Back To 2012

Back To 2012
46. Hal Yang Sulit Di Terima Oleh Semua Orang


__ADS_3

Tiga hari selepas Winter memutuskan untuk melakukan pengobatan, Winter mengadakan acara makan malam keluarga, paman dan bibinya turut di undang Winter ke rumahnya, termasuk dengan Spring dan kedua orang tuanya yang juga turut di undang Winter.


Semua makanan di atas meja merupakan hasil masakan dari Spring dan Winter. Kurang lebih semua masakannya Springlah yang membuat, karena Winter tak pandai memasak. Tapi setidaknya Winter sedikit membantu dalam hal memotong sayuran dan daging.


Winter mengumpulkan semua orang bukan karena ingin mengadakan acara makan malam semata, akan tetapi ia ingin memberitahu soal sakitnya yang selama ini ia sembunyikan.


Betapa gugupnya Winter, hingga membuat duduknya tak nyaman dan berulang kali ia terus mengatur nafasnya untuk mengendalikan rasa gugupnya itu.


"Hm, apa yang membuatmu tampak terlihat gugup seperti itu, apa ada yang ingin kau katakan kepada kami?" tanya Theo menatap heran putra bungsunya.


Winter menghebuskan cepat nafasnya. "Hm, ada beberapa hal yang ingin ku sampaikan kepada kalian semua, terutama kepada ayah dan ibu."


"Apa hari ini merupakan hari spesial, hingga membuatmu mengadakan acara makan malam seperti ini?" tanya Olivia tersenyum.


Winter seketika menggenggam tangan Spring, lalu mengankatnya dan menunjukannya kepada semua orang. "Hal pertama yang ingin ku sampaikan adalah, mengenai status Spring yang bukan lagi sebagai sahabatku. Spring sekarang sudah resmi menyandang status sebagai kekasihku."


Semua orang pun tersenyum senang mendengar hal tersebut, tapi tidak dengan Edward, Kate, dan James. Edward dan Kate nampak terlihat sendu di wajahnya, karena mungkin mereka sudah tahu dengan hal-hal yang akan di sampaikan keponakannya hari ini. Bila James tak usah di tanyakan lagi, dia pasti kesal mendegar putrinya memiliki kekasih di umurnya yang menurutnya masih terbilang kecil.


James pun sampai menghela nafasnya sembari menatap tajam kekasih dari putrinya itu. "Bukankah kalian harus fokus belajar di bandingkan harus berkencan."


"Belajar memang perlu, tapi mengutamakan kebahagian juga sama pentingnya," lontar Spring.


Biarpun kesal dan biarpun James tak suka bila putrinya memiliki seorang kekasih, tapi mau bagaimana lagi, ia tak bisa meminta Spring dan Winter berpisah, di saat semua orang terutama istrinya sangat mendukung hubungan Spring dan Winter.

__ADS_1


Winter lalu kembali menghebuskan cepat nafasnya. "Lalu, hal kedua yang ingin ku sampaikan adalah mengenai Alex. Aku sangat berharap ayah dan ibu tidak lagi mengekang Alex, biarkan dia meraih mimpinya sendiri."


Olivia mengeleng cepat. "Tidak bisa, dia tak bisa menekuni mimpinya yang tak jelas itu."


Winter membuang kasar nafasnya. "Alex memiliki bakat dalam bermusik, bila dia menekuni bakat tersebut, aku yakin Alex akan sukses meraih mimpinya. Dia tak akan pernah bahagia bila harus terus-nenerus menuruti kemauan kalian. Bukankah tugas kalian sebagai orang tua bukan hanya mendidik saja, tapi juga memiliki kewajiban untuk membahagiakannya."


Theo menghela. "Baiklah, aku akan menyetujui kemauan kakakmu itu. Tapi dengan satu syarat, dia harus berhasil meraih mimpinya."


Alex tersenyum girang. "Tentu saja, aku pasti akan bersungguh-sungguh meraih mimpiku."


Biarpun Olivia di tekuk kesal tapi pada akhirnya ia mau menyetujui keinginan putranya itu, setelah Winter berulang kali membujuknya. Dan Winter pun akhirnya bisa tersenyum bahagia setelah kedua orang tuanya menyetujui permintaannya tersebut.


"Lalu, permintaanku yang terakhir adalah, aku ingin kalian segera berpisah. Aku tak ingin kalian menungguku sampai lulus sekolah untuk bercerai. Bukankah kalian sudah memiliki pasangan masing-masing, untuk apa kalian terus bersama bila kalian sudah tak saling mencintai."


