
Spring dan Winter pergi secara terburu-buru sebelum Skylar dan yang lainnya terbangun. Benar-benar sangat menantang, pergi di saat langit masih gelap bahkan meninggalkan begitu banyak barang di tempat berkemah. Apa lagi Winter sampai berbohong meletakan pesan lewat memo atas nama Spring.
Tidak semua barang di tinggalkan, ada beberapa barang yang di bawa Spring dan winter. Seperti tas, pakaian, serta beberapa barang kecil yang bisa muat masuk ke dalam tas.
Ini merupakan hal tergila yang Spring lakukan di usia remajanya yang kedua. Walau menegangkan, namun sedikit lucu, di mana Spring dan Winter pergi secara terburu-buru seperti tengah di kejar-kejar sesuatu. Spring pun sampai tak habis pikir dengan kelakuan Winter dan dirinya. Apa lagi mereka harus menyusahkan Skylar, dengan menitipkan begitu banyak barang.
Seperti kata Winter, mereka akan berkeliling mengujungi berbagai tempat di Chicago. Ya, tentunya tak mungkin bisa mereka lakukan hanya dalam waktu satu hari. Karena Chicago terlalu luas untuk mereka tempuh seluruhnya. Mereka hanya akan berkeliling setengahnya dari kota Chicago.
Tempat yang mereka kunjungi pertama adalah cafe, sebelum mereka berkeliling kota, mereka perlu mengisi perut terlebih dahulu.
"Jadi, tempat-tempat apa yang akan kita kunjungi?" tanya Spring yang sudah tidak sabar pergi ke berbagai tempat di Chicago.
Spring sudah sangat tak sabar ingin segera melangkahkan kakinya, sampai-sampai ia harus makan sandwichnya secara terburu-buru.
Winter sampai tergelak ketika menatapnya. Apa lagi Spring makan belepotan seperti anak kecil. Winter pun spontan menyeka remahan roti di area bibir wanita yang tak sabaran itu. "Habiskan terlebih dahulu makananmu, dan makanlah secara perlahan agar tak tersedak."
Hanya tindakan kecil seperti itu saja sudah membuat jantung Spring berdegup tak karuan. Wajah Spring pun memerah, hingga membuatnya terbayang tentang sebuah film-film romantis, di mana seorang pria menyeka bibir kekasihnya yang belepotan. Spring pun sampai tak bisa menatap Winter secara langsung karena terlalu malu dengan apa yang di bayangkannya itu.
Setelah selesai mengisi perut, barulah mereka mulai mengunjungi berbagai tempat di penjuru kota Chicago. Satu persatu tempat di kota tersebut mereka kunjungi, bahkan taman bermain pun juga sempat mereka kunjungi.
Melelahkan namun sangat menyenangkan untuk Spring, seharian bisa menikmati waktu berdua dengan Winter. Mereka berpergian sudah seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang berkencan. Bahkan tempat-tempat yang Winter dan Spring datangi merupakan tempat biasa orang-orang di Chicago pergi dengan kekasihnya. Bukankah ini merupakan kencan, hanya saja statusnya seperti friend benefit, sepasang teman namun seperti layaknya sepasang kekasih.
Setelah mereka puas berkeliling, mereka pun sejenak beristirahat di sebuah taman. Spring yang duduk santai sambil menghirup udara segar di bawah pohon, sementara Winter pergi membeli minuman, yang kebetulan ada sebuah cafe di dekat taman.
Tak butuh waktu lama untuk Winter kembali, ia datang sambil membawa satu cup minuman di tangannya. "Minuman kesukaanmu sudah datang." Winter menjulurkan minuman tersebut kepada Spring. Dan Spring pun tersenyum girang ketika meraihnya, karena minuman tersebut merupakan es cappucino dengan banyak whipped cream di atasnya. Tentunya minuman yang di beli Winter merupakan minuman kesukaannya Spring.
"Hanya satu." Spring seketika mengerutkan alisnya, karena minuman yang di beli Winter hanya satu. "Untukmu mana?"
"Aku tadi sudah membeli air mineral di mini market, bila aku kebanyakan minum nanti perutku kembung."
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu terima kasih sudah membelikanku minuman yang sangat spesial." Spring dengan girangnya menyedot minuman yang terbuat dari kopi tersebut.
Spring benar-benar sangat menikmati minuman kesuakaannya itu. Hingga membuatnya lebih menyibukan diri dengan minumannya, di bandingkan harus mendengarkan Winter berbicara.
Winter sampai menggeleng ketika melihat kelakuan Spring yang sudah seperti anak kecil itu. "Sepertinya kamu sangat menyukainya, sampai-sampai aku berbicarapun kamu abaikan."
"Ini terlalu enak. Siapa suruh kamu membelikan minuman kesukaanku."
