Back To 2012

Back To 2012
48. Bahagiamu Adalah Bahagiaku


__ADS_3

Sudah berbulan-bulan Winter menjalankan pengobatan di rumah sakit, kanker yang sudah berada di tahap stadium akhir tak kunjung hilang dari tubuhnya. Winter sudah sangat muak tinggal di rumah sakit, ia sudah menyerah dengan harapannya untuk bisa hidup lebih lama. Ya, mungkin dari awal Winter memang sudah tidak berharap lebih tentang kesembuhannya.


"Apa sebaiknya aku akhiri saja pengobatan ini, harapan sembuh untukku sangat tipis." Winter yang muak terkurung di rumah sakit dalam waktu yang sangat lama.


"Bila kamu mengakhiri pengobatanmu, kamu takkan kunjung sembuh. Dokter memang sudah memprediksi kematianmu, tapi takdir ada di tangan tuhan bukan di tangan dokter. Jika kamu mau berusaha untuk sembuh, aku yakin kamu pasti sembuh," ucap Spring yang berusaha meyakinkan Winter untuk tetap menjalankan pengobatannya di rumah sakit.


Winter menghela. "Kamu harus tahu, bila kankerku sudah berada pada tahap akhir. Sel kankerku sudah menyerang ke seluruh organ di tubuhku. Aku sudah tak ada harapan untuk bisa sembuh. Biarkan aku pergi dari rumah sakit. Aku tak ingin berakhir di tempat yang sangat sesak ini."


Kedua mata Spring pun seketika tergenang. "Lalu, apa kamu sudah muak untuk bertahan hidup lebih lama lagi. Apa kamu sudah muak bisa melihatku lebih lama lagi."


Winter beringsut dari ranjangnya, menghampiri Spring, yang kemudian meraih kedua tangan Spring. "Bila aku mati, bukan berarti aku pergi jauh darimu. Aku akan selalu bersamamu walau jarak di antara kita sangat jauh. Di saat kamu menangis, akupun akan menangis, di saat kamu tak memiliki harapan untuk hidup maka aku akan sangat kecewa padamu. Walau nanti aku meninggalkanmu, kamu masih memiliki tugas untuk membuatku bahagia. Aku akan bahagia di saat kamu bahagia. Maka berbahagialah walau nanti ku pergi."


Seakan-akan kalimat yang terlontar dari mulut Winter merupakan kalimat perpisahan, Spring pun sampai menangis tersedu-sedu setelah mendengarnya.


"Kebahagianku semuanya ada padamu, bagaimana aku akan bahagia bila kamu saja pergi jauh dariku."


"Tidak semua hal yang membuatmu bahagia adalah aku. Akan ada banyak cara untuk membuatmu bahagia. Bisakah kamu berjanji untuk membuatku tersenyum di saatku pergi nanti," ucap Winter yang juga tiba-tiba saja menitikan air matanya.


"Bagaimana caranya?" tanya Spring dengan tangisnya yang masih tak mau berhenti.


Winter seketika mendekap erat tubuh mungil wanita yang tengah menangis terisak itu. "Berbahagialah di saat ku pergi nanti, tersenyum di saat mengingatku, teruslah bernafas sampai rambutmu memutih. Aku akan terus memantaumu, kamu harus bisa mencintai pria lain selepas ku pergi, menikahlah di saat usiamu telah menginjak dewasa, lalu lahirkanlah bayi-bayi yang lucu dan rupawan seperti dirimu."


"Apa aku bisa memegang teguh permintaanmu itu." Spring tak yakin bila dirinya bisa menerima semua permintaan dari Winter, bila di kehidupan sebelumnya pun dirinya tak sedikit pun bisa mengingat Winter dalam senyumannya.


"Apa kamu ingin membuatku bahagia?" tanya Winter.

__ADS_1


"Tentu saja aku sangat menginginkannya," jawab Spring.


Winter semakin erat mendekap tubuh mungil milik kekasihnya itu "Maka berbahagialah selepasku pergi, dan relakanlah aku bila aku harus pergi. Kamu tahu Spring, di saat tuhan memanggilku, maka aku tak akan lagi merasakan sakit. Dan aku pun akan sangat bahagia bila kamu bisa merelakanku dan menyanggupi semua hal yang ku pinta."


Memang berat bila harus merelakan Winter pergi, tapi bila Spring tak bisa melakukannya, maka selamanya Winter tak akan pernah bisa bahagia walau tuhan telah membawanya ke tempat terindah. Setidaknya Spring harus bisa membahagiakan Winter, walau hal-hal yang di inginkan Winter sangat sulit di sanggupi olehnya.


Setelah lamanya Winter meyakinkan Spring, Spring pun akhirnya bisa berhenti menangis dan pada akhirnya Spring pun menyanggupi permintaan Winter, walau sangat berat ia melakukannya.


