
Hilang semangatlah Spring atas harapan yang sangat sulit di gapainya. Seberapa keras Spring berusaha, Winter tetap saja tak ingin membuka pintu hatinya untuk Spring. Jangankan untuk Spring, untuk wanita lain pun Winter sulit untuk membuka hatinya. Telah banyak wanita yang mendekat, tak seorang pun bisa meluluhkan hatinya. Bahkan Spring yang rela merubah penampilannya saja, masih satu level dengan wanita lainnya, yang gagal meluluhkan hati Winter.
Ketika istirahat tiba, Spring masih saja di tekuk kesal. Hilang semangat membuat selera makannya pun ikut hilang. Sendok dan garpu ia mainkan di atas makanannya, tanpa mau melahap sesuapun makanannya tersebut.
"Hanya karena Winter masih belum membuka hatinya untukmu, bukan berarti kamu harus menyerah begitu saja. Kesempatanmu masih ada selama Winter belum menjadi milik wanita lain," ucap Lucy.
Spring menghela. "Hatinya terlalu dingin untukku hangatkan. Dia tak akan pernah bisa memiliki perasaan terhadapku."
"Apa kamu yakin bila Winter tak memiliki rasa terhadapmu. Bertahun-tahun kamu bersahabat dengannya, mana mungkin dia tak memiliki perasaan terhadapmu. Bila dia tak memiliki perasaan terhadapmu, mungkin saja dia sudah memiliki seorang kekasih. Karena sudah banyak wanita cantik yang mendekat, namun semuanya di tolak olehnya. Bahkan secantik Jinny pun, dia tolak berkali-kali."
"Aku sudah memastikannya bila Winter tak memiliki perasaan terhadapku. Dia menolak semua wanita, itu karena dia tak ingin menjalin hubungan spesial dengan wanita manapun. Karena dia terlalu takut bila hubungannya akan berantakan seperti ayah dan ibunya. Baginya jatuh cinta itu hanyalah hal yang membuang-buang waktu."
"Lalu, apa kamu akan menyerah begitu saja. Jinny saja yang sudah berkali-kali di tolak masih tetap berusaha mendekati Winter. Tapi kamu wanita yang paling dekat dengannya harus menyerah begitu saja."
"Entahlah, saat ini yang terpenting untukku hanyalah memberikan waktu untuk Winter. Aku harus membuatnya terus bertahan hidup."
Seketika Lucy mengerutkan alisnya. "Apa maksudmu untuk membuatnya bertahan hidup?"
Spring menelan salivanya. "Kamu tahu kan bila kesehatan mental Winter terganggu. Dia bisa saja menghilangkan nyawanya, jika dia terlalu depresi atas masalah di rumahnya."
"Hm, memang benar kamu perlu menghabiskan banyak waktu untuk Winter. Tapi bukan berarti kamu harus terus berperang dengan perasaanmu. Sebagai sahabat, aku hanya terus berharap bila kamu tak menyerah begitu saja untuk membuka pintu hatinya."
Di tengah perbincangan Spring dan Lucy, tiba-tiba saja Jinny datang menghampiri. Dengan bonus Jack dan teman-temannya juga ikut datang menghampiri Spring.
"Aku sangat penasaran dengan wanita yang hari ini banyak di bicarakan orang soal penampilan barunya," ucap Jinny dengan tatapan jijiknya.
Kedatangan Jinny dan Jack benar-benar telah membuat Spring merasa tak nyaman. Bahkan selera makannya pun semakin hilang, di bandingkan saat Jinny dan Jack tak ada.
Spring seketika meletakan sendok dan garpunya di atas tempat makannya. "Sepertinya aku sudah kenyang." Lalu berdiri sembari membawa food tray miliknya.
Seketika Jack menarik lengan Spring, hingga membuat Spring pun harus terduduk kembali. "Mengapa harus pergi sekarang. Bukankah tadi pagi kamu menyuruhku untuk bisa lebih dekat denganmu, agar kamu mau berkencan denganku."
__ADS_1
Spring menghela kasar nafasnya. "Aku tak pernah menyuruhmu untuk dekat denganku. Aku hanya bilang, bila aku tak bisa berkencan dengan pria yang tak pernah dekat denganku."
"Itu sama saja, kamu sudah memberikan harapan terhadapku."
Jinny tergelak sembari memiringkan senyumnya. "Terima saja Jack sebagai teman kencanmu, agar Winter bisa berkencan denganku. Bila kamu berkencan dengan Jack, dia akan segenap hati melindungimu. Kalian sangat serasi, sudah sepantasnya menjalin hubungan spesial."
Tak hanya Spring saja yang merasa kesal, tapi Lucy pun juga ikutan kesal dengan sikap Jinny dan Jack. Terutama dengan Jack yang membuat Spring tak bisa pergi dari mejanya.