Seketika Winter menyedot minuman Spring, ketika Spring tengah lengah. "Apa ini yang di sebut enak, minuman ini terlalu manis."
Sontak saja Spring pun terdiam seketika setelah Winter menyedot minuman kesukaannya itu. Yang menurut Spring, bila pria meminum minuman lewat sedotan bekas perempuan, otomatis itu namanya ciuman tak langsung. Tangan Spring pun sampai bergetar setelah melihatnya.
Winter sampai mengerutkan alisnya, karena merasa heran dengan Spring yang tiba-tiba saja tak melanjutkan meminum es cappucinonya itu. "Apa kamu merasa jijik karena sedotannya ada bekas air liurku."
"Tentu saja tidak," jawab Spring bernada gugup.
"Kamu tahu kan, bila laki-laki menyedot minuman lewat sedotan bekas perempuan, itu namanya ciuman tak langsung."
Winter tergelak. "Apa kamu percaya dengan hal seperti itu. Bukankah kita sudah sering minum satu gelas berdua."
Memang sudah sering di lakukan, tapi saat itu Spring masih sangat polos. Lain halnya dengan sekarang, bertatap muka saja sudah membuat jantung Spring berdegup kencang. Apa lagi saat-saat Winter menyentuh tangannya. Dan tentunya Spring percaya dengan namanya ciuman tak langsung, karena ia terlalu banyak menonton film romantis. Yang di mana meminum satu gelas bersama dengan seorang pria, itu merupakan sebuah ciuman, hanya saja tak langsung lewat bibir.
"Apa kamu tak merasakan sesuatu pada dirimu, atau seperti ada yang berbeda pada dirimu?" tanya Spring yang selama ini ia melihat Winter seperti merasa baik-baik saja saat bersama dirinya. Padahal Spring sendiri tak seperti dirinya sendiri, setelah usianya menginjak remaja. Di mana perasaan yang ada pada dirinya telah membuatnya berbeda.
"Tentu saja ada yang berbeda pada diriku. Kian bertambahnya usia, tinggi badanku semakin naik," jawab Winter dengan gelak tawa.
Bukan itu jawaban yang ingin Spring dengar, tapi Spring ingin mendengar pasti tentang perasaan Winter terhadapnya. Spring pun sampai di tekuk kesal setelah mendengar jawaban dari Winter.
"Tentu saja kamu akan bertambah tinggi sampai usiamu menginjak 18 tahun," ucap Spring kesal.
__ADS_1
Terlalu lama mereka berdiam di taman, hingga senja pun muncul. Terlalu nyaman untuk beranjak dan terlalu malas bila harus mengakhiri waktunya bersama Winter. Begitu pun dengan Winter yang sama-sama tak ingin mengakhiri waktunya bersama Spring.
"Winter, apa kita harus pulang sekarang?" tanya Spring yang tersenyum manis menatap langit berwarna jingga itu.
Begitu pun dengan Winter yang juga ikut tersenyum, hanya saja alasan Winter tersenyum bukan karena langit senja, tapi karena melihat Spring yang tersenyum bahagia.
"Spring, apa kamu sesenang itu?" tanya Winter.
"Iya, sangat senang," jawab Spring berbalik menatap Winter dengan senyumannya.
"Apa langit senja merupakan alasanmu tersenyum?"
"Tentu saja bukan."
Bukan karena keindahan langit senja yang membuat Spring tersenyum. Tapi karena Winter, bila langit senja merupakan alasan Spring tersenyum, mungkin sudah ribuan kali Spring tersenyum ketika melihat langit senja di saat Winter tak ada.
"Lalu, apa alasanmu tersenyum?" tanya kembali Winter.
"Kamu adalah alasanku tersenyum. Seindah apapun dunia ini, bila tak ada kamu, aku tak akan pernah bisa tersenyum atau pun bahagia."
Jawaban Spring tersebut mampu membuat raut wajah Winter pun menjadi sendu. Ia bahkan sampai tak berani menatap Spring.
"Apa kamu tak akan memiliki seorang kekasih. Kamu harus memiliki seseorang yang bisa membuatmu tersenyum selain aku."
"Bila hanya kamu yang membuatku tersenyum, bagaimana bisa aku memiliki seseorang di sisiku. Kuharap hanya kamulah yang akan selalu berada di sisiku sampai tua nanti."
Winter menelan salivanya, ia dengan cepat berdiri dari duduknya. "Sebaiknya kita pulang sekarang, ibumu pasti sedang menunggumu di rumah."
Bukan kata pulang yang ingin Spring dengar dari Winter, tapi Spring ingin sebuah kata kebersedian Winter untuk selalu berada di sisi Spring. Bila perlu, Winter mengajak Spring untuk merubah status sebagai kekasihnya.
__ADS_1