Back To 2012

Back To 2012
40. Lekaslah Mengaku


__ADS_3

Spring beranjak pergi ke rumah keluarga Collin yang sekarang telah di tinggali oleh putra sulungnya bersama dengan keluarga kecilnya. Spring mengetuk keras pintu rumah sembari berteriak memanggil Alex dengan raut marahnya.


"Alex, lekaslah keluar."


Yang membuka pintu rumah bukanlah orang yang di harapkan Spring, melainkan Celline istri dari Alex Collin.


"Di mana Alex?" Spring menerobos masuk tanpa di persilahkan, lalu kembali berteriak memanggil pria yang di curigai Spring sebagai orang yang telah menghilangkan nyawa cinta pertamanya. "Alex di mana kamu, cepatlah keluar."


Celline dengan cepat meraih lengan Spring untuk menghentikan langkahnya. "Bisakah kamu tak berteriak dan menerobos masuk rumah sembarang, anakku sangat ketakutan."


Spring menghempas cepat tangan Celline dari lengannya. "Bila tak ingin membuatku berteriak, maka suruhlah suamimu keluar untuk menemuiku."


"Sekarang Alex sedang tak ada di rumah."


"Lalu di mana dia, aku akan pergi menyusulnya."


Celline menghela kasar nafasnya dan menatap kesal wajah Spring. "Apa kamu ingin menemuinya dan terus menuduhnya sebagai pembunuh. Sudah beberapa kali ku katakan, bila Alex bukanlah pembunuh. Bahkan pihak kepolisian menyatakan bila Winter meninggal akibat bunuh diri."


Ingatan baru kembali muncul, di mana setelah kepergian Winter, Spring terus-menerus memaksa Alex untuk mengakui kejahatannya. Hingga sampai saat ini Spring masih tak bisa menerima apa yang di katakan pihak kepolisian, bila sahabatnya itu meninggal akibat mengakhiri hidupnya sendiri.


"Apa aku akan percaya dengan pihak kepolisian. Polisi bisa saja di sumpal mulutnya dengan uang. Saat Winter meninggal, Alex adalah satu-satunya anak dari paman Theo dan bibi Oliv, mereka tak akan mau kehilangan anak lagi. Aku tahu dengan sikap mereka yang tak ingin membuat nama keluarganya tercoreng, mereka bisa saja memberi uang polisi agar semua bukti bisa di manipulasi. Mereka bahkan mengharuskan anak-anaknya hidup dengan sempurna, walau kehidupan yang mereka inginkan tak membuat anak-anaknya bahagia."

__ADS_1


Celline mendengkus. "Lalu apa kamu melihat bila Alexlah yang membunuh Winter. Kamu saja datang di saat Winter sudah tak bernyawa."


"Walau aku tak melihat di saat Alex membunuh, tapi aku melihat dengan jelas bila baju Alex penuh dengan bercak darah." Spring semakin naik pitam.


"Walau saat itu aku belum mengenal Alex atau dirimu, tapi aku pernah mendengar cerita Alex bila bajumu juga penuh dengan bercak darah karena kamu sempat menyentuh Winter. Sama seperti Alex, dia juga sempat menyentuh Winter karena panik melihat adiknya yang tergeletak di lantai," pungkas Celline dengan kesal.


Spring memiringkan senyumnya sembari menatap tajam Celline. "Mengapa dia sangat panik dan tak menjawab di saat ku tanyai. Sangat jelas bila dialah pembunuhnya, karena orang bersalah akan menghindari pertanyaan bahkan memalingkan wajahnya. Kamu mempercayainya karena kamu istrinya, aku yakin kamu pun sudah tahu bila suamimu itu seorang pembunuh. Hanya karena cinta kamu sampai membela sampah seperti dia."


Celline pun semakin naik pitam saja setelah Spring menghina habis-habisan suaminya. Apa lagi, saat ini anaknya sedang menyaksikan pertengkaran hebat Spring dan dirinya. Celline pun refleks menapar keras wajah Spring.


"Jaga bicaramu! Apa kamu tak punya sopan satun. Berani sekali kamu menyebutnya seorang sampah dan pembunuh di dekat anakku. Kamu boleh saja mencaci dan mengatainya, tapi jangan di saat anakku ada."


"Mengapa tidak boleh, dia harus tahu bahwa ayahnya bersalah. Ini balasan dariku dan Winter karena kalian semua telah menutupi kasus kematian Winter," ucap Spring meninggikan suaranya. Spring pun seketika menangis lepas di hadapan Celline dan anaknya. "Semudah itu kalian hidup bahagia, di saat aku kehilangan Winter, dan di saat mimpi Winter terputus karena perbuatan Alex, kalian berani sekali hidup bahagia."