"Kalian tak pandai menyebunyikan sesuatu dariku, aku sering melihat kalian berkencan dengan kekasih kalian. Hanya saja aku tak pernah mengatakannya, bila aku tahu kalian memiliki kekasih." Winter tersenyum dengan kedua matanya yang tiba-tiba saja tergenang. "Selepas kalian berpisah, bisakah kalian menyempatkan banyak waktu untukku? Kalian juga harus mengenalkan kekasih kalian padaku."


Olivia pun seketika menitikan air matanya, ia meraih tangan Winter lalu berkata. "Tentu saja, kami akan banyak memberikan banyak waktu untukmu. Tapi, apa kamu benar-benar merelakan kami berpisah?"


Winter pun tersenyum sembari menitikan air matanya. "Aku akan sangat senang bila kalian berpisah. Karena aku tahu bila kalian bersama, kalian tak merasa bahagia. Jadi, aku harap kalian bisa segera berpisah tanpa harus memikirkanku. Dan aku pun ingin meminta maaf kepada kalian dengan apa yang selama ini ku sembunyikan dari kalian."


"Memangnya apa yang sudah kamu sembunyikan dari kami?" tanya Theo heran.


Ini adalah hal terakhir yang sangat berat untuk Winter sampaikan. Ia semakin gugup saja ketika hal yang selama ini di sembunyikannya, harus di beritahukan kepada semua orang terutama ayah dan ibunya.

__ADS_1


Winter pun menarik panjang nafasnya, lalu menghembuskannya dengan cepat. Selepas itu ia pun dengan leluasa berkata. "Aku mengidap leukemia stadium akhir. Kankerku tak akan sepenuhnya hilang walau sudah menjalani pengobatan, tapi aku akan berusaha untuk sembuh. Bila memang aku tak dapat sembuh, aku harap kalian bisa merelakanku, terutama untukmu, Spring," jawabnya dengan mata yang berlinang.


Olivia dan Theo pun terkejut setengah mati setelah mendengarnya, ia tak percaya bila putra bungsunya mengidap penyakit yang mengerikan.


"Sejak kapan kamu menyembunyikannya? Apa selama ini hanya Edward dan Kate saja yang tahu soal penyakitmu, soalnya hanya merekalah yang tampak biasa saja setelah mendengarnya."


Winter mengangguk. "Aku hanya mengatakannya kepada paman Edward dan bibi Kate saja. Maaf karena tak bisa terus terang mengatakannya kepada kalian."


Olivia menghebuskan kasar nafasnya, ia menatap marah Edwar dan Kate. "Kenapa kalian menyembunyikannya dariku. Seharusnya kalian dari awal mengatakannya kepadaku," ucapnya meninggikan suara.


Melihat Edward dan kate terkena marah ibunya, Winter pun tak bisa tinggal diam. Karena dialah yang bersalah meminta Edward dan Kate untuk menyembunyikan sakitnya itu.


"Akulah yang menyuruh mereka untuk tak mengatakannya kepada siapapun, ku harap kalian jangan terlalu menyalahi mereka," lontar Winter.


Penyakit mengerikan yang di derita Winter sangat membuat syok semua orang, terutama ayah dan ibunya. Sakitnya Winter juga telah melukai orang-orang yang menyanyanginya. Hal yang tak bisa di terima semua orang adalah, bila harus merelakan Winter pulang kepada tuhan, terutama untuk Spring yang sampai kini enggan merelakan Winter, bila suatu hari kekasihnya itu harus pergi dari hidupnya.


"Bukankah sudah ku katakan agar kamu selalu optimis untuk sembuh. Aku ingin hidup lama bersamamu," ucap Spring dengan isak tangis.


Winter mendekap erat tubuh Spring. "Aku memang optimis untuk sembuh. Tapi bila tuhan berkata lain, aku hanya berharap kamu bisa tersenyum agar aku pun bisa pergi dengan tenang."


Spring menggeleng. "Bagaimana bisa aku tersenyum, bila kebahagianku semuanya ada padamu."


Winter lalu menyeka air mata di wajah Spring. "Tersenyumlah jika suatu saat tuhan memanggilku, karena saat itu aku pun akan bahagia melihatmu. Aku akan senantiasa bahagia bila kamu berlapang dada merelakanku. Melihatmu tersenyum adalah sumber kebahagianku. Ingat Spring, aku akan selalu memantaumu di atas sana, jadi jangan pernah merasa di tinggalkan olehku."

__ADS_1


Spring memeluk cepat tubuh Winter, dengan eratnya ia memeluk dan menangis terisak dalam pelukan pria yang telah berstatus sebagai kekasihnya itu. "Aku terlalu mencintaimu, hingga membuatku sulit merelakanmu."


__ADS_2