Back To 2012

Back To 2012
16. Kepastian


__ADS_3

Winter diam membisu setelah di tayai Spring mengenai statusnya. Ia malah fokus mengayuh sepedanya tanpa mau mengeluarkan suaranya sedikit pun. Sedikit kesal bagi Spring, namun juga sedikit membingungkan untuknya. Spring tak mengerti, mengapa bisa Winter tak menjawab pertanyaannya. Sampai-sampai Spring berprasangka, apa sebenarnya Winter menaruh hati hingga membuatnya takut bila Spring menjadi kekasih dari pria lain. Tapi Spring tak bisa berprasangka seperti itu, mungkin saja Winter takut kehilangan Spring, karena hanya Springlah satu-satunya orang yang selalu mengisi kesepiannya. Bila Spring memiliki seorang kekasih, maka waktu untuk Winter akan terbatas.


Spring tak dapat menebak isi hati Winter, karena Winter terlalu tertutup mengenai hatinya. Tak pernah sedikit pun bercerita tentang wanita yang mengisi hatinya. Mungkin karena Winter terlalu takut untuk membuka hatinya terhadap wanita, karena ia terlalu trauma melihat hubungan orang tuanya yang berantakan. Tapi mana mungkin seorang pria yang sudah mengijak usia remaja tak memiliki rasa suka terhadap wanita. Entahlah, Spring tak bisa bertanya tentang siapa wanita yang Winter sukai. Karena Winter tak pernah sekalipun menjawabnya, tiap kali Spring bertanya seperti itu.


Hingga sesaat mereka sampai di sekolah, Spring kembali bertanya kepada Winter. "Aku ingin mendengar jawabanmu. Mengapa kamu terdiam setelah aku bertanya tentang status kita."


Winter menghela kasar nafasnya. "Mengapa aku harus menjawab pertanyaan yang sudah kamu ketahui jawabannya. Karena sudah jelas bila status kita hanya sebatas sahabat. Dan kamu pernah bilang, bila kamu akan memberikan seluruh waktukmu untukku. Jadi untuk apa kamu memiliki kekasih yang tak bisa memberimu izin untuk memberikan waktu untukku."


Ya, memang Spring pernah berjanji seperti itu, berjanji akan memberikan seluruh waktunya untuk Winter. Terutama saat pertama kali ia kembali ke tahun 2012, Spring berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu ada untuk Winter. Spring pun tak bisa mengatakan apapun, setelah di beri jawaban seperti itu oleh Winter.


Spring awalnya berharap jika Winter akan menjawab bila dirinya memiliki perasaan terhadap Spring. Namun nyatanya, jawabanya tak sesuai dengan harapan Spring. Mungkin memang benar, Winter tak merasakan apapun di hatinya, layaknya apa yang di rasakan oleh Spring.


Winter nampak kesal setelah di paksa Spring menjawab pertanyaannya. Hingga setelah Winter meletakan sepedanya, ia berjalan secara terpisah dengan Spring. Winter berjalan di depan, sementara Spring berjalan di belakangnya.


Spring menghela, mengapa bisa dirinya bertengkar dengan Winter hanya karena sebuah pertanyaan. Spring sangat menyesal telah memaksanya menjawab. Namun, bila Spring tak memaksanya, ia akan terus merasa penasaran dan akan terus menerus berprasangka bila Winter menyukainya.


Dan satu hal yang bisa meredakan amarah Winter hanyalah sebuah permintaan maaf dari Spring. Spring pun berteriak meminta maaf kepada pria yang sudah di buat marah olehnya itu.


"Aku minta maaf."


Seketika langkah Winter pun terhenti. "Minta maaf untuk apa?" tanyanya tanpa berbalik menatap Spring.


"Maaf karena sudah membuatmu kesal."


"Jika kamu menyesal, jangan pernah lagi membahas tentang perasaanmu, karena aku tak menyukai itu. Aku harap kamu bisa kekal menjadi sahabatku saja."


Tidak, Spring tak akan pernah bisa melawan perasaannya. Karena perasaannya terhadap Winter akan selalu ada. Bahkan di kehidupan sebelumnya pun, Spring mencoba menjalin hubungan dengan Skylar hanya ingin menghapus perasaannya terhadap Winter, namun hasilnya sia-sia. Bila Winter hanya dapat menjadi sahabatnya saja, itu hanya akan membuat Spring terus bertarung dengan perasaannya yang selalu berakhir dengan kekalahan. Spring sangat yakin, bila tuhan telah mentakdirkan Winter untuknya. Oleh sebab itu, ia di berikan tuhan kesempatan untuk kembali ke masa lalu.


Spring tak bisa memberikan janjinya, untuk menjadi sahabat Winter selamanya. Ia pun langsung memberikan jawaban lain kepada Winter.

__ADS_1


"Karena aku sudah meminta maaf, bisakah aku berjalan di sampingmu."


"Iya, terserah kamu," jawab singkat Winter yang masih tak berbalik menatap Spring.