"Apa kamu pikir bila Spring berkencan dengan Jack, Winter akan mengencanimu. Jangan harap kamu bisa berkencan dengan Winter, bila sikapmu saja sudah membuat sahabatnya kesal," ucap Lucy kepada Jinny, lalu berbalik menatap Jack. "Terutama untukmu Jack, kamu tak bisa memaksa orang untuk berkencan denganmu. Sikapmu yang menyebalkan itu, tak akan membuat Spring berbalik menyukaimu, justru hanya akan membencimu."
Jack membuang kasar nafasnya, lalu menyeringai menatap Lucy. "Berani sekali kamu berkata seperti itu padaku." Lalu dengan cepat Jack melayangkan tangannya ke arah Wajah Lucy, hingga membuat Spring pun refleks memegang tangan Jack.
"Berhenti Jack! Jangan menyakiti temanku."
"Mengapa kamu mencegahku? Aku perlu menamparnya agar dia tahu diri," ucap Jack kesal.
"Dia perempuan, tapi kamu berani menampar perempuan di depan banyak orang. Apa kamu tidak tahu malu," ucap Spring bernada marah.
"Aku akan sangat berani, bila itu menyangkut temanku."
Lalu tiba-tiba saja Winter datang, dan dengan cepatnya ia menarik Spring untuk menjauhkannya dari Jack. "Bukankah tadi sudah ku katakan, jangan pernah menganggunya. Apa kamu tuli hingga lupa dengan ucapanku."
"Kamu menyebutku tuli?" Jack seketika menarik leher baju Winter. "Berani sekali kamu berkata seperti itu terhadapku."
Sontak saja semua orang di kafetaria pun di buat panik oleh aksi Jack tersebut, terutama dengan Spring. Spring pun harus kembali memegang tangan Jack, agar Jack tak sampai melayangkan pukulannya kepada Winter.
"Cukup Jack! Jangan menyakitinya. Aku minta maaf karena sudah membuatmu marah."
Dengan cepat Jack menghempaskan tangan Spring tangannya. "Aku tak ingin mendengar permintaan maaf darimu. Aku perlu menghajarnya agar dia tak berani lagi terhadapku."
Namun, di saat Jack akan melayangkan pukulannya, bel masuk pun berbunyi. Hingga membuat Jack pun harus gagal melayangkan pukulannya kepada Winter.
__ADS_1
Kring...
"Saat ini kamu beruntung, tapi bukan berarti aku tak akan menghajarmu." Jack lalu melangkah pergi dari Winter dengan raut marahnya.
Walau Jack sudah pergi, bukan berarti kepanikan Spring mereda. Ia tak bisa mengatur nafasnya karena terlalu panik dan khawatir terhadap Winter.
Spring pun lalu meraih tangan Winter. "Apa kamu baik-baik saja?"
Winter tersenyum. "Aku sangat baik-baik saja, lihatlah diriku tak ada yang terluka sedikitpun. Jadi kamu tak perlu merasa khawatir seperti ini."
"Aku sangat takut, bila kamu terluka. Seharusnya kamu tak datang, agar Jack tak marah dan mengancammu."
"Justru bila aku tak datang, kamu yang tak akan baik-baik saja." Winter menarik pergi Spring dari kafetaria. "Sebaiknya kita harus bergegeas ke kelas, sebelum guru datang."
...****************...
Setelah jam Sekolah berakhir, raut wajah Spring nampak cemas. Ia sangat takut bila Jack akan berbuat jahat kepada Winter. Secara dia merupakan orang yang sulit memaafkan. Bila ada orang yang membuatnya marah, Jack akan terus mengincarnya sampai dirinya merasa puas.
Ketika Spring dan Winter akan keluar dari kelas, Spring seketika menghentikan langkah Winter. "Bisakah kita pulang bersama teman-teman, agar kita tak pulang berdua."
"Untuk apa kita pulang bersama teman-teman. Semua teman-teman kita berbeda jalur dengan kita. Memangnya apa yang kamu khawatirkan, hingga membuatmu ingin pulang bersama teman-teman."
"Aku khawatir bila Jack akan datang menyakitimu. Lebih baik kita pergi terlebih dahulu ke tempat lain bersama teman-teman."
"Kamu tak perlu khawatir, Spring. Bila Jack datang, aku akan langsung menghajarnya," ucap Winter sembari memegang kedua pundak Spring.
"Tapi Jack pasti datang bersama teman-temannya, kamu tak bisa melawannya seorang diri."
"Percayalah, bila Jack tak akan bisa menyetuhku ataupun menyentuhmu." Winter menggenggam erat tangan Spring, lalu menariknya pergi keluar dari kelas.
Saat mereka keluar dari gedung sekolah, mereka sama sekali tak mendapati Jack dan teman-temannya. Spring akhirnya bisa benafas lega karena Jack tak ada. Tapi bukan berarti kecemasan Spring dapat mereda begitu saja, karena bisa saja Jack dan teman-temannya akan mencegat Spring dan Winter di tengah perjalanan pulangnya. Dan mungkin saja mereka sedang menunggu Spring dan Winter di tempat lain.
__ADS_1