
Esok, lusa, dan esoknya lagi, banyak waktu yang Spring berikan untuk Winter. Spring tak pernah absen menemani Winter, kemanapun Winter pergi Spring selalu mengikutinya. Akan tetapi, waktu yang di berikan Spring untuk Winter tak adil bagi Lucy. Sama seperti di kehidupan sebelumnya, Lucy tiba-tiba saja menjauh dari Spring setelah waktu Spring berkurang untuk Lucy.
Sesaat Spring mendekat padanya, Lucy langsung saja beranjak pergi dengan raut masamnya.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Spring mengikuti langkah Lucy.
"Mengapa kamu tanyakan itu, bukankah sudah jelas," jawab Lucy yang tak mau berbalik menatap Spring sedikit pun.
Spring meraih tangan Lucy untuk menghentikan langkahnya. "Aku tak mengerti mengapa kamu marah padaku tanpa sebab."
Lucy menghembuskan kasar nafasnya. "Apa aku ini teman bagimu. Tiap kali aku meminta bantuan padamu atau sekalipun aku ingin bercerita padamu, kamu tak pernah ada untukku."
"Aku minta maaf, tapi kamu tak pernah sekalipun meminta bantuan padaku. Atau ketika aku meminta menceritakan masalahmu, kamu tak pernah mau menceritakannya."
Lucy memiringkan senyumnya sembari menatap tajam mata Spring. "Sudah beberapa kali aku meminta bantuan padamu. Hanya sekedar mengantarku saja kamu selalu bilang jika kamu tak bisa karena harus pergi dengan Winter. Kamu harus tahu Spring, di saat kamu terpuruk aku selalu ada untukmu, tapi kamu tak pernah ada untukku di saat aku terpuruk."
Tentu saja Spring tak akan tahu bila Lucy sedang terpuruk, karena Lucy saja tak pernah sekalipun bercerita ketika Spring memintanya.
"Bagaimana aku bisa tahu bila kamu saja tak pernah mau menceritakannya."
"Memang benar aku tak pernah menceritakannya. Karena aku tak bisa menceritakannya di depan orang lain selain kamu. Apa kamu ada waktu untukku, ketika aku memintamu untuk pergi menemaniku. Dan bagaimana bisa aku menceritakan masalahku, di saat kamu sibuk dengan Winter."
Bukan karena Skylar Lucy menjauh di kehidupan sebelumnya, dan bukan pula karena Winter Lucy menjauh di kehidupannya yang sekarang. Tapi karena Springlah yang bersalah tak bisa mengerti dengan keadaan Lucy. Dan tak bisa pula memberikan banyak waktu untuk Lucy.
"Aku minta maaf," ucap Spring dengan wajah sendunya.
Lucy pun seketika beranjak pergi tanpa sedikit pun membalas permintaan maaf dari Spring. Apa kali ini, Spring akan kehilangan Lucy lagi. Bukankah salah satu misi Spring adalah untuk membuat Lucy tetap berada di sampingnya.
Spring tak bisa menyerah begitu saja, biarpun Winter merupakan orang yang paling penting di hidupnya, bukan berarti Spring harus merelakan Lucy. Spring pun kembali mengejar Lucy. "Aku benar-benar minta maaf. Bisakah kamu tak menjauhiku. Aku akan benar-benar sangat menyesal bila salah satu temanku harus pergi."
__ADS_1
"Lalu, apa kamu sanggup bila kamu harus menjauhi Winter seperti kamu menjauhiku."
"Aku tak pernah menjauhimu. Saat ini Winter sangat membutuhkanku, oleh sebab itu aku tak bisa membagi waktukku untukmu."
"Kamu tahu Spring, bila hanya kamu temanku satu-satunya. Aku pun sama membutuhkannya seperti Winter. Kepada siapa aku harus bersandar bila teman dan keluargaku saja tak bisa memberikan waktunya untukku." Lucy pun seketika menitikan air matanya.
Entah masalah apa yang sedang di hadapi Lucy, hingga membuatnya tak kuasa menahan tangis di hadapan Spring. Sampai-sampai Spring jadi ikutan menangis ketika melihat Lucy yang berurai air mata.
"Aku sungguh minta maaf karena tak bisa memberikan waktukku untukmu. Tak bisakah kamu memberikan pilihan lain, karena aku tak sanggup bila harus menjauhi Winter."
"Bila tak sanggup jangan memohon maaf padaku dan jangan pula mengikutiku terus-menerus. Karena aku tak bisa berlapang dada memaafkanmu." Lucy pun melangkahkan kakinya dengan raut marahnya.