Spring pun kemudian bergegas melangkah mendekati Winter. Raut wajah Winter masih saja di tekuk kesal, walau Spring sudah meminta maaf padanya. Mereka berjalan menuju kelas, tanpa bersuara sedikit pun, layaknya orang yang tak saling mengenal. Namun anehnya, ketika mereka berjalan, banyak orang yang menatap ke arah mereka. Terutama tatapan mereka tertuju kepada Spring.


"Mengapa orang-orang menatap ke arah kita. Apa karena kita terlihat seperti orang yang tengah saling marah," ucap Spring.


"Entahlah," ucap Winter dengan raut datarnya.


"Itu karena kamu yang terus menunjukan wajah kesalmu. Aku sudah meminta maaf, tapi kamu masih saja terlihat kesal."


Lalu tiba-tiba saja, seorang pria yang bernama Jack datang menghampiri Spring. Jack datang bersama dengan beberapa teman-temannya. Pria bernama Jack tersebut merupakan murid paling bermasalah di sekolah. Bisa di bilang, Jack merupakan anak paling nakal di sekolah. Kedatangannya membuat Spring pun merasa tak nyaman.


"Bukankah kamu Spring. Tak ku sangka jika kamu bisa secantik ini." Jack tiba-tiba saja merangkul pundak Spring. "Maukah kamu berkencan denganku."


Seketika Winter melepas paksa tangan Jack dari pundak Spring. "Jangan mengganggunya. Dia tak nyaman dengan kedatanganmu," ucapnya dengan tatapan sinis.


"Tapi dia tak akan berkencan dengan pria manapun. Jadi jangan berharap untuk bisa mengencani Spring."


"Aku tak butuh jawaban darimu, yang kubutuhkan hanyalah jawaban dari Spring."


Spring menghela kasar nafasnya. "Aku akan menjawab tidak. Karena mana mungkin aku berkencan dengan pria yang tak pernah sekalipun dekat denganku."


Seketika Jack mengeluarkan ponselnya, lalu menjulurkannya kepada Spring. "Kalau begitu kita harus dekat terlebih dahulu. Aku ingin nomor ponselmu."


Winter dengan cepat meraih tangan Spring. "Dia tak akan memberikan nomor ponselnya padamu."


Winter lalu melangkahkan kakinya sembari menarik kasar lengan Spring. Hingga sampai-sampai Spring pun harus merasakan kesakitan di bagian lengannya.

__ADS_1


"Bisakah kamu melepaskanku. Aku bisa berjalan tanpa harus di pegang olehmu."


"Kita harus secepatnya sampai ke kelas, karena Jack akan terus mengikutimu jika jalanmu lamban."


"Tapi lenganku sakit."


Winter seketika menghentikan langkahnya, lalu perlahan melepaskan lengan Spring dari tangannya. "Maaf, aku tak tahu bila kamu kesakitan." Lalu dengan spontan Winter mengelus lengan Spring secara perlahan. "Apa sekarang lenganmu masih merasa sakit?"


"Hm, tidak," jawab Spring.


"Maaf sudah menarik paksa dirimu. Aku hanya ingin kamu tidak berurusan dengan Jack, apa lagi sampai harus menjalin hubungan dengannya."


"Memangnya mengapa. Apa kamu marah karena Jack mengajakku berkencan."


"Iya aku marah, karena pria brandalan sepertinya tak pantas mendapatkan wanita baik sepertimu. Aku harap kamu tak menjalin hubungan apapun dengannya."


Spring menghela. "Iya, aku tak akan pernah menjalin hubungan apapun dengannya, terkecuali denganmu, yang hanya sebatas sahabat," ucapnya kesal.


Spring pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas. Sesampainya di kelas, semua teman-temannya pun di buat heboh dengan kedatangannya.


"Ku pikir wanita cantik yang datang pagi ini merupakan murid baru, tapi nyatanya kamu spring. Kamu sungguh cantik, dan sangat terlihat berbeda dari sebelumnya," lontar salah satu teman sekelasnya.


Lucy seketika merangkul pundak Spring. "Semua orang heboh membicarakan kecantikanmu. Orang-orang berbicara, bila kamu sudah menggeser posisi Jinny sebagai murid tercantik di sekolah."


Spring sampai di buat tak percaya dengan ucapan Lucy tersebut. "Apa aku benar-benar cantik. Aku masih merasa kurang untuk bisa bersaing dengan Jinny."


"Hei mengapa bertanya seperti itu. Sudah ku katakan berkali-kali bila kamu sangat cantik. Apa pujian orang-orang masih belum cukup, hingga membuatmu merasa tak percaya diri."


"Tapi hati Winter masih saja tak tergerak, walau aku sudah merubah penampilanku," bisik Spring dengan raut sendunya.

__ADS_1


"Benarkah? Banyak orang di sekolah yang terpikat setelah melihatmu. Tapi mengapa hanya Winter yang tak bisa terpikat olehmu."


"Entahlah, aku harus bertanya dulu, baru dia memuji penampilanku. Aku yakin bila pujiannya kemarin, itu hanya ingin membuatku senang saja. Padahal dia tak merasa bila aku ini cantik." Spring lalu duduk sambil menelengkupkan kepalanya di meja.


__ADS_2