulang, tak lupa ia memastikan terlebih dahulu bahwa Winter sudah benar-benar pulang ke rumahnya. Namun, sesaat Spring bertanya kepada ibunya Winter, anak bungsu dari Alex Collin itu telah pergi ke sekolah tiga puluh menit yang lalu.
"Ada apa dengannya? Selain meninggalkanku sendiri di vila, dia bahkan meninggalkanku pergi ke sekolah."
Walau terasa kesal, tapi Spring tak bisa berpikiran negatif tentang Winter. Karena mungkin Winter terlalu malu setelah semalam ia menyatakan perasaannya, oleh sebab itu ia terburu-buru pergi sebelum Spring terbangun. Tak terbayang oleh Spring ketika nanti ia bertemu dengan Winter di sekolah. Pasti Spring akan di buat ketawa melihat Winter yang tersipu malu.
Selepas pulang ke rumah, Spring langsung mendapatkan ocehan dari ayahnya. James sangat marah karena putrinya bisa-bisanya semalaman tak pulang ke rumah. Dan bahkan tak pulang selepas jam sekolah telah berakhir.
__ADS_1
Spring memang merasa bersalah karena sudah membuat ayah dan ibunya khawatir, tapi ia tak terlalu menyesal. Karena berkat tak pulang, Spring akhirnya mendapatkan hadiah tak terduga dari Winter.
Ocehan ayahnya akan terhenti bila Spring segera bergegas pergi ke sekolah. Maka dari itu, Spring mempercepat sarapannya. Selain tak ingin berlama-lama di marahi ayahnya, Spring juga ingin segera menemui Winter di sekolah. Spring pun terburu-buru pergi selepas manghabiskan sarapannya.
Selama perjalanannya, Spring tak bisa berhenti membayangkan Winter. Terlalu bahagia baginya, hingga tak bisa lepas memikirkan pria yang semalam telah menciumnya itu. Bahkan setuhan lembut dari bibir Winter masih terasa hingga saat ini. Tak sabar ia ingin segera bertatap muka dengan sahabat yang sudah di beri status kekasihnya tersebut.
Karena saking tak sabarnya, Spring tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke sekolah. Ketika langkahnya berada tepat di pintu gerbang, dari kejauhan Winter sudah menampakan diri di matanya. Namun anehnya, mengapa Winter bersama dengan Jinny. Dan bahkan ia sampai berpegangan tangan dengan wanita yang menjadi saingan Spring itu. Spring pun dengan cepat berlari menghampiri Winter.
"Tak bisakah kamu melepaskan tanganmu darinya," ucap Spring kepada wanita yang sangat mendabakan pria yang telah di beri status kekasihnya itu.
"Mengapa aku harus melepaskan tangan kekasihku." Jinny menyeringaikan senyumnya. "Mulai hari ini Winter adalah kekasihku. Hal yang wajar bagi sepasang kekasih untuk berpegangan tangan seperti ini."
Spring tergelak. "Bagaimana bisa dia menjadi kekasihmu, dia sama sekali tak memiliki perasaan terhadapmu."
"Jinny memang kekasihku, dan mulai sekarang aku adalah kekasihnya."
Spring tak percaya dengan apa yang di katakan Winter tersebut. Semalam bukanlah mimpi dari tidur lelapnya. Winter memanglah mabuk, tapi orang mabuk merupakan orang yang paling jujur. Mana bisa Spring percaya bila Winter memutuskan untuk menjadi kekasihnya Jinny.
"Aku tak percaya, kamu pasti bercanda kan?"
"Aku tak akan mau berpegangan tangan dengan wanita lain terkecuali dengan wanita yang paling kucintai. Jinny adalah wanita yang paling kucintai saat ini," jawab Winter dengan wajah datarnya.
Seakan telah di buat terjatuh dari ketinggian, Spring di buat tak berdaya setelah mendengar pengakuan Winter tersebut.
"Lalu apa arti perkataanmu semalam? Kamu bahkan sampai menciumku. Mana bisa aku percaya bila yang terjadi semalam merupakan hal yang nyata."
__ADS_1
"Saat itu aku sedang mabuk, orang mabuk mana bisa di percaya. Melakukan tindakan bodoh adalah hal biasa yang sering di lakukan orang mabuk."
Spring menghela kasar nafasnya. "Jadi menyatakan cinta serta menciumku merupakan tindakan bodoh. Apa kamu senang telah mempermainkanku. Sebanarnya aku ini di anggap apa olehmu, hingga setega itu kamu menyakitiku."
"Kamu hanyalah sahabatku, sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi sahabatku."
Air pun seketika menggenangi kedua mata Spring. Hancur dan sakit hatinya, setega itu Winter mempermainkan perasaannya. Spring benar-benar sangat marah kepada pria yang di pikirnya sudah menjadi kekasihnya, namun nyatanya malah memiliki status dengan wanita lain.
"Tak bisakah kamu menghilangkan egomu itu. Kamu terlalu egois terhadap perasaanmu sendiri. Kamu tak hanya menyakiti perasaanku saja, tapi kamu juga telah menyakiti perasaanmu sendiri." Spring menghebuskan cepat nafasnya. "Aku tahu kamu terlalu takut jika hubungan kita hancur karena berakhir dengan sebuah perasaan. Justru bukan itu yang membuat hubungan kita hancur, tapi karena egomulah yang sudah menghancurkan hubungan kita."
Sudah sangat hancur hatinya dan sudah sangat perih hatinya bila berlama-lama ada di dekat Winter dan Jinny, Spring pun memutus pergi dengan kedua matanya yang berlinang dengan air.
Terlalu tak adil bila hanya Springlah yang merasakan sakit. Hanya ada satu cara untuk membalas rasa sakit yang di terimanya itu. Yaitu menerima pernyataan cinta dari saingannya Winter, siapa lagi kalau bukan Skylar.
Tak lama Spring melangkahkan kakinya, Skylar menampakan diri dari kejauhan. Spring pun lalu dengan cepat menghampiri pria yang sangat mendambakannya itu.
"Sky, aku ingin menjawab pernyataan cintamu semalam."
Skylar mengerutkan alisnya. "Bukankah semalam kamu sudah menolakku."
"Aku ingin menarik ucapanku yang semalam. Dan aku ingin menerimamu sebagai kekasihku." Spring seketika menjinjitkan kakinya, lalu dengan cepatnya ia mencium bibir pria yang telah menyatakan cintanya tadi malam.
Mungkin dengan menerima cinta Skylar, Spring dapat membalas penghianatan Winter. Walau tindakannya merupakan tindakan yang bodoh, setidaknya Winter juga dapat merasakan sakit seperti yang di alaminya.
Ciuman Spring tersebut mampu membuat heboh orang-orang di sekolah. Bahkan Winter dan Jinny pun sampai harus menyaksikan ciuman dari sepasang kekasih yang baru meresmikan statusnya itu.
__ADS_1