
Spring yakin bila Winter memang sudah mengetahui tentang perasaan Spring yang sebenarnya. Dan tentunya Spring juga menyadari bila Winter juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Hanya saja Winter tak ingin merubah statusnya dan tak ingin pula perasaan yang ada pada dirinya terus tumbuh. Mungkin karena Winter yang terlalu takut bila hubungannya akan hancur bila persahabatannya itu berakhir dengan perasaan cinta.
Bila memang Winter tak dapat menjadi kekasihnya, setidaknya Winter bisa tetap ada di dunia ini. Hanya dengan Winter bertahan hidup saja, itu sudah membuat Spring bahagia. Bila memang Spring hanya di takdirkan untuk menjadi sahabatnya saja, maka Spring akan menerima takdir tersebut. Asalkan Winter tetap hidup dan mau bertahan dengan keadaan apapun.
Namun, meski Spring memutuskan untuk menjadi sahabat seutuhnya, bukan berarti Spring akan terus memendam perasaannya. Spring dengan tegas akan mengakui perasaannya, walau jawaban Winter sudah pasti akan menolak.
Sesaat setelah dirinya sudah berada tepat di depan rumah, Spring seketika menghentikan langkahnya. "Ada yang ingin ku katakan padamu."
Winter pun seketika ikut menghentikan langkahnya, dan langsung berbalik menatap Spring. "Hal apa ingin kau katakan padaku?"
Jantungnya berdebar sangat kencang, betapa gugupnya Spring, hingga membuatnya tak sanggup untuk menatap Winter secara langsung. Ia pun secara perlahan menarik nafasnya, dan dengan cepatnya Spring pun berkata. "Aku mencintaimu."
Seakan sudah tahu, Winter tak merasa terkejut setelah mendengar pengakuan Spring tersebut. Yang ia lakukan hanyalah terdiam sembari menatap sendu wajah Spring.
"Aku sudah tahu dengan pasti jawabanmu. Kamu tak akan pernah menerima pengakuan cintaku. Dan kamu tak akan mau merubah status kita. Hanya saja aku tak ingin memendamnya terlalu lama. Jadi aku ingin mengakuinya bila aku menyukaimu, bukan karena kamu sahabatku tapi melainkan sebagai wanita dan pria," pungkas Spring.
Seakan-akan sedang menahan tangis, mata Winter pun sedikit tergenang setelah mendengar apa yang di katakan Spring tersebut. Winter pun lalu menjawab dengan tegas. "Ku harap kamu tak terlalu dalam mencitaiku. Karena aku tak ingin membuatmu terluka, jadi jangan terlalu berharap untuk menjadi kekasihku."
"Aku tahu bila kamu tak mungkin bisa untukku gapai. Oleh sebab itu, sekarang aku ingin mengakhiri perasaanku." Spring pun seketika berlinang air mata, ia pun menangis lepas di hadapan Winter. "Mulai sekarang aku akan melepasmu dari hatiku."
__ADS_1
"Terima kasih sudah berkata jujur padaku." Winter pun beranjak melangkah kakinya, namun Spring lagi-lagi menghentikan langkah Winter.
"Tunggu! Aku memang mengakhiri perasaanku, tapi bukan berarti aku mengakhiri hubungan persahabatan kita. Aku ingin tetap bersahabat denganmu. Aku tak ingin kamu merasa canggung setelah tahu dengan perasaanku yang sebenarnya. Dan satu hal lagi, aku ingin melihatmu mencintai seorang wanita ataupun menikahi seorang wanita suatu hari nanti. Begitupun denganmu, kamu harus melihatku bahagia dengan pria lain dan melihatku menikah suatu hari nanti." Spring lalu mengangkat jari kelingkingnya. "Bisakah kamu berjanji."
Bukannya mengikat jari kelingkingnya Spring, Winter malah langsung mendekap tubuh Spring dengan erat. "Bahagialah Spring. Biarpun nanti bukan aku pria yang ada di sisimu, kamu harus tersenyum lebar ketika menatapnya."
Perkataan Winter tersebut terdengar seperti kata perpisahan untuk Spring, hingga membuat tangis Spring pun semakin pecah saja di pelukan Winter. "Kamu harus berjanji akan bertahan hidup sampai nanti tuhan memanggilmu, jadi bertahanlah. Bukankah kamu senang bila melihatku bahagia. Maka bertahanlah dan lihatlah aku yang bahagia."