Spring hanya terdiam mematung sembari menatap langkah Lucy yang semakin menjauh. Pilihan yang berat untuk Spring, bagaimana bisa Spring harus menjauhi Winter ketika nyawa Winter sedang terancam. Terlebih lagi, menuju ulang tahun Spring kurang dari sebulan lagi. Tapi Spring juga tak bisa membuat Lucy menjauh seperti dulu. Memang pilihan yang berat untuk Spring bila harus memilih salah satunya.
Sesaat Lucy melangkah pergi, tiba-tiba saja teman satu kelas datang menghampiri Spring dengan raut wajahnya yang nampak panik.
"Mengapa kamu masih di sini, di lapangan basket semua orang sedang heboh melihat Winter pingsan."
"Mungkin sekarang dia sedang berada di UKS."
Dengan cepat Spring pun berlari ke UKS. Dan benar saja apa yang di katakan teman satu kelasnya, Winter sedang tak sadarkan diri di ranjang pasien. Sesaat Spring menghampirinya, Spring lagi-lagi melihat bercak darah di baju Winter.
"Apa dia mimisan lagi," gumam Spring terfokus menatap bercak darah di baju Winter.
Lalu seketika Skylar datang menghampiri Spring di UKS. "Ku pikir dia pria hebat seperti yang di bicarakan orang-orang, namun nyatanya dia lemah. Sebelum menyelesaikan pertandingan dia malah pingsan," lontar Skylar.
Spring pun langsung saja di buat kesal setelah mendengar hinaan Skylar tersebut. Mana bisa ia diam saja setelah pria yang paling berharga di hidupnya itu harus di hina oleh Skylar.
"Dia memang pandai bermain basket, bila dia kalah berarti itu ada sebab. Lihatlah dia terbaring pingsan di atas ranjang, itu artinya dia sedang sakit. Bila tubuhnya sedang sehat, dia pasti akan menghasilkan banyak poin."
__ADS_1
Skylar menyeringai. "Terserah apa katamu saja, yang penting sekarang aku menang taruhan."
"Taruhan? Taruhan apa yang kalian buat?" tanya Spring menatap heran Skylar.
Skylar tersenyum. "Karena hari ini aku berulang tahun, aku ingin kamu menemaniku. Tapi bila kalah aku di suruh Winter untuk menjauhimu. Dan ternyata akulah yang menang, jadi hari ini kamu harus ikut denganku."
Spring mana bisa percaya bila Winter melakukan pertandingan basket dengan Skylar karena sebuah taruhan. Terlebih lagi Skylar merupakan orang yang selalu mencari kesempatan untuk mendekati Spring. Spring sampai membuang wajahnya setelah mendengar apa yang di ucapkan Skylar tersebut.
"Aku tak akan mempercayaimu. Tunggu sampai Winter terbangun, aku ingin meminta penjelasan darinya."
"Silahkan saja, aku pun akan menunggu dia sampai bangun, agar dia tak berbohong di belakangku."
Tak membutuhkan waktu lama mereka menunggu, akhirnya Winter pun membuka matanya.
"Spring," panggilnya, sesaat matanya tertuju menatap Spring.
Spring akhirnya bisa bernafas lega setelah melihat Winter terbangun. Akan tetapi ia juga merasa kesal karena Winter tak bisa menjaga kondisi tubuhnya.
"Seharusnya bila kamu sedang sakit jangan terlalu banyak melakukan aktivitas. Kamu tahu kan, bila aku sangat mengkhawatirkanmu."
Seketika Skylar mendeham. "Ehem... Sekarang Winter sudah sadar, aku ingin Winter mengakui kekalahannya. Dan mengakui bahwa aku menang taruhan."
Spring menghela kasar nafasnya. "Apa benar aku di jadikan taruhan olehmu?" tanya Spring kepada Winter.
Seakan merasa bersalah Winter pun spontan menelan salivanya. "Maaf, sudah menjadikanmu bahan taruhan. Sepulang sekolah pergilah bersama Skylar."
Bukannya mencegah Spring pergi dengan Skylar, Winter malah membiarkannya pergi. Spring sampai tak habis pikir dengan kelakuan Winter tersebut. Bagaimana bisa Winter membuat Spring menjadi bahan taruhan. Apa lagi Winter langsung memunggunginya setelah berkata seperti itu.
"Apa aku ini sebuah mainan bagimu, hingga seenaknya kamu menjadikanku bahan taruhan," ucap Spring kesal.
__ADS_1
Spring beranjak pergi meninggalkan Winter dengan raut wajahnya yang nampak marah. Kesal dan marah tengah di rasa Spring saat ini. Spring merelakan hubungannya dengan Lucy rusak, tapi sahabat yang ia bela mati-matian malah berbuat seperti itu padanya. Spring sampai harus di buat kecewa dengan kelakuan Winter hari ini.