Back To 2012

Back To 2012
24. Terus Di Buat Kesal Oleh Skylar


__ADS_3

Skylar memang sulit di buat menyerah, selama Spring tak memiliki Status sebagai kekasihnya Winter, Skylar akan terus mengejar Spring. Spring sudah sangat lelah, entah bagaimana lagi untuk membuat Skylar berhenti menyukainya. Spring juga sudah sangat kesal, Skylar tak hentinya mengikutinya selepas jam sekolah berakhir. Dengan segaja Skylar memperlambat lajuan motornya, agar motornya itu bisa sejajar dengan langkahnya Spring.


"Bukankah akan sangat lelah bila berjalan kaki," sindir Skylar agar Spring mau menumpangi motor bersamanya.


Spring terus saja berjalan tanpa mempedulikan Skylar. Bahkan berulang kali Skylar menyindir dan memintanya agar segera naik ke motornya, Spring tetap mengabaikannya dengan cara menatap lurus ke depan tanpa merespon ucapan Skylar sedikit pun.


"Jarak rumah Spring tak terlalu jauh, kamu tak perlu repot-repot menawarkan tumpangan. Bila jauh pun Spring tetap tak akan mau naik motor bersamamu," lontar Winter yang juga sudah kesal dengan Skylar.


Skylar memiringkan senyumnya. "Aku tak berbicara padamu, aku hanya berbicara pada Spring."


"Tapi aku tak mau berbicara denganmu. Lebih baik kamu pulang sekarang, karena aku sudah muak di ikuti olehmu seharian ini," timpal Spring.


"Aku memang akan pulang," ucap Skylar.


Seketika Spring menghentikan langkahnya, hingga membuat Skylar pun spontan menghentikan lajuan motornya tersebut.


"Lalu, mengapa kamu masih mengikutiku?" tanya Spring dengan raut kesalnya.


"Aku akan ikut pulang bersamamu," ucap Skylar tersenyum, yang seakan-akan tak merasa bersalah setelah membuat Spring kesal.


Sikap Skylar sudah benar-benar membuat kesalnya Spring meluap. Spring sampai harus membuang kasar nafasnya, karena terlalu kesal dengan sikap Skylar tersebut.


"Apa kamu tidak punya rumah hingga harus ikut pulang bersamaku."


Skylar tergelak. "Aku punya rumah, hanya saja aku ingin terus mengikutimu hingga kamu sampai ke rumah. Aku mengikutimu bukan tanpa alasan, aku hanya takut bila kamu akan di sakiti lagi oleh pria brengsek di sebelahmu itu."


"Jangan panggil dia pria brengsek. Dia memiliki nama," ucap Spring yang naik pitam karena ucapan Skylar tersebut.


Bila Spring marah setelah Skylar menyebut Winter dengan sebutan brengsek, lain halnya dengan pria yang di belanya, Winter malah terdiam lemas menyaksikan Spring yang beradu mulut dengan Skylar. Raut wajah Winter memang tampak marah, akan tetapi ia seperti tak punya tenaga untuk membalasnya.


Di saat Spring sibuk beradu mulut dengan Skylar, tiba-tiba saja Winter berjokok sambil menundukan kepalanya seperti orang yang tengah menahan sakit.


"Lihatlah dia, di saat kamu sedang membelanya, dia malah diam menyaksikan. Apa dia terlalu lemah hingga harus di bela oleh wanita," lontar Skylar sembari menatap Winter.


"Aku sudah cape membalas perkataanmu. Aku akan pulang sekarang sebelum suaraku habis." Spring berbalik menatap Winter, dan langsung saja di buat panik ketika menatap sahabatnya itu. Tambah panik lagi, ketika melihat hidung Winter yang kembali mengeluarkan darah.


"Apa kamu baik-baik saja? Maaf aku tak menyadarinya."


"Iya, aku baik-baik saja. Tolong ambilkan tisu di tasku."

__ADS_1


Spring pun dengan cepat mengambil tisu di tas Winter. Namun, ketika Spring hendak menyeka darah di hidung Winter, seketika Winter dengan cepatnya meraih tisu di tangan Spring.


"Biar aku saja."


Wajahnya sudah sangat pucat dan tubuhnya pun terlihat lemas. Spring pun refleks menyentuh kening Winter, untuk memastikan suhu di tubuhnya.


"Kamu sepertinya demam," ucap Spring setelah memastikan bahwa suhu tubuh Winter terasa panas.


"Apa dia pria yang lemah, baru berjalan beberapa meter saja sudah langsung demam," sindir Skylar.


"Diam! Lebih baik kamu berikan tumpanganmu itu kepada Winter, dari pada kamu terus memaksaku untuk menumpangi motormu," lontar Spring.


Skylar menggeleng cepat. "Dia punya kaki, dia bisa pulang sendiri."


"Apa kamu tidak punya hati. Kamu bersedia memberikan tumpangan kepadaku, tapi kamu tak bersedia memberikan tumpangan kepada orang yang sakit. Dasar pria jahat!"


Spring kemudian meraih tangan Winter untuk membantunya berdiri, lalu kembali berjalan sembari memapahnya.


Karena Skylar tak ingin di cap sebagai pria jahat oleh Spring, terpaksa ia pun harus menawarkan tumpangan kepada Winter, walau dirinya merasa enggan bila harus mengantar pulang pria yang sudah membuatnya marah tersebut.


