
Apa ini yang namanya merawat seorang anak kecil. Spring tak hanya membantu Winter membersihkan darah di hidungnya, tapi juga harus mengobati luka Skylar. Spring layaknya seorang ibu yang merawat dua anak laki-lakinya yang terluka sehabis berkelahi. Dan Skylar layaknya seorang anak laki-laki manja, yang tiap kali Spring mengoleskan salep di lukanya, Skylar akan meringis kesakitan.
"Bisakah kamu lebih lembut sedikit saja. Aku sangat kesakitan, Spring."
"Apa kamu ini seorang pria, hanya segitu saja sudah kesakitan. Tadi saja kamu tak merasa kesakitan saat di pukuli Jack dan teman-temannya," ucap Spring kesal.
"Tadi aku belum merasakan sakit, lain halnya dengan saat ini, aku benar-benar kesakitan. Kamu ini perempuan, seharusnya kamu bisa sedikit lebih lembut dan berhati-hati."
"Aku sudah sangat berhati-hati, kamu saja yang manja. Bisakah kamu diam sebentar, biar salep yang ku oleskan ini bisa menempel dengan merata."
Spring kemudian mengambil plaster di kantong belajaannya. Namun, di saat Spring akan menempelkan plaster di area pipi Skylar, dengan tengilnya Skylar menarik tengkuk Spring, hingga membuat wajah Spring mendekat dengan wajahnya. "Harus begini, baru akan benar ketika memasangnya."
"Mataku tidak minus, aku tak perlu mendekatkan wajahmu padamu." Spring berusaha melepaskan diri dari Skylar. Namun Skylar malah kuat memegang tengkuknya, hingga Spring pun kesulitan untuk menjauhkan wajahnya dari Skylar.
"Fokuslah menempelkan plasternya, aku akan melepaskanmu bila kamu sudah selesai," ucap Skylar sambil tersenyum.
Spring berdecik. "Ck, itu namanya mencari kesempatan." Dengan cepatnya Spring menempelkan plaster di area luka Skylar. Namun, ketika Spring selesai menempelkan plaster, Skylar masih saja tak mau melepaskan tangannya dari tengkuk Spring.
"Apa kamu tak merasakan apapun?" tanya Skylar.
Spring menghela kasar nafasnya. "Aku tak merasakan apapun, bisakah kamu segera melepaskanku."
"Aneh sekali, padahal aku merasa jantungku seperti ada yang menggelitik. Bila wajah kita sudah mendekat seperti ini, kita perlu melakukan sesuatu yang bisa memperlambat degupan jantungku," ucap Skylar dengan tatapan menggodanya.
Seketika Winter pun berdeham. "Ehem, tolong lepaskan Spring. Dia sepertinya tak nyaman bila di perlakukan seperti itu. Seharusnya kamu berterima kasih padanya, karena dia mau membantu mengobati lukamu. Tapi kamu, bukannya berterima kasih tapi malah meminta imbalan."
Skylar melepaskan tengkuk Spring lalu menatap Winter dengan senyuman seringainya. "Bukankah yang seharusnya berterima kasih itu adalah kamu. Aku sudah membantumu untuk menghajar para brandalan tadi."
"Apa aku memintamu untuk di tolong. Aku sama sekali tak meminta bantuanmu."
__ADS_1
"Lalu, apa kamu akan membiarkan Spring di lecehkan. Jika tak ada aku, Spring mungkin sudah di lecehkan oleh pria gila tadi. Dan kamu mungkin sudah di hajar habis-habisan."
Spring seketika memukul lengan Skylar, dan pukulannya tepat di area lukanya. Hingga membuat Skylar pun harus kembali meringis kesakitan.
"Apa kamu sudah gila, bagaimana bila lukaku infeksi," ucap Skylar sembari mengelus lengannya.
"Sky, kamu memang salah, kamu seharusnya sadar diri. Aku hanya menempelkan plaster tapi kamu malah mencari kesempatan dengan cara membuat wajahku mendekat dengan wajahmu. Jelas saja Winter akan marah saat melihatnya." Spring berbalik menatap Winter. "Bukankah begitu, Winter."
Namun, tiba-tiba saja Spring kembali di buat panik saat manatap Winter. Hidung Winter kembali mengularkan darah, Spring pun refleks mengambil tisu untuk membersihkan darah di hidungnya Winter.
"Winter, apa sebaiknya aku antar saja kamu ke klinik. Sepertinya kondisimu ini sedang sakit."
Winter menghela. "Tidak perlu, Spring. Aku masih baik-baik saja. Kamu tak perlu mengantarku pergi ke klinik."
"Berhenti berkata baik-baik saja. Wajahmu sangat pucat, apa itu yang namanya baik-baik saja. Aku yakin bila kamu ini sedang sakit."
"Tapi Winter.... Ucap Spring yang tiba-tiba terpotong ketika Winter berdiri dari tempat duduknya sembari meraih tangan Spring. "Lebih baik kita pulang sekarang. Aku akan langsung beristirahat begitu sampai di rumah." Winter beranjak pergi sembari menarik tangan Spring tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada Skylar.
