Back To 2012

Back To 2012
42. Akhir Dari Misi Spring


__ADS_3

Lucy sudah sangat marah dan kesal terhadap Spring dan Skylar, hingga membuatnya enggan turun dari mobil ketika mobil sudah berada tepat di depan rumah Winter. Spring tak bisa membiarkan Lucy berdiam di dalam mobil sendiri, apa lagi bila sampai Spring lengah membiarkan Lucy pergi sebelum dirinya berhasil memperbaiki hubungannya. Tak ada cara lain lagi selain memaksa Lucy turun dari mobil, Spring pun akhirnya menarik paksa Lucy.


"Maafkan aku bila caraku ini sangat kasar. Aku tak bisa membuatmu pergi sebelum memperbaiki masalah kita."


Lucy menghela kasar nafasnya, dan berusaha melepaskan genggaman kuat dari tangan Spring. "Baik masalah maupun hubungan kita, kita tak dapat memperbaikinya. Jadi lebih baik lepaskanlah aku dan biarkan aku pergi, karena ayah dan ibuku sedang menunggu."


Walau Lucy memaksa Spring untuk segera melepaskannya, namun Spring tetap menggenggam lengannya dan membawa paksa Lucy untuk masuk ke dalam rumah Winter. Sesaat Spring dan kedua temannya masuk ke dalam kamar Alex, mereka langsung di buat terkejut ketika melihat Alex tengah menodongkan pisau ke arah Winter.


"Berhenti Winter, jangan mendekat ke arah Alex! Dan untukmu Alex, lepaskan pisaunya sekarang juga," lontar Spring, yang langsung membuat langkah Winter pun terhenti.


Raut wajah Alex semakin terlihat marah saja setelah Spring dan teman-temannya datang. Ia menatap tajam Spring dengan sudut bibirnya yang melengkung, menciptakan senyuman yang tak menyenangkan.


"Bila tak ingin membuat pisau ini berbahaya, maka lebih baik kalian pergi jauh dariku. Biarkan aku sendiri."


"Bila kamu tak sanggup untuk menggapai mimpi yang di harapkan orang tuamu, maka berhentilah untuk menggapainya. Bukankah kamu memiliki mimpi lain yang ingin di gapai, maka raihlah mimpi yang kamu inginkan itu," imbuh Spring untuk menenangkan Alex.


Bukannya merasa tenang, Alex malah semakin kacau dan langsung menodongkan pisaunya ke arah Spring. "Aku bahkan sudah lupa dengan mimpiku, bila aku berhenti menuruti keinginan ayah dan ibuku, apa kekasihku akan kembali. Dia pergi meninggalkanku karena terlalu malu memiliki kekasih pecundang sepertiku."


"Dia tak pantas untuk kamu cintai, karena dia tak bisa menerimamu apa adanya. Akan ada saatnya wanita yang tak hanya menerima kelebihanmu tapi juga menerima kekuranganmu," pungkas kembali Spring yang berusaha menenangkan kakak dari sahabatnya itu.


Alex menghebuskan kasar nafasnya. "Tak akan ada wanita yang mampu menggantikan dia di hatiku. Dan apa kamu pikir akan ada wanita yang mampu menerima pria pecundang sepertiku."


"Aku sangat yakin pasti akan ada wanita yang mencintaimu dengan tulus, bahkan wanita tersebut mampu menerima segala kekurangmu walau dia tahu kesalahan terbesarmu."


Alex masih tak mau melepaskan pisaunya walau Spring berusaha meyakinkannya, hingga seketika pisau yang di pegangnya itu mulai di dekatkan ke arah lehernya sendiri.


"Pergi dari sini sekarang juga," ucap Alex meninggikan suaranya.

__ADS_1


Semuanya pun semakin di buat panik saja dengan tindakan Alex tersebut. Hingga membuat Winter pun kembali melangkah mendekati Alex.


"Berhenti, jangan mengambil tindakan bodoh seperti itu. Kamu masih punya banyak kesempatan untuk meraih mimpimu. Kamu belum terlambat untuk mencobanya. Bila kamu tak suka dengan keinginan ayah dan ibu, maka berhentilah untuk menuruti keinginan mereka."


Langkah Winter pun semakin dekat dengan Alex, hingga membuat Spring pun dengan cepat menarik Winter untuk menjauhkannya dari Alex.


"Berhenti! Jangan mendekatinya."


"Yang seharusnya berhenti itu kamu, bila aku tak menghentikannya dia tak akan selamat." Winter menghempaskan tangan Spring dari lengannya.


Di biarkan terlalu lama, Alex malah akan memulai menyayat lehernya, hingga semuanya pun refleks mendekati Alex. Winter dan Spring dengan cepat mengambil pisau dari tangan Alex. Sementara Skylar ia langsung saja menghajar Alex setelah dirinya tepat berada di dekat pria yang tengah merasa putus asa itu.


"Dasar gila!"


Alex pun tersungkur jatuh setelah di hajar Skylar. Sementara Winter, tangannya langsung terluka setelah merebut paksa pisau dari tangan kakaknya.