"Itu hanya omong kosong, dia pasti tertawa lepas karena berhasil membunuhnya." Spring seketika menarik-narik baju Celline sembari menangis keras. "Kembalikan Winter, kembalikan dia padaku."


Lalu tiba-tiba saja Lucy dan kedua orang tua Spring datang. Lucy dengan cepat menarik Spring dan menjauhkannya dari Celline.


"Sudah cukup Spring. Percuma kamu memintanya kembali, Winter tak akan pernah kembali. Bila kamu seperti ini, di atas sana Winter akan bersedih melihatnya."


"Bila Winter tak dapat kembali, setidaknya dia dapat keadilan. Kamu juga saat itu melihatnya kan, bila Alex panik dengan baju yang penuh dengan darah dan terburu-buru pergi setelah kedatangan kita di rumahnya. Kita adalah saksi, kita bisa mengajukan permohonan kepada polisi untuk membuka kembali kasus kematian Winter."

__ADS_1


Lucy meraih kedua tangan Spring untuk menenangkannya. "Kita sudah pernah berusaha, tapi polisi tetap bersiteguh dengan hasil penyelidikannya." Lucy kemudian menyeka air mata di wajah Spring. "Bukankah kamu sudah menyerah untuk berhenti menguak kasus kematian Winter. Berhentilah memikirkannya, dan bahagialah bila kamu ingin Winter bahagia di atas sana."


Spring menggeleng dengan kedua mata yang tak mau berhenti mengeluarkan bulir air. "Aku tak akan pernah bahagia bila tak ada Winter di sisiku."


Lalu tak lama kemudian Alex pulang, Spring dengan cepat menarik lengannya. "Winter bukan mati karena bunuh diri. Kamu yang membunuhnya, kamu harus mengakui kesalahanmu bila kamu benar-benar menyanginya."


Seketika Alex mendorong kasar tubuh Spring hingga membuat wanita yang tengah memohon itu terjatuh.


"Sudah ku katakan berulang kali, aku tak membunuhnya," ucap Alex meninggikan suaranya.


"Aku sama sekali tidak percaya dengan pengakuanmu itu," ucap Spring yang juga meninggikan suaranya.


James tak bisa tinggal diam saja melihat putrinya yang sudah membuat keributan di rumah orang. Apa lagi melihat putrinya itu, terduduk sembari menangis. James pun dengan paksa menarik Spring keluar dari rumah Alex.


"Sudah cukup, berhentilah menyalahi Alex. Aku tahu bila kamu sangat kehilangan Winter, tapi kamu tak bisa menyalahi Alex sembarangan hanya karena saat itu Alex orang terakhir yang bersama Winter di rumahnya."


"Apa ayah percaya bila Alex bukan pembunuhnya?" tanya Spring dengan raut wajahnya yang penuh amarah.


"Semua bukti yang telah di selidiki polisi sangat konkret, tak ada sidik jari Alex dari pisau yang tertancap di tubuh Winter. Semuanya telah dijelaskan polisi, bila Winter meninggal akibat bunuh diri. Jadi, berhentilah menyalahi Alex karena dia tak bersalah."


Biarpun semuanya percaya dengan pernyataan pihak kepolisian, Spring tetap bersiteguh dengan pendiriannya, bila dirinya tetap tak percaya bila Winter meninggal akibat bunuh diri. Secara Spring sangat melihat jelas bagaimana Alex sangat panik ketika di tanyai tentang keberadaan Winter. Bahkan Alex sampai memalingkan Wajahnya dari Spring.

__ADS_1


Walau Spring tak tahu penyebab Alex membunuh Winter, Spring tetap menyalahinya dan akan terus-menerus memaksa Alex untuk mengakui kejahatannya.


Tak ada kata malu untuk dirinya, walau setiap hari Spring harus membuat keributan di depan rumah Alex. Sampai-sampai anak dan istrinya Alex harus pergi meninggalkan rumah untuk sementara waktu, sampai Spring berhenti membuat keributan. Spring tak akan menyerah dan tak akan pernah membuat keluarga kecil dari orang yang di tuduhnya sebagai pembunuh itu bisa hidup dengan tenang. Apapun caranya dan bagaimanapun caranya, Spring akan terus menekan Alex sampai mau mengakui kesalahannya.


__ADS_2