Back To 2012

Back To 2012
8. Yang Berhak Atas Perasaanku Hanyalah Aku


__ADS_3

Spring pikir Winter akan menciumnya, tapi setelah lamanya matanya menutup, bibirnya Winter tak kunjung menyentuh bibir mungilnya. Sontak saja Spring pun kembali membuka matanya, saat matanya terbuka, Spring melihat Winter tengah tertawa menatapnya. Sekuat mungkin, Spring pun melepaskan tangannya dari Winter, lalu dengan cepatnya ia mendorong Winter.


"Mengapa kamu menertawaiku. Apa kamu sedang mempermainkanku?"


Winter tergelak. "Aku tak mengerti mengapa kamu menutup matamu. Jangan bilang kamu kira aku akan menciummu."


Dengan wajah kesalnya, Spring menarik selimut lalu tertidur memunggungi Winter. "Untuk apa aku berpikiran seperti itu, bukankah hal seperti itu tak mungkin terjadi kepada kita."


Winter seketika mendekap tubuh Spring, hingga membuat degupan jantung Spring berdebar kencang dan lebih kencang di bandingkan saat Winter menjahilinya tadi.


"Mengapa kamu memelukku, bukankah tadi saja kamu menolak tidur satu ranjang denganku. Tapi sekarang kamu seenaknya memeluku seperti ini, apa kamu tak takut bila akan ada hal buruk yang terjadi pada kita."


"Memangnya hal buruk seperti apa. Bukankah tadi kamu bilang hubungan kita hanyalah sebatas sahabat. Mengapa kamu mempersalahkannya bila aku memelukmu seperti ini."


"Tentu saja aku mempersalahkannya, karena kamu hanyalah sahabatku. Jadi kamu tak perlu bertindak jauh layaknya aku ini milikmu. Karena kamu saja tak mampu membuka hatimu."


Winter semakin erat saja mendekap tubuh Spring, lalu membuat wajahnya bersembunyi di balik punggung Spring. "Spring, sedari tadi aku mencerna setiap perkataanmu. Aku harap kamu tidak memiliki perasaan seperti apa yang aku pikirkan."


Entah mengapa, perkataan Winter tersebut mampu membuat hati Spring merasakan sakit. Hingga membuat kedua matanya pun berlinang dengan air.


Spring pun membuang nafasnya dengan cepat. "Kamu tidak bisa melarang apa yang di rasakan hatiku, karena sejatinya kamu tak bisa menentukan hatiku akan memiliki rasa kepada siapa. Bila memang hatiku hanya tertuju kepadamu, kamu tak berhak menghentikannya. Karena akulah yang berhak untuk menghentikan atau terus melanjutkannya."


"Jadi, apa kamu memiliki perasaan kepadaku?"


Spring menelan salivanya. "Entahlah, karena kita memiliki prinsiv untuk tak memiliki perasaan lebih dari rasa sayang seorang sahabat, maka perasaan yang kumiliki ini terbatas." Spring menghela. "Bila suatu saat aku memiliki perasaan terhadapmu, bagaimana kamu menanggapinya?"


"Aku harap itu tidak terjadi, karena aku tak percaya dengan namanya cinta. Aku melihat bagaimana hubungan ayah dan ibuku yang hancur, karena itu semua berawal dari perasaan cinta seorang pasangan."


"Itu ibu dan ayahmu. Banyak pasangan yang sampai saat ini masih tetap baik-baik saja, contohnya ayah dan ibuku."

__ADS_1


"Aku terlalu takut memadu kasih dengan seorang wanita, terutama dengan kamu. Karena aku sangat takut kehilangan dirimu. Aku takut kamu akan bosan padaku, bila kita menjadi sepasang kekasih."


"Kamu tak perlu takut, karena aku tak akan pernah meninggalkanmu. Akulah yang merasa takut bila kamu akan pergi dariku."


Seketika Winter menitikan air matanya di balik punggung Spring. "Hari ini ayah dan ibuku bertengkar, mereka saling menuduh karena tak bisa lebih baik memperhatikanku. Padahal aku hanya mimisan saja, tapi mereka bertengkar hebat karena hal sepele."


Spring mengerenyit. "Winter, apa kamu sedang sakit?"


"Tidak, aku hanya mimisan saja. Bukankah kamu sering melihatku mimisan bila aku kelelahan setelah belajar. Aku mimisan karena aku terlalu banyak belajar, hingga lupa untuk beristirahat."