Winter pun tersenyum dengan matanya berlinang. "Walau nanti aku terbang jauh, aku akan selalu menjadi saksi kebahagianmu. Maka bahagialah, karena saat itu aku akan hadir dalam kebahagianmu."


Spring tersenyum dengan raut sendunya. "Walau hanya sesaat kamu bersamaku, kisahku denganmu selamanya tak akan pernah hilang dalam ingatanku."


"Tentu saja kamu tak berhak melupakan kisah kita. Maka dari itu, jangan ada tangisan di saat mengingatnya. Tersenyumlah di saat kamu mengingatku, maka aku pun akan tersenyum di saat kamu tersenyum untukku," ucap Winter.


**


Banyak hal yang di lakukan Winter dan Spring, seperti pergi berkencan ke banyak tempat dan banyak menghabiskan waktu bersama teman-temanya. Spring sejenak melupakan semua kesedihannya dan kekhawatirannya akan kepergian Winter, saat ini ia terlalu bahagia hingga membuatnya tak bisa melepaskan senyumannya.


Melihat Spring dapat tersenyum bahagia, Winter pun merasa tenang bila kelak ia pergi jauh meninggalkan kekasihnya itu. Apa lagi banyak orang yang menyayangi Spring. Walau terasa berat harus meninggalkan wanita yang paling di cintainya, tapi Winter dapat merasakan kebahagiaan yang teramat luar biasa di kala ia melihat kekasihnya di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Bila memang ia harus pergi, maka dirinya tak akan lagi merasa khawatir jika Spring akan larut dalam kesedihannya.


*


Berkemah di pantai di lakukan Winter dan Spring untuk kedua kalinya, kali ini tak ada Skylar yang mengganggu kebersamaan Winter dengan Spring, walau ada keluarga dan juga orang tua Spring yang turut ikut berkemah bersama dengan mereka. Tapi mereka sangat pengertian, di kala Winter dengan Spring tengah asik berdua, mereka semua tak ada yang mengganggu kebersamaan sepasang insan yang tengah memadu kasih tersebut.


Mereka menikmati malam yang indah di pesisir pantai, menikmati indahnya pemandangan laut dan menikmati indahnya pemandangan langit malam yang penuh gemerlap bintang.

__ADS_1


Winter tak bisa berhenti tersenyum di kala keindah-keindah tersebut tak bisa lepas dari pandangannya.


"Aku sangat bersyukur karena sampai saat ini masih di beri waktu untuk menikmati keindahan ini bersamamu," ucap Winter yang terlalu terpukau menatap langit malam.


Spring pun tersenyum menatap Winter. "Justru akulah yang sangat bersyukur karena bisa di beri kesempatan untuk melihatmu lagi."


"Apa kamu bahagia?" tanya Winter.


Spring mengangguk. "Sangat bahagia, hingga aku melupakan semuanya yang membuatku bersedih."


Winter tersenyum menatapnya, lalu mendaratkan bibirnya di kening Spring. "Aku berharap semoga kebahagianmu tak akan pernah berakhir. Hm, oh ya Spring, aku ingin tahu tentangmu setelah 10 tahun mendatang."


"Saat 10 tahun mendatang, mungkin aku akan tetap menjadi seorang yang gila menulis," ucap Spring.


Winter tersenyum. "Benarkah? Aku akan menebak, kamu pasti menjadi seorang penulis novel romantis yang sukses kan."


Spring seketika tergelak dengan tebakan Winter tersebut. "Novelku memang banyak di angkat menjadi sebuah film, tapi bukan novel romantis. Aku seorang penulis novel dari gendre thriller."


Winter mengerutkan alisnya. "Perempuan lembut sepertimu mana bisa mengarang cerita thiller. Padahal kamu lebih cocok mengarang cerita romantis." Winter merasa tak percaya bila kekasihnya itu seorang penulis novel dari gendre thriller.


"Mana bisa aku mengarang cerita romantis, bila setelah dirimu pergi aku tak pernah sekalipun memikirkan tentang hal-hal yang berbau dengan cinta," ucap Spring dengan raut sendunya.


"Maka dari itu, selepasku pergi banyaklah berkencan dan menciptakan momen romantis bersama seorang pria. Agar hatimu bisa merasakan kebahagian," ucap Winter tersenyum manis.


Banyak hal yang di ceritakan Spring kepada Winter tentang 10 tahun mendatang. Tentang hal-hal yang tak ada di tahun 2012 dan tentang hal-hal yang tidak di ketahui Winter selepas kekasihnya itu pergi jauh meninggalkan dunia.

__ADS_1


Ketika senyuman terus tersirat dari wajah Spring dan Winter, malam yang indah itu menjadi malam terindah dari malam-malam sebelumnya. Mereka sangat menikmati waktu berdua sampai melupakan waktu.


__ADS_2