
Menjalankan motor dalam kecepatan tinggi masih jadi kebiasaan Skylar, dan Spring masih tetap sama tak merasa nyaman ketika di bonceng oleh Skylar. Rasanya benar-benar menakutkan, ingin rasanya ia mendekap tubuh Skylar sekencang-kencangan. Namun, bila Spring mendenkapnya, itu hanya akan membuat Skylar mendapatkan kesempatan. Spring pun hanya bisa berpegang sedikit pada jaket Skylar.
Tempat duduk sudah sangat sempit oleh barang belanjaan. Tapi Skylar masih saja tak mempedulikan keselamatan Spring. Ia tetap menjalankan motornya dalam kecepatan penuh. Spring sudah benar-benar ketakutan, ia takut bila akan terjatuh dari motor yang di jalankan Skylar tersebut.
"Bisakah kamu mengurangi kecepatannya, bagaimana bila aku terjatuh," pinta Spring dengan nafasnya yang terengah-engah karena tak bisa mengendalikan ketakutannya.
"Bila tak ingin terjatuh maka peganglah aku sekuat mungkin."
"Aku tidak mau. Bila kamu tak mengurangi kecepatannya, lebih baik turunkan saja aku," ucap Spring kesal.
Bukannya menuruti permintaan Spring, Skylar malah sengaja menaiki kecepatannya lagi, sampai-sampai Spring pun refleks mendekap tubuh Skylar.
Skylar tergelak. "Aku perlu menaikan kecepatannya, baru kamu mau memelukku seperti ini."
"Diam! Jika kamu tak ingin mengurangi kecepatannya, maka cepatlah sampai ke rumahku. Aku sudah muak naik motor denganmu," ucap Spring dengan matanya yang tertutup karena ketakutannya semakin bertambah setelah kecepatan motor Skylar di naikan.
Spring hanya bisa pasrah menaiki motor yang bisa mempertaruhkan nyawanya itu. Bila Spring ketakutan, lain halnya dengan Skylar yang tersenyum lebar di saat tubuhnya di dekap erat oleh Spring.
Kecepatan penuh itu mampu membuat Spring sampai ke rumah dalam waktu yang singkat. Spring turun dari motor dengan raut wajahnya yang di tekuk kesal.
"Terima kasih sudah mengantarku," ucap Spring sembari menurunkan kantong-kantong belanjaan dari motor Skylar.
Namun, di saat Spring tengah menurunkan barang belanjaanya, tiba-tiba saja suara Winter memanggil terdengar dari arah belakangnya.
"Spring."
Spring pun sontak berbalik ke arah sumber suara tersebut. Dan benar saja, orang yang memanggilnya itu merupakan Winter. Winter menghampiri Spring, dan spontan melirik ke arah Skylar.
"Spring, apa dia teman kencanmu?"
Spring menggeleng cepat kepalanya. "Bukan...bukan. Dia hanyalah orang yang mengantarkanku pulang."
Seketika Skylar membuka helmnya, lalu turun dari motor. "Hai Winter, sudah lama tak jumpa."
Winter mengerutkan alisnya menatap Skylar, mencoba mengingat-ingat wajah Skylar dalam ingatannya. "Tunggu...tunggu. Apa kamu Skylar?
__ADS_1
Skylar tersenyum sambil menganggukan kepalanya. "Iya, aku Skylar."
"Wah, ternyata memang benar. Sedang apa kamu di sini?"
"Seperti katamu tadi, aku datang ke Chicago karena ingin menemui teman kencanku."
Spring membuang kasar nafasnya. "Hah, apa yang kamu maksud, Sky?" Spring berbalik menatap Winter. "Tidak Winter, jangan salah paham. Aku sama sekali tak berkencan dengannya. Aku bertemu dengannya di jalan, dan dia menawarkanku tumpangan karena dia sudah membuat kakiku memar."
"Apa aku mengatakan bila kamu teman kencanku?" tanya Skylar memiringkan senyumnya.
"Kamu tak menyebutku teman kencanmu, tapi pertanyaan Winter sebelumnya bertanya apakah kamu teman kencanku."
"Tapi ucapanku bukan tertuju kepadamu. Kamu tak perlu salah paham."
Skylar sangatlah menyebalkan baru bertemu, Spring sudah di buat kesal berulang kali. Spring mana mungkin salah paham, secara dia sangat tahu betul dengan Skylar. Bila ucapannya memanglah tertuju untuk Spring. Karena jelas-jelas Skylar menyukai Spring. Dan Spring sangat tahu, bila saat Skylar datang ke Chicago dia tak memiliki perempuan lain selain hatinya yang selalu tertuju untuk Spring.
Spring menghela kasar nafasnya. "Mana bisa aku salah paham. Kamu tak perlu bercanda, karena leluconmu itu sangatlah tidak lucu."
Tiba-tiba saja James keluar dari rumahnya, lalu bergegas menghampiri anak dan kedua temannya tersebut. Raut wajah James nampak di tekuk kesal, ia melipat lengannya dengan tatapan tajamnya.