"Seharusnya kamu tak perlu memaksakan diri. Kamu tak perlu belajar terlalu keras, bila kamu lelah maka berhentilah."


"Aku harus mendapatkan nilai bagus, bila tak ingin orang tuaku bertengkar karena nilai rapotku. Alex sudah tiga kali gagal masuk ke universitas terbaik di Amerika. Dan setiap kali ayah dan ibuku mendapatkan kabar Alex yang gagal masuk ke universitas, mereka akan saling menyalahkan karena tak bisa mendidik anak dengan benar. Maka dari itu, aku harus terus mendapatkan nilai bagus agar tak mendengar pertengkaran mereka."


"Bila kamu ingin menangis, maka menangislah dengan bebas. Karena setelahnya, aku akan melupakan apa yang terjadi malam ini."


Sontak saja air mata Winter pun semakin deras mengalir, hingga membasahi baju Spring. Sampai-sampai Spring pun juga ikut menangis dan merasakan apa yang di rasakan Winter saat ini.


"Seharusnya kamu mengatakannya kepada mereka tentang kondisimu itu."


"Aku ingin mengatakannya, tapi tiap kali mereka ada di rumah. Mereka sangat sibuk dengan ponsel dan laptop mereka. Di hari libur pun mereka masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing."


Tak kuasa Spring merasakan ritihan Winter di balik punggungnya, Spring pun akhirnya ikut menangis sambil menahan suaranya. Ia menahan suaranya agar tak terdengar oleh Winter, bila dirinya juga menangis. Karena Spring takut, bila Winter akan semakin bersedih jika tahu Spring juga menangis.


...****************...


Ketika matahari sudah berada di upuk timur dan cahayanya sudah menembus ke balik jendela, Spring masih saja terlelap dari tidurnya. Padahal hari sudah pagi, Spring masih saja tak mau bangun dari mimpi panjangnya. Hingga tak lama matahari pun perlahan mulai menyoroti wajahnya, hingga membuatnya terbangun.


Namun saat matanya terbuka, ia sudah tak mendapati Winter di sampingnya. Spring pun beringsut dari tempat tidur, lalu melangkah keluar dari kamar sembari berteriak memanggil Winter.

__ADS_1


"Winter...


Winter tak kunjung muncul setelah Spring memanggilnya, tapi Spring melihat pintu kamar mandi terbuka. Spring lalu bergegas memasuki kamar mandi tersebut. Dan pada akhirnya Spring menemukan Winter di sana, akan tetapi Spring malah mendapati Winter tengah muntah-muntah di depan closet. Sontak saja, Spring panik ketika melihatnya.


"Winter, apa kamu baik-baik saja?"


"Iya, aku baik-baik saja."


"Sepertinya kamu sedang sakit. Apa lebih baik kita periksa ke dokter."


"Tidak perlu, aku hanya mual saja. Mungkin karena semalam aku terlalu lama diam di luar."


"Tapi wajahmu sangat pucat, aku yakin kamu sedang tak baik-baik saja." Spring lalu menarik lengan Winter. "Kita harus periksa ke dokter sekarang juga."


Seketika Winter menghempaskan tangan Spring dari lengannya. "Sudah ku bilang tidak perlu, aku baik-baik saja," ucapnya meninggikan suara.


"Tapi aku khawatir jika kamu sakit."


Winter lalu memegang kedua pundak Spring. "Sebentar lagi aku akan sembuh, karena ini hanya sakit biasa. Setelah meminum air hangat, perutku akan baik-baik saja. Jadi, kamu tak perlu khawatir soal kondisiku."


"Baiklah, bila kamu tak ingin pergi memeriksanya, tunggu aku di sini. Aku akan pulang ke rumah untuk membuatkanmu sup."


"Tidak perlu, karena aku harus pulang. Aku harus secepatnya bersiap-siap untuk pergi ke sekolah."


"Kamu bisa tunggu di sini, karena aku akan membawakan tas dan pakaianmu. Jadi, tunggulah di sini."


"Tapi Spring, itu akan merepotkanmu."


Spring tersenyum. "Aku tak kerepotan, lagi pula aku hanya membuatkanmu sarapan lalu membawakan pakaian dan tasmu. Jadi, kamu tunggu saja aku di sini. Jika bisa, kamu beristirahatlah di kamar sampai aku kembali."

__ADS_1


Spring pun secepatnya beranjak pulang ke rumahnya, agar bisa secepatnya ia membuatkan sarapan untuk Winter.


__ADS_2