"Hei Spring, apa kamu akan meninggalkanku begitu saja. Aku juga terluka, kenapa kamu tak bisa lebih perhatian terhadapku," teriak Skylar.
"Kamu bisa langsung pulang, bukankah kakimu masih sanggup untuk berjalan," ucap Spring yang juga mengeraskan suaranya.
**
Begitu sampai, Spring terlebih dahulu mengantarkan Winter masuk ke rumahnya. Wajah Winter semakin pucat saja ketika ia sampai di rumah, bahkan keringat dingin pun tak hentinya keluar dari tubuhnya.
"Apa kamu yakin tak perlu ku antarkan pergi ke klinik."
"Tidak perlu, aku akan sembuh bila langsung meminum obat," ucap Winter.
__ADS_1
Spring seketika mengerutkan alisnya. "Meminum obat apa? Bukankah kamu belum memeriksa kondisimu ke dokter."
Winter menelan salivanya. "Aku hanya tak enak badan saja. Aku memiliki persedian obat di kotak P3K."
"Bukankah tak baik bila sembarangan meminum obat."
"Aku hanya demam biasa. Ayah dan ibuku selalu menyediakan obat deman di kotak P3K, setelah aku meminum obatnya, aku akan langsung sembuh."
Karena Winter tetap tak ingin memeriksa kondisinya ke dokter. Spring tak bisa memaksanya lagi, bila ia terus memaksanya, Winter akan sangat marah. Ia pun beranjak pulang setelah membantu Winter berbaring di kamarnya.
Begitu masuk ke rumah, Spring langsung bergegas ke dapur untuk membuatkan bubur untuk Winter. Karena hanya dengan membuatkan bubur saja, Spring dapat membantu Winter di tengah sakitnya. Selepas Spring membuat bubur, ia kembali beranjak ke rumah Winter. Namun, di saat Spring sampai di rumah Winter, sahabat itu sudah tak ada di rumah. Spring hanya mendapati Alex seorang diri di rumahnya.
"Bukankah seharusnya Winter tidur di kamarnya. Dia sedang sakit, kenapa kamu membiarkannya pergi," ucap Spring.
Alex menghela. "Entahlah, dia terburu-buru pergi ke rumah paman Edward. Katanya dia akan menginap di sana, agar belajarnya bisa tenang."
"Apa besok Winter akan pulang?"
"Karena besok dan lusa libur sekolah, dia tak akan pulang ke rumah."
Susah payah Spring membuatkan bubur untuk Winter, tapi Winter malah tak ada di rumahnya. Spring pun kembali membawa bubur buatanya itu ke rumah.
Sakit serta perginya Winter menimbulkan banyak tanya. Di kehidupan sebelumnya, Spring memang tak terlalu penasaran tentang kondisinya Winter. Karena memang bila Winter sakit, Winter tak pernah sekalipun berkata bila dirinya sakit. Bahkan Winter tak pernah absen sekolah, sekalipun dirinya sakit. Begitulah Winter, selalu berkata baik-baik saja hingga membuat Spring pun berpikiran bila sakitnya itu hanyalah sakit ringan.
Dan perginya Winter ke rumah pamannya, tak terlalu menimbulkan rasa penasaran untuk Spring. Karena di kehidupan sebelumnya pun, Winter selalu pergi menginap di rumah pamannya tiap kali ia sakit. Karena memang hanya paman dan bibinya saja yang bisa merawatnya dengan baik di bandingkan dengan orang tuanya. Tapi yang jadi pertanyaan Spring saat ini adalah, mengapa Winter harus menginap di rumah pamannya. Dan itu di lakukannya, di mulai pada pertengahan tahun 2011 hingga sekarang. Sebelumnya, Winter tak pernah pergi ke rumah pamannya tiap kali ia sakit, karena hanya sakit ringan saja Winter dapat menahannya. Dan akan sembuh setelah meminum obat.
Spring mungkin dulu tak terlalu penasaran, karena dulu Spring berpikir bila Winter menginap di rumah pamannya, karena Winter ingin mendapatkan ketenangan. Di bandingkan harus tinggal di rumah, dan harus mendengar orang tuanya bertengkar bila tahu dirinya sakit. Dan satu hal lagi yang membuat Spring bertanya-tanya, mengapa Winter enggan di antar Spring untuk memeriksa kondisinya ke dokter. Dan akan marah bila Spring terus bertanya tentang kondisinya atau memaksanya untuk pergi ke rumah sakit atau pun klinik. Bahkan Winter terlalu sering sakit, bagaimana Spring tak penasaran dengan kondisinya Winter.
Spring tak bisa tenang, bila ia belum mendapatkan jawaban pasti dari Winter. Apa yang sebenarnya ia sembunyikan dari Spring, hingga membuatnya selalu marah tiap kali Spring memintanya untuk pergi ke dokter tiap kali Winter sakit.
__ADS_1