Spring dengan paniknya meraih tangan Winter. "Kita harus secepatnya pergi ke rumah sakit."


Karena terlalu panik melihat Winter terluka, Spring pun menangis seketika. "Darahmu keluar terlalu banyak, kita harus pergi ke rumah sakit."


Winter tersenyum menatap Spring yang menangis itu. "Jangan menangis, lukaku tidak seberapa."


"Bila ingin membuatku berhenti menangis, maka menurutlah."


Walau Luka yang di alami Winter tak cukup parah, tapi Spring tetap bersiteguh membawa Winter pergi ke rumah sakit. Begitu pun dengan Alex yang juga di bawa pergi Spring bersama teman-temannya ke rumah sakit. Ya, Alex pun sama seperti Winter yang sama-sama terluka tapi tak terlalu parah.


Begitu sampai di rumah sakit, karena luka yang di alami Winter dan kakaknya tidak terlalu parah, dokter hanya memberi obat luka dan perban saja.

__ADS_1


Spring akhirnya bisa bernafas lega setelah berhasil menyelamatkan Winter dari maut, walau belum sepenuhnya bernafas lega karena bisa saja Alex akan bertindak kembali, yang mungkin bisa mengancam nyawanya Winter.


Spring pun lalu menghampiri Alex untuk kembali menyakinkannya, agar tindakan bodohnya itu tak terulang kembali.


"Bisakah kamu tak mengulang perbuatan bodohmu lagi."


Seakan merasa bersalah, Alex terdiam membisu sembari memalingkan wajahnya dari Spring.


"Aku tak akan terlalu menyalahkanmu, karena dari tindakanmu itu pasti ada alasan di belakangnya. Tapi, apapun alasannya, mengakhiri hidup bukanlah solusinya." Spring kemudian meraih tangan Alex. "Bila kamu tak sanggup menuruti permintaan orang tuamu, maka berhentilah untuk menuruti permintaan mereka. Kejarlah mimpi yang selama ini kamu inginkan."


Alex pun seketika menitikan air matanya setelah mendengarkan apa yang di ucapkan Spring tersebut. "Apa aku bisa meraih mimpiku. Masuk ke universitas pun aku tak mampu."


"Itu karena universitas yang selama ini kau gapai bukanlah universitas yang kau inginkan. Gapailah mimpimu sendiri tanpa harus mendengarkan permintaan orang tuamu. Dan satu hal lagi, lupakanlah wanita yang sudah membuangmu. Dan pergilah untuk mencari wanita yang akan tulus mencintaimu."


"Benar apa yang di katakan Spring, gapailah mimpimu sendiri bila ingin hidupmu bahagia," sambung Winter.


Setelah lamanya meyakinkan Alex, akhirnya Alex pun merasa tenang. Spring dan Winter pun memutuskan untuk mengantar Alex pulang ke rumah paman Edward. Karena bila sampai Alex pulang ke rumah, Alex tak akan mendapatkan ketenangan. Apa lagi bila sampai ayah dan ibunya tahu tentang tindakan bodoh anak pertamanya itu.


Selepas mengantar Alex, Spring pun kemudian lekas menyelesaikan masalahnya dengan Lucy. Awalnya Lucy enggan memaafkan Spring, tapi setelah lamanya Spring menjelaskan dan berulang meminta maaf, sama seperti sebelumnya, akhirnya Lucy mau memaafkan dan mau kembali berteman dengan Spring.


Spring dapat tersenyum lebar setelah berhasil memperbaiki hubungannya dengan Lucy dan berhasil menyelamatkan Winter, bahkan pula berhasil menyelamatkan Alex dari tindakan bodohnya. Semua beban yang ada pada masa lalunya dapat terselesaikan, hanya tinggal satu lagi yang belum sempat Spring selesaikan, yaitu rasa penasarannya tentang sebuah pesan dari Winter, yang memintanya menunggu di pohon sakura pada hari ulang tahunnya.


"Hm, aku penasaran mengapa tadi pagi kamu memintaku untuk menunggu di pohon sakura. Apa ada hal yang ingin kamu sampaikan padaku?" tanya Spring yang tersenyum bahagia menatap cinta pertamanya itu.


"Sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun, maaf aku terlambat mengucapkannya. Awalnya aku ingin memberimu kejutan, tapi karena ada masalah aku jadi tidak sempat memberikannya."


Spring menggeleng cepat. "Ucapan selamat ulang tahunmu belum terlambat, lagi pula hari ini masih ulang tahunku."

__ADS_1


Winter tersenyum ."Hm, benar hari ini masih ulang tahunmu. Walau aku tidak sempat memberimu kejutan dan hadiah, bagaimana bila besok selepas pulang sekolah kamu ikut aku ke Villa. Aku akan memberikan kejutan ulang tahun dan hadiah yang belum sempat ku berikan."


Spring tersenyum girang. "Dengan senang hati, aku pasti akan ikut bersamamu."


__ADS_2