Back To 2012

Back To 2012
39. Mimpi Yang Terasa Nyata


__ADS_3

Sesampainya Spring di depan rumah Winter, Spring bergegas masuk tanpa terlebih dahulu mengetuk pintu. Ia pun berteriak memanggil Winter dan mencari Winter ke setiap ruangan termasuk dengan kamarnya Winter. Namun, ketika Spring akan hendak masuk ke kamarnya Alex, tiba-tiba saja kakak dari sahabatnya itu keluar dari kamar dengan baju yang penuh dengan bercak darah.


"Dimana Winter?" Spring meraih lengan Alex dengan panik.


Bukannya menjawab, Alex malah menghempaskan tangan Spring dari lengannya, lalu bergegas pergi dengan raut paniknya. Spring pun kemudian terburu-buru masuk ke dalam kamarnya Alex. Sesaat langkahnya sudah tepat berada di dalam kamar, ia di buat terkejut setengah mati setelah mendapati Winter yang tergeletak dengan pisau yang tertancap di perutnya.


Spring seketika syok dan spontan menangis, lalu menepuk-nepuk pipi Winter dengan panik. "Winter bangun! Cepat telepon ambulance sekarang juga," perintahnya kepada Skylar dan Lucy.


Spring tak hentinya menangis dan memanggil-manggil nama Winter. Nafas Winter sudah tak terasa berhembus, bahkan denyut nadinya pun sudah tak terasa. Spring semakin panik saja, ia tak berhenti menangis dan berteriak membangunkan Winter. Namun, tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat pusing dan bahkan pandangannya semakin kabur. Hingga tak lama kemudian, Spring pun tergeletak tak sadarkan diri.


Hingga suara samar dari ibunya terdengar di gendang telinga. "Spring, sudah saatnya kamu bangun."


Mata Spring pun setengah terbuka. "Apa Winter baik-baik saja."


Tessa menghela. "Apa kali ini kamu memimpikan Winter lagi. Sudah 10 tahun kamu tak berhenti memikirkannya. Sudah saatnya kamu melupakannya, bila ingin Winter pergi dengan tenang."


Spring dengan cepat melebarkan matanya, lalu terburu-buru beringsut dari tempat tidurnya. "Sekarang tahun berapa?"


Tessa menggeleng. "Apa kamu sudah lupa dengan tahun, sekarang tahun 2022."


Bila memang sekarang tahun 2022 berarti yang di alaminya merupakan mimpinya saja. Ternyata mengulang masa lalu merupakan hal konyol yang tak mungkin terjadi. Kembali ke tahun 2012 merupakan sebuah mimpi dari tidur lelapnya. Bahkan hanya sekedar mimpi pun, Spring tak dapat menyelamatkan nyawa cinta pertamanya. Namun, mimpi tersebut terasa sangat nyata untuk Spring. Hingga membuat Spring pun sampai terheran-heran memikirkan mimpi yang terjadi pada tidur lelapnya itu.


"Ehem." Tessa mendeham melihat putri semata wayangnya yang tengah larut dalam lamunannya. "Mengapa diam mematung seperti itu, cepatlah cuci muka lalu lekas bergabung ke meja makan."


"Aku masih merasa bingung dengan mimpiku semalam, mimpiku sangat terasa nyata."

__ADS_1


Tessa sampai berdecak setelah mendengar apa yang di katakan Spring tersebut. "Ck, mimpi hanyalah bunga tidur, yang kadang mimpi indah ataupun mimpi buruk terasa sangat nyata. Jangan terlalu larut memikirkannya, karena setiap cerita dalam mimpi tidaklah nyata."


Memang benar, setiap cerita yang di lalui dalam mimpi tidaklah nyata. Akan tetapi, untuk mimpi yang di alami Spring sangatlah terasa nyata.


Sesaat Spring bergabung sarapan bersama ayah dan ibunya, Spring masih tak bisa berhenti memikirkan mimpi yang di alaminya tersebut. Ia larut dalam lamunannya sembari memainkan sendoknya.


"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, hingga membuatmu melamun dan hanya mengaduk-ngaduk makananmu," ucap James menatap heran putri semata wayangnya.


"Entahlah. Setelah aku bangun dari tidurku, aku tak bisa berhenti memikirkan mimpiku semalam."


Tessa menghela. "Sudah ku katakan untuk tak memikirkan mimpimu, karena mimpi hanyalah hal yang tak nyata."


"Memangnya mimpi apa yang kamu alami hingga kamu terus memikirkannya?" tanya James.