"Baiklah, aku akan memberinya tumpangan," ucap Skylar sembari mengikuti langkah Spring dengan motornya.


"Tidak perlu Spring, aku masih kuat berjalan kaki," ucap Winter yang di tekuk kesal, seakan benci bila harus di antar pulang oleh pria yang sudah membuatnya marah tadi siang.


Spring menghela. "Dengan tubuh selemah ini, memangnya kamu sanggup bila harus berjalan.


"Tentu saja, aku masih kuat berjalan."


Spring menggeleng cepat. "Tidak... Tidak... Kamu tak akan kuat bila harus berjalan. Kamu harus naik motor bersama Skylar."


"Ku bilang tidak perlu. Percayalah padaku bila aku masih kuat untuk berjalan," tegas Winter.


Dengan tubuh selemas itu Spring mana mungkin bisa percaya dengan Winter yang berkata sanggup untuk berjalan kaki. Bahkan berjalan pun harus di papah oleh Spring, mana bisa Winter kuat bila harus pulang mengandalkan kakinya. Bagaimana pun caranya Spring harus membuat Winter mau untuk menumpangi motor Skylar.


"Kalau begitu, kamu saja yang berjalan kaki, aku akan pulang bersama Skylar."


Cara seperti ini mungkin akan membuat Winter tak menolak lagi untuk di antar Skylar. Karena mana mungkin Winter akan membiarkan Spring pulang bersama orang yang sudah membuatnya marah tadi siang.


Ketika Spring akan menaiki motor Skylar, tiba-tiba saja Skylar meraih tanganya. Winter menelan salivanya. "Tak perlu, biar aku saja yang pulang bersamanya."

__ADS_1


Dan benar saja, Winter tak bisa lagi menolak untuk menumpangi motor Skylar. Spring pun tersenyum girang setelahnya, akhirnya Winter mau menuruti perkataanya. Namun, lain halnya dengan Skylar yang langsung saja di tekuk kesal.


"Seharusnya Winter saja yang berjalan kaki. Dan kamu naik motor bersamaku."


"Berisik! Lebih baik cepat antarkan aku pulang. Aku sangat jijik bila harus berlama-lama berdekatan denganmu seperti ini," ucap Winter ketika ia sudah mendaratkan bokongnya di jok motor.


Selepas motor kembali di lajukan Skylar, Spring pun juga kembali melangkahkan kakinya. Begitu ia sampai di depan rumahnya, seketika Spring tergelak begitu melihat Skylar dan Winter yang kompak menunggunya di depan rumah.


"Wah, seperti kalian sudah akur. Aku senang melihat kalian kompak seperti ini."


Skylar berdecak. "Ck... Mana mungkin aku memaafkannya. Aku sudah menyuruhnya masuk rumah, tapi dia malah ikut-ikutan menunggumu."


Winter menyeringai kesal. "Mengapa aku harus ikut-ikutan. Aku memang sudah berniat menunggunya."


Spring sampai di buat menggeleng ketika melihat Winter dan Skylar yang masih belum saling memaafkan itu.


"Hm Sky, sepertinya kamu harus pulang sekarang," ucapnya agar Skylar dan Winter tak terlalu lama saling beradu mulut. Karena bila terus beradu mulut, Spring khawatir bila marahnya Skylar akan memuncak seperti tadi di sekolah.


"Memangnya kenapa aku harus pulang sekarang?" tanya Skylar.


"Karena kamu sudah melihatku pulang dengan selamat. Jadi lebih baik kamu pulang sekarang, dan terima kasih sudah memberikan tumpangan untuk Winter. " Spring kambali memapah Winter untuk mengantarnya masuk ke rumahnya.


"Hey Spring, apa kamu akan tega membiarkanku pulang begitu saja setelah membantu Winter," teriak Skylar dengan kesal. Namun, Spring mengabaikannya, tanpa berbalik ataupun merespon Skylar.


**


Begitu masuk ke rumah, Spring langsung saja membantu Winter berbaring di kamarnya.


"Sebelum pulang, aku akan menyiapkan makan untukmu," ucap Spring sambil menyelimuti Winter.


"Tidak perlu, kamu bisa langsung pulang dan beristirahat."


Walau di suruh pulang, Spring tetap tak pulang sebelum membuatkan makan untuk sahabatnya tersebut. Spring pun beranjak ke dapur, dan melihat bahan-bahan makanan di lemari es. Ada ayam dan beberapa sayuran yang ia keluarkan dari lemari es.


"Apa lebih baik ku buatkan saja sup ayam untuk Winter," gumam Spring sambil memilah-milah bahan makanan yang ia keluarkan dari lemari es.


Hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam, Spring pun selesai membuat sup ayam untuk Winter. Ia kembali masuk ke kamar Winter sembari membawa mangkuk yang berisi sup buatannya itu.


Namun, begitu Spring masuk kamar, Winter nampak tertidur pulas. Tak tega bila Spring harus membangunkan Winter di tengah tidurnya. Spring pun terpaksa meletakan sup buatannya itu di atas meja. Namun, selepas Spring meletakan sup, tiba-tiba saja mata Spring tertuju ke arah tumpukan obat di laci.

__ADS_1


__ADS_2