
Spring sungguh gelisah memikirkan Winter, tak hentinya ia terlepas mengkhawatirkannya. Tak dapat tidur nyenyak dan tak sedikit pun Spring bisa lari dari rasa penasarannya. Terlebih lagi Winter sangat sulit di hubungi. Tiap Kali Spring menelponnya, Winter tak sedikit pun mau mengakatnya. Bahkan mengirim pesan pun tak di balas olehnya. Satu-satunya cara yang dapat mengobati rasa khawatir dan penasarannya Spring, hanya dengan pergi menemui Winter di rumah pamannya. Dengan cara melihatnya secara langsung, Spring mungkin akan tahu mengenai kondisi Winter di sana.
Pagi harinya Spring telah bersiap untuk pergi menemui Winter di rumah pamannya. Pakaian rapih serta bangun di pagi hari ketika libur sekolah, menimbulkan tanya untuk ibunya. Karena biasanya Spring akan bangun siang bila di hari libur. Apa lagi Spring akan pergi sambil membawa beberapa makanan yang sudah ia siapkan selepas bangun pagi.
"Pakaianmu sudah sangat rapih, kamu akan pergi kemana sampai harus membawa banyak kotak makan?" tanya Tessa.
"Aku akan pergi menemui Winter di rumah paman Edward."
Tiba-tiba saja James datang menghampiri istri dan putrinya tersebut.
"Untuk apa kamu pergi menemuinya? Di hari libur seharusnya kamu sibuk belajar bukannya banyak melakukan hal yang tak berguna. Sebentar lagi kamu akan melaksanakan ujian," lontar James.
"Aku akan belajar selepas pulang dari sana." Spring pun terburu-buru beranjak sebelum ayahnya semakin menahannya untuk pergi. "Aku akan pergi sekarang, maaf aku tak bisa menuruti permintaan ayah."
James sampai menggeleng sambil menghela nafasnya setelah melihat kelakuan putri semata wayangnya yang tak mau menuruti perintahnya itu.
**
Begitu sampai di rumah paman Edward, Spring pun langsung saja menekan tombol bel di samping pintu. Sesaat Spring menekan tombol bel, istrinya Edward yang bernama Kate datang membuka pintu rumahnya.
"Hm, bukankah kamu temannya Winter," ucap Kate sambil mengingat-ingat Spring dalam ingatannya. "Kamu Spring?"
Spring memberikan senyuman manisnya. "Iya, saya Spring temannya Winter."
"Kalau begitu kamu masuk terlebih dahulu, aku akan memanggilkan Winter di kamarnya."
Spring pun masuk dan langsung duduk di ruang tamu. Kurang dari tiga menit, Winter pun datang menghampiri Spring. Wajahnya masih pucat pasi seperti kemarin, Winter datang dengan raut wajahnya yang datar, yang seakan-akan merasa kesal dengan kehadiran Spring di rumah pamannya tersebut.
"Jadi ada apa kamu datang kesini?" tanya Winter ketika ia duduk di sofa sebelah tempat Spring duduk.
Spring tersenyum sambil meletakan kantong yang berisi kotak makan di atas meja. "Aku hanya ingin mengantarkan ini. Hm, mengapa semalam kamu tak mengangkat telepon dariku?"
__ADS_1
"Aku sedang fokus belajar, tak ada waktu untuk mengangkat telepon darimu, maaf Spring."
"Apa benar itu alasan kamu tak mengangkat telepon dariku."
"Tentu saja," jawab singkat Winter tanpa menatap.
Spring membuang nafas kasarnya. "Aku tak yakin bila itu alasanmu untuk tak mengangkat telepon dariku. Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?"
Winter menghela kasar nafasnya. "Apa aku pernah menyembunyikan sesuatu darimu. Segalanya tentangku, semuanya di ketahui olehmu. Tak ada yang ku sembunyikan darimu, Spring."
"Lalu mengapa kamu selalu marah tiap kali aku bertanya tentang kondisimu, dan akan marah bila aku memaksa untuk mengantarmu pergi memeriksakan kondisimu ke dokter."
"Aku marah karena kamu terlalu berlebihan mengkhawatirkanku. Padahal aku baik-baik saja, tapi kamu terus memaksaku untuk pergi ke dokter."