"Mimpiku mungkin akan terdengar aneh bila ku ceritakan kepada kalian, tapi apa mungkin seseorang bisa mengulang masa lalu."


Memikirkan mimpi memang hal yang tak berguna. Hanya dalam mimpi saja Spring tak mampu menyelamatkan Winter, dan bahkan mengulang kesalahan-kesalahan yang sama.


Spring akhirnya berhenti memikirkan bunga tidurnya itu, ia berusaha menghabiskan sarapannya walau dirinya tak berselera setelah pikirannya larut memikirkan mimpinya.


Selepas Spring menghabiskan sarapannya, tiba-tiba ia di buat terheran-heran dengan apa yang di ucapkan ibunya.


"Nanti siang Lucy akan datang kesini, jadi menurutmu makanan apa yang harus ibu buat untuknya?"


"Lucy? Dia tak mungkin datang ke rumah kita. Sudah 10 tahun aku tak berkomunikasi dan bertatap muka dengannya. Bahkan keberadaannya pun tak pernah ku ketahui selama ini."

__ADS_1


Tessa mengerutkan alisnya, menatap heran wajah putrinya. "Spring, kamu sungguh aneh setelah bangun tidur. Bagaimana bisa kamu tak berkomunikasi dan bertatap muka dengannya. Kamu masuk ke universitas yang sama dengannya dan bahkan apartemenmu bersebelahan dengannya. Yang ibu lihat hubunganmu dengannya baik-baik saja, tak pernah ada masalah."


Yang Spring ketahui, ia tak pernah lagi berkomunikasi dengan Lucy dan bahkan tak lagi bertemu sejak 10 tahun terakhir. Tapi, bila apa yang di katakan ibunya benar, berarti mimpi yang di alami Spring bukanlah bunga tidurnya, melainkan sebuah kenyataan. Karena mungkin masa depan dapat berubah selepas Spring sedikit mengubah cerita di masa lalunya.


"Apa benar Lucy akan datang ke rumah?" tanya Spring untuk memastikan keraguannya tersebut.


"Bukankah semalam kamu yang mengatakannya bila Lucy akan datang ke rumah. Mengapa kamu menanyakan itu kepada ibu?"


Tiba-tiba saja sebuah ingatan-ingatan baru melintas di kepalanya. Kejadian-kejadian yang tak pernah Spring alami terus melintasi otaknya. Namun, dalam ingatan tersebut tak ada Winter di dalamnya. Ingatan terakhir tentang Winter hanyalah saat Spring datang ke rumah Winter, dan menemukan sahabatnya itu tak sadarkan diri di lantai dengan pisau yang menancap di perutnya.


"Lalu, bagaimana dengan Winter? Sekarang dia di mana?" tanya Spring dengan panik.


"Tenangkan dirimu, sudah ku katakan berulang kali untuk berhenti memikirkan Winter," jawab Tessa.


Mata Spring seketika tergenang dengan raut paniknya. "Mengapa aku harus berhenti memikirkannya?"


"Dia sudah meninggal, kamu harus berhenti memikirkan orang yang tak mungkin bisa kembali." Tessa meraih tangan Spring. "Spring, lupakanlah dia. Kamu harus bahagia bila ingin Winter tenang."


"Bagaimana bisa aku bahagia bila kematian Winter saja tak wajar. Lalu bagaimana dengan Alex, apa dia mendekam di penjara? Karena hanya dialah yang berada di rumah bersama Winter."


Tessa menghela. "Berhentilah menyalahi Alex. Kepolisian sudah menyelidiki bila kematian Winter terjadi akibat bunuh diri. Ibu tahu bila kamu tak bisa menerima kematian Winter, tapi kamu tak bisa menyalahi orang lain."


"Bagaimana aku tak menyalahinya, bila baju Alex penuh dengan bercak darah selepas meninggalkan Winter di kamarnya. Bahkan dia tak menjawab saat ku tanyai tentang keberadaan Winter."


"Baju Alex penuh dengan bercak darah mungkin karena ia seperti dirimu yang berusaha membangunkan Winter, hingga tak sengaja darahnya menempel di bajunya. Terimalah kepergian Winter, dan berhentilah berlarut-larut dalam kesedihanmu itu."

__ADS_1


Spring berdiri dari duduknya. "Paman Theo dan bibi Olivia mungkin membayar polisi agar memanipulasi bukti, supaya Alex tak mendekam di jeruji besi. Tapi, aku tak percaya dengan pernyataan dari polisi, karena aku adalah saksi." Spring pun lalu terburu-buru pergi meninggalkan meja makan sembari menangis.


__ADS_2