"Hm, aku akan bertahan sampai tuhan memanggilku," ucap Winter yang semakin erat mendekap tubuh Spring.
***
Tessa sampai harus memaksa masuk ke dalam kamar, karena Spring sama sekali tak menyahut ketika dirinya meminta putri semata wayangnya itu untuk segera bergabung makan malam.
"Apa yang sudah membuatmu menangis, hingga sampai tak menyahutku ketika ku panggil," ucap Tessa sembari menyeka air mata di kedua pipi dan mata putrinya.
Seketika Spring dengan cepat memeluk ibunya lalu menangis keras di pelukannya. "Hari ini aku sudah mengakhiri perasaanku terhadap Winter. Tapi entah mengapa, aku masih tak sanggup bila harus mengakhiri perasaanku ini."
"Bila tak sanggup, mengapa kamu harus menyerah begitu saja."
__ADS_1
"Bila aku terus mempertahankan perasaanku, bagaimana jika Winter menghindariku. Aku terlalu takut bila harus berpisah dengannya."
"Mengapa harus takut, bukankah Winter tak ingin membuatmu jadi kekasihnya karena ia takut hubunganmu dengannya akan hancur. Berarti dia takut jika kamu pergi darinya. Bila saat ini dia tak bisa menjadi kekasihmu, maka kamu harus berusaha menjadikan dia sebagai suamimu."
"Mana bisa aku menikah dengan winter. Umurku masih terlalu jauh untuk melangkah ke jenjang pernikahan."
Tessa tersenyum. "Tentu saja kamu tak bisa menikah sekarang. Tapi suatu saat nanti, tuhan pasti akan memberikan rencana lain untukmu dan Winter. Jadi, teruslah berdoa dan teruslah berusaha agar kamu bisa di takdirkan dengannya."
Memang benar apa kata ibunya, bila saat ini Spring tak dapat memiliki Winter sebagai kekasihnya. Mungkin suatu hari nanti tuhan akan memiliki rencana lain untuk menyatukan Spring dengan Winter. Contohnya saja, tuhan telah memberikannya kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Mungkin saja alasan tuhan memberikan Spring kesempatan, karena tuhan menginginkan Spring dapat bersatu dengan Winter.
Spring pun lalu dengan cepat membersihkan air mata di wajahnya, dan dengan percaya dirinya Spring pun berkata. "Aku yakin bila memang bukan saatnya Winter menjadi pasanganku. Tapi mungkin suatu saat nanti dia akan menjadi miliku seutuhnya."
"Benar, suatu saat nanti pasti Winter akan menjadi kekasih sejatimu dan pastinya akan menjadi menantu ibu," ucap Tessa tersenyum.
Bila saat ini Winter tak dapat di miliki, maka akan ada suatu saat untuk berharap. Yang jelas tuhan telah memberikan kesempatan untuk Spring kembali, semata-mata bukan hanya untuk menyelamatkan Winter saja, akan tetapi memberi kesempatan untuk Spring menggapai pria yang sangat di cintainya itu. Saat ini misi terpenting Spring bukanlah menjadikan Winter sebagai kekasihnya, tapi menyelamatkan Winter dari kematian.
Yang saat ini di butuhkan Winter bukanlah pengakuan cinta dari Spring, tapi waktulah yang di butuhkan Winter. Maka esok, lusa, dan esoknya lagi, Spring akan terus berada di dekat Winter, memberikan seluruh waktunya untuk Winter.
Hingga saat keesokan harinya, Spring terus-menerus bersama Winter, baik di sekolah ataupun saat pulang sekolah. Baik siang maupun malam, Spring lakukan hanya untuk membuat senyuman untuk Winter. Karena mungkin saja, di saat Spring memberikan waktunya untuk Winter, sahabatnya itu akan mengurungkan niat buruk untuk mengakhiri hidup. Ya, meskipun ada sedikit canggung saat bersamanya, karena mungkin setelah Spring menyatakan perasaannya, baik Winter maupun dirinya sama-sama merasakan tak nyaman. Tapi itu bukanlah masalah, asalkan Spring bisa terus bersama Winter, kecanggungannya mungkin makin lama akan menghilang.
__ADS_1