Skylar dengan cepat menjulurkan tangannya kepada James. "Perkenalkan saya Skylar, saya temannya Spring."
"Saya tidak bertanya kepadamu, tapi bertanya kepada anak saya," ucap James tanpa meraih jabatan tangan Skylar.
"Dia bukanlah kekasihku, tapi dia temanku. Aku sama sekali tak menjalin hubungan dengan pria manapun," jawab Spring.
"Bila dia bukan kekasihmu, mengapa kamu berpenampilan seperti itu?"
"Aku merupakan gadis yang berumur 16 tahun, dan aku perlu yang namanya merias diri agar terlihat cantik. Aku merubah penampilanku bukan karena seorang pria. Lagi pula penampilanku ini tidak berlebihan."
"Aku tahu bila penampilanmu tidak berlebihan, hanya saja aku takut bila akan ada pria nakal yang mengincarmu," sindiran James untuk Skylar.
Keberadaan Winter dan Skylar hanya akan semakin memperkeruh suasana antara Spring dan ayahnya. Winter dan Skylar pun bergegas berpamitan kepada James.
"Maaf sepertinya, saya harus bergegas pergi sekarang," pamit Skylar.
__ADS_1
"Saya juga sepertinya harus pulang," sambung Winter.
"Tentu saja kamu harus pergi sekarang. Jadi cepatlah pergi, dan jangan pernah menemui anakku lagi. Tapi untuk Winter, kamu tak perlu pergi sekarang karena istriku memintamu untuk mencicipi kue buatannya," ketus James.
James sudah benar-benar membuat Skylar merasa canggung dan juga kesal dengan sikapnya yang sangat ketus itu. Walau sangat kesal, Skylar tak bisa membalas kekesalannya kepada pria yang umurnya jauh lebih tua darinya. Terlebih lagi, James merupakan ayah dari wanita yang ia sukai. Skylar pun lebih memilih pergi di bandingkan harus mengutarakan kekesalannya tersebut.
Setelah Skylar pergi James pun kembali masuk ke rumah, begitupun dengan Spring dan juga Winter yang mengikuti langkahnya.
Entah mengapa Spring merasa tak percaya diri dengan penampilannya. Karena Winter sama sekali tak memujinya. Ia berpikir bila perubahan penampilannya itu gagal drastis. Spring sampai di tekuk kesal, dengan Winter yang sama sekali tak bisa merasa terpikat dengan penampilan cantik Spring. Padahal tadi saja Spring sudah sangat yakin bila bertatap muka dengannya, Winter akan memuji kecantikannya. Tapi Winter seakan merasa biasa saja ketika melihat perubahan dari Spring. Padahal Lucy saja sampai terpukau begitu melihat penampilan baru dari Spring.
Setelah Winter selesai menghabiskan kue tartnya, ia pun langsung saja berpamitan untuk pulang. Spring pun ikut beringsut dari tempat duduknya untuk mengantarkan Winter ke depan rumahnya.
"Winter, apa menurutmu penampilanku ini sangat aneh?" tanya Spring tanpa menatap.
Winter tersenyum. "Iya, kamu sangat aneh."
Spring menghela. "Tak seharusnya aku bersusah payah merubah penampilanku. Karena sepertinya, aku malah jadi semakin jelek."
Winter seketika tergelak. "Kamu sangat aneh karena kamu jauh lebih cantik dari sebelumnya. Tadi saja aku sampai tak mengenalimu, karena kamu terlalu cantik."
"Kamu tak perlu berbohong karena tak ingin membuatku marah," ucap Spring menundukan kepalanya.
"Aku tak membohongimu, Spring. Kamu benar-benar sangat cantik. Aku sangat menyukai penampilan barumu itu."
Spring pun terharu setelah mendengar pujian Winter tersebut, bahkan kedua matanya pun sampai harus menitikan air matanya karena terlalu bahagia ketika mendengarnya. Akhirnya Winter dapat mengakui kecantikannya. Sementara Winter, ia langsung di buat panik saat menatap Spring yang tengah menangis tersebut.
"Spring, mengapa kamu menangis? Apa perkataanku sudah membuatmu sakit hati."
Spring mengeleng cepat. "Tidak, aku hanya bahagia, karena kamu dapat memuji penampilanku."
Winter tersenyum sambil menyeka air mata di kedua pipi Spring. "Dasar cengeng, berhentilah menangis. Karena bila kamu menangis, aku akan terus tertahan di sini."
"Iya... Iya. Aku tak akan menangis, maaf sudah menahanmu di sini," ucap Spring tersenyum
Akhirnya Spring dapat bernafas lega setelah dirinya mendapatkan pujian dari Winter. Spring jadi semakin percaya diri bila Winter tak akan bisa menahan hatinya lagi setelah di pikat oleh kecantikannya Spring.
__ADS_1