"Tidak, kamu tak baik-baik saja. Kamu terlalu sering sakit. Dan untuk apa kamu menginap di rumah paman Edward? Padahal bila sakit ringan saja kamu akan sanggup menahannya, dan akan sembuh bila sudah meminum obat. Bahkan akan kuat pergi ke sekolah, bila hanya sakit biasa."
"Di rumah paman Edward aku bisa mendapatkan ketenangan. Bila sampai orang tuaku melihatku sakit, apa mereka akan langsung memperhatikanku." Winter menghela. "Mereka akan langsung saling menyalahi bila tahu aku sakit."
Winter pun langsung berdiri dengan raut marahnya. "Apa yang kamu lakukan, Spring?" ucapnya meninggikan suara.
"Aku harus bertanya kepada mereka, karena hanya merekalah yang tahu tentang kondisimu yang sebenarnya."
"Aku baik-baik saja, aku hanya sakit biasa. Jadi lebih baik kamu pergi dari sini sekarang," ucap Winter yang masih meninggikan suaranya.
"Aku tak percaya padamu." Lalu seketika Edward dan Kate pun datang menghampiri Spring dan Winter di ruang tamu, Spring pun dengan cepat menanyai mereka. "Sakit apa yang sedang di derita Winter?"
"Aku hanya demam biasa, kenapa kamu masih tak bisa mempercayai perkataanku," ucap Winter bernada marah.
"Aku tak percaya, karena setiap kata yang kamu ucapkan membuatku ragu untuk mempercayainya."
"Bila kamu tak percaya padaku, lebih baik kamu pergi dari sini sekarang," bentak Winter sembari menunjuk pintu.
__ADS_1
"Aku tak akan pergi sebelum paman Edward dan bibi Kate menjawabnya."
"Hm, maaf Spring, bila kamu tak ingin membuat Winter semakin marah, lebih baik kamu pergi, dan biarkan Winter tenang terlebih dahulu," ucap Edward.
"Tapi aku tak bisa pergi sebelum mendapatkan jawaban yang pasti."
Seketika Winter menarik paksa tangan Spring dan membawanya keluar dari rumah. "Kamu sudah mendapatkan jawabannya." Winter kembali masuk dan langsung menutup pintu.
Spring pun menangis seketika sambil menatap pintu rumah yang tertutup tersebut. "Apa kamu semarah itu padaku. Aku hanya mengkhawatirkanmu, Winter."
Winter tak sekalipun mau membukakan pintu untuk Spring, walau Spring menangis terisak di depan rumah. Hingga membuat Spring pun harus pergi, karena terlalu lama ia menunggu Winter di depan rumah. Spring pergi dengan kedua matanya yang tak henti mengeluarkan bulir air.
Hingga di tak lama Spring berjalan, tiba-tiba saja Skylar datang sambil menghentikan motornya di samping Spring. Lalu bergegas turun dengan raut paniknya.
"Spring, mengapa kamu menangis?" tanya Skylar sembari memegang kedua lengan Spring.
Tangis Spring pun seketika pecah. "Winter... Winter," ucapnya yang tak kuasa untuk mengatakan sesuatu kepada Skylar.
Skylar pun dengan cepat memeluk erat tubuh Spring, hingga membuat tangis Spring pun semakin pecah saja di pelukannya.
"Menangislah sepuasnya, bila sudah puas, ceritakanlah semuanya padaku. Tentang apa yang sudah membuatmu menangis."
Skylar terus menepuk-nepuk lembut punggung Spring, agar wanita yang tengah menangis di pelukannya itu bisa jauh lebih tenang. Hingga sesaat Spring berhenti dari tangisannya, ia pun melepaskan diri dari pelukan Skylar.
"Bisakah kamu mengantarku pulang."
"Tentu saja aku bersedia mengantarmu pulang, tapi setelah kamu menceritakan padaku tentang apa yang sudah membuatmu menangis."
"Bila kamu tak bersedia mengantarku, aku akan pulang sendiri." Spring pun bergegas melangkahkan kakinya.
Skylar dengan cepat meraih tangan Spring, agar segera menghentikan langkahnya tersebut. "Baiklah, aku akan mengantarmu pulang.
__